
Lars dan Ryn saat ini sedang duduk di dalam kamar, Lars juga sudah tenang. Sementara sekarang Ryn lah yang justru tidak tenang.
Ryn bingung bagaimana caranya memberi tahu Lars bahwa darah di ranjang tadi bukan darah karena mereka melakukan ' itu ' dengan Lars, tapi darah bulanan nya.
Karena Lars panik, Ryn juga jadi ikut panik, apalagi Lars sejak tadi berbicara hal hal yang semakin membuat Ryn gelagapan menjawabnya.
" Sayang, kamu sungguh tidak marah padaku?" Ujar Lars yang masih merasa bersalah.
Saat ini Lars berjongkok di hadapan Ryn dengan Ryn yang sedang duduk di ranjang.
" Aku tidak marah padamu, Lars.. sungguh." Ujar Ryn dengan wajah meyakinkan Lars, tetapi Lars masih tidak mengerti apa yang coba Ryn jelaskan.
" Kita akan menikah, jika perlu sekarang juga. Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku, sayang." Ujar Lars.
" Kamu tidak perlu bertanggung jawab Lars.." Ujar Ryn.
" Apa kamu tidak mau menikah denganku? Apa kamu terlalu kecewa?" Ujar Lars memotong ucapan Ryn.
' Aduh Tuhan, bagaimana caraku memberi tahu Lars.' Batin Ryn.
" Sayang, kamu tidak berniat meninggalkan aku, bukan??" Ujar Lars semakin berpikiran aneh.
" Tidak Lars.. itu bukan darah milikku, maksudku.. kita tidak melakukan itu." Ujar Ryn mencoba menjelaskan walau susah.
" Tapi kamu berdarah." Ujar Lars.
" Iya, tapi kita tidak melakukan itu, aku.. aku kedatangan tamu bulanan." Ujar Ryn akhirnya dengan menahan malu.
" Tamu bulanan? Apa itu?" Ujar Lars yang tidak mengerti, Ryn sampai melongo mendengarnya.
" Kamu tidak tahu tamu bulanan? Apa kamu tahu menstruasi?" Tanya Ryn, dan Lars menggeleng.
Lars tidak tahu menahu dengan hal seperti itu, dia tidak pernah dekat dengan wanita, juga tidak memiliki anggota keluarga perempuan. Dia memiliki ibu, tapi ibunya meninggalkannya.
Dia punya nenek, tapi tidak mungkin juga seorang nenek memberi tahu Lars tentang hal seperti itu pada anak laki laki. Mungkin Lars pernah tahu saat sekolah, tapi dia tidak akan ingat, karena itu bukan hal yang berkaitan dengan dirinya.
" Setiap perempuan akan mengalami siklus bulanan bernama menstruasi, dimana mereka akan mengeluarkan darah setiap bulannya." Ujar Ryn menjelaskan dengan terus terang.
" Sungguh?" Tanya Lars, dan Ryn mengangguk.
" Ya, dan itu normal terjadi selama kurang lebih seminggu ." Ujar Ryn.
" Jadi aku tidak melakukan itu? Maksudku kita tidak melakukannya?" Tanya Lars, dan Ryn mengangguk.
Lars lega mendengarnya, dia menghela nafas dan langsung memeluk Ryn.
" Ugh!" Ujar Ryn kesakitan.
" Kenapa, sayang? Apakah sakit?" Ujar Lars.
" Ya, setiap awal datang bulan perutku sakit." Ujar Ryn sambil meringis.
" Kalau begitu kamu tiduran saja, ayo aku bantu." Ujar Lars. Lars langsung bangun dan membantu Ryn untuk merebahkan dirinya di ranjang.
Karena ikut panik, Ryn sampai melupakan rasa sakit perutnya. Dan kini baru terasa sakitnya ketika akhirnya dia berhasil memberi tahu Lars.
" Tunggu, tadi kamu bilang kamu akan mengeluarkan darah selama seminggu?? " Tanya Lars, dan Ryn mengangguk.
" Darahmu bisa habis, sayang." Ujar Lars, dan itu berhasil membuat Ryn terkekeh.
" Tidak akan, Lars. Itu normal bagi perempuan." Ujar Ryn.
" Apakah ada sesuatu yang bisa meredakan sakit perutmu?" Tanya Lars.
" Biasanya aku di buatkan air jahe." Ujar Ryn.
" Kalau begitu kamu tunggu di sini, aku akan minta chef buatkan untukmu." Ujar Lars, dan langsung berlari pergi keluar dari kamar.
Ryn sampai geleng geleng melihatnya, tidak dia sangaka ada hari dimana dia tahu keluguan Lars. Ryn pikir Lars tshu semua hal.
