
Ryn sedang berdiri di depan jendela kamarnya, ia menatap matahari yang saat ini sudah mulai terbenam.
Tanpa harus datang ke pantai atau ke sebuah tempat yang indah, dari kamar Ryn bisa terlihat pemandangan yang indah. Matahari yang terbenam dengan cantik bisa terlihat dari kamar Ryn.
' Kenapa sejak pagi aku mengirim pesan pada kakak tapi belum juga mendapatkan balasan? Apakah kakak sangat sibuk?' Batin Ryn.
Sejak Lodra berpamitan hendak keluar kota, Ryn tidak mendapatkan kabar Lodra lagi hingga sekarang. Dan karena Lodra berpesan untuk memberitahunya jika sudah di kediaman Paul, maka Ryn pun mengirimi Lodra pesan.
Tetapi pesan yang Ryn kirim tidak mendapatkan balasan dari Lodra, alhasil Ryn semakin gelisah karena nya.
" Aku sungguh bisa mati penasaran jika hanya menunggu seperti ini saja." Ujar Ryn.
Ryn keluar dari kamarnya dan hendak turun dari atas tangga, sampai dia mendengar salah satu pengawalnya berkata sesuatu lewat ear piece.
" Apa! Tuan dalam bahaya? Aku akan kesana. Tidak, lebih baik tuan marah padaku, aku akan tetap kesana." Ujar pengawal itu.
Tapi belum sempat Ryn memanggil, pria itu sudah lari lebih dulu dengan terburu buru.
" Apa maksudnya itu kakak? Apa kakak dalam bahaya." Gumam Ryn.
Ryn drngan buru buru turun ke bawah dan rupanya kebetulan Lars sampai di sana.
" Sayang, kamu mau kemana?" Ujar Lars langsung meraih tangan Ryn yang berlari mengejar pengawal tadi.
" Lars, kamu lihat salah satu pengawal yang berlari, tadi?" Tanya Ryn, dan menggeleng.
" Lars, kakakku dalam bahaya, aku mendengar dia berbicara dari Ear piecenya." Ujar Ryn.
Lars langsung memeluk Ryn dan menenangkan Ryn.
" Mungkin kamu salah dengar, bukankah kakakmu sedang berada di luar kota?" Ujar Lars.
" Iya, tapi aku mendengarnya sendiri." Ujar Ryn.
" Memangnya orang tadi menyebut nama kakakmu? " Tanys Lars, dan Ryn menggeleng.
" Tenang, ya.. kakak mu pasti baik baik saja." Ujar Lars.
" Bagaimana jika Davon menangkap kakak? Lars tolong cari dimana keberadaan kakakku, sejak tadi pagi pun aku mencoba menghubunginya tapi tidak bisa, pesanku bahkan belum di balas." Ujar Ryn.
" Oke, aku cari keberadaan kakakmu, ayo kita masuk kedalam dulu." Ujar Lars.
Ryn mengangguk, lalu akhirnya keduanya masuk kedalam. Lars dan Ryn duduk di sofa ruang tengah, dan Ryn menunggu Lars yang saat ini sedang mengotak atik ponselnya.
" Lihat, kakakmu baik baik saja." Ujar Lars sembari menunjukan sebuah video Lodra yang sedang berjalan dengan seorang pria yang tampak sedang membicarakan pekerjaan.
' Ini kakak, tapi kenapa pengawal tadi berkata tuan dalam bahaya, siapa tuannya?' Batin Ryn.
" Sudah lihat, kan? seperti yang aku katakan padamu, bahwa aku akan pastikan kakakmu baik baik saja, jadi percayalah padaku, dia baik baik saja." Ujar Lars.
" Baiklah." Ujar Ryn.
Tak lama muncul East bersama beberapa pelayan yang membawa makanan.
" Nona, makan malam sudah siap." Ujar East.
" Ya, terimakasih." Ujar Ryn.
" Lebih baik kita makan, agar kamu lebih tenang." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.
Sementara itu di tempat lain..
Lodra sedang berjuang antara hidup dan matinya, ia tertembak oleh kelompok Davon yang rupanya diam diam sudah tahu ada alat pelacak berupa lalat.
Lodra di operasi di markas besar Lars yang berada di kota lain, tepatnya adalah markas yang di jadikan transaksi antara Lars dan David sebelumnya.
Meski mafia, semua alat medis di markas sangat lengkap, bahkan salah satu anak buah Lars merupakan seorang dokter dengan kemampuan yang lebih bagus.
Bahkan dokter itu tidak menggunakan jubah dokter, tetapi memakai jaket hitam dan celana hitam, layaknya seorang kelompok mafia.
" Kenapa bisa ketahuan? Bukankah kau bilang cctv lalat itu nyaris tidak terlihat?" Ujar dokter.
