A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 43. Ryn pulang.



Ryn, Lars dan Peet sudah tiba di kediaman Lars saat ini. Lars tidak membiarkan kakeknya tinggal di kediaman utama sendirian, karena Peet baru pulih dari koma nya.


Mungkin akan terasa sedikit asing bagi Lars, karena biasanya dia tinggal sendiri di kediamannya dan baru kali ini dia tinggal bersama kakeknya di kediaman itu.


" Rumah siapa ini?? Kemana foto nenekmu?" Ujar Peet, tidak ingat bahwa itu rumah Lars.


" Ini rumah Lars kek, mulai sekarang kakek akan tinggal di sini dengan Lars." Ujar Lars.


" Kakek tidak mau berpisah dengan nenekmu." Ujar Peet.


Walau mengidap Alzheimer, tetapi Peet masih mengingat mendiang isteinya yang sudah lebih dulu kembali pada Tuhan.


" Nanti Lars akan pindahkan foto foto nenek kemari." Ujar Lars, dan Peet mengangguk.


" Anak manis, kamu sudah makan?" Tanya Peet pada Ryn.


" Sudah, kek.." Ujar Ryn dengan senyum manisnya.


" Ayo, Lars antar kakek ke kamar kakek." Ujar Lars, dan Peet mengangguk.


" Dokter, anda akan tidur di kamar yang berada di sebelah kamar kakekku, jadi anda akan tahu jika kakekku membutuhkan sesuatu." Ujar Lars.


" Baik tuan muda." Ujar sang Dokter.


Bagai Dokter pribadi, dokter itu menurut saja dengan perintah Lars, dia cukup melihat rekannya kehilangan lisensi, dan tidak ingin dirinya mengalaminya juga.


Lars mendorong kursi roda Peet dan mengantarkannya di kamar yang berada di lantai satu kediaman itu. Tidak mungkin untuk Peet menggunakan lantai dua, meski di dalam kediaman itu memiliki lift, tetapi akan lebih aman jika Peet berada di lantai satu.


" Kakek, istirahatlah yang baik.. Jika kakek pulih nanti, aku akan mengajak kakek berkenalan dengan peliharaanku." Ujar Ryn.


" Oh, kamu punya peliharaan, nak?" Tanya Peet.


" Ya, mereka ada di sini, aku menitipkannya di kediaman Lars." Ujar Ryn.


" Hoho.. Kakek tidak sabar bertrmu mereka, kamu memelihara apa, nak? Apakah tupai, kucing, atau anjing?" Tanya Peet.


" Harimau dan singa, kek." Ujar Ryn, tentu Peet melotot terkejut mendengarmya. Alih alih memelihara binatang kecil, Ryn justru memelihata binatang besar, dan itu binatang buas.


" Kamu serius??" Tanya Peet, dan Ryn mengangguk.


" Ah.. hahaha.. Anak anak muda jaman sekarang memang memiliki keberanian yang besar. Kakek akan pulih, agar bisa melihat mereka." Ujar Peet senang.


" Baiklah, karena ini sudah malam, Ryn pamit pulang dulu." Ujar Ryn.


" Ya, hati hati di jalan, nak. Lars, antar kekasihmu pulang, nak." Ujar Peet pada Lars.


" Tentu, kek." Ujar Lars.


Ryn pun memeluk Peet untuk berpamitan, setelahnya ia pun keluar dari kamar Peet.


" Ayo aku antar pulang." Ujar Lars dan Ryn mengangguk.


Sebenarnya Lars enggan membiarkan Ryn pergi, ia ingin selalu bersama Ryn. Tapi yang di katakan Ryn memang benar, jadi dia menghormati keputusan Ryn.


" Tentang Damian dan David, biarkan aku yang mencari mereka, sayang." Ujar Lars ketika sudah di dalam mobil.


" Apakah kamu tidak akan berada dalam masalah jika bersinggungan dengan mereka? Aku takut kamu.," Ujar Ryn menggantung.


" Aku takut kamu seperti kedua orangtuaku." Ujar Ryn melanjutkan kata katanya.


" Tidak akan, sayang. Aku akan baik baik saja." Ujar Lars kemudian menggenggam tangan Ryn.


" Baiklah, tapi aku akan ikut serta membantumu." Ujar Ryn.


" Tidak! Aku tidak setuju, itu terlalu berbahaya, sayang." Ujar Lars keberatan.


" Aku ingin menangkap mereka juga dengan tanganku, dan memberi mereka ganjaran atas apa yang mereka lakukan pada orang tuaku. Ini dendamku, Lars.." Ujar Ryn.


Benar, seandainya Ryn tidak bertemu Lars pun dia akan mencari pelaku pelaku yang sudah membunuh orang tuanya, dendam di hati Ryn begitu besarnya.


Jika bukan dia yang melakukannya sendiri, maka dia tidak akan tenang. Lars menghela nafasnya, ia terlalu memaksa Ryn untuk bergantung padanya. Lars lupa bahwa gadisnya itu adalah gadis yang rapuh namun kuat secara bersamaan.


" Baiklah, kita lakukan bersama." Ujar Lars akhirnya. Ryn pun tersenyum mendengarnya.


" Terimakasih.." Ujar Ryn.


