A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 83. SWEET NIGHT.



Ryn semakin berdebar ketika mendengar Lars berkata demikian.


" Aku tahu kamu belum tidur, jika kamu belum siap, tidak apa apa.. aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya sekarang. Kita tidur saja seperti ini." Ujar Lars, dan mengeratkan pelukannya pada Ryn.


Tapi tiba tiba Ryn menjadi merasa bersalah, tidak seharusnya dia sembunyi seperti itu. Dia adalah istri Lars sekarang.


' Apa yang kamu lakukan Ryn, kamu istri Lars sekarang.' Batin Ryn, lalu membuka matanya.


" Lars.." Panggil Ryn.


" Hm.. " Sahut Lars lembut.


Ryn bergerak dan memutar tubuhnya menghadap Lars. Terlihat Lars yang sudah segar dengan rambutnya yang masih sedikit basah.


Tangan Ryn terulur meraba wajah tampan Lars, pandangan Ryn saat ini adalah pandangan penuh kagum dengan makhluk Tuhan yang sangat sempurna itu.


Tiba tiba Lars menggenggam tangan Ryn, dan mengecupnya.


" Tidurlah.. " Ujar Lars, karena dia bisa menjadi lepas kendali jika terus membiarkan Ryn meraba wajahnya.


" Apakah kamu marah?" Tanya Ryn.


" Tidak, sayang. Tidak ada alasan untuk aku marah padamu." Ujar Lars.


" Kita tidak melakukan itu?" Tanya Ryn.


" Jika kamu belum siap, maka kita jangan lakukan. Aku akan menunggu sampai kamu siap, sayang." Ujar Lars.


Ryn tersenyum mendengarnya, Lars adalah sebaik baiknya pria. Dia baik, dan pengertian pada pasangannya. Tapi Ryn yang merasa bersalah itu akhirnya memberanikan diri untuk mengecup bibir Lars singkat.


" Nakal, hum.. " Ujar Lars.


Ryn kembali mengecup bibir Lars beberapa kali hingga Lars menahan kepala Ryn, dan kecupan itu menjadi sebuah ciuman.


" Jangan buat aku lepas kendali, sayang." Ujar Lars, ketika melepaskan ciumannya.


" Aku siap." Ujar Ryn akhirnya.


" Jangan katakan itu jika dalam hatimu belum siap, sayang. Aku masih bisa menunggu hingga kamu benar benar siap. Tidurlah.. ini sudah larut." Ujar Lars lalu memeluk Ryn kedalam dekapannya.


Tapi Ryn kembali bergerak dan menatap mata Lars lalu menggelengkan kepalanya.


" Aku benar benar siap, Lars. Aku istrimu, maka jadikan aku istrimu sepenuhnya." Ujar Ryn tiba tiba mendapatkan keberanian.


Lars menatap dalam manik mata Ryn, lalu kembali menyatukan bibir mereka. Lars sebenarnya sudah sangat tidak bisa mengendalikan dirinya, hingga ia berulang kali menyuruh Ryn tidur.


" Bolehkah??" Ujar Lars, bertanya.


" Hm.." Sahut Ryn sambil menganggukan kepalanya.


Akhirnya mereka pun melakukan pergulatan malam manis mereka, Lars melakukannya dengan sangat lembut agar Ryn merasa nyaman dan tidak kesakitan karena itu adalah pertama kalinya bagi mereka berdua.


Hingga pagi hampir menjelang, mereka berdua baru selesai dengan pergulatan manis mereka, dan akhirnya keduanya tertidur sambil berpelukan.


" Terimakasih, sayang." Bisik Lars, di telinga Ryn yang sudah tidur karena kelelahan.


Ke esokan paginya, bukan pagi namun menjelas siang. Ryn membuka matanya dan langsung bertemu tatap dengan manik hijau Lars.


" Pagi, nyonya Lars." Ujar Lars, dan itu berhasil membuat Ryn tersenyum malu.


Ryn masuk kedalam pelukan Lars, yang saat ini masih sama sama tidak mengenakan sehelai pakaian pun.


" Jangan malu, sayang.. bukankah kamu bilang kamu istriku? Aku suamimu." Ujar Lars.


" Hm.." Sahut Ryn, dan Lars pun terkekeh kecil melihat Ryn yang masih malu malu itu.


Lars pun mendekap Ryn, lalu menciumi kepala Ryn berkali kali.


" Ayo, aku bantu kamu bersihkan diri." Ujar Lars.


" Hm? Aku bisa melakukannya sendiri, Lars." Ujar Ryn.


" Tidak, kamu tidak akan bisa." Ujar Lars.


" Ini tubuhku, aku bisa melakukannya. Setiap hari aku selalu membersihkan tubuhku sendiri." Ujar Ryn.


" Bisakah kamu menghadap ke sana." Ujar Ryn, dan Lars terkekeh kecil mendengarnya.


" Sayang, semua bagian tubuhmu sudah aku lihat semalam." Ujar Lars, dan itu berhasil membuat Ryn merona karena malu.


