
Matahari hampir menyingsing, dan Lodra masih tergeletak di atas pohon, ia tidak bergerak sama sekali. Hingga tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang menginjak rerumputan.
" Ck! Rupanya dia di atas pohon." Gumam pria itu, yang rupanya adalah Stone.
Beberapa jam kemudian..
Ryn sudah bangun dan kembali melakukan olahraganya seperti dulu, ia mulai rutinitas paginya dengan Ninjutsu.
Cukup berat memang, kebanyakan gadis mungkin akan memilih yoga atau senam senam biasa, tapi Ryn memilih Ninjutsu karena dia hidup di dunia yang memiliki banyak musuh.
Paul adalah orang yang mengajarkan Ryn beberapa seni bela diri, dari Karate, Ninjutsu dan samurai. Ketiga seni bela diri itu sudah mampu membuat Ryn menjadi peka dengan keadaan sekitar dan mengalahkan banyak lawan.
" Nona, sarapan sudah siap." Ujar pelayan.
Ryn menyudahi latihannya, lalu mengangguk. Tubuh Ryn saat ini berkeringat sangat banyak.
Ryn berjalan keluar dari ruang latihannya, dan melewati sebuah garasi mobil. Ryn melihat deretan mobil Paul dan mobilnya yang merupakan hadiah dari Paul berjejer di sana.
" Dimana kunci mobil putih ini?" Tanya Ryn pada pria yang sedang membersihkan mobil mobil itu.
" Maaf nona, apakah nona akan berkendara? Tuan Lodra memberitahu saya bahwa anda tidak boleh mengemudi sendiri." Ujar pria itu.
" Haih! Berikan saja, aku tidak akan keluar dari pekarangan rumah." Ujar Ryn menghela nafas.
" Tapi nona..." Ujar pria itu dengan ragu.
" Berikan saja padanya, aku akan menemaninya." Ujar suara Lars.
" Lars? Kamu pagi pagi datang kemari?" Ujar Ryn.
" Ada seseorang yang membuatku begitu khawatir dengan menonaktifkan ponselnya, jadi aku langsung buru buru datang kemari." Ujar Lars.
" Ha?? " Ujar Ryn bingung.
Ryn lalu melihat ponselnya yang berada di saku, dan menyengir kuda ke arah Lars sambil berkata..
" Ponselku mati, dia belum makan." Ujar Ryn.
Lars mengeluarkan sapu tangan nya dari kantong, dan mengelap wajah Ryn yang masih penuh keringat.
" Kamu juga butuh makan, apakah kamu baru saja berolah raga?" Tanya Lars.
" Hanya Ninjutsu.." Ujar Ryn dan berhasil membuat pengawalnya melongo.
' Ninjutsu? Hanya? Hanya Ninjutsu?' Batin pria itu tidak habis pikir.
'' Mandilah, lalu aku akan menemanimu berkendara. Seharian ini aku akan menemanimu." Ujar Lars.
" Apa kamu tidak sibuk?" Tanya Ryn.
" Apa gunanya aku membayar orang untuk bekerja, jika mereka tidak bisa mengerjakan tugasku." Ujar Lars, dan Ryn terkekeh.
" Baiklah, kau memang bosnya. Dua puluh menit, aku akan kembali." Ujar Ryn dengan senyum manisnya dan langsung pergi dari sana.
" Berikan kuncinya padaku." Ujar Lars, dan pria itu mengangguk.
Dan setelah dua puluh menit, Ryn turun dengan pakaian rapih namun tidak formal. Ryn menggunakan celana baggy jeans dan menggunakan jaket olah raga dari brand tiga garis.
" Kamu belum sarapan, jadi mari kita sarapan lebih dulu." Ujar Lars sembari menyiapkan makanan Ryn.
" Apa kamu sungguh memiliki waktu senggang?" Tanya Ryn sambil ia duduk di meja makan.
" Iya, sayang.. kenapa? " Tanya Lars.
'' Tidak apa apa..'' Ujar Ryn.
Keduanya pun memulai sarapan mereka, dan di tengah tengah sarapannya itu Lars mendapatkan pesan darurat dari Roco yang menyampaikan bahwa Lodra telah membunuh Davon dengan tangan nya sendiri. Lars menatap Ryn sebentar lalu kemudian mengantongi kembali ponselnya.
'' Hmm.. Apa karena aku lapar jadi aku merasa makanan ini begitu enak?'' Ujar Ryn sambil terkekeh.
Lars tiba tiba merasa tidak tega jika sampai ia melihat senyum indah yang menghiasi wajah cantik Ryn itu menghilang saat tahu bahwa Lodra koma.
Kini Ryn berdiri di depan mobil sport miliknya, ia masih ingat betul bagaimana Paul mengajarinya berkendara dulu, bahkan sampai ia menabrak dan bekas baretan nya masih ada di badan mobil itu.
