
Ryn dan Lars sedang berada di ruang tengah saat ini, Lars memberikan beberapa contoh undangan untuk Ryn, di bantu oleh seorang desaigner undangan.
" Bagaimana, sayang? Apakah sudah menemukan desain yang bagus?" Ujar Lars.
" Lars, apa kita sungguh akan bertunangan dalam waktu dekat ini?" Tanya Ryn.
" Hm, iya.. apa kamu tidak mau?" Tanya Lars.
" Bukan tidak mau, tapi apa tidak terlalu cepat, dan lagi urusanku belum selesai." Ujar Ryn.
Lars mengibaskan tangannya pada desaigner undangan untuk menyuruhnya pergi, desaigner itu pun mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
Lars lalu menghadap Ryn dan menggenggam tangan Ryn.
" Dendam boleh di lakukan, sayang. Tapi kebahagiaan kita juga harus kita pikirkan. Masa depan kita ada di depan, sedangkan dendammu ada di masa lalu." Ujar Lars.
" Percaya padaku, mereka tidak akan bisa lari dariku. Aku pastikan mereka akan membayar mahal atas perbuatan mereka." Ujar Lars.
Yang Lars katakan benar, kelangsungan kebahagiaan mereka adalah yang terpenting. Tentang dendam, Lars pasti akan membalaskannya untuk Ryn, dan bisa di pastikan akan berkalilipat lebih pedih.
Akhirnya Ryn mengangguk. " Baiklah, kita akan bertunangan.."
"Pilihlah undangan yang kamu inginkan." Ujar Lars sembari mengusap kepala Ryn dengan sayang.
Dan akhirnya Ryn kembali memilih sebuah undangan pertunangan yang menurutnya bagus, desaigner undangan itu pun kembali melayani Ryn dengan sangat ramah.
Setelah undangan selesai di pilih, desaigner itu pun pergi dari sana.
" Besok akan datang desaigner gaun yang akan mengukur tubuhmu dan mendesain gaun untukmu. " Ujar Lars.
" Baiklah.." Ujar Ryn, dengan senyum manisnya.
" Aku pulang dulu, hum?" Ujar Lars.
Ryn mengangguk, lalu memeluk Lars. Lars tersenyum dan mengecup kening Ryn.
" Sampai besok, sayang." Ujar Lars.
" Hati hati di jalan." Ujar Ryn, dan Lars mengangguk.
Lars pun pergi, setelah Lars pergi Ryn langsung naik ke atas dan mencari ponselnya, dan rupanya ada pesan balasan yang masuk dari Lodra.
' Kakak baik baik saja, sayang. Jangan khawatir, tidak akan ada yang terjadi pada kakak.' Begitu pesan balasan yang tertulis.
" Sukurlah jika memang tidak ada hal apapun yang terjadi pada kakak." Gumam Ryn.
Meski apa yang di dengarnya dari salah satu pengawal Lodra masih begitu membuatnya kepikiran, tapi Ryn temang setelah melihat video dan balasan pesan dari Lodra.
Sementara itu, Lars tidak kembali ke kediamannya, dia melaju ke luar kota Jakarta dengan kecepatan tinggi. Saat ini ia mengemudikan sendiri mobil sportnya dengan di ikuti beberapa anak buahnya dari belakang.
Setelah sekitar satu setengah jam, alhirnya Lars sampai di markasnya yang lain.
" Tuan." Ujar anak buah Lars dan Lars mengangguk.
Lars masuk dan langsung mencari keberadaan Lodra di ruang steril. Terlihat Stone berada di sana, dia sedang mengecek semua selang yang terpasang di tubuh Lodra.
" Bagaimana keadaan nya?" Tanya Lars.
" Dia selamat, tuan. Lukanya tidak fatal, dia akan sadar setelah pengaruh anastesinya habis." Ujar Stone.
" Apa sudah di cari tahu apa penyebab bocornya informasi tentang cctv lalat itu?" Tanya Lars.
" Roco sedang menyelidikinya." Ujar Stone, dan Lars mengangguk.
Lars pun keluar untuk mencari Roco. Dengan Lars, Stone tidak bisa berkomentar atau bertanya secara bebas seperti saat bersama Roco, bagi Stone, Lars adalah orang paling penting.
Lars sampai di sebuah ruangan dimana di dalamnya terdapat banyak monitor yang sedang memonitori markas musuh.
" Tuan, saya sudah dapat pelakunya. Dia adalah salah satu rekan tuan Lodra dulunya." Ujar Roco.
" Rekan Lodra?" Ujar Lars.
" Manurut anak buah kita yang menyusup di sana, dulunya ada seorang rekan tuan Lodra yang juga pernah di jadikan umpan. Tapi dia di selamatkan karena pemikiran hebatnya merancang sebuah teknologi." Ujar Roco.
" Sementara tuan Lodra tidak di selamatkan, karena saat itu dia tidak sadar." Ujar Roco lagi.
" Menurut penyelidikan, keduanya adalah sepasang sahabat dulunya, mereka berdua memiliki kemampuan yang sama yaitu programer yang hebat dan mampu membuat teknologi canggih dengan pemikiran mereka." Ujar Roco.
