A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 77. Akhir dendam..



Ryn masih berdiri di depan jasad David yang tewas mengenaskan, satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Ryn.


' Mama, papa.. kalian bisa beristirahat dengan tenang..' Batin Ryn.


Lars pun memeluk Ryn dengan sangat erat, perlahan ia mengambil senapan dari tangan Ryn, lalu melemparnya.


" Semua sudah berakhir, sayang.. jangan menangis. " Ujar Lars.


Keduanya berpelukan di saksikan oleh Roco dan Stone yang berdiri di sana sambil tidak habis pikir dengan keberanian Ryn.


" Ayo kita pulang.." Ujar Lars.


Akhirnya Ryn dan Lars pun pergi dari sana, sebuah helikopter kembali menjemput Ryn dan Lars, dan langsung terbang kembali ke Jakarta.


Lars tidak membawa Ryn ke markasnya, karena ada Lodra di sana. Lars takut Ryn akan sedih atau kecewa padanya, apabila nanti Ryn tahu bahwa dirinya dan Lodra membuat kesepakatan konyol.


Sementara Roco, dia di bawa Stone ke markas, bersama semua anak buah Lars baik yang masih hidup, sekarat, atau yang sudah menjadi jasad.


" Kenapa kamu nekat datang, sayang.. Kamu tahu, aku sangat takut ketika aku melihat kamu di belakang David tadi." Ujar Lars sambil terus menciumi kepala Ryn.


Saat ini keduanya masih berada di dalam helikopter yang terbang menuju Jakarta.


" Aku lebih takut jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak mau kehilangan lagi." Ujar Ryn.


" Gadis nakal ini.. kenapa kamu bisa tahu aku di sini, hm?" Tanya Lars.


" Asisten Roco menghubungiku, lebih tepatnya dia salah menghubungiku." Ujar Ryn.


" Roco sepertinya sudah mulai tua, apakah aku harus menggantinya." Ujar Lars dan Ryn terkekeh.


" Jangan, dia hanya panik. Tapi dengan dia salah menghubungiku, aku jadi bisa datang menolongmu, kan?" Ujar Ryn.


" Benar, terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku, sayang. Kamu gadis yang hebat, kekasihku yang paling hebat." Ujar Lars sambil mendekap Ryn erat erat.


Sementara Roco, saat ini dia berada di satu mobil bersama Stone, sembari Stone menangani luka Roco.


" Kau sudah bertemu nona, bukan?" Tanya Roco pada Stone.


" Hm.." Sahut Stone singkat.


" Bagaimana? Nona pasti tidak seperti yang kau pikirkan, bukan?" Tanya Roco.


" Hm.." Sahut Stone singkat.


" Sudah aku bilang, nona Ryn memang bukan gadis biasa. Dia tidak hanya cantik, tapi hebat. Tapi juga seperti iblis yang kejam ketika sedang menghadapi musuhnya. Bukankah menurutmu nona dan tuan adalah pasangan yang serasi?" Ujar Roco.


" Mereka bisa menjadi Malaikat, juga bisa menjadi Iblis di saat yang bersamaan." Ujar Roco lagi.


Stone menatap datar Roco yang berada di hadapannya itu, lalu menekan luka Roco.


" AAARGH!! S*ialan! Kenapa kau tekan lukaku?!" Ujar Roco protes karena kesakitan.


" Mulutmu perlu di jahit, berisik!" Ujar Stone.


" Ish! Dasar tidak berhati." Ujar Roco.


" Bukankah memang aku tidak berhati." Ujar Stone singkat, tetapi wajahnya sendu.


Roco menatap aneh gelagat Stone, biasanya Stone akan marah marah dan langsung naik darah ketika berbicara, bahkan hanya pembicaraan singkat. Tapi saat ini Stone seperti tidak bernyawa.


" Apa kau tertembak?" Ujar Roco, dan Stone kembali menatap Roco.


" Jika aku tertembak, mana mungkin aku bisa mengobati lukamu, s*alan! " Ujar Stone dengan nada marahnya.


Mendengar Stone berkata kasar, Roco pun tersenyum. Roco sudah terbiasa dengan Stone yang marah marah dan berkata kasar, dari pada dengan Stone yang pendiam seperti tadi.


" Hehe." Ujar Roco.


" Mau ku hajar kau, sekalian? Supaya pingsan, atau paling parah menyusul David." Ujar Stone.


" Ck, kejamnya." Ujar Roco.


Berpindah ke tempat lain..


Lars dan Ryn sudah mendarat di kediaman Ryn. Hari pun sudah semakin pagi dan Ryn sudah merasa mengantuk berat.


Ryn turun dari helikopter, dan terlihat semua anak buah Lodra yang berdiri di sana.