" Ternyata ada hal yang tidak dia tahu di dunia ini, hihi.. aduh, perutku." Ujar Ryn, sambil menahan sakit perutnya.
Sementara itu, Lars yang masih menggunakan piyama berlarian menuju dapur dengan panik. Dia sudah mengganti baju atasan piamanya dengan kaos putih polos, namun celananya masih celana piama.
" Lars, dimana cucu mantu?" Tanya Peet.
Peet sampai heran karena melihat Lars yang berlarian dengan panik, bahkan masih menggunakan piyama.
" Dengar, buatkan air jahe untuk nona, cepat! " Ujar Lars dengan panik pada chef di dapur.
Chef di dapur terkejut melihat Lars yang masuk ke dapur, itu pertama kalinya Lars menghampiri dapur. Mereka langsung panik dan langsung menganggukan kepalanya.
Sementara si pembuat onar itu berlari lagi kembali ke meja makan dengan tergesa gesa.
" Lars, di mana cucu mantu?" Tanya Peet yang mengulangi pertanyaan sama.
" Sakit, kek." Sahut Lars, tapi juga sambil berlalu pergi menaiki tangga.
Sungguh, pagi ini kediaman Lars di buat heboh dengan kejadian tidak terduga itu. Para chef dan para pelayan sampai di buat terbingung bingung oleh tingkah Lars.
" Apa tadi Lars bilang cucu mantuku sedang sakit?" Tanya Peet pada Dokternya.
" Benar tuan." Ujar Dokter.
" Panggilkan dokter untuk memeriksanya." Ujar Peet, dan dokter itu sendiri berkedip kedip bingung.
" Saya dokter, tuan." Ujar Dokter itu pada Peet.
" Oh, ya saya lupa. Cobalah datangi Lars, dan periksa kondisi cucu mantuku." Ujar Peet.
" Baik tuan." Ujar Dokter dan meminta seorang pelayan menjaga Peet menggantikan nya.
Sementara itu di dalam kamar, Lars sedang duduk dengan wajah khawatir melihat Ryn yang semakin pucat.
" Sayang, apa aku panggil dokter saja? Kamu pucat sekali." ujar Lars, khawatir.
" Tidak perlu, aku tidak apa apa, ini normal." Ujar Ryn, dan Lars mengangguk.
Lars mengambil ponselnya dan mencari di internet, cara mengurangi rasa sakit pada wanita yang sedang kedatangan tamu bulanan.
" Air hangat bisa meredakan sakit, apa kamu mau aku kompres dengsn air hangat?" Tanya Lars, dan Ryn menggeleng.
" Aku tidur saja, nanti juga sakitnya reda." Ujar Ryn.
" Sungguh?" Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.
" Tok! Tok! Tok! " Pintu di ketuk dari luar.
" Tuan muda, apakah anda membutuhkan saya untuk memeriksa kondisi nona?" Tanya dokter.
" Tidak perlu Lars, aku tidak apa apa, tolong katakan pada dokternya, tidak perlu." Ujar Ryn, dan Lars mengangguk.
Lars pun bangun dari duduknya dan menghampiri pintu.
" Dia tidak mau, tolong cek di dapur, apakah chef sudah selesai membuat air jahe atau belum." Ujar Lars, dan dokter itu mengangguk.
' Ya Tuhan, aku seorang dokter dengan lulusan yang bagus tetapi aku menjadi pesuruh bagai pelayan.' Batin dokter itu.
Lars kembali duduk dan mengusap usap tangan Ryn yang saat ini sedang tidur, wajah Ryn sungguh pucat seperti orang yang sakit.
Ryn bahkan belum sempat mengatakan kepada Lars bahwa dia akan pulang ke kediaman nya sendiri, sekarang dia malah sakit perut karena tamu bulanan.
' Aku pikir aku sudah menjadi laki laki bren*sek yang merusak kekasihku sendiri, sukurlah..' Batin Lars.
Tak lama pelayan datang mengantarkan air jahe yang Lars pesan, tetapi karena Ryn tidur, Lars menyuruh pelayan untuk membawanya nanti ketika Ryn sudah bangun.
Lars pun turun dari kamar ketika sudah menyelimuti Ryn, dia duduk dengan sang kakek yang masih setia menunggu kedatanagan Lars dan Ryn untuk sarapan bersama.
" Apakah cucu mantu sudah minum obat?" Tanya Peet.
" Sudah kek, dia sedang tidur sekarang." Ujar Lars.
" Kalau begitu mari kita makan." Ujar Peet dan Lars mengangguk.
Akhirnya mereka berdua pun sarapan dengan tenang setelah segala kerusuhan yang terjadi.
TO BE CONTINUED..