A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 34. Bertemu Peet.



Ryn dan Lars sudah keluar dari ruang perawatan, dan kini keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Ryn juga sudah berganti pakaian dengan pakaian yang di bawakan Roco.


Ryn sedikit bingung, karena Lars menggandeng tangan nya tetapi mereka tidak berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.


" Kita mau kemana?" Tanya Ryn akhirnya.


" Aku akan membawamu menemui datu satunya keluargaku. " Ujar Lars dengan senyum nya.


" Keluargamu di rawat di rumah sakit juga?" Ujar Ryn sedikit terkejut.


" Ya, dia baru sadar dari koma nya." Ujar Lars, dan akhirnya mereka sampai di sebuah pintu ruangan.


" Kamu siap? Mungkin kamu akan sedikit terkejut nanti." Ujar Lars dan Ryn mengangguk.


Lars membuka pintu, dan terlihat Peet yang sedang sarapan pagi di suapi perawat.


" Lars.. Kamu datang? Anak nakal ini, sudah kakek bilang jangan pergi jauh jauh, bagaimana sekolahmu?" Ujar Peet.


" Lars sudah tidak sekolah kek, Lars sudah dewasa." Ujar Lars.


" Oh.. oh.. Kakek lupa, berapa usiamu sekarang nak?" Ujar Peet.


" Dua puluh delapan tahun, kek." Ujar Lars dengan sabar.


Menghadapi orang yang terkena Alzheimer parah seperti Peet, kita perlu kesabaran ekstra. Karena mereka cenderung mengulangi pertanyaan yang sama dan menganggap yang belum terjadi sudah terjadi dan sebaliknya.


Orang awam menyebutnya pikun, namun yang di alami Peet ini tergolong parah. Mungkin di tambah dengan faktor usia juga, sehingga penyakit pikun Peet itu semakin parah.


" Ini kakekku, sayang. Dia mengalami Alzheimer, jadi tidak bisa mengingat dengan baik. " Ujar Lars pada Ryn.


" Kakekmu baru sadar dari koma?" Ujar Ryn,dan Lars mengangguk.


" Oh, siapa ini? " Ujar Peet menatap Ryn.


" Halo kakek." Ujar Ryn dengan senyum manisnya.


"Halo nak, kamu cantik sekali.. Apakah kamu kekasih Lars?" Ujar Peet menggenggam tangan Ryn.


" Ya, aku kekasih Lars, kek." Ujar Ryn


"Jadi kalian kapan menikah? Kakek ingin melihat cicit kakek." Ujar Peet pada Ryn.


" Itu.."


" Segera kek." Ujar Lars memotong ycapan Ryn


" Wah! Bagus itu.. Kakek ingin melihat kalian menikah, lalu punya anak." Ujar Peet antusias.


Ryn sampai kesulitan menelan ludahnya sendiri, dia bahkan baru resmi menjadi kekasih Lars kemarin malam, masa mereka akan menikah juga dalam waktu dekat.


' Bukankah menikah itu terlalu cepat? Aku bahkan belum membalaskan dendam kedua orang tuaku.' Batin Ryn.


" Siapa namamu, nak?" Tanya Peet pada Ryn.


" Ryn Gladys, kakek." Sahut Ryn.


" Ryn.. Nama yang bagus. Ryn adalah orang yang setia, penuh kasih sayang dan merupakan pemimpin yang bijaksana." Ujar Peet.


" Sementara Gladys, adalah pedang kecil. Orang tuamu pasti sangat mencintaimu, nak.. mereka memberimu nama yang sangat indah, dan kuat." Ujar Peet.


Lars sedikit terkejut, kakeknya bisa mengerti dan mengingat arti nama. Padahal dia sangat mudah melupakan hal hal kecil bahkan hal penting sekalipun, tapi kali ini Peet seperti sangat bijaksana.


" Jadi, kamu siapa? Apakah kamu kekasih Lars?" Ujar Peet lagi.


Lars yang baru terkesima itu kemudian menggelengkan kepalanya, kakeknya kembali lupa, padahal belum ada lima belas menit mereka bercengkerama.


" Ya kakek, aku adalah kekasih Lars." Ujar Ryn.


" hoho.. bagus - bagus.. Segeralah kalian menikah, kakek ingin melihat cicit dari kalian." Ujar Peet.


" Kakek sehat dulu, baru memikirkan pernikahan kami." Ujar Lars.


" Anak ini! Kakek sudah tua, bagaimana jika nanti kakek tidak bisa melihat hari bahagia kalian?" Ujar Peet.


" Kakek pasti melihatnya." Ujar Lars penuh keyakinan.


" Bagaimana kondisi kakek saya?" Tanya Lars pada Dokter yang menjaga Peet.


" Bagus kalau begitu, jika sudah bisa pulang, maka aku akan bawa kakekku pulang dan menjalani perawatan di rumah." Ujwr Lars.


" Ya tuan." Ujar Dokter.


