
Ryn sudah selesai dengan aktifitas mandi nya, tetapi ia masih menggunakan bathrobe yang tersedia di kamar mandi Lars.
" Lars, apakah kau di depan?" Teriak Ryn.
" Aku di sini, kamu sudah selesai?" Tanya Lars.
" Sudah." Sahut Ryn.
" Kalau begitu buka sedikit pintunya, dan aku akan memberikan kantong pakaiamu." Ujar Lars.
" Hm, ya." Ujar Ryn.
Ryn membuka sedikit pintu kamar mandi, dan tangan Lars menyodorkan kantong kertas besar berisi satu set pakaian Ryn. Ryn pun menerimanya, dan langsung menutup pintu kembali.
" Aku tunggu kamu, jangan terburu buru." Ujar Lars dari luar pintu.
Ryn hanya diam, kemudian ia menggunakan pakaian yang sudah di siapkan Lars. Ryn tercenung karena ukuran pakaian yang di beli Lars itu sangat pas di tubuhnya, dan juga itu adalah pakaian yang nyaman di kenakan Ryn.
' Kebetulan sekali dia membeli pakaian yang sesuai dengan seleraku.' Batin Ryn.
Ia mengenakan satu set pakaian olahraga bercelana panjang namun ber kaos pendek, lebih seperti pakaian santai sebenarnya. Dan ya.. itu bukan kebetulan. Lars mencari tahu semua tentang Ryn, kesukaan Ryn, dari makanan, minuman, pakaian, hobi, semuanya.
'' Cklek! '' Suara pintu terbuka.
'' Kamu sudah selesai? '' Tanya Lars.
'' Ya. '' Ujar Ryn.
Lars tersenyum, dan tanpa aba aba lagi, dia langsung menggendong Ryn dengan ala bride style. Lagi lagi Ryn langsung refleks mengalungkan tangan nya ke leher Lars.
'' Astaga! Apa kamu punya hobi menggendong orang dadakan? '' Ujar Ryn yang terkejut.
'' Tidak ada, tapi mungkin mulai sekarang aku akan memiliki hobi itu, dan kamu adalah orang nya.'' Ujar Lars sambil tersenyum manis.
'' Ish, pandainya membual.'' Ujar Ryn dan Lars terkekeh.
Lars meletakan Ryn di meja makan untuk memulai makan malam mereka. Di meja makan itu sendiri sudah ada makanan kesukaan Ryn yakni dumpling.
'' Tuan muda, makanan sudah siap.'' Ujar kepala pelayan itu.
'' Hm, terimakasih.'' Ujar Lars.
Lars menyiapkan makanan Ryn dan menghidangkan nya di hadapan Ryn, agar Ryn tidak kesusahan. Selain dengan Ryn, tidak pernah dalam sejarah hidup Lars menghidangkan makanan untuk orang lain, kecuali mungkin kakek nya seorang.
Ryn yang mendapatkan perlakuan sangat manis itu pun tersenyum. Ia memperhatikan setiap gerakan Lars, dan akhirnya ia terciduk oleh Lars karena selalu memperhatikan Lars.
'' Apakah aku setampan itu?'' Ujar Lars.
'' Ya, kamu sangat tampan.'' Ceplos Ryn tanpa sadar.
Lars lengsung menghentikan gerakan nya dan menatap Ryn dengan tatapan jahilnya. Ryn yang di tatap begitu pun seketika sadar dari lalmunan nya.
'' Sungguh??'' Tanya Lars.
'' Eh, apa? '' Ujar Ryn bingung dan gugup sendiri.
'' Kamu bilang padaku sebelumnya bahwa aku tampan, jadi apakah benar aku tampan? '' Tanya Lars.
Ryn langsung memerah, dia langsung mengalihkan pandangan nya dari Lars. Lars tersenyum melihat bagaimana Ryn merona, ia tahu Ryn tanpa sadar mengatakan dirinya tampan.
" Nah, makananmu sudah siap, ayo makan." Ujar Lars mencairkan suasana hening diantara keduanya.
" Terimakasih." Ujar Ryn.
Akhirnya mereka pun melanjutkan makan malam mereka. Sesekali Lars akan mengambilkan ekstra dumpling untuk Ryn. Saat ada Ryn, peraturan makan yang sudah di terapkan di rumah itu, menjadi tidak berlaku.
Akhirnya mereka selesai dan kini keduanya sedang duduk di ruang tengah yang terdapat tv besar di sana.
