
Ryn masuk kedalam bangkai rumah yang Lodra katakan sebagai rumah masa kecil Ryn. Dan benar saja, Ryn seakan mengenali ruangan itu. Meski sudah terbakar hampir semuanya hangus, tetapi sudut sudut dinding itu tampak familiar di kepala Ryn.
Ryn berjalan kesana kemari seakan sedang memastikan sesuatu, hingga dia tiba di ruang tengah yang memperlihatkan bagian lantai dua bangunan itu. Seketika Ryn teringat dengan mimpinya, dimana dia melihat wanita yang menggendong anaknya dan Sam yang berjalan mengejarnya.
' Benar.. ini adalah rumah yang ada di dalam mimpiku.' Batin Ryn.
'' Ayah dan ibu kandungmu, meninggal di rumah ini, dan itu karena Sam.'' Ujar Lodra tiba tiba.
'' Papa Paul sebenarnya tidak tahu bahwa papa kandungmu adalah seorang ketua mafia, sampai kami melakukan penyelidikan dan akhirnya kami menemukan Sam Eldrigo. Kami membutuhkan waktu lama untuk mengetahui kebenaran itu, apalagi kamu pernah di culik saat itu.. jadi papa lebih memfokuskan pada keamanan mu lebih dulu.'' Ujar Lodra lagi.
Ryn mendengarkan nya, tetapi saat ini di kepalanya juga sedang berputar beberapa adegan yang sering muncul di ingatan nya secara tiba tiba. Ryn seakan kembali merasakan residual kejadian yang pernah terjadi dulu.
'' Nyonya, cepat lari.. dan bawa nona kecil pergi dari sini.'' Ujar suara seorang pria yang begitu terdengar jelas di telinga Ryn saat ini.
Pandangan Ryn mengikuti gambaran gambaran yang muncul di kepalanya. Dimana dia kembali melihat wanita yang berada di mimpinya berlarian sambil menggendong anak kecil.
" Ryn sayang, apakah kamu sedikit mengingat kejadian di masa kecilmu?" Ujar Lodra, karena Ryn terlihat begitu gemetar saat ini.
" Kakak, rumah ini.. Adalah rumah yang selalu hadir di dalam mimpiku. Aku memimpikan seorang wanita yang terus berlari menghindari kejaran Sam. Dia membawa anak kecil di gendongan nya." Ujar Ryn.
Lodra terdiam, rupanya Ryn melihat kejadian naas itu.. Mungkin itu yang membuat ingatan Ryn terkunci hingga dia melupakan semua kenangan masa itu.
" Lalu kamu lihat apa? Sebentar, kakak tidak mau mengambil resiko, kakak akan panggil dokter datang." Ujar Lodra dan Ryn mengangguk, bagaimanapun Lodra bukan ahli kedokteran.
Lodra menghubungi Dokter, dan Ryn berjalan menuju ke sebuah ruangan. Lodra mengikuti kemana Ryn pergi, sambil berjaga jaga kalau - kalau Ryn pingsan.
" Halo.. silahkan masuk tuan - tuan sekalian." Sebuah residual memory kembali muncul di hadapan Ryn saat ini.
Dimana ia melihat beberapa pria masuk ke dalam ruangan itu, dan salah satu dari pria itu adalah Sam. Kemudian Ryn melihat Sam tersenyum kearahnya.
" Tuan Wira, putrimu sudah besar. Dia pasti akan tumbuh menjadi gadis cantik nanti. " Ujar Sam sambil tersenyum kearah Ryn.
' Pria baj*ngan ini.. Tunggu, apakah saat ini yang muncul di hadapanku adalah ingatan masa kecilku?' Batin Ryn.
Kemudian munculah deorang wanita yang kemudian mengambil alih tubuh Ryn kecil yang sebelumnya berada di pangkuan Wira.
" Ryn sayang, ayo sama mama. Papa harus kerja dulu." Ujar wanita itu.
" Tunggu, kenapa aku di bawa pergi.." Gumam Ryn.
Lodra kian panik, Ryn seakan bukan Ryn saat ini. Tatapan nya tidak fokus, pupil mata Ryn bergerak gerak panik.
" Ryn.. Apa yang terjadi?" Ujar Lodra, seketika Ryn sadar.
" Kakak, ruangan apa ini?" Tanya Ryn.
" Ini adalah ruang rahasia ayahmu, ketika dia akan melakukan pertemuan penting dengan anggotanya." Ujar Lodra.
" Apakah ayahku meninggal di sini?" Tanya Ryn tiba tiba, dan Lodra mengangguk.
" Sepertinya kamu mendapatkan potongan potongan ingatanmu yang hilang?" Ujar Lodra.
" Ya.. Aku mengingat sedikit." Ujar Ryn.
" Kakak tahu teknologi VR? Saat ini aku seperti sedang melakukan VR, aku melihat mereka dari ingatan masa kecilku." Ujar Ryn.
" Astaga, itu bagus adik. Dengan begitu kita bisa menangkap siapa saja pelakunya selain Sam. Tapi.. Apakah kamu baik baik saja?" Ujar Lodra.
