A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 42. Berjanjilah.



Ryn tidak tahu bahwa Lars adalah seorang ketua mafia, meski Ryn melihat markas Lars dan melihat gudang pembuatan senjata api di sana, tapi Ryn tidak berpikir bahwa Lars adalah seorang ketua mafia sama sekali.


Mendengarnya sendiri dari mulut Lars, Ryn terkejut. Karena Lars tidak terlihat sama sekali sebagai ketua mafia, dan juga... Lars masih terlalu muda untuk hal hal sejauh dan sebesar itu.


" Tuan Kriss, sepertinya pertemuan kita harus kita akhiri sampai disini." Ujar Lars.


" Baiklah, kalian butuh waktu untuk bicara. Nak.. saya pulang dulu." Ujar Kriss pada Ryn.


Kriss sebenarnya bisa menebak bahwa Lars ini bujan orang yang mudah dan sembarangan. Dari cara bicara Lars, tatapannya, ketegasannya, itu mencerminkan bahwa Lars ini orang yang tinggi.


Tinggi dalam artian identitas Lars itu tidak sembarangan, dan bukan orang yang bisa di ganggu.


Setelah Kriss keluar, Lars pun berjongkok di hadapan Ryn yang masih terdiam dan menatap kearah Lars. Jika ada orang yang melihat seorang Lars berjongkok di hadapan seorang gadis, pasti dunia akan di buat heboh.


" Sayang, kamu marah??" Tanya Lars pada Ryn.


Ryn menggeleng ketika Lars bertanya, tetapi dia hanya menatap Lars tanpa berkata apa apa.


" Katakanlah sesuatu, diammu membuatku takut. Jika kamu marah maka pukul saja aku." Ujar Lars dengan tatapan panik.


" Maaf karena aku tidak mengatakannya langsung kepadamu, tidak semua orang tahu identitasku, sayang." Ujar Lars.


" Bukankah aku kekasihmu??" Ucap Ryn tiba tiba.


" Ya, kamu adalah kekasihku, hidupku. cintaku, kamu segalanya bagiku." Ujar Lars.


" Tapi kamu tidak mau aku tahu siapa kdirimu." Gumam Ryn.


Lars seketika merasa bersalah, bodohnya dia tidak jujur pada Ryn. Lars hanya takut Ryn tidak menerima identitasnya yang gelap itu.


" Kamu tidak menganggapku.." Gumam Ryn lagi.


" Tidak, sayang. Aku mencintaimu, aku hanya masih membutuhkan waktu untuk jujur padamu tentang siapa aku. Aku mencoba yang terbaik untukmu, hanya untukmu.. Jangan katakan itu, kamu segalanya untukku." Ujar Lars dan berkaca kaca.


Lars lalu memeluk perut Ryn, tidak pernah dalam hidupnya dia menangis. Setelah dia di buang di hutan oleh ayahnya, Lars seperti tidak memiliki emosi kesedihan.


Bahkan walau kakeknya sakit dan masuk rumah sakitpun, dia tidak berlinang air mata sama sekali.


" Maaf..." Gumam Lars.


Ryn merasakan tangan nya basah oleh tetesan air, ia terkejut.. Lars menangis.


" Kamu menangis??" Ujar Ryn.


" Jangan tinggalkan aku, aku melakukan itu karena aku menyayangimu." Ujar Lars.


Bagai anak kecil yang merengek karena takut di tinggal ibunya, begitulah Lars terlihat saat ini.


Ryn perlahan tersenyum karena mendengar kalimat Lars, dia ikut terharu Lars sampai menangis karena takut di tinggalkan olehnya.


" Kakimu akan sakit jika berlutut seperti itu, bangunlah." Ujar Ryn.


" Tidak mau.. " Gumam Lars.


Ryn hampir terkekeh mendengar suara bass Lars yang terdengar merengek, tidak singkron sama sekali.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, jadi bangunlah. Kakimu akan benar benar sakit, Lars." Ujar Ryn lagi.


Mendengar itu, Lars mendongakan wajahnya menatap Ryn. Ryn bisa melihat mata Lars yang memerah dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


" Janji, jangan tinggalkan aku?" Ujar Lar.


Ryn tersenyum, kemudian mengusap air mata Lars dengan penuh sayang, kemudian mengangguk.


" Berjanjilah, untuk tidak berbohong lagi denganku." Ujar Ryn.


" Aku janji, aku akan mengatakan apapun itu yang kamu ingin tahu tentang diriku." Ujar Lars, kemudian Ryn mengangguk.


Akhirnya keduanya berpelukan..


Memang dalam sebuah hubungan, apapun itu kita harus saling terbuka dengan pasangan. Suka dan duka seharusnya bisa di lalui bersama. Tetapi Lars itu berbeda.,


Dia hanya ingin memberikan sukanya pada Ryn, tapi tidak dengan dukanya. Lars ingin memberikan Ryn kebahagiaan, bukan kesedihan.


Lars akhirnya mencium Ryn, mereka berc*uman dengan penuh kelembutan. Dan di tengah tengah ciuman itu, tiba tiba Roco masuk kedalam.