" Bolehkah aku bertanya? Jika pertanyaanku ini membuatmu keberatan dan tidak nyaman, maka kamu boleh tidak menjawab nya. " Ujar Lars.
" Tanya soal apa?" Tanya Ryn.
" Tentang masa kecilmu." Ujar Lars.
Ryn terdiam, dia jadi teringat dengan siapa dirinya. Bukan putri kandung Paul tapi juga belum tahu seperti apa rupa orang tua kandung nya.
" Aku tidak tahu.." Gumam Ryn sambil menunduk.
" Kakakmu memberitahku bahwa kamu kehilangan ingatan ketika kecil, karena kamu sangat terkejut atas kematian kedua orang tuamu. Aku sudah menjalankan berbagai tes untukmu, tapi tidak di temukan penyakit apapun." Ujar Lars.
" Jika kamu mau, aku bisa membantumu mencarikan dokter handal untuk mengembalikan ingatanmu." Ujar Lars..
Ryn menatap Lars dengan tatapan tidak bisa di artikan.
' Kenapa dia baik sekali padaku? Apakah sungguh jatuh cinta itu memabukan seperti yang kakak katakan padaku. Apakah sungguh jatuh cinta membuat candu?' Batin Ryn.
" Apakah bisa?" Tanya Ryn.
" Kita bisa mencoba nya, bisa atau tidaknya aku juga tidak tahu. Kasus sepertimu ini, aku belum pernah menemuinya. " Ujar Lars.
" Dan ya, apakah kamu memiliki masalah dengan Sam Eldrigo? dia seperti sering menyerangmu." Ujar Lars lagi.
"Dia bilang, dia adalah musuh ayah kandungku." Ujar Ryn.
Ryn kemudian berpikir, apakah dia bisa meminta bantuan pada Lars..
' Apakah aku bisa meminta bantuan padanya untuk mencari tahu tentang ayahku?' Batin Ryn.
" Musuh ayahmu? Siapa nama ayahmu?" Tanya Lars.
" Sam menyebutnya Wira, Wira Cornelius Reiner." Ujar Ryn.
' Wira, apakah Wira ketua mafia DEATH yang hilang tiba tiba itu?' Batin Lars.
' Jadi benar..' Batin Lars.
" Jika dia adalah rekan ayahmu, kenapa dia justru mencoba menyerangmu beberapa kali?" Tanya Lars.
" Karena dia menginginkan aku." Ujar Ryn.
Seketika urat wajah Lars menjadi tegang. Lars marah saat ini mendengar bahwa ada orang lain yang menginginkan Ryn nya, apa lagi orang itu adalah laki laki tua.
" Dia bilang aku mirip dengan ibuku, ibuku lebih memilih bunuh diri dari pada ikut dengan nya. Dan dia mengatakan jika dia tidak bisa mendapatkan ibuku maka dia harus mebdapatkan aku. " Ujar Ryn.
" Tapi dia bilang bahwa sifatku, tidak seperti ibuku, tapi lebih seprrti ayahku." Ujar Ryn lagi.
' Ya, kamu memang seperti ayahmu.. Pemberani, tegas dan tidak bisa di baca.' Batin Lars.
Lars jadi teringat pertemuan nya yang tidak di sengaja dengan mendiang ayah Ryn. Ya, Lars mengenal Wira.. Sosok pria yang menjadi super hero pertama bagi Lars.
Flasback on..
Lars masih kecil saat itu, dia berusia sekitar 10 tahun dan berada di tengah hutan belantara. Bukan tanpa sebab dia berada di sana, tapi dia sengaja di tinggalkan oleh ayah kandungnya sendiri.
Lars dulu adalah anak baik, penurut, dan cerdas. Lars tidak memiliki satupun kelemahan, hingga ayahnya sendiri takut padanya.
Ayah Lars menikah lagi dengan seorang wanita, dan wanita itu setiap harinya selalu memberi masukan dan hasutan yang membuat ayah Lars semakin membenci Lars, jadilah dia di tinggalkan di hutan belantara, berharap Lars mati.
Tapi Lars yang pada dasarnya cerdas itu tidak takut apapun, dia mengulut jalan dan mencoba mencari permukiman warga, dan di sana.. Dia bertemu dengan seorang pria yang mengarahkan senapan kepadanya.
Itu adalah Wira yang masih muda dulu, dia dengan tatapan tegas nya berdiri bagai anggota militer saat ini.
" Jangan bergerak! Diam di tempatmu." Ujar Wira pada Lars kecil.
