
Ryn, Lars dan Roco berjalan dengan terburu buru dan langsung membuka salah satu kamar di lantai itu. Beruntungnya akses yang Lodra berikan itu sungguh bisa membuka semua pintu, seperti akses magic.
'' Cepat bawa mereka masuk.'' Ujar Lars.
'' Baik tuan.'' Ujar anak buah Lars.
Anak buah Lars langsung menyeret masuk semua penjaga yang sebelumya berada di lorong lanta 15 itu, kemudian Roco langsung menekan tombol lift untuk turun.
'' Adik, lebih cepat, mereka sudah di lantai 8, kakak memperlambat lift mereka tetapi itu tidak akan lama.'' Ujar Lodra dari ear piece nya.
'' Iya kak.'' Ujar Ryn.
'' Cepat.'' Ujar Ryn pada anak buah Lars, dan akhirnya mereka selesai.
Semua orang sudah masuk ke dalam lift dan turun ke lantai 14 dimana kamar Lodra berada. Ryn, Lars dan Roco turun di lantai 14, sementara anak buah Lars turun di lantai bawah, kemudian berpencar seolah mereka tidak saling mengenal.
Beberapa orang yang naik ke lantai 15 tadi telah sampai dan terkejut ketika tidak mendpati penjaga di sana.
''Kenapa tidak ada penjaga di sini, kemana mereka?'' Tanya seorang wanita.
'' Mungkin sedang berganti, nyonya. Ini waktunya pergantian penjaga.'' Ujar pria yang berdiri di samping wanita tadi.
'' Ceroboh, bagaimana jika ada yang masuk kemari.'' Ujar wanita itu.
'' Itu tidak akan terjadi nyonya, akses menuju lantai ini sudah di tutup.'' Ujar pria itu, wanita itu lalu kemudian membuka pintu masuk kamar hotel itu.
'' Cari catatan yang laki laki itu buat.'' Ujar wanita tadi.
'' Baik nyonya.'' Sahut pria tadi.
Pria itu membuka semua tempat di sana, tetapi dia tidak menemukan apapun. Entah sebenarnya catatan apa yang di cari pria dan wanita itu hingga menjaga sangat ketat kamar itu.
'' Tidak ada, nyonya.'' Ujar pria tadi.
Terlihat wanita itu berwajah murka lalu dia memecah lampu hias yang berada di dekatnya, hingga lampu hias itu pecah berantakan.
'' HARGH!! Bren*sek!'' Teriaknya
'' Buat seolah kita baru menemukan jasadnya, kau atur sendiri aku tidak mau tahu dan jangan sampai terendus oleh polisi.'' Ujar wanita itu.
'' Ya, nyonya.'' Ujar pria tadi.
Sementara itu di kamar Lodra, Ryn langsung berganti pakaian kembali dengan pakaian biasa, namun wajahnya di buat sedemikian mungkin berbeda dengan wajah asli Ryn oleh Lusi. Ya, Roco kembali menghubungi Lusi si pria gemulai untuk kembali datang ke kamar yang Lodra tempati.
'' Ya Tuhan.. apakah harus secepat ini, aku sudah mengantuk.'' Ujar Lusi.
'' Kita harus segera pergi dari sini, aku akan berikan kau tiket liburan gratis ke Eropa bersama kekasihmu.'' Ujar Lars.
'' Deal kalau begitu.'' Ujar Lusi langsung antusias.
Lars memiliki insting yang tajam, dia yakin akan terjadi sesuatu yang besar disana. Entah apa itu, tetapi yang jelas mereka semua bisa terlibat dengan masalah. Setelah beberapa saat, mereka pun langsung bergegas keluar dari kamar hotel itu.
'' Sudah siap semua?'' Tanya Lodra, dan semua orang mengangguk.
'' Ayo.'' Ujar Ryn, dan kemudian mereka semua pun keluar bersamaan.
Saat ini waktu masih menunjukan pukul 1 dini hari, termasuk sangat larut untuk tamu keluar dari hotel saat itu. Tetapi Lars tidak mau tahu itu, dia mau saat itu juga keluar dari sana. Akhirnya setelah Lodra mengurus proses untuk keluar mereka, mereka pun bisa pergi.
'' Ayo cepat.'' Ujar Lusi pada Roco. Tetapi ketika Roco hendak naik, seseorang menghentikannya.
'' Tunggu!!'' Teriak seorang pria.
Lusi seketika panik, tetapi dia adalah seorang costplayer yang sangat mahir menyembunyikan emosinya, jadilah dia dengan mudah berpura pura tenang dan berbalik menghadap pria yang memanggilnya.
'' Ya, ada apa?'' Tanya Lusi dengan nada manjanya.
'' Ini, dompet anda tertinggal di loby.'' Ujar pria yang memanggil Lusi.
Lodra melihat pria yang sedang bercengkerama dengan Lusi dari dalam mobil, pria itu adalah pria yang naik ke lantai 15 bersama seorang wanita yang dia lihat di cctv tadi.
'' Astaga naga kepala tiga, saya sangat teledor. Terimakasih tuan, sudah menemukan dompet saya dan mengembalikannya, ini seperti nyawa bagi saya.'' Ujar Lusi dengan suara masih manja.
" Sama sama." Ujar pria itu. Entahlah, sepertinya pria itu terlihat tertarik juga dengan Lusi.