" Laaarrrrsss..." Ujar Ryn merengek, dan Lars justru terbahak.


Sebuah hiburan tersendiri bagi Lars, pagi pagi bisa menggoda istri yang sangat di cintainya itu. Sebelumnya paginya selalu monoton dan membosankan, tapi kini sangat menyenangkan.


" Baiklah.. aku hadap belakang." Ujar Lars, padahal semalam dia sudah melihat semuanya milik Ryn.


Ryn memanyunkan bibirnya, lalu ia berusaha menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan bangun dari ranjang, namun tiba tiba..


" Aw!!" Ryn kesakitan. Lars langsung panik dan menghampiri Ryn.


'' Sayang, kamu tidak apa apa?'' Ujar Lars, panik.


'' Lars, kakiku sakit..'' Ujar Ryn, menahan sakit.


'' Ayo aku bantu.'' Ujar Lars dan langsung menggendong Ryn.


Lars menggendong Ryn dan mendudukan Ryn di atas ranjang kembali, sementara dirinya langsung bergegas ke kemar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Ryn. Setelah air itu sudah hangat, dia pun kembali ke ranjang.


'' Biar aku bantu kamu mandi, ya?'' Ujar Lars.


'' Aku akan mandi sendiri, tapi mungkin aku butuh bantuanmu untuk ke kamar mandi.'' Ujar Ryn.


Lars menghela nafas karena Ryn masih saja malu pada dirinya, padahal dia sudah melihat semua bagian tubuh Ryn, tanpa terkecuali. Lars duduk di depan Ryn lalu mencangkup kedua pipi Ryn yang chuby, lalu berkata..


'' Sayang, janji pernikahan kita baru kita ikrarkan kemarin.. belum ada satu hari janji itu di ikrarkan, lalu aku harus melihat istriku sakit dan tidak membantunya sama sekali, begitu? Dalam pernikahan.. apapun itu, kita harus hadapi bersama, dan rasakan bersama. Tubuhku milikmu, dan sebaliknya.'' Ujar Lars.


'' Kamu tidak perlu malu, karena kita sudah menikah, kita sah dan terikat dengan janji suci pernikahan. Jadi.. biarkan aku membantumu, oke..'' Ujar Lars lagi.


Ryn terlihat menatap Lars dengan penuh pertimbangan, dan akhirnya dia mengangguk. Lars pun tersenyum, dan kemudian mencium kening Ryn.


'' Ayo, aku bantu mandi.'' Ujar Lars, dan Ryn mengangguk dengan lucu.


Akhirnya Lars kembali menggendong Ryn dan berjalan ke kamar mandi, Ryn di masukan perlahan ke dalam air hangat yang berada di bath up, lalu dirinya juga menyusul masuk kedalam, keduanya pun mandi bersama.


Setelah beberapa saat setelah mereka mandi, kini Lars dan Ryn sudah terlihat sama sama mengenakan bath robe pasangan yang tersedia di kamar mandi. Lars mendudukan Ryn di meja belajarnya, lalu membantu Ryn mengeringkan rambut panjangnya.


'' Kenapa bisa begitu sakit? padahal semalam aku tidak merasa sakit seperti ini.'' Ujar Ryn tiba tiba.


'' Itu karena kita baru melakukannya, sayang. '' Ujar Lars.


'' Sakit sekali..'' ujar Ryn, dan Lars terkekeh di buatnya.


Lars selesai mengeringkan rambut Ryn, dan kini ia berjalan ke arah ranjang. Lars menarik selimut di ranjang dan terlihat ada bercak darah, tanda bahwa Ryn memberikan mahkotanya kepada Lars. Lars tersenyum melihatnya, dia tidak merasa jijik sama sekali, justru bangga.


Bangga karena Ryn menjaga dengan baik mahkotanya dan Lars menjadi yang pertama mendapatkan mahkota itu sebagai suami Ryn.


'' Tok! tok! tok!" Suara pinru di ketuk daei luar.


" Tuan muda, saya mengantar barang barang anda dan nona." Ujar Roco.


Roco tahu Lars sudah bangun, karena swbelumnya Lars sudah mengirimi Roco pesan.


" Tinggalkan di depan pintu." Ujar Lars.


" Baik." Sahut Roco.


"Sebentar, sayang." Ujar Lars dan Ryn mengangguk.


Lars membuka pintu, dan langsung menarik masuk dua koper. Satu koper kecil milik Ryn, satu lagi koper besar miliknya sendiri.


' Dasar mareka, anak buah dan kakak ipar kurang ajar. Bisa bisanya memikirkan hal hal seperti ini.' Batin Lars saat melihat tulisan di sebuah kertas yang menempel di koper.


" ( Demi kelangsungan hidup dan mempercepat perkembang biakan kalian, kami para tim gerak cepat, berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu kalian berproses. Semoga keponakan lucu bisa segera lahir ke dunia.)"


Begitu tulisan yang menempel di koper Lars.


TO BE CONTINUED..