A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 21. Mengetahui fakta.



Hingga ber jam jam lamanya, Ryn masih belum juga menunjukan tanda tanda kesadaran. Lars yang kelewat khawatir itu kembali memanggil para dokter untuk mengecek kondisi Ryn, karena Ryn sudah tidak sadarkan diri terlalu lama.


" Apa yang terjadi?" Ujar Lars.


" Nona Ryn tertidur tuan, dia tidak apa apa." Ujar Dokter.


" Tidur?" Tanya Lars bingung.


" Benar, pengaruh obat pnenang sudah hilang seharusnya, mungkin nona Ryn kelelahan jadi dia tertidur." Ujar Dokter.


Tak lama, Lodra sampai di rumah sakit. Lodra sampai membatalkan pekerjaan nya dan langsung kembali ke Jakarta untuk melihat Ryn. Lodra masuk ke dalam ruang perawatan Ryn, dan melihat Lars yang masih setia duduk sembari mengusap tangan Ryn.


" Bagaimana keadaan adik saya?" Tanya Lodra pada Dokter.


" Nona Ryn baik baik saja, tuan. Dia mungkin terkejut sekaligus kelelahan, jadi pingsan nya berlanjut menjadi tidur." Ujar dokter.


" Terimakasih." Ujar Lodra pada Dokter.


Dokter tadi tersenyum ramah dan menganggukan kepalanya.


" Kalau begitu saya permisi tuan." Ujar dokter, dan Lodra mengangguk.


Sangat jelas berbeda.. Lodra bisa bersikap sangat ramah, Kebalikan dengan Lars yang hanya emasang wajah dingin nya.


" Tuan Lars, terimakasih sudah menemukan dia." Ujar Lodra.


" Kalaupun dia hilang ke belahan dunia lain, aku akan tetap mencari dan menemukannya." Ujar Lars, tanpa menatap Lodra.


Tatapan Lars hanya tertuju pada Ryn seorang. Lodra sendiri semakin yakin, betapa dalam nya perasaan Lars pada Ryn dari tatapan nya.


" Tuan Lodra, bisakah kita bicara?" Ujsr Lars tiba tiba.


" Silahkan." Ujar Lodra.


" Kita bicara di luar." Ujar Lars.


Lars bangun dan merapihkan selimut Ryn, lalu berjalan keluar dari ruang perawatan bersama Lodra.


" Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Ryn sebelumnya?" Tanya Lars.


" Apa maksud anda?" Tanya Lodra.


" Ryn, terus kesakitan dan memegangi kepalanya. Ini bukan sekali aku melihatnya tidur dan meneteskan air matanya, tapi sudah dua kali. Dua kali juga aku melihatnya kesakitan seperti itu." Ujar Lars.


" Aku sudah meminta semua dokter dari berbagai jenis bidang penyalit untuk memeriksa dia, tapi dia baik baik saja. Tapi kenapa dia kesakitan jika dia tidak terluka sedikitpun." Ujar Lars lagi.


Lodra terlihat bingung, apakah dia akan memberi tahu kebenaran nya pada Lars atau tidak. Tapi jika tidak, ia yakin Lars tidak akan semudah itu menyerah.


" Ryn... Kehilangan ingatan nya saat dia berusia lima tahun.. " Ujar Lodra.


" Hilang ?? Apa penyebabnya?" Tanya Lars.


" Itu...." Ujar Lodra menggantung.


" Jika Ryn terus begitu, takutnya akan memepengaruhi psikisnya." Ujar Lars.


" Dia kehilangan memory nya saat berusia lima tahun, dia tidak memiliki ingatan saat usia nya lima tahun ke bawah." Ujar Lodra.


" Apa penyebabnya?" Ujar Lars mulai hilang kesabaran.


" Karena kematian kedua orang tua kandungnya." Ujar Lodra akhirnya, dan Lars terdiam.


" Jadi, tuan Paul bukan ayah kandung Ryn?" Ujar Lars, dan Lodra mengangguk.


" Ingatan nya terkubur sejak saat dia melihat pemakaman kedua orang tuanya. Papa bercerita padaku, saat itu Ryn panas tinggi setelah dari pemakaman kedua orang tua nya. Dan setelah bangun, dia tidak ingat apapun dan menganggap papa Paul sebagai ayah nya." Ujar Lodra.


" Dia terlalu shock, dan tidak menerima kematian ibu dan ayah nya?" Ujar Lars.


" Iya, sampai dia lupa dengan kebenaran yang terjadi." Ujar Lodra.


Ryn meneteskan air matanya, rupanya memang dia bukan anak kandung Paul. Entang mengapa mendengar penjelasan Lodra, hatinya justru lebih sakit. Karena dia merasa dirinya telah di bohongi selama ini.


Walau memang nyatanya dia hilang ingatan, dan Paul menyembunyikan itu demi kebaikan dirinya, tapi Ryn tetap memiliki rasa kecewa di hatinya.


' Mereka menyembunyikan kebenaran itu dariku.' Batin Ryn.


" Ryn.." Gumam Lodra, ketika melihat Ryn.


Ryn berjalan mundur sembari menghapus kasar air matanya, Lodra hendak mendekat tapi Ryn justru semakin menjauh.