" Tidak tahu, tiba tiba saja kelompok musuh mengepung." Ujar salah seorang pria.
" Lalu bagaimana dengan anak buah tuan yang menyusup di sana? Apa mereka juga ketahuan?" Tanya Dokter.
" Mereka belum ketahuan, dan dalam beberapa hari ini mereka berhasil membunuh setidaknya puluhan anak buah David yang berada di tanah air." Ujar pria tadi.
" Mereka pasti sudah curiga, Lodra terlalu lama bertindak, akhirnya begini." Ujar Dokter.
" Itu karena dia melindungi adiknya, yang merupakan kekasih tuan." Ujar pria tadi.
" Tetap saja, malas aku kalau harus bekerja dengan orang yang bertele tele. Jika bukan karena Tuan, aku tidak mau menanganinya." Ujar Dokter itu.
" Kau masih saja memarahi pasien yang bahkan masih belum sadar, Stone." Ujar suara Roco yang datang pada dokter tadi yang rupanya bernama Stone.
" Bagaimana?" Tanya Stone.
" Sudah aman, anak buah tuan Lodra bertindak gegabah hingga membuat nona Ryn curiga. Untungnya kebetulan tuan sampai di sana, dan lebih untung lagi, kita memiliki rekaman saat Lodra sedang berpura pura membahas kerja sama." Ujar Roco.
" Perempuan selalu menjadi beban, itulah sebabnya aku benci perempuan." Ujar Stone.
" Kau batu, mana mungkin punya hati." Ujar Roco sambil terkekeh.
Stone membuka sarung tangannya, lalu melemparnya dengan asal dan pergi dari ruang operasi itu.
" Lihat, sejak dulu dia tidak pernah berubah. Sakit hati dengan seorang gadis membuat dia membenci semua gadis. Jika dia bertemu nona Ryn, aku yakin dia akan terpukul dengan ucapannya sendiri." Ujar Roco.
" Sejujurnya aku juga penasaran dengan nona Ryn yang kau sebut sebut itu, apa memang dia se hebat itu?" Ujar pria yang sebelumnya.
" Kau akan mati kutu jika bertemu dengannya. Sudah, pindahkan tuan Lodra ke ruang steril." Ujar Roco, dan pria itu mengangguk.
' Nona Ryn bukan hanya hebat, tapi dia lebih dari itu. Dia penayang dan sadis secara bersamaan, bahkan menurutku lebih sadis bona Ryn dari pada tuan.' Batin Roco.
Roco sudah beberapa kali melihat aksi sadis Ryn, dan dia juga mendengar dari anak buah Lars yang berada di markas Jakarta bagaimana kejam dan sadisnya Ryn saat menyiksa Sam, bahkan rekamannya masih ada dan juga masih berputar putar di kepala Roco sampai sekarang.
Setelah Lodra di pindahkan ke ruang steril, Roco mengecek dari monitor dan melacak posisi anak buah Lars yang menyusup diantara anak buah David.
" Mereka masih aman." Gumam Roco.
" Kenapa kita harus menggunakan strategi yang bertele tele begini? Kenapa tidak langsung serang dan habisi saja para monyet s*alan itu?" Ujar Stone yang masih emosi.
" Yang berhak membunuh David, adalah nona Ryn.. itu saja." Ujar Roco.
" Ck! Apa iya wanita bisa membunuh seorang pimpinan mafia, aku yakin dia pasti akan menangis saat melihat darah." Ujar Stone, dan Roco hanya bisa terkekeh mendengarnya.
" Aku jamin, setelah kau bertemu dengan nona Ryn, kau akan mendapatkan pandangan lain tentang perempuan." Ujar Roco.
" Jika David harus di bunuh nona itu, apa aku boleh membunuh anaknya? Wajah mesumnya membuatku ingin membunuhnya di tempat." Ujar Stone dan Roco terbahak.
" Hahahaha.." Tawa Roco terdengar nyaring.
" Aku serius, Co." Ujar Stone.
" Sebenarnya anaknya David adalah musuh tuan Lodra, dan Tuan memiliki perjanjian dengan tuan Lodra, bahwa tuan Lodra harus membunuh Davon dengan tangannya sendiri, atau tuan Lodra harus pergi jauh jauh dari nona Ryn." Ujar Roco menjelaskan.
" Haish!! Bisa habis sungguhan kesabaranku, lihat itu! Dia saja masih terkapar tak berdaya, lalu kapan dia bisa membunuh si mesum s*alan itu, huh?! " Ujar Stone dengan urat yang menegang.
" Hanya bisa menunggu sampai dia pulih." Ujar Roco sambil terkekeh..
TO BE CONTINUED...