A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 52. Video pesan rahasia Damian.



Lars mengamati jari yang beku itu dengan seksama. Sementara Lodra pamit untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Tak lama Lodra pun kembali muncul dan duduk di sebelah Roco.


" Tidak ada luka di sekelilingnya, berarti dia memotongnya dengan secara langsung. Tetapi jika di lihat dari pecahan tulang di dalamnya, dia menghentakan nya dengan paksa hingga akhirnya mengalami pendarahan hebat." Ujar Lars setelah beberapa saat mengamati jari itu.


" Bisa di pastikan tangan yang di gunakan untuk memotong memiliki tingkat kestabilan yang rendah, dia memotong jarinya sendiri secara asal." Ujar Lars lagi.


" Tuan muda, kenapa kita jadi masuk kedalam misteri kematian Damian?" Ujar Roco yang merasa heran.


" Jika Damian mati, bukankah itu bagus, toh dia memang seharusnya kita bunuh. Kita hanya tinggal mencari keberadaan David." Ujar Roco lagi.


" Sepertinya kadar kecerdasanmu perlahan memudar, apakah sudah saatnya aku mengganti asisten?" Ujar Lars dan seketika Roco terdiam.


" Maaf tuan muda." Ujar Roco.


"Damian, adalah salah satu orang yang menghabisi orang tua Ryn. Dan dia tiba tiba mati ketika kita hendak mencarinya, apa kau tidak berpikir kemungkinan disini ada penukaran informasi? " Ujar Lars.


" Kriss??" Ujar Lodra.


" Entah siapapun itu, pada intinya ada yang sedang menganggap kita sebagai orang bodoh. Pada hari dimana Kriss menceritakan kepada Ryn tentang Damian dan David, tak lama Damian di temukan tewas." Ujar Lars.


Lars mengambil kertas yang sudah di susun Lodra dan Ryn lalu membacanya itu hanyalah catatan tentang ahliwaris dari semua aset dan kepemilikan Damian.


" Dia membuat ini, lalu menghancurkannya, apa dia akhirnya mengganti ahli warisnya?" Gumam Lars.


Karena di surat itu tercantum nama seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya yang menjadi ahli waris, tetapi surat itu justru di hancurkan.


" Aku melihat dan mendengar percakapan wanita dengan asistennya yang naik ke lantai lima belas kemarin, dia mencari sebuah catatan, mungkinkah itu ostrinya?'' Ujar Lodra. Seketika Lodra teringat dengan catatan yang sedang dia proses.


'' Oh, tunggu sebentar.'' Ujar Lodra.


Lodra berlari ke dalam ruang kerjanya dan mengambil buku catatan yang dia temukan di kamar hotel, lalu dia memberikanya kepada Lars.


'' Saya dan Ryn menemukan buku ini dengan sebuah bolpen berlumuran darah, ada bagian yang di sobek paksa dari buku ini, mungkinkah catatan itu yang di maksud wanita itu?" Ujar Lodra.


Lars mengamati buku itu, dan seperti Lodra.. Lars juga melihat bekas goresan bolpoin di sana.


" Apakah ada pensil?" Tanya Lars.


" Ada, sebentar saya ambilkan." Ujar Lodra dan kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.


Lodra kembali dan memberikan sebuah pensil kepada Lars, Lars menerimanya lalu dia mengcoret coret buku yang Lodra temukan pada tirik bayangan goresan itu berada, Lodra hendak protes tapi Roco mengangkat tangannya untuk menyuruh Lodra diam.


Lodra pun diam dan hanya mengamati apa yang sedang Lars lakukan. Rupanya dari bekas goresan bolpoin yang tercetak di lembar catatan kosong itu ketika di beri goresan pensil dengan tipis, bisa muncul tulisan yang sebelumnya di tulis.


Lodra tersenyum ketika akhirnya tulisan di kertas itu sudah terbaca.


" Ini seperti nomor seri." Ujar Lars.


Lodra mengeluarkan laptopnya kemudian entah apa yang sedang dia kerjakan di sana.


" Tuan Lars, boleh saya lihat nomornya?" Tanya Lodra, dan Lars memberikannya pada Lodra.


Lodra mencoba mencari arti nomor itu dari laptopnya. Dan setelah sedikit menunggu munculah sebuah video, tetapi video itu hanya bisa di putar satu kali, setelah video itu sudah di putar maka tidak akan bisa di putar lagi.


" Ini video pesan rahasia, kita hanya bisa memutarnya sekali, sebaiknya kita rekam dengan ponsel." Ujar Lodra.


Roco dengan sigap mengeluarkan ponselnya dan siap merekam apa isi dari video yang menggunakan nomor seri itu.


" Siap?" Tanya Lodra dan Roco mengangguk.


Lodra menekan Video itu dan melihatnya bersama sama dengan Lars dan Roco yang sekaligus merekam video itu.


" Kalian pasti mencariku, benar?? Hahahaha.. aku merasa sangat puas. Hari ini aku merasa bahwa sepertinya hidupku akan selesai, aku telah hidup dalam pengejaran selama beberapa tahun terakhir, dan sepertinya hari ini sudah tiba waktunya. " Ujar Damian di rekaman itu.


