
Ryn sudah sampai di penthouse nya bersama Lodra. Ryn tidak ikut pulang bersama Lars di kediaman Lars, karena dia harus memeriksa apa yang dia temukan di kamar tempat pembunuhan Damian.
Meski dia pulang, sebelumnya Ryn menyempatkan diri untuk singgah sebentar di kediaman Lars, dan menyapa Peet. Peet sudah mulai memiliki banyak kemajuan.
" Adik, biar kakak saja yang menyelidiki ini." Ujar Lodra.
" Ini terlalu banyak, ayo kita kerjakan bersama sama saja." Ujar Ryn.
" Dia sepertinya menulis sesuatu di buku ini, tetapi entah apa yang di tulisnya kertasnya sudah di sobek." Ujar Ryn.
Lodra mengamati buku catatan itu dengan seksama, lalu dia melihat bayangan bayangan bekas goresan pena yang sebelumnya.
" Ini... Seperti sederet angka." Ujar Lodra.
" Bingo.. hanya saja di bagian akhirnya ini sedikit tidak nyata. " Ujar Ryn.
" Serahkan pada kakak." Ujar Lodra dan Ryn mengangguk.
" Aku kerjakan yang lain." Ujar Ryn.
Ryn lari ke atas untuk lebih dulu mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah. Ia bahkan menguncir cepol atas rambut panjangnya dan menggunakan kaca mata.
Ryn kemudian mulai mengsmbil kantong londry yang berisi sampah dari kamar itu dan menumpahkannya di lantai.
Untung saja tidak ada sampah yang menjijikan, hanya kertas kertas yang sudah di potong dengan mesin pemotong kertas dan sebuah..
" Jari.." Gumam Ryn terkejut melihat sebuah potongan Jari yang di bungkus plastik.
" Kak, ada jari tangan." Ujar Ryn pada Lodra, Lodra pun langsung menghampiri Ryn.
" Jari siapa kira kira?" Gumam Lodra sambil mengangkat kantong palstik berisi jari itu.
" Oh, itukah sebabnya di bolpen yang berada di meja itu berlumuran darah? Jangan jangan jari ini milik Damian." Ujar Ryn.
" Kita membutuhkan seorang dokter ahli untuk memeriksa ini." Ujar Lodra.
" Tapi kenapa dia memotong jarinya dan membuangnya di sampah? Apa dia sebenarnya bunuh diri dan bukan di bunuh?" Ujar Ryn.
" Terlalu kebetulan dengan rencana kita yang akan mencarinya. Kakak yakin, pasti sebelumnya dia menemui seseorang.. Atau mungkin ada mata mata di sekitar kita?" Ujar Lodra.
Lodra cukup di hantui dengan penghianatan anak buah mendiang Paul saat itu. Begitu banyaknya anak buah Paul yang akhirnya menjadi pengkhianat dan menghabisi Paul beramai ramai.
" Mungkin kita bisa mencarinya jari jalur cctv.." Gumam Ryn.
" Kakak akan mengeceknya nanti." Ujar Lodra, dan Ryn mengangguk.
Lodra pergi membawa jari itu lalu memasukannya ke sebuah box khusus menyimpan minuman dingin. Lodra bahkan menimbunya dengan es batu agar jari itu tidak membusuk.
Sementara Ryn, dia mulai mengurai satu demi satu potongan kertas itu, hal yang paling rumitnya adalah menysun ulang tulisan demi tulisan dari kertas yang sudah terpotong potong itu.
" Astaga, berapa lama aku bisa mengelarkannya." Gumam Ryn.
Ryn melihat potongan kertas itu ada yang memiliki warna usang. Dia pun mengumpulkan lebih dulu yang berwarna usang.
Dengan telaten akhirnya Ryn menyusun satu demi satu potongan potongan kertas itu agar membentuk kembali menjadi satu lembar menggunakan lakban putih.
Memakan waktu ber jam jam, bahkan sampai Lodra ikut membantu Ryn mengurai satu demi satu potongan kertas itu.
" Adik, ini sudah hampir pagi. Kita bisa melanjutkannya nanti." Ujar Lodra yang mulai mengantuk, karena saat ini sudah pukul tiga dini hari.
" Sedikit lagi kak, jika kakak mengantuk, kakak tidur saja." Ujar Ryn.
" Hoamm.. Kakak akan menemanimu." Ujar Lodra.
Tapi belum ada lima menit Lodra berkata demikian, dia justru tidur sambil duduk dan bersenderan di sofa. Ryn pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Ryn bangun pelan pelan dan mengambil sebuah selimut yang berada di sofa, lalu menyelimuti Lodra dengan sangat pelan. Kemudian Ryn pun melanjutkan kembali pekerjaan nya.
