
Lars meletakan tubuh Ryn di atas ranjang dengan sangat pelan. Pelan pelan dia juga membuka sepatu Ryn lalu menyelimutinya, sementara dirinya masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa saat, Lars pun selesai. Karena dia tidak memiliki baju ganti, akhirnya dia memakai bathrobe dan ikut masuk kedalam selimut Ryn lalu memeluk Ryn dari belakang.
Ke esokan harinya..
Ryn terbangun karena merasakan cahaya matahari yang menyilaukan, perlahan dia membuka matanya dan meregangkan tubuhnya.
" Morning baby.." Ujar Lars yang masih mengenakan bathrobe dan sedang duduk di sofa dengan laptop di hadapan nya.
" Kamu mandi pagi sekali?" Ujar Ryn dan duduk.
" Hm.. mandi pagi itu menyegarkan, tapi sebenarnya ini sudah bukan pagi." Ujar Lars, lalu bangun dari duduknya. Seketika Ryn gugup sendiri, karena itu pertama kalinya ia melihat Lars hanya menggunakan bathrobe.
" Memang ini jam berapa?" Tanya Ryn, dengan nada gugup.
" Sudah menjelang pukul seblas." Ujar Lars, yang kemudian mencium kening Ryn.
" Astaga, aku bangun siang sekali." Ujar Ryn langsung melotot terkejut.
" Tidak apa apa, kamu pasti mengantuk. Roco sedang mencarikan pakaian untuk kita, mungkin sebentar lagi dia datang. Kamu bersihkan diri dulu, nanti pakaianmu aku antar ke kamar mandi." Ujar Lars.
" Hm, oke.." Ujar Ryn.
Ryn pun langsung pergi ke kamar mandi, dengan berlari kecil. Tak lama Roco sungguh datang dan mengetuk pintu kamar Lars.
" Tok! Tok! Tok! " Pintu kamar hotel di ketuk. Lars menghampiri pintu dam membuka pintu itu.
" Tuan, ini adalah pakaian anda dan nona Ryn." Ujar Roco.
" Hm, terimakasih. Carikan kami meja untuk makan siang bersama tuan Lodra." Ujar Lars.
" Baik tuan, apakah makan siang di hotel ini?" Tanya Roco dan Lars mengangguk.
" Kalau begitu saya permisi." Ujar Roco, lalu pergi.
Setelah beberapa saat, Ryn sudah keluar dengan pakaian baru yang sebelumnya Roco belikan, namun rambutnya masih setengah basah.
'' Kamu akan sakit jika keluar dengan rambut setengah basah begini, sayang.'' Ujar Lars.
Tanpa aba aba, Lars langsung mengabil pengering rambut, lalu menggiring Ryn untuk duduk di ranjang.
'' Kemari, biar aku keringkan.'' Ujar Lars.
'' Aku akan melakukannya sendiri, Lars, Rambutku terlalu panjang, ini akan membuat tanganmu pegal.'' Ujar Ryn.
'' No.. no.. no.. patuh, ya..'' Ujar Lars.
Akhirnya Ryn hanya bisa pasrah dan menurut saja rambutnya di keringkan oleh Lars. Lars pun mulainmengeringkan rambut Ryn yang memiliki wangi khas itu,Lars suka dengan wanginya.
Karena terlalu hening, Ryn pun meraih remot tv dan menyalakan tv yang sedang menayangkan berita besar.
'' Bukankah hotel ini adalah hotel semalam?'' Ujar Ryn ketika melihat berita kebakaran besar, namun Lars sama sekali tidak mengalihkan pandangan nya dari rambut Ryn.
'' Sesuai dugaanku.'' Ujar Lars.
'' Kamu sudah menebak mereka akan membakar hotel itu?'' Tanya Ryn dan Lars berdehem.
Penyiar tv mengatakan ada sekitar lima korban yang tidak berhasil selamat, salah satunya adalah Damian. Padahal Damian sudah tewas sejak kemarin sebelum hotel itu terbakar.
'' Mereka membuat alibi, seolah Damian meninggal dalam kebakaran besar itu, licik.'' Ujar Ryn.
Lars tiba tiba saja berdiri di hadapan Ryn yang sedang menonton tv, Ryn pun mendongak keatas menatap Lars.
'' Kamu menghalangi tv.'' Ujar Ryn polos.
Lars tersenyum lalu menunduk dan mengecup bibir plumpy Ryn yang menggemaskan itu, lalu menggigit gemas bibir Ryn hingga Ryn mengaduh.
'' Aduh! Kenapa kau menggigit??'' Ujar Ryn protes.
'' Siapa suruh kamu mengabaikan aku dan begitu menggemaskan.'' Ujar Lars.
Tentu Ryn bingung di buatnya, dia tidak merasa mengabaikan Lars sama sekali, dia bahkan mengajak Lars ngobrol tentang hotel yang terbakar itu barusan.
'' Mana ada aku mengabaikanmu, aku tadi bicara denganmu, kok.'' Ujar Ryn dan Lars terkekeh.