" Apakah kau Sam? Atau kau David? Atau Kriss? Hmm.. atau istriku sendiri? Heng! Penghianat kalian semua. Nyatanya memang hanya Wira yang merupakan ketua yang tepat bagi DEATH. Selain Wira, semua orang hanya berwajah dua, munafik! " Ujar Damian.


" Lihat ini.." Ujar Damian dengan mengeluarkan belati.


" Aku akan memotong jariku, menandakan bahwa aku bukan lagi salah satu dari kalian. Dan kalian tidak akan pernah bisa membuka gudang itu tanpa jariku." Ujar Damian, dan memotong jarinya sendiri.


Lodra yang melihat itu pun menatapnya dengan kengerian, sementara Lars dan roco hanya menatap biasa saja video di depannya itu. Pemandangan itu sudsh menjadi santapan matanya selama ini.


" Hahahaha, kalian hanya akan menemui jalan buntu." Ujar Damian tertawa tetapi juga menangis.


Tak lama setelah itu terlihat Damian panik lalu dia berlarian kesana kemari. Damian seperti menulis sesuatu di kertas, tetapi lalu dia merobeknya dan memakan kertas itu.


Tiba tiba wajah Damian muncul memenuhi layar seraya berkata..


" Dia datang! mereka datang! Wira, aku minta maaf padamu karena pernah menjadi orang yang berkhianat. Semua orang mengejarku, aku harus mengakhiri rekaman ini." Ujar Damian dengan wajah panik bercampur takut.


Video pun berakhir, Lars, Lodra, dan Roco, masih saling terdiam setelah melihat video Damian tadi.


" Sepertinya dia mengalami gangguan jiwa." Ujar Lars.


" Bicaranya tidak ber arah, panik, emosinya tidak terkendali. Sudah di pastikan dia mengalami gangguan jiwa." Ujar Lars lagi.


" Dia menyebut Sam, tetapi Sam sudah mati, jadi tidak mungkin jika itu Sam. Dia juga menyebut Kriss, David dan istrinya. Apakah wanita yang mencari catatan itu adalah istrinya?" Ujar Roco.


" Selidiki tentang istri Damian, jika dia tidak memiliki niat jahat atau niat mengganggu Ryn, maka biarkan dia hidup. " Ujar Lars pada Roco.


" Baik tuan muda." Ujar Roco.


Setelah itu mereka bertiga pun hening, hingga ponsel Lodra berdering.


" Halo, apa? Mendadak sekali mereka datang? Baiklah, saya akan kesana, hm." Ujar Lodra.


" Tuan Lars, saya ada sesuatu yang harus di urus, maaf tidak bisa menemani anda di sini." Ujar Lodra tiba tiba.


" Tidak apa apa, aku akan menunggu Ryn bangun." Ujar Lars.


" Anggaplah rumah sendiri, jangan sungkan." Ujar Lodra, dan Lars mengangguk.


Lodra pun pergi masuk kedalam kamarnya yang terletak tak jauh dari sana. Lima belas menit kemudian Lodra keluar lagi dengan stelan jas formal.


" Saya pergi dulu." Ujar Lodra.


" Ya." Ujar Lars, dan Lodra pun pergi dari sana.


Lars bangun dan berkeliling melihat nuansa di penthouse itu, bisa Lars akui bahwa penthouse Lodra itu sangat nyaman sebagai tempat tinggal.


Lars melihat ke sofa ruang tv yang berada di sisi lain ruangan itu. Hanya terdapat satu sofa later L di sana, seketika Lars membayangkan yang tidak tidak.


' Apakah setiap hari Ryn akan menonton berdua di ruangan ini dengan Lodra? ' Batin Lars.


Seketika muncul bayangan di kepala Lars yang membayangkan dimana Ryn dan Lodra yang sedang menonton bersama sembari saling menyender romantis.


' Haish! ' Lars mengibaskan tangannya lalu pergi.


Ketika Lars hendak melangkah pergi, ia melewati ruang Gym. Lagi lagi dia membayangkan Lodra dan Ryn yang sedang berolah raga bersama dengan romantis.


' Tidak! Tidak! Ryn tidak akan melakukan hal seperti itu, dia hanya menganggap Lodra sebagai kakak.' Batin Lars mencoba meyakinkan dirinya.


Tetapi semakin ia melihat seluruh isi penthouse itu, hatinya kian panas. Penthouse itu seolah di desain untuk pasangan muda yang baru menikah.


Lars yang melihat itu menjadi kembali kesal. Semakin dia membayangkannya semakin dia kesal, akhirnya dia kembali duduk di hadapan Roco yang sedang mengurusi pekerjaan nha lewat ponsel.


" Cari sebuah unit di sini untukku." Ujar Lars tiba tiba.


" Eh??" Sahut Roco kebingungan.


Tapi tiba tiba Lars teringat dengan kakeknya yang juga tinggal di kediamannya.


" Haish!! Sudahlah, tidak perlu." Ujar Lars dan pergi naik ke atas dimana kamar Ryn berada.


" Ada apa dengan tuan muda???" Gumam Roco bertanya tanya.


TO BE CONTINUED..