" Aku tidak tahu, kak. Aku merasa ketakutan." Ujar Ryn.
" Bagaimanapun kamu masih kecil saat itu." Ujar Lodra mengusap kepala Ryn.
Tiba tiba terdengar deru mesin mobil dari luar rumah itu, dan rupanya Lars yang datang bersama dokter yang Lodra hubungi.
" Kenapa tuan Lars juga datang? " Ujar Lodra yang melihat dari cctv yang terhubung di ponselnya.
" Lars??" Ujar Ryn seakan tidak percaya.
" Ryn." Gumam Lars dan langsung memeluk tubuh Ryn.
Ryn yang di peluk tiba tiba oleh Lars pun menjadi terkejut, saking terkejutnya dia sampai hanya bisa diam.
" Kamu tidak apa apa?" Ujar Lars ketika akhirnya melerai pelukannya dari Ryn.
" Kamu kenapa datang kemari?" Tanya Ryn pada Lars.
" Lodra menghubungi dokter, dan dokter memberitahuku karena aku mengatakan padanya jika terjadi sesuatu padamu , apapun itu.. Dia harus memberitahuku." Ujar Lars.
" Astaga.." Gumam Ryn tanpa sadar.
" Nona Ryn, maaf.. Apakah anda merasakan sesuatu ketika berada di sini?" Tanya Dokter.
" Rasanya seperti aku melihat adegan yang ada di hadapanku, tapi itu tidak nyata." Ujar Ryn.
" Residual memory, nona Ryn sedang di ingatkan dengan ingatan ingatan yang pernah nona Ryn alami, yang selama ini hilang." Ujar Dokter.
" Ini langkah yang bagus tuan Lars, jika nona Ryn bisa terus mengingat satu persatu kenangan masa kecil nya, maka nona Ryn pasti akan sembuh." ujar dokter lagi.
" Tapi apakah itu baik baik saja, jika Ryn terus menerus mencoba mengingat? Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya." Ujar Lodra.
" Nona Ryn akan baik baik saja, mungkin ada beberapa efek yang terjadi, tapi itu tidak membahayakan. Lebih bagus lagi, jika kita bisa membantunya mengingat." Ujar Dokter.
" Anda pasti tahu cerita tentang masa kecil Ryn, bukan?" Tanya Lars pada Lodra. Ryn menatap Lodra lalu mengangguk.
" Benar kak, ceritakan padaku.. Apa yang kakak ketahui, apa yang pernah papa Paul ceritakan pada kakak." Ujar Ryn. Lodra tampak berpikir tetapi akhirnya dia mengangguk.
" Papa Paul juga tidak tahu awal mula kejadian naas yang di alami orang tua kandungmu, dia hanya menerima panggilan dari papamu, untuk datang ke Jakarta dan melindungimu." Ujar Lodra akhirnya bercerita.
Lodra pun menceritakan apa yang Paul ceritakan padanya, semuanya dia ceritakan, seperti yang pernah Ryn baca di buku diary Paul, seperti itu juga Lodra bercerita.
Lodra bercerita sembari berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua, dan membuka sebuah kamar yang terkunci dengan kunci yang berada di tangan Lodra.
Ryn terkejut melihat kamar itu, itu adalah kamar yang juga ada di dalam mimpinya.
" Kamar ini.. Yang ada di mimpiku." Gumam Ryn.
Ryn kemudian berjalan menuju ke lemari yang ada di mimpinya. Ukirannya, bentuknya, sama percis dengan yang ada di mimpinya.
Ryn membuka lemari itu, dan rupanya itu bukan lemari, tetapi seperti ruang rahasia.
" Ryn sayang, tetaplah di dalam sini.. Jangan kemanapun sebelum paman Paul datang, ok.. dengar mama nak? " Suara perempuan itu akhirnya kembali terdengar.
Tiba tiba air mata Ryn berurai, ia ingat dengan lejadian yang terjadi.
" Mama.." Gumam Ryn, dan langsung terisak pilu.
Di telinga Ryn terdengar suara jeritan kesakitan ibunya yang mungkin tertangkap oleh Sam saat itu. Ia menangis sama pilunya dengan tangisan nya saat kecil dulu.
Lars langsung membawa Ryn kedalam pelukan nya. Ia ikut bersedih melihat gadis yang di cintainya itu menangis pilu.
" Jangan begini, kamu akan sesak nafas nanti." Ujar Lars.
" Mama, papa.." Gumam Ryn lagi.
Selama dia 20 tahun dia hidup di dunia, dia tumbuh tanpa mengingat dan mengenal sosok orang tua kandungnya. Ia hanya tahu bahwa Paul lah orang tuanya.
Setelah mengingat kembali ingatan di masa kecilnya, dia menjadi kembali merasakan sakitnya di masa itu. Tidak terbayang bagaimana rasanya, kehidupan yang kita kira sempurna, rupanya bukan hidup kita yang sebenarnya.
" Ryn!!" Lars dan Lodra panik ketika akhirnya Ryn pingsan.
TO BE CONTINUED..