" Ryn, sayang.. Dengarkan kakak." Ujar Lodra.


Tapi Ryn berlari, Lodra mengejar bersama dengan Lars. Tapi entah mendapat kekuatan dari mana, Ryn berlari dengan kencang dan masuk ke dalam Lift lalu turun ke bawah.


" Aku akan lewat tangga." Ujar Lars, dan Lodra mengangguk.


Lars berlari dengan kencang menuruni tangga darurat untuk mengejar Ryn, Lars yakin tujuan Ryn adalah ke loby, jadi dia berlari tanpa henti menuruni tangga.


Dan setelah beberapa saat akhirnya Lars sampai di lantai satu. Saat Lars sampai, Ryn sudah berjalan keluar loby. Lars pun berlari dan mengikuti Ryn.


Mungkin Ryn tidak sadar Lars mengikutinya dari belakang, dia berjalan cukup jauh dari rumah sakit sampai akhirnya di jongkok memeluk lututnya di trotoar dan tiba tiba tubuh nya bergetar hebat dan menangis.


" Hiks.. Hiks.. Hiks..'' Tangis Ryn pecah.


Ryn menangis dengan sangat pilu sambil memeluk lututnya, terdengar sangat menyayat hati hingga nafasnya tersenggal senggal. Lars membuka jasnya dan berjalan mendekat ke arah Ryn.


Lars menyelimutkan jasnya di tubuh Ryn dan tatapan mereka berdua akhirnya bertemu, terlihat mata Ryn sangat merah dengan air mata yang beruraian. Lars yang melihatnya pun menggelengkan kepalanya seakan melarang Ryn menangis. Tapi hati Ryn saat ini begitu hancur untuk sekedar mengucapkan satu patah kata saja.


Lars pun tahu, Ryn pasti sangat terluka saat ini. Akhirnya Lars membawa Ryn kedalam pelukan nya dengan Ryn yang masih terissak.


'' Menangislah, keluarkan semua hal yang membuat hatimu sakit.'' Ujar Lars.


Mereka berdua berjongkok di trotoar dengan Ryn yang berada di dalam pelukan Lars, beruntungnya jalanan sedang sepi, dan trotoar juga sedang tidak ada satupun orang yang lewat di sana.


Lars menciumi pucuk kepala Ryn sembari mengusap usap punggung Ryn yang tersenggal senggal. Tanpa meraka saling berucap sepatah katapun, mereka hanya saling memeluk. Lars melihat Lodra yang rupanya sudah berhasil menyusul dirinya dengan Ryn, tetapi Lars memberi kode pada Lodra untuk tidak mendekat terlebih dahulu kearah Ryn. Lodra pun akhirnya mengangguk dan berjalan pergi dari sana.


Hingga waktu pun berlalu, kini Lars bersama Ryn sedang duduk di sebuah toko swalayan yang terletak tidak jauh dari sana. Lars  membelikan Ryn sebotol air mineral dan Ryn pun meminumnya.


Lars kemudian berjongkok di hadapan Ryn yang sedang minum, lalu menarik kaki Ryn. Rupanya Ryn berlari keluar dari rumah sakit tanpa menggunakan alas kaki, hingga kaki nya sedikit terluka karena batu batu jalanan.


'' Lihat, kamu berlari begitu saja.. kakimu jadi terluka. '' Ujar Lars sembari membersihkan kaki Ryn dengan tisu basah.


'' Lars, aku saja.'' Ujar Ryn merasa tidak enak pada Lars.


'' Eng! Eng! Eng! Kamu duduk saja yang manis, aku yang akan melakukan nya.'' Ujar Lars.


'' Tapi..''  Ujar Ryn tertahan.


'' Patuh, ya..'' Ujar Lars dengan senyum manisnya.


Ryn diam dan Lars melanjutkan kegiatan nya membersihkan kaki Ryn, setelah benar benar bersih, Lars memberi kaki Ryn salep luka lalu membalitnya dengan plaster luka yang berjumlah sekitar empat plaster di setiap kaki nya.


'' Terimakasih.'' Ujar Ryn.


'' Sudah tugasku melindungi kamu.'' Ujar Lars singkat, namun membuat Ryn taerdiam seribu bahasa.


'' Kamu sudah mendengar kebenaran nya, bukan? '' Ujar Lars, dan Ryn kembali menyendu.


Lars menyentuh kedua pipi Ryn lalu mencangkupnya dalam kedua tangan nya yang besar itu, Lars mengarahkan pandangan Ryn untuk menatap dirinya.


'' Dengar.. jangan marah pada kenyataan, jangan marah pada papamu dan kakakmu. Mereka melakukan itu karena mereka menyayangimu.'' Ujar Lars sambil menatap Ryn dalam dalam.


'' Mereka ingin kamu hidup selalu dalan kebahagiaan, mereka tentu tidak akan tega melihat kamu bersedih dan terluka, oleh karenanya.. mereka menyembunyikan kebenaran nya darimu..'' Ujar Lars lagi.


Sebutir air mata kembali lolos dari mata Ryn dan Lars menghapusnya dengan ibu jarinya.


'' Ush.. ush.. ush.. jangan menangis.'' Ujar Lars, dan kembali memeluk Ryn.