" Sepasang sahabat yang konyol." Gumam Lars.
" Jadi, dia yang menyadari adanya cctv lalat itu? Lalu ada berapa cctv yang sudah ketahuan? " Tanya Lars.
" Benar, sekitar dua belas cctv sudah ketahuan." Ujar Roco.
" Jangan!!" Ucap suara Lodra tiba tiba yang masuk ke dalam ruangan monitor.
" Astaga pria bodoh ini! Susah payah aku menyelamatkan nyawamu, kau keluar begitu saja setelah sadar. Kalau mau mati jangan buat orang lain susah!" Ujar Stone emosi sambil mencekik leher Lodra.
Lodra sadar dan langsung panik ketika mendengar bahwa Lars telah tiba di sana. Dengan susah payah Lodra bangun dan langsung lari mencari keberadaan Lars.
" Maaf, sebelumnya terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku." Ujar Lodra pada Stone.
" Lepaskan dia." Ujar Lars pada Stone, Stone lalu melepaskan Lodra dengan kasar.
" Tuan Lars, tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Aku tidak mau jika harus di pisahkan dari adikku, meski Ryn bukan adik kandungku tapi aku sangat menyayanginya." Ujar Lodra.
" Lalu jika kau terluka begini, kau pikir kau bisa menghabisi musuhmu si muka mesum itu, huh!? " Ujar Stone.
" Stone." Ujar Lars, dan Stone langsung diam menahan kesal.
" Tuan Lars, tolong jangan pisahkan aku dari adiku." Ujar Lodra dengan mata merah menahan tangis.
" Kau membuatku terdengar seperti penjahat, tuan Lodra. Bukankah kau sendiri yang berkata kau akan membuktikan bahwa kau layak menjadi kakak untuk Ryn?" Ujar Lars.
" Aku tahu, aku lengah, tapi aku masih sanggup bertarung." Ujar Lodra.
" Jangan paksakan dirimu, kau sudah kalah." Ujar Lars.
" Tidak! aku akan buktikan aku bisa, aku tidak mau menjauh dari Ryn." Ujar Lodra.
" Maka buktikanlah.." Ujar Lars, dan Lodra tersenyum.
" Terimakasih.." Ujar Lodra, dengan senyum pucatnya.
" Ryn begitu khawatir padamu, dan anak buahmu yang ceroboh itu, di amankan oleh orangku." Ujar Lars.
" Aku mengerti." Ujar Lodra.
Lars melihat keseriusan dan ketulusan di mata Lodra untuk Ryn, begitu pula kasih sayang Ryn untuk Lodra yang begitu besarnya layaknya pada saudara kandung.
' Tidak seharusnya aku memiliki pemikiran yang konyol ini.' Batin Lars.
Flashback on..
Awalnya Lars ingin menjauhkan Ryn dari Lodra karena ia sering cemburu dengan kebersamaan mereka berdua. Di tambah lagi Lodra memiliki masalah dengan Davon, yang bisa saja Davon mengincar Ryn nantinya.
Akhirnya pada malam saat Lodra datang ke kediamannya, Lars membuat kesepakatan. Lars akan membantu Lodra, asal Lodra menjauh dari Ryn.
" Aku tidak bisa meninggalkan Ryn, aku kakaknya. Meski secara kekuatan mungkin anda lebih besar dan kuat dariku, tapi aku bisa melindunginya dengan nyawaku sendiri." Ujar Lodra.
" Anda bukan kakak kandungnya." Ujar Lars.
" Aku tahu, tapi aku akan berusaha dan memastikan Ryn tidak akan di ganggu oleh Davon." Ujar Lodra.
Lodra menolak, dan akhirnya dia menawarkan dengan mengajak kerja sama antara dirinya dengan Lars. Lodra menawarkan teknologi canggihnya untuk memantau David dengan cctv lalat buatannya.
" Aku yakin ini akan berhasil, David tidak akan tahu bahwa lalat ini milik anda." Ujar Lodra.
" Baik, mari kita coba. Tapi jika anda gagal.."
" Tidak akan gagal." Ucap Lodra yakin.
Lodra juga mengatakan bahwa ia akan membunuh Davon dengan tangannya sendiri, dan membuktikan bahwa dia layak menjadi kakak bagi Ryn.
Flashback off..
" Pulihkan saja tubuhmu lebih dulu, baru kita pikirkan lagi kelanjutannya " Ujar Lars.
" Tidak perlu, malam ini juga, aku akan menghabisi Davon." Ujar Lodra.
" Konyol! Kau mau mati dua kali? Pikirkan dulu sebelum kau bertindak, gunakan otakmu!" Ujar Stone.
" Stone, bisa tidak bicara dengan baik baik." Ujar Lars.
" Tuan, dia saja belum tahu pelaku yang membocorkan cctv lalatnya itu." Ujar Stone.
" Apa kau masih ingat dengan sahabatmu yang pernah menjadi umpan denganmu tetapi dia selamat?" Tanya Lars pada Lodra.
" Riki.." Gumam Lodra.
" Dia pelakunya." Ujar Lars, dan Lodra terkejut..
TO BE CONTINUED...