" Tuan mud.. Eh, maaf tuan muda!" Ujar Roco lembali keluar ketika melihat Lars dan Ryn sedang ciuman.


' Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bagaimana aku bisa masuk begitu saja.' Batin Roco merutuki dirinya.


Sementara di dalam kamar, Ryn dan Lars yang sebelumnya seperti di mabuk ciuman itu kini saling tatap menatap pintu masuk.


" Sepertinya tadi aku mebdengar suara asisten Roco." Ujar Ryn.


" Tidak ada.. Oiyah, kakek akan pulang ke rumah, aku lupa memberitahumu. Malam ini kita jemput dia." Ujar Lars mengalihkan pembicaraan.


" Kakek pulang?" Tanya Ryn antusias, dan Lars mengangguk.


" Ayo kita jemput kakek." Ujar Ryn.


Melihat Ryn yang begitu bahagia, Lars pun tersenyum. Perlahan ia bangun dari jongkoknya dan mengulurkan tangannya.


" Ayo.." Ujar Lars, dan Ryn langsung bangun.


Lars membuka pintu kamar hotel dan Roco langsung terlonjak kaget, seumur umur baru kali itu Roco terlonjak kaget, biasanya dia sangat profesional.


" Ke rumah sakit." Ujar Lars pada Roco.


" B- baik tuan muda." Ujar Roco sedikit gugup.


Akhirnya mereka pergi dari hotel itu dan menuju ke rumah sakit untuk menjrmput Peet.


" Bolehkah aku pinjam ponselmu? Aku ingin menghubungi kakak." Ujar Ryn.


" Ini.." Ujar Lars memberikan ponselnya.


Roco sampai terkejut mendengarnya, selama ini siapapun yang ingin menghubungi Lars, selalu lewat Roco terlebih dahulu. Tapi kini Lars memberikan ponselnya pada Ryn untuk Ryn gunakan.


" Terimakasih.." Ujar Ryn dan tersenyum manis. " Lars mengangguk, senyum Ryn seperti candu tersendiri bagi Lars.


Ryn pun menekan beberapa nomor dan memanggilnya.


" Halo Kakak, malam ini aku akan pulang ke penthouse." Ujar Ryn dan seketika membuat Lars menengok terkejut.


" Iya, mungkin agak malam.. iya kak, bye kak." Ujar Ryn dan mengakhiri panggilan.


" Sayang, kamu mau pulang ke penthousemu, kenapa??" Ujar Lars protes.


Baru tadi dia meyakinkan Ryn untuk tidak pergi, sekarang Ryn akan tinggal di penthousenya sendiri.


" Kakekmu akan pulang, bukan? Rasanya tidak pantas jika aku tinggal satu atap denganmu, apalagi ada kakekmu. Nanti apa yang akan kakekmu pikirkan tentangku." Ujar Ryn.


" Kakek tidak akan keberatan, lagi pula kakek pikun. Dia tidak akan ingat dimana kamu tinggal.." Ujar Lars keberatan.


" Jahatnya, kamu mengatai kakekmu pikun." Ujar Ryn sembari geleng geleng kepala.


" Bukan begitu maksudku, tapi kan nyatanya kakek memang pikun, dia tidak akan ingat bahwa kamu tinggal di rumahku." Ujar Lars gelagapan.


" Tidak apa apa, aku pulang ke penthouse kakak saja." Ujar Ryn.


" Tapi, sayang." Ujar Lars.


" Lars... aku bisa saja kan datang ke rumahmu setiap hari. Meskipun kakek pikun, kita harus menghargainya sebagai orang tua." Ujar Ryn.


Roco hendak tertawa tetapi dia masih sayang nyawa, seorang Lars mendapat siraman rohani dari Ryn. Sementara Lars hanya bisa diam dengan wajah manyunnya.


" Baiklah.." Uajr Lars akhirnya, dan Ryn tersenyum manis.


Hingga tak terasa mereka sampai di rumah sakit. Lars menggandeng tangan Ryn dan berjalan menyusuri lorong menuju ruangan Peet.


" Kakek.." Panggil Lars ketika sudah sampai di ruangan Peet.


" Lars, kamu datang akhirnya." Ujar Peet.


" Ayo kita pulang, kek." Ujar Ryn.


" Ah, ya.. ayo pulang. Kakek tidak suka di sini, bau obat." Ujar Peet, dan Lars terkekeh.


" Karena kakek masih sakit, jadi biarkan Ryn yang mendorong kursi roda kakek." Ujar Ryn, dan Peet mengangguk antusias.


" Anak baik.. " Ujar Peet.


" Hei, siapa namamu? Saya lupa." ujar Peet menatap Roco.


" Roco tuan besar." Sahut Roco.


" Cepatlah cari kekasih, kau pasti sama tuanya dengan cucuku, Lars. Jangan sampai kau jadi bujang tua nanti." Ujar Peet dan wajah Roco seketika menjadi kaku.


Lars dan Ryn terkekeh mendengarnya, rupanya Peet masih memiliki selera humor walau Peet sudah pikun.


" Baik tuan besar." Ujar Roco hanya bisa pasrah.


' Akhir alhir ini, aku selalu kena sasaran.' Batin Roco.


TO BE CONTINUED..