'' Maaf ya.. aku hanya terlalu gemas denganmu, sayang. Apakah aku menggigit terlalu keras, apakah Sakit?'' Ujar Lars, dan Ryn mengangguk lucu.
'' Maaf ya..'' Ujar Lars lalu memeluk Ryn.
'' Kita selesaikan, lalu kita turun untuk makan siang dengan kakakmu.'' Ujar Lars, dan ryn mengangguk.
' Mungkin benar kata orang, jika anak manusai berduaan, maka yang ketiganya adalah setan. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, tetapi saat berdua dengan Ryn, aku menjadi gila. Setan.. aku tidak akan kalah darimu.' Batin Lars.
Dan akhirnya sesi mengeringkan rambut pun selesai, Lars mengecup ujung kepala Ryn lalu mengusapnya lembut.
'' Ayo, kita turun dan makan siang, setelah itu kita akan pulang.'' Ujar Lars.
'' Oke..'' Sahut Ryn.
Setelahnya, akhirnya mereka pun pergi dari kamar hotel dan turun ke restorsn hotel. Terlihat Lodra sudah duduk di sana menunggu kedatangan Lars dan Ryn.
" Kakak, hotel semalam kebakaran." Ujar Ryn pada Lodra.
" Hm, kakak sudah melihat beritanya, Tuan Lars memiliki insting yang kuat." Ujar Lodra.
" Setelah makan siang, kita akan segera pulang ke Jakarta." Ujar Lars, dan semua orang mengangguk.
" Barang barang yang kita ambil, apakah di bawa anak buahmu?" Bisik Ryn.
" Iya, sayang." Ujar Lars dan mengecup kening Ryn singkat.
" Jangan bahas apapun, saat ini kita sedang tidak dalam penyamaran. Bisa jadi ada musuh bisnisku yang berada disini." Bisik Lars.
" Astaga.. maaf." Ujar Ryn.
Setelah makanan datang, semua orang pun makan dengan fokus. Sesekali Lars akan memotong daging bagiannya dan memberikannya pada Ryn. Hal itu rupanya sungguh tidak jauh dari mata mata paparazi dan reporter.
Ada beberapa orang yang diam diam memotret kebersamaan Ryn dan Lars.
" Woah.. aku akan dapat berita besar." Gumam pria itu.
Akhirnya makan siang pun selesai, semua orang pun pergi dari restoran hotel. Saat sedang berjalan, tiba tiba Lars melihat pantulan seseorang yang mengambil foto diam diam dari kaca, dia pun tersenyum smirk melihatnya.
Lar berhenti lalu kemudian berbalik menghadap pria yang memotretnya diam diam, dan memanggilnya.
" Panggil dia kemari." Ujar Lars pada Roco, dan Roco mengangguk.
pria yang memotret Lars diam diam itu hendak lari, tetapi dia kalah cepat dengan sambaran tangan Roco yang menarik bahunya.
" Tuan Lars memanggilmu." Ujar Roco.
' Matilah aku..' Batin pria itu.
Jika ada yang ketahuan memotret Lars diam diam, Lars tidak segan segan membawa orang itu ke jalur hukum, maka dari itu satu foto Lars bernilai sangat mahal.
" T- tuan Lars." Ujar pria tadi.
" Karena aku sedang berbaik hati, maka aku biarkan kau memotretku. Tetapi kau harus bekerja sama denganku." Ujar Lars.
"Baik tuan, apa yang harus saya lakukan?" Tanya pria itu takut takut.
" Foto aku dan kekasihku, lalu sebarkan keluar bahwa aku sudah memiliki kekasih dan akan bertunangan." Ujar Lars.
Semua orang terkejut, bahkan Ryn yang merupakan kekasih Lars saja terkejut mendengarnya.
" Baik tuan." Ujar pria itu.
" Foto kami senatural mungkin, jangan katakan pada siapapun bahwa ini aku yang memintanya." Ujar Lars.
" Siap, tuan." Ujar pria itu.
" Ayo sayang, kita pulang." Ujar Lars pada Ryn.
Pria itu pun mengikuti kemana Lars melangkah dan tak henti hentinya memotret Lars dan Ryn dari berbagai sisi. Bahkan Lars dengan terang terangan mengecup tangan Ryn saat sedang menggandeng tangan Ryn.
" Woaah.. Tuan Lars sangat baik, aku akan mendapat gaji besar dengan berita ini." Ujar pria itu.
' Dengan begini, tidak akan ada yang menyangkut pautkan kedatanganku ke Bandung dengan kebakaran hotel milik pria itu.' Batin Lars.
Rupanya hotel yang di bakar itu adalah milik mendiang ayah kandung Lars yang sudah di wariskan kepada anak tirinya. Alih alih memberikan warisannya kepada Lars, ayah kandung Lars justru mengatas namakan semua asetnya dengan nama anak tirinya.
Lars tidak mau lagi di sangkut pautkan dengan orang orang di masalalunya. Baginya, keluarganya hanya satu, yaitu Peet. Dan kini bertambah lagi satu, yaitu Ryn.. kekasihnya.
TO BE CONTINUED...