
Lars dan Roco sampai di sebuah restoran yang menyediakan tempat private. Dia bertemu dengan pria bernama Kriss yang di sebutkan oleh pria yang di tangkap Roco.
" Anda tuan Lars?" Ujar pria bernama Kriss.
" Ya." Ujar Lars singkat.
" Anak muda jaman sekarang bahkan tidak memandang senior dan junior, tidak memiliki rasa hormat pada orang yang lebih tua." Ujar Kriss.
" Anda tahu dengan siapa anda berbicara bukan?" Ujar Roco, dan Kriss terkekeh.
" Hahaha, tentu saja.. Siapa yang tidak mengenal Lars Hunter. Saya hanya bercanda saja." Ujar Kriss.
" Katakan saja apa maksudmu mengatakan bahwa kau berada di pihak Ryn." Ujar Lars sembari melipat kedua tangan nya.
Tidak peduli siapa lebih tua, Lars pada dasarnya adalah makhluk berhati dingin yang hanya hangat pada orang yang di kasihinya saja. Sejauh ini, Lars tidak pernah menunduk memberi hormat pada siapapun kecuali Peet.
Kriss menjadi diam, rumor yang dia dengar tentang Lars rupanya benar adanya. Lars begitu dingin, dan tidak mudah di ajak bicara. Tapi Dia juga merasa lega, karena Ryn memiliki pelindung yang begitu kuat.
" Saya adalah salah satu anggota DEATH dulunya, kami terdiri dari lima orang, dan ayah Ryn adalah ketua kami saat itu." Ujar Kriss.
" Aku tahu itu." Ujar Lars.
" Anda sudah tahu?? Jadi anda tahu bahwa Ryn adalah putri mantan ketua DEATH?" Ujar Kriss, dan Lars hanya berdehem mengiyakan.
" Itu lebih bagus, saya adalah orang yang berada di pihak ayah Ryn, tapi dulu saya tidak memiliki kekuatan sebesar Sam, salah satu anggota kami." Ujar Kriss.
" Membicarakan tentang Sam, pria ba*in*an itu juga sudah berada di tanganku. Aku belum menemuinya untuk memberinya hukuman." Ujar Lars dengan tatapan dinginnya.
Kriss sampai menelan ludahnya, ia yakin identitas Lars ini bukan orang sembarangan. Kriss yakin Lars bukan murni pengusaha biasa, yang terlahir dari keluarga Hunter, Lars pasti memiliki identitas tersembunyi yang tidak di ketahui orang.
" Anda menangkap ketua DEATH yang sekarang?" Ujar Kriss.
" Aku hanya mengakui paman Wira sebagai ketua DEATH, Dan jika ada ketua yang baru, Ryn adalah orangnya, bukan Sam." Ujar Lars.
' Dia memanggil Wira dengan sebutan paman, apakah mereka dulu sangat dekat?' Batin Kriss.
" Maaf, apakah anda memiliki hubungan dekat dengan mendiang Wira? Setahu saya dia hanya memiliki seorang adik, Paul. Dia bahkan.. tidak menikah." Ujar Kriss.
" Ya, sekarang katakan.. kenapa anda muncul?" Ujar Lars masih kukuh kembali ke poin utama.
" Saya hanya ingin menebus dosa saya pada putri Wira, dia kehilangan kedua orang tuanya juga karena saya. Saya dulu lemah, tidak bisa bertindak apa apa. Jadi saya hanya bisa diam menyaksikan Wira dan istrinya meninggal." Ujar Kriss dengan wajah penuh penyesalan.
" Saya tidak tahu bahwa putrinya masih hidup, jadi saya pergi begitu saja, meninggalkan rumah yang terbakar itu." Ujar Kriss lagi.
Lars melihat tatapan yang penuh penyesalan dari Kriss, akhirnya dia menatap Roco dan mengangguk.
" Tuan Kriss, jika anda ingin melindungi nona Ryn, maka itu tidak perlu. Nona sudah aman bersama tuan muda Lars, tuan muda akan memastikan hidup nona Ryn baik baik saja dan bahagia." Ujar Roco.
" Anda bisa menebus dosa anda dengan memberitahu kami, siapa saja orang orang yang terlibat dengan pembunuhan kedua orang tua nona Ryn, karena itu yang kami butuhkan." Ujar Roco lagi.
" Saya akan beritahukan itu, tapi.. bolehkah saya bertemu dengan Ryn? Saya ingin meminta maaf langsung padanya, dan menceritakan semua kebenarannya." Ujar Kriss.
" Seperti yang anda tahu, bahwa Ryn sedang tidak baik baik saja saat ini. Saat dia sudah kembali ke rumah nanti, saya akan beritahukan kepada anda." Ujar Lars.
Kriss kemudian mengangguk anggukan kepalanya, dia tidak berani menyinggung Lars. Dia sudah cukup merasa lega karena akhirnya dia akan bertemu dengan Ryn.
" Kalau begitu saya permisi." Ujar Lars.
" Anda tidak makan lebih dulu?" Tanya Kriss.
" Tidak, terimakasih." Ujar Lars, lalu langsung pergi meninggalkan Kriss.
" Sungguh pemuda yang gagah berani, dia tidak hanya terlahir dari keluarga terhormat, tetapi identitasnya juga tidak sembarangan. " Gumam Kriss.