" Tetapi selain hal ini, aku tidak akan membiarkan kamu berada dalam bahaya bersamaku. Aku tidak akan sanggup melihatmu terluka." Ujar Lars bersungguh sungguh.


" Aku tahu, aku akan berusaha." Ujar Ryn.


Bagai patung, Roco hanya menyimak pembicaraan Lars dan Ryn. Roco jadi tahu apa yang harus dirinya lakukan setelah ini.


Akhirnya mereka sampai di apartmen dimana penthouse milik Lodra berada.


" Kakak." Panggil Ryn. Lodra tersenyum kemudian menghampiri Ryn dan memeluknya.


" Astaga, punya kekasih jadi lupa pulang. Bagaimana, apakah mabuknya sudah sedikit reda?" Ujar Lodra meledek.


" Ish, mana ada." Ujar Ryn memukul pelan lengan berotot Lodra.


" Kami tidak mabuk." Ujar Lars polos, dan Ryn serta Lodra pun menahan senyum.


" Bukan mabuk itu, sudahalah.. pulanglah, kakek sendirian." Ujar Ryn.


" Beri aku pelukan, lalu aku akan pulang." Ujar Lars.


Ryn sampai ternganga mendengarnya, secara langsung dan blak blakan, Lars meminta sebuah pelukan dari Ryn. Untung saja gedung apartmen itu adalah apartmen elit, dimana siapapun yang tinggal di sana sangat di jaga keamanan dan privasinya.


Orang orang yang melihat mungkin ingin sekali menghampiri Lars, tetapi mereka tidak berani karena alasan privasi, dimana Home sweet home di tetapkan di sana.


" Ekhem! Silahkan kalian selesaikan urusan kalian dulu, kakak akan menunggumu di sana." Ujar Lodra menunjuk sebuah sofa untuk tamu menunggu.


" Ish, bisakah kamu lihat situasi dan kondisi? Bisa bisanya bicara terang terangan begitu." Ujar Ryn pelan karena malu.


" Kan memang kamu kekasihku, aku meminta peluk dengan lekasihlu sendiri masa tidak boleh?" Ujar Lars polos, bukan polos tapi pura pura polos.


" Jadi, mau peluk tidak? Jika tidak maka aku akan tetap disini." Ujar Lars mengancam.


Ryn memanyunkan bibirnya dan itu membuat Lars tersenyum karena Ryn terlihat begitu menggemaskan saat ini.


" Ya sudah peluk." Ujar Ryn dengan sedikit kesal dan Lars terkekeh.


Lars merentangan kedua tangannya, dan Ryn pun berjalan masuk ke dalam pelukan Lars. Lars mengecup pucuk kepala Ryn yang hanya sebatas ketiaknya itu dengan sayang dan pelukan pun terlepas.


" Jaga diri baik baik, hum? Jika ada sesuatu hubungi aku." Ujar Lars.


" Aku pulang ke tempat tinggalku sendiri, kamu tidak perlu begitu khawatir, Lars." Ujar Ryn.


" Ya sudah, masuklah." Ujar Lars.


Ryn tersenyum, kemudian melambaikan tangannya. Ryn berlari kecil menghampiri Lodra, terlihat Lodra bangun dan lemudian melambaikan tangannya pada Lars. Lars mengangguk, dan akhirnya Ryn dan Lodra pun tak terlihat lagi.


' Imutnya..' Batin Lars ketika mengingat bibir Ryn yang manyun tadi. Lars pun pergi dari sana.


Sementara itu, Ryn dan Lodra telah sampai di penthouse nya. Ryn langsung melemparkan diri di sofa ketika sampai, dan itu membuat Lodra terkekeh.


" Apakah di kediaman Lars tidak se nyaman di sini?" Ujar Lodra sambil terkekeh melihat tingkah absurd Ryn.


" Nyaman.. Hanya saja senyaman apapun itu, jika bukan tempat kita sendiri maka rasanya berbeda. Akh.. nyamannya.." Ujar Ryn sambil mengepakan kedua tangannya.


" Apakah Lars tidak memanjakanmu? Kakak lihat dia sangat menempel padamu." Ujar Lodra, dan itu berhasil membuat Ryn bangun dan duduk.


" Justru itu kak.. dia terlalu memanjakanku, aku tidak boleh ini dan itu, sama seperti kakak dan papa dulu." Ujar Ryn manyun, dan Lodra hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


" Kamu mau makan sesuatu? Ini sudah jam sepuluh malam, kamu biasanya meminta camilan malam." Ujar Lodra.


" Tidak ada pelayan, siapa yang mau buat? Aku tidak bisa memasak." Ujar Ryn menyedihkan.


" Katakan apa yang ingin kamu makan, dan kakak akan membuatnya untukmu." Ujar Lodra dan itu membuat Ryn tersenyum.


" Kakak memang yang terbaik, sepertinya martabak telor enak." Ujar Ryn.


" Baik, kakak akan buatkan itu untukmu. Sambil menunggu, bersihkan dulu dirimu, kamu bau Lars." Ujar Lodra dan Ryn manyun.


" Ish, kakak!!" Rengek Ryn dan Lodra terkekeh.


TO BE CONTINUED...