
Lars bangun lebih dulu karena biasanya dia bangun sangat pagi untuk olah raga terlebih dahulu sebelum dia ke perusahaan. Tapi sepertinya hari ini dia akan libur berolah raga, karena pemandangan di hadapannya saat ini begitu membuatnya enggan bergerak.
Ryn, dia tidur sembari meringkuk seperti anak kucing yang kedinginan sambil membelakangi Lars. Akhirnya Lars pun kembali merebahkan dirinya di belakang Ryn dan memeluk Ryn dari belakang.
" Lars.." Gumam Ryn tiba tiba.
" Hum?" Sahut Lars dengan suara bariton khas bangun tidurnya.
" Dingin.." Ujar Ryn.
" Dingin? Apakah kamu kedinginan?" Tanya Lars.
Tapi kemudian tidak ada sahutan apapun lagi dari Ryn, Ryn hanya mengigau. Lars pun menelusupkan kepalanya di ceruk leher Ryn dan kembali tidur dengan posisi seperti itu.
Hingga waktu berlalu, Roco terlihat mondar mandir dengan panik di depan kamar Lars saat ini, bukan karena ada perang, tetapi karena jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, dan itu sudah termasuk paling siang bagi Lars untuk bangun.
" Aduh Tuhan! Bagaimana caraku untuk membangunkan tuan muda." Gumam Roco sembari mondar mandir.
" Asisten Roco, anda di panggil tuan besar." Ujar pelayan.
" Baik." Ujar Roco, dan pergi.
" Roco, duduklah." Ujar Peet.
" Tuan besar, apakah akhirnya ands mengingat namaku?" Tanya Roco senang.
" Dokter menuliskannya di buku catatan." Ujar Peet.
" Rupanya begitu." Ujar Roco.
" Carikan seorang pendeta, hari ini juga Lars dan Ryn harus menikah." Ujar Peet.
" What!! Oh, maaf tuan besar." Ujar Roco terkejut.
" Mereka saling mencintai, usiaku juga tidak tahu akan bertahan sampai kapan, jadi untuk apa menunda pernikahan. Untuk resepsinya terserah mereka saja, tetapi aku ingin sekali melihat cicit." Ujar Peet.
Roco menjadi ikut bersedih, tuan besarnya itu hanya menginginkan cicit, tapi cucunya tidak juga menikah.
' Apa nona Ryn belum juga hamil? Padahal mereka berdua sering tidur bersama.' Batin Roco mulai kembali berpikir aneh aneh.
" Kakek, apa kakek sangat ingin melihat kami menikah?" Ujar Lars tiba tiba yang muncul dari belakang.
Tetapi Lars tidak berpakaian rapi seperti biasanya ketika hendak ke kantor, Lars menggunakan pakaian olah raga.
" Tolong buatkan segelas susu dan bubur bergizi untuk nona Ryn." Ujar Lars pada pelayan.
" Baik tuan muda." Ujar pelayan.
" Apakah Ryn menginap di sini?" Tanya Peet terkejut.
Padahal Roco dan dokter sudah memberi tahu Peet perihal Ryn yang menginap di kediaman Lars. Tapi pada dasarnya Peet sudah pikun, jika bukan karena keajaiban dia mengingat, maka dia tidak akan ingat.
" Ya, sepertinya Ryn sakit, dia sedikit demam." Ujar Lars.
" Kamu tidak berbuat yang macam macam padanya, bukan?" Ujar Peet.
" Tidak kek, Lars tahu batasan. Ryn demam mungkin karena dia kelelahan." Ujar Lars.
" Kasian cucu mantu, biarkan dia beristirahat dengan baik." Ujar Peet.
Dan seketika ucapan Peet meminta untuk di carikan pendeta untuk menikahkan Ryn dan Lars pun terlupakan begitu saja. Peet akan mudah berucap, lalu melupakannya beberapa saat kemudian.
" Tuan muda, lalu apakah anda tidak datang ke perusahaan?" Tanya Roco.
" Aku akan bekerja dari rumah." Ujar Lars.
" Kalau begitu saya permisi ke perusahaan terlebih dahulu, mari tuan besar, tuan muda." Ujar Roco, dan keduanya mengangguk.
" Beri tahu saya jika buburnya sudah siap." Ujar Lars pada pelayan lain.
" Baik tuan muda." Ujar pelayan itu.
" Kakek, Lars olah raga dulu." Ujar Lars, dan Peet mengangguk.
20 menit kemudian, seorang pelayan menyusuli Lars di ruang Gym, memberi tahu Lars bahwa bubur untuk Ryn sudah matang.
" Ya, terimakasih." Ujar Lars.
Lars menyudahi aktifitasnya lalu berjalan keluar daei ruang Gym. Ia tidak melihat Peet, mungkin Peet sedang berada di kamarnya menonton tv. Lars membawa baki berisi bubur dan susu lalu naik ke atas kamarnya.
Ketika Lars membuka pintu, terlihat Ryn yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan lemas. Lars langsung meletakan baki dan berlari menghampiri Ryn.
" Sayang.." Ucap Lars.
" Lars, kepalaku sakit, apa kau punya obat sakit kepala?" Tanya Ryn