" Kakek, Lars ada pekerjaan.. Nanti malam Lars akan jemput kakek dan pulang ke rumah." Ujar Lars pada Peet.


" Ya.. Kamu sibuk saja dulu, kakek mau menonton tv." Ujar Peet dan Lars mengangguk.


" Saya titip kakek saya, jika ada hal apapun yang terjadi, segera hubungi saya." Ujar Lars pada sang dokter.


" Baik, tuan." Ujar Dokter.


" Ayo, sayang." Ujar Lars, dan menggandeng tangan Ryn.


" Kakek, Ryn pulang dulu.. Apakah kakek menginginkan sesuatu? Ryn akan bawakan kemari nanti." Ujar Ryn.


" Ah.. Itu, kakek ingin makan mochi. Sudah lama sekali kakek tidak makan mochi." Ujar Peet.


" Baik, Ryn akan bawakan itu nanti ketika Ryn kemari." Ujar Ryn.


" Anak baik, kakek akan menunggu kalian." Ujar Peet dengan senyum ceria.


" Kalau begitu Ryn pulang dulu." Ujar Ryn, dan Peet mengangguk.


Akhirnya Lars dan Ryn pun keluar dari ruang rawat Peet. Lars menggandeng tangan Ryn dengan penuh kasih sayang.


Keduanya telah sampai di loby, dan sudah ada Roco yang menunggu di sana. Roco menatap keduanya dengan pandangan menyelidik, dia heran karena Ryn terlihat baik baik saja.


Roco telah membaca beberapa artikel tentang hubungan suami istri. Ada banyak perempuan yang mengatakan bahwa setelah mereka berhubungan, paling parah tidak bisa berjalan dan lemah. Tetapi Ryn...


' Kenapa nona Ryn terlihat baik baik saja? Sebenarnya mereka berproses atau tidak?' Batin Roco.


Sungguh, sejak semalam.. Otak Roco tidak berfungsi seperti biasanya. Dia mendadak tidak profesional seperti Lars, dan terus memikirkan apakah akhirnya Lars dan Ryn berproses atau tidak.


" Pinggangku sakit, sayang. Ranjang rumah sakit tidak sesuai dengan tubuh tinggiku." Ujar Lars tiba tiba.


' Oh Astaga.. Tuan muda blak blakan sekali.' Batin Roco. Ucapan Lars itu semakin membuat otak Roco menjadi absurd.


" Siapa suruh kau tidur di sana, padahal kamu bisa tidur di sofa yang lebar." Ujar Ryn polos.


' Astaga, apakah nona Ryn sedang menjelaskannya..' Batin Roco lagi.


" Jika aku tidur di sofa, akubtidak bisa memelukmu." Ujar Lars, dan langsung di pukul lengannya oleh Ryn.


' Oh.. my.. God..' Batin Roco semakin gerah.


Lars melihat gelagat aneh dari asistennya itu, ia menatap Roco dengan pandangan bertanya tanya.


" Sedang apa kau terus berdiri di situ? Kau tidak berniat membuka pintu dan pergi dari sini?" Ujar Lars.


" O- oh.. Maaf tuan muda." Ujar Roco seketika panik dan langsung membukakan pintu untuk Lars dan Ryn.


" Jangan berpikiran yang macam macam kau." Ujar Lars, seakan tahu isi otak Roco.


" Tidak, tuan muda, saya tidak berani." Ujar Roco.


' Astaga, instingnya selalu tajam. Aku bertanya tanya, apakah tuan muda ini memiliki mata ke tujuh? Dia selalu tepat sasaran.' Baton Roco, sembari melajukan mobil dari sana.


" Sayang, kamu pulang ke rumah atau ikut aku ke perusahaan?" Tanya Lars.


" Kak Lodra apakah sudah di beri tahu bahwa aku sudah pulang dari rumah sakit hari ini?" Ujar Ryn.


" Roco sudah mengabari kakakmu, kakakmu sedang berada di luar kota dengan asisten papamu." Ujar Lars.


" Kalau begitu aku pulang ke rumah saja, aku merindukan Thunder dan Lio." Ujar Ryn tanpa sadar menyebut kediaman Lars sebagai rumah, Lars pun tersenyum mendengarnya.


" Kalau begitu kita pulang dulu." Ujar Lars.


Mobil pun melesat pergi dari rumah sakit, Lars menarik dengan lembut tubuh Ryn lalu mendekapnya. Ibarat kata mereka seperti pengantin baru yang sedang manis manisnya dan tidak mau berpisah walau sedetik.


Sementara Ryn sendiri, di pikiran nya saat ini tiba tiba terlintas tentang ayah dan ibunya. Ia sudah mengingat semuanya, dan dia tidak akan membiarkan pembunuh orang tuanya hidup tenang.


' Mama, papa.. Ryn akan membalaskan dendam atas kematian kalian. Sam.. dan orang orang itu, harus membayar atas apa yang mereka lakukan pada kalian.' Batin Ryn.


TO BE CONTINUED.