" Nona, anda baik baik saja?" Tanya East yang sudah sadar dari pingsan nya.


" Tidak apa apa, nona. Saya lalai untuk yang ke dua kali." Ujar East.


" Aku akan beristirahat, kalian beristirahatlah juga." Ujar Ryn.


" Baik, nona." Ujar East.


Ryn pun berjalan masuk dengan Lars dan saling bergandengan tangan..


______________________


DUA MINGGU KEMUDIAN..


Ryn sedang mencoba gaun yang di desain oleh desainer yang membuatkan gaun untuknya, saat ini Ryn berada di balik layar yang menutupi dirinya dengan Lars.


" Nona, anda siap?"Tanya desainer, dan Ryn mengangguk.


" Baiklah, saya akan buka tirainya." ujar desainer itu lalu menarik tirai putih itu.


Ketika tirai terbuka, Lars terpaku dengan pemandangan di hadapannya. Ryn, terlihat sangat cantik dan menawan dengan gaun rose goldnya.


Gaun itu begitu indah dan pas di pakai oleh Ryn, di buat secara spesial oleh desainer itu khusus untuk Ryn.


" Sayang.." Gumam Lars sampai tidak bisa berkata kata.


" Tuan Lars, ini belum gaun pernikahan." Ujar desainer sambil tersenyum senyum karena melihat ekspresi Lars yang lucu.


" Tinggalkan kami berdua." Ujar Lars pada desainer, desainer itu pun mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.


" Sayang, kamu mengagumkan." Ujar Lars kemudian menghapus air matanya.


" Kamu menangis?" Ujar Ryn bingung.


" Aku hanya terharu, dan bahagia." Ujar Lars.


Ryn jadi ikut merasa terharu melihat air mata Lars yang menetes. Keduanya kemudian saling berpelukan.


" Ekhem!! Harap bersabar, sebentar lagi juga kalian menikah." Ujar Lodra yang datang tidak tepat pada waktunya.


Ya, Lodra sudah sadar dan sudah pulih dari lukanya. Ryn sama sekali tidak tahu bahwa Lodra dan Lars membuat kesepakatan konyol sebelumnya.


Ryn hanya bingung, karena kini Lars dan Lodra tampak lebih akrab tidak seperti sebelum sebelumnya.


" Bisakah kau datang nanti saja? Kau membuat haru kami rusak." Ujar Lars, dan Lodra terkekeh.


" Siapa yang tahu kalian sedang berpelukan dengan penuh haru, lagi pula dilarang bermesraan di hadapan orang jomblo." Ujar Lodra.


" Bilang saja iri." Ujar Lars, dan Lodra melotot.


" Wah..." Ujar Lodra.


Ryn sampai geleng geleng melihatnya, kini Lodra tidak memanggil Lars dengan sebutan tuan Lars lagi, Lars juga sebaliknya. Kini Lars justru memanggil Lodra dengan sebutan..


" Kakak ipar, lebih baik kau pergi, kau mengganggu orang yang sedang bermesraan." Ujar Lars.


" Ck, iya.. iya.. Adik, kakak hanya mengabarimu bahwa paman Kriss ingin bertemu denganmu." Ujar Lodra pada Ryn.


" Aku akan temui dia, saat makan malam nanti." Ujar Ryn.


" Baiklah, kakak pergi dulu." Ujar Lodra, dan lalu pergi dari sana.


" Aku lihat, kamu dan kak Lodra semakin hari semakin akrab? " Ujar Ryn pada Lars.


" Bukankah kami akan menjadi ipar nantinya? Anggap saja hitung hitung latihan, agar saat kita sudah menikah nanti aku tidak begitu dingin padanya." Ujar Lars, dan Ryn terkekeh mendengarnya.


Lars dan Lodra sudah sepakat untuk melupakan kejadian itu, Lodra sudah menunjukan bahwa dia mampu menjadi kakak yang baik untuk Ryn, hanya sebagai kakak, tidak lebih.


Lars juga meminta maaf pada Lodra karena membuat tantangan konyol padanya. Mereka sepakat untuk bersama sama menjadi pelindung Ryn, dengan Lars menjadi suami Ryn, dan Lodra sebagai kakak laki - laki Ryn.


Tidak ada dendam, tidak ada rasa cemburu atau iri hati, hanya ada rasa kekeluargaan.. kekeluargaan yang hangat, yang pernah hilang dari hidup Ryn.


" Aku suka melihat kamu tertawa seperti itu, kamu sangat cantik." Ujar Lars, lalu mencium kening Ryn.


Hidup Ryn yang seperti terombang ambing sebelumnya, kini sudah mulai kembali tenang.. Ryn di kelilingi orang orang yang menyayanginya.


TO BE CONTINUED..