Hingga akhirnya mata hari menyingsing, Ryn baru menyelesaikan semuanya. Sekantong sampah kertas yang di hancurkan dengan mesin pemotong kertas itu kini menjadi lima lemvar kertas yang sudah kembali di susun oleh Ryn dengan cara di tempelkan pada lakban putih.
" Hoaamm.. akhirnya kelar juga." Gumam Ryn sembari meregangkan otot ototnya.
Ryn menaruh lembaran kertas itu di meja lalu dia mencuci tangannya dan kemudian melemparkan dirinya di sofa, lalu tidur. Hingga beberapa jam kemudian, ponsel Lodra bergetar.
" Drtt! Drtt! Drtt! " Ponsel Lodra bergetar dan membuat Lodra terbangun.
Lodra melihat layar ponselnya yang rupanya adalah Roco. Lodra pun mengangkat panggilan itu.
" Halo.." Ujar Lodra.
" Tuan Lodra, tuan Lars berada di depan pintu Penthouse anda. " Ujar Roco.
" Oh, sebentar saya buka." Ujar Lodra.
Lodra tidak melihat Ryn yang meringkuk di sofa, dia langsung berjalan menuju pintu keluar dan membuka pintu penthousenya.
" Anda baru bangun?" Tanya Lars.
" Ah, iya.. silahkan masuk." Ujar Lodra.
Lars mengangguk lalu kemudian ia masuk kedalam, Lars terdiam berdiri ketiak melihat makhluk menggemaskannya yang sejak semalam dia pikirkan tanpa henti itu sedang meringkuk di sofa.
" Astaga, Ryn juga tidur di luar?" Ujar Lodra.
" Juga?? Apakah kalian semalam sama sama tidur di luar?" Tanya Lars.
" Kami mengerjakan itu, eh.. kemana kertasnya." Ujar Lodra bingung.
Sebelum dia tidur, masih banyak kertas yang belum terselesaikan. Karena sekarang sudah bersih, dia pun bingung sendiri.
" Kertas dari kantong sampah di kamar hotel itu, kami menyusun semua itu semalaman sampai pagi, dan aku tertidur lebih dulu, sepertinya Ryn yang menyelesaikannya." Ujar Lodra.
Lars lalu menatap Ryn yang sedang terlelap tidur tanpa merasa terganggu sedikitpun itu.
" Tidak heran sejak semalam sampai siang dia tidak ada kabar." Gumam Lars.
" Siang?" Tanya Lodra.
" Saat ini sudah pukul 1 siang tuan Lodra." Ujar Roco, dan Lodra melotot terkejut mendengarnya.
Untungnya hari itu adalah hari minggu, jadi dia tidak harus juga datang ke kantor.
" Astaga.." Gumam Lodra.
Lars menggendong Ryn, lalu berbalik badan menatap Lodra.
" Dimana kamarnya?" Tanya Lars.
" Di atas, biar saya antar." Ujar Lodra.
Lodra memimpin jalan dan Lars berjalan di belakang Lodra sembari menggendong Ryn yang masih terlelap. Hingga akhirnya mereka sampai di kamar Ryn.
Lars merebahkan Ryn dengan sangat pelan di ranjang, lalu menyelimuti tubuh Ryn dengan selimut.
' Saat tinggal denganku dia tidak pernah menggunakan pakaian seimut ini, bagaimana bisa dia menggunakannya di depan kakak angkatnya, gadis nakal ini..' Batin Lars.
Meski dia mencoba percaya bahwa Ryn dan Lodra hanya kakak beradik, tapi insting laki lakinya tetap cemburu ketika mengingat Lodra adalah kakak angkat Ryn.
Sementara Lodra sendiri, merasa tidak nyaman melihat pemandangan di hadapannya, dia pun memutuskan untuk keluar dan turun dari lantai dua.
" Tuan Lodra, apakah anda menemukan sesuatu dari kertas kertas yang sudah anda dan nona Ryn susun?" Tanya Roco.
" Kami belum membaca keseluruhannya, baru menyusunnya menggunakan lakban." Ujar Lodra.
" Oh, dan satu lagi.. Ada jari diantara potongan potongan kertas yang hancur itu." Ujar Lodra.
" Jari??" Tanya Roco.
" Hm, kemungkinan besar jari itu milik Damian, sebentar saya ambilkan." Ujar Lodra.
Lodra masuk kedalam dapur dan mengambil boks pendingin dimana dia menyimpan jari yang dia temukan semalam, lalu membawanya keluar.
Terlihat Lars yang juga turun dari lantai dua dan berjalan menuju sofa dimana Roco duduk.
" Di dalam sini, adalah jari yang kami temukan." Ujar Lodra dan membuka kotak pendingin itu.
" Entah ini kebetulan atau di sengaja, tetapi kematian damian ini terlalu kebetulan dengan Ryn yang sedang mencarinya." Ujar Lodra lagi sembari mengeluarkan sebuah jari dari kotak pendingin, Lars dan Roco pun saling pandang.
TO BE CONTONUED.