'' Ini kuncinya, aku serahkan nyawaku kepadamu.'' Ujar Lars, dan Ryn terkekeh di buatnya.
'' Seolah aku ini pengemudi yang benar benar buruk.'' Ujar Ryn terkekeh sambil menguncir rambut panjangnya.
Akhirnya Ryn duduk di kursi kemudi, dan menyalakan mesin mobil itu. Lars benar benar tidak berkomentar apapun, dia melihat bagaimana Ryn menyalakan mobil itu dan rupanya Ryn sudah hafal. Mereka pun mulai melaju pergi dari pekarangan rumah Ryn.
Kini keduanya berada di jalan raya yang tidak begitu padat. Awalnya dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tapi semakin lama Ryn semakin menambah kecepatan nya di atas rata rata.
'' Kamu tidak takut, kah?'' Tanya Ryn.
'' Seperti yang aku bilang, sayang.. aku menyerahkan nyawaku kepadamu.'' Ujar Lars.
''Aku tidak mau kembali kehilangan orang yang aku sayangi.'' Ujar Ryn, lalu mngurangi kecepatan mobilnya.
Lars terharu mendengarnya, rupanya Ryn juga takut kehilangan dirinya. Kini ia merasa konyol sendiri dengan membuat kesepakatan pada Lodra untuk menjauhi Ryn karena dirinya cemburu. Bagaimana jika nanti Ryn tahu bahwa dia membuat kesepakatan konyol itu dengan Lodra? itu yang ada di kepalanya saat ini.
'' Bagaimana jika kita melakukan hal hal yang menyenangkan, seperti keinginan - keinginan mu yang dulu belum terwujud.'' Ujar Lars.
'' Hmm.. boleh juga. Karena ini masih pagi, bagaimana jika ke kebun binatang lebih dulu? Aku sangat ingin melihat binatang di sana.'' Ujar Ryn.
'' Apapun untukmu, sayang. Tapi demi kemanan, biarkan aku yang menyetir, kamu tidak memiliki SIM.'' Ujar Lars.
'' Ah, iya.. benar juga, aku belum punya SIM.'' Ujar Ryn.
Akhirnya mereka bertukar tempat, kini Lars yang mengemudikan mobil itu dan langsung membelah jalan menuju ke kebun binatang terdekat.
Sepanjang jalan itu, Lars menggenggam tangan Ryn, dan hanya mengemudi dengan sebelah tangan nya saja. Hingga tak lama keduanya pun sampai di sebuah kebun binatang.
" Mmmm... sepertinya ada yang salah, apa kamu akan masuk ke dalam kebun binatang dengan pakaian formal begitu?" Tanya Ryn.
Saat ini Lars masih menggunakan stelan jasnya, bagaimanapun setiap harinya Lars selalu berpakaian rapi, karena dia seorang pemimpin.
" Mudah saja, tunggu sebentar." Ujar Lars.
Lars membuka jasnya, lalu menaruhnya di dalam mobil. Lars lalu membuka dua kancing atasnya, lalu menyingsingkan lengan kemejanya hingga setengah siku, terlihatlah Lars yang tampan.
" Bagaimana bisa kamu tetap sempurna dengan penampilan apapun?" Ujar Ryn, dan Lars terkekeh.
" Kamu memujiku, atau sedang menggodaku, hum?" Ujar Lars lalu mencubit gemas hidung mancung Ryn.
" Aiya! Sakit.." Ujar Ryn, dan Lars terkekeh.
Banyak yang memperhatikan mereka berdua, karena mereka pasangan tampan dan cantik. Mereka benar benar mencuri perhatian semua orang.
" Oh, ada yang kurang." Ujar Ryn.
Ryn melepaskan kunciran rambutnya, lalu ia menguncir rambut Lars seperti biasa saat Lars sedang dalam mode menyamar, Lars kian makin terlihat keren jika rambutnya di kuncir begitu.
" Mm.. Kenapa aku marasa semua orang melihat kearah kita? Apakah hanya perasaanku saja atau memang mereka melihat kita?" Ujar Ryn.
" Mereka sedang iri dengan pasangan manis ini." Ujar Lars, lalu memeluk Ryn dan berjalan pergi masuk kedalam kebun binatang.
Mereka mengunjungi satu persatu kandang binatang di sana, dan Ryn terlihat bahagia. Terdengar tawa Ryn yang seperti candu bagi Lars.
" ROAR!" Suara Ryn menirukan suara singa.
Setelah dari kandang singa, kini mereka berada di kandang kelinci. Ryn membawa wortel yang ia beli dari penjual sekitar dan memberikannya kepada seekor kelinci berwarna putih yang menggemaskan.
" Astaga Lucunya, dia makan dengan cepat." Ujar Ryn, lalu menirukan bagaimana kelinci itu makan.
Lars hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat bagaimana ke randoman yang di buat Ryn.
' Astaga, rasanya ingin aku kantongi saja dia.' Batin Lars.
TO BE CONTINUED..