' Kenapa laki laki yang menyerupai perempuan ini sangat populer? Padahal sudah jelas jelas dia laki laki, apa di dunia ini sungguh sudah banyak makhluk seperti dia ini?' Batin Roco.
'' Sayang, cepat naik!!'' Panggil kekasih Lusi yang sejak awal hanya diam itu.
Seketika semua orang yang berada di dalam mobil itu menatap ke arah kekasih Lusi itu. Mereka pikir peria itu tuna wicara ( bisu ) karena sejak menjemput mereka di swalayan pun pria itu hanya diam.
'' Ups, kekasihku marah. Kalau begitu saya permisi, tuan.'' Ujar Lusi pada pria tadi.
Lusi pun naik kedalam mobil dan kekasih Lusi itu langsung mencapkan gas dan pergi dari sana.
'' Tuan, kita akan menginap di hotel lain atau kita langsung pulang kerumah?'' Tanya Lodra.
'' Cari hotel lain.'' Ujar Lars setelah menatap Ryn.
'' Kenapa?'' Tanya Ryn.
'' Kamu akan kelelahan nanti, sayang.'' Ujar Lars.
'' Manisnya..'' Gumam Lusi.
Ryn hanya tersenyum lalu mengangguk, akhirnya Roco mencari hotel yang lebih bagus dari sebelumya, dan memesan beberapa kamar untuk mereka tempati.
" Kau, cari hotel untukmu sendiri, aku akan ke hotel lain dengan mobil anak buahku." Ujar Lars pada Lusi.
" Yah.. Di usir." Ujar Lusi manyun.
" Jemput kami dua kilo meter dari hotel tadi." Ujar Roco langsung sigap menghubungi anak buahnya.
" Tunggu di sini." Ujar Lars.
Kekasih Lusi langsung menghentikan mobilnya. Sejak tadi Lodra bagai orang bodoh yang terasingkan, dia hanya dudk sambil bungung dengan keadaan.
" Tuan tampan, jangan bingung begitu." Ujar Lusi.
" Kak Lusi, jangan ganggu kakak ku." Ujar Ryn.
" Xixixi.. Aku tidak akan mengganggu yang tidak belok, kok. Kakakmu ini lurus.." Ujar Lusi. Semakin bingung saja Lodra dibuatnya.
' Apa hanya aku yang tidak tahu dengan apa yang terjadi?' Batin Lodra.
Hingga akhirnya mobil anak buah Lars sudah tiba, dan mereka pun berpindah mobil. Lars dan Ryn menggunakan mobil pertama, sedangkan Lodra dan Roco menggunakan mobil kedua.
Rombongan mobil itu pun langsung melesat pergi meninggalkan Van pink milik Lusi.
Lars langsung menghapus make up yang menempel di wajahnya dengan tisue hingga bersih. Hingga kini kembali terlihat Lars original yang tampan, ia pun mengganti pakaiannya kembali dengan jas formal.
" Hoam.." Ryn mulai menguap karena mengantuk.
" Kamu mengantuk?" Tanya Lsrs dan Ryn mengangguk.
" Kemari, tidurlah." Ujar Lars sembari menepuk pahanya.
" Nanti saja saat di hotel." Ujar Ryn.
" Sayang, kemari.. " Ujar Lars dengan nada sangat lembut.
" Bangunkan aku saat sampai di hotel." Ujar Ryn, dan Lars mengangguk sambil tersenyum.
Ryn pun merebahkan kepalanya berbantalkan paha Lars, usapan tangan Lars berhasil membuat Ryn lebih cepat terlelap ke alam mimpi.
' Dia masih saja tidak mau merepotkan aku, kekasihku ini berhati malaikat.' Batin Lars lalu mengecup kening Ryn.
Hingga sekitar lima belas menit kemudian, mereka sampai di sebuah hotel mewah di kota Bandung. Lars tidak benar benar membangunkan Ryn, tapi dia menggendongnya.
" Astaga, tuan muda Hunter. Maaf kami tidak tahu anda akan datang kemari." Ujar salah seorang pria dengan tergopoh gopoh.
" Pelankan suaramu." Ujar Lars, dan seketika pria itu menutup mulutnya.
" Maaf tuan muda." Ujarnya.
" Biar Ryn tidur denganku saja." Ujar Lodra.
" Dia tidur denganku, anda jangan khawatir, aku tahu batasan." Ujar Lars, dan akhirnya Lodra mengangguk.
Lars masuk dan berjalan dengan langkah lebarnya sembari menggendong Ryn yang tertidur dan masuk kedalam lift.
" Tuan Lodra, anda tidak memiliki perasaan seperti itu pada nona Ryn, bukan? Anda kakaknya walau bagaimanapun." Ujar Roco.
" Saya tidak memiliki perasaan apapun pada adikku kecuali rasa sayang sebagai kakak kepada adiknya, asisten Roco. Anda tidak perlu berpikir berlebihan, aku kakaknya." Ujar Lodra pada Roco.
" Kalau begitu saya ke kamar saya dulu, mari." Ujar Lodra dan pergi meninggalkan Roco.
Roco menatap Lodra hingga Lodra menghilang di balik dinding.
' Aku yakin dia memiliki perasaan pada nona Ryn, jika sampai dia berani mengambil nona Ryn dari tuan muda, maka aku akan menghabisinya.' Batin Roco.
TO BE CONTINUED...