" Sepertinya tuan tidak lagi harus khawatir dengan nona Ryn, tuan. Dia sudah memiliki orang yang tepat, saya yakin dia bisa melindungi nona Ryn dari para orang serakah itu." Ujar asisten Kriss.
" Kau benar." Gumam Kriss.
Sementara itu, Lars langsung pergi ke ke rumah sakit. Dia tidak mau terlalau lama meninggalkan Ryn sendirian, walau dia sudah menempatkan beberapa penjaga di sekitar Ryn.
" Tuan, bagaimana dengan Sam?" Tanya Roco.
" Ketika Ryn sudah sehat nanti, aku akan mempertemukan mereka. Ryn lebih berhak menentukan hukuman untuknya." Ujar Lars.
" Kenapa tuan tidak eksekusi saja dia?" Tanya Roco.
" Mati itu terlalu mudah baginya, aku memiliki rencana sendiri untuk menanganinya, tetapi tunggu setelah Ryn memberi keputusan." Ujar Lars.
Roco tentu tahu arti dari ' Mati itu terlalu mudah bagi Sam.' Tandanya, Lars akan menyiksa Sam sampai Sam memohon untuk di bunuh.
Keduanya sampai di rumah sakit, dan Lars langsung berjalan dengan langkah lebarnya, tetapi ketika ia hendak masuk ke lift, seorang dokter memanggilnya.
" Tuan Lars." Panggil Dokter itu.
Lars menghentikan langkahnya, dan berbalik melihat Dokter itu. Dokter yang menjaga dan menangani Peet, setelah Dokter sebelumnya kehilangan lisensinya.
" Ada apa?" Ujar Lars.
" Tuan Lars, tuan Peet.." Ujar Dokter itu, seketika Lars langsung terkejut dan pergi menuju ke lantai dimana Peet berada tanpa mendengarkan kelanjutan dokter itu bicara.
Lars terlihat begitu panik, sampai Roco juga kewalahan. Hingga keduanya sampai di depan kamar rawat Peet.
Ketika Lars membuka pintu, tatapannya bertemu dengan Peet yang rupanya sudah membuka mata dan sedang di periksa dokter.
" Kakek." Ujar Lars langsung tersenyum senang.
Peet terlihat tersenyum dan mengayunkan tangan nya memanggil Lars.
" Lars, kemari nak." Ujar Peet yang terlihat bahagia.
Lars langsung menghampiri Peet dan memeluk Peet.
" Akhirnya kakek sadar.." Gumam Lars.
Padahal Lars pikir telah terjadi sesuatu pada Peet, sampai dia langsung lari begitu saja meninggalkan dokter.
" Anak baik, jangan menangis." Ujar Peet, dan Lars hanya tersenyum.
Peet yang pikun itu terkadang menganggap Lars sebagai anak kecil yang dulu selalu menangis di pelukannya, ingatan yang tidak menentu itu yang membuat Lars khawatir dengan keadaan Peet.
' Kakek selalu menganggap aku anak kecil, sudahlah.. yang penting kakek sudah sadar.' Batin Lars.
" Lars merindukan kakek." Ujar Lars.
" Ya.. Ya.. Kakek juga sama. Nak.. Kakek lapar." Ujar Peet, dan Lars terkekeh. Lars melerai pelukannya dan menatap Peet.
" Kakek mau makan apa? akan Lars belikan." Ujar Lars dengan lembut penuh kasih sayang.
" Ummm.. Kakek merindukan makanan makanan laut." Ujar Peet.
" Tuan, Tuan Peet untuk sementara jangan di beri makanan laut, makanan laut mengandung banyak alergen." Ujar Dokter, dan Lars mengangguk.
" Kita makan bubur dulu ya, kek. Setelah kakek sudah sehat, baru kita makan makanan laut." Ujar Lars.
" Haihh.. " Peet pun menjadi sedih.
" Tuan besar, tuan muda sudah memiliki kekasih, lho." Ujar Roco.
" Ah.. Sungguh? Apakah Lars sudah memiliki kekasih??" Ujar Peet kembali sumringah.
" Ya, Lars sudah memiliki kekasih, kek." Ujar Lars.
" Dimana dia? Kakek ingin melihatnya." Ujar Peet antusias.
" Dia juga sedang sakit, nanti ketika dia sembuh, Lars akan bawa dia menemui kakek." Ujar Lars.
" Anak nakal, kekasihmu sakit kenapa kamu malah di sini? Cepat pergi temui dia, dia pasti menunggumu." Ujar Peet. Lars terkekeh dan mengangguk.
" Lars akan temui dia nanti, kek." Ujar Lars.
" Sekarang! jangan sampai dia mengira kamu tidak peduli padanya. Kakek tidak apa apa di sini, ada dokter yang menjaga kakek." Ujar Peet.
Peet tidak tahu saja bahwa dia sudah koma hingga membuat seorang dokter kehilangan lisensinya.
" Baiklah, Lars akan temui dia." Ujar Lars akhirnya.
" Cepat! cepat! Jangan buat kekasihmu menunggu. Lalu latakan padanya kakek menunggu kedatangan cucu menantu kakek." Ujar Peet, dan Lars terkekeh.
' Astaga, kakek sudah menganggap Ryn sebagai cucu menantu.' Gumam Lars.
TO BE CONTINUED..