Lars kcil diam dan tidak bergerak sama sekali, dan pria itu melesatkan tembakan senapan nya.
" DOR!" Suara tembakan menggema.
" Akhirnya." Gumam Wira.
Lars masih berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar, itu adalah pertama kalinya dia melihat senjata api dan melihat pemakainya menembakan senapan itu.
" Nak, kemari.. Tidak apa apa." Ujar Eira pada Lars kecil yang tampak ketakutan.
Lars kecil hanya bisa berdiri mematung, hingga Wira yang berjalan menghampiri Lars.
" Saya bukan menembakmu, tapi menembak babi hutan yang hampir menherangmu." Ujar Wira pada Lars kecil.
Wira berjalan menghampiri babi hutan yang sudah berhasil dia lumpuhkan, lalu mengikat ke empat kakinya agar bisa di bawa.
" Sedang apa kamu di sini, nak? Ini bukan tempat wisata, di mana keluargamu?" Tanya Wira.
" Aku.. di tinggalkan di sini." Ujar Lars kecil jujur.
Wira pun terkejut, dari penampilan Lars.. Lars tidak terlihat seperti anak orang tidak mampu, justru semua barang yang melekat pada Lars adalah barang barang mahal yang hanya orang kalangan atas bisa beli.
" Bolehkan saya ikut paman? Saya masih ingin hidup." Ujar Lars kecil.
Mendengar itu, Wira tersenyum.. Lalu mengangguk, lagi pula dia tidak setega itu meninggalkan anak anak di tengah hutan.
" Ayo ikut paman." Ujar Wira, dan Lars tersenyum.
Akhirnya Wira membawa Lars kecil ke sebuah bangunan di tengah hutan. Bangunan itu di kelilingi oleh pagar dinding dengan tinggi tiga meter dan terdapat kawat duri di sekeliling nya, Mirip seperti rutan, jika kalian tahu.
" Paman akan ke kota sekitar dua minggu lagi, apa kamu tidak keberatan?" Tanya Wira.
" Tidak masalah paman, terimakasih." Ujar Lars kecil.
Lars yang tidak tahu apapun itu hanya menatap penuh ke ngerian dengan sekitarnya. Satu yang dia perhatikan, di dinding tertulis sebuah tulisan. DEATH.. Itu adalah kalimat yang tertulis.
Di sana Juga Lars jadi tahu, bagaimana cara membela diri, karena Wira mengajarinya. Sejak dari sana Lars pun menjadi semakin kuat, dua minggu dia sekaan berguru pada Wira, hingga dia menjadi anak laki laki yang tegas dan kuat.
Flashback off...
Lars telah mendengarkan cerita dari Ryn, semuanya.. Lars mencoba membantu Ryn untuk mengurai satu demi satu masalah yang Ryn hadapi.
" Aku akan panggilkan dokter terbaik untukmu, agar kamu bisa mendapatkan kembali ingatan masa kecilmu." Ujar Lars.
" Terimakasih." Ujar Ryn.
" Jangan sungkan, aku senang membantumu."Ujar Lars.
' Tapi aku tidak melihat Sam di markas itu, selama dua minggu aku di markas hutan, aku tidak melihat Sam.' Batin Lars.
" Ayo, aku antar ke kamarmu, kamu harus beristirahat. " Ujar Lars.
Lars menggendong Ryn dan pergi menuju kamar yang di sediakan untuk Ryn. Perlahan dia menurunkan Ryn di ranjang, seakan Ryn adalah benda yang mudah pecah.
" Istirahatlah, sudah malam." Ujar Lars.
" Ya, selamat malam." Ujar Ryn, dan Lars mengangguk dengan senyum manis nya.
Lars pun keluar dari kamar Ryn, dan langsung menghubungi Roco.
" Sudah kau tangkap pria tua itu?" Tanya Lars.
" Kau tidak seperti biasanya, Roco.. kau mengecewakanku. Tapi aku beri kau satu kesempatan, cari keberadaan nya dan beri tahu padaku, aku akan menanganinya dengan tanganku sendiri." Ujar Lars dengan tatapan dingin nya, lalu langsung mematikan ponselnya.
Sementara itu Roco yang saat ini sedang berdiri di pinggir jalan bergidik ngeri mendengar ucapan Lars.
" Mati kau Sam, tuan muda akan rurun tangan sendiri. Sudah lama sekali tuan muda tidak turun tangan langsung menangkap musuh." Gumam Roco sambil menatap layar ponselnya.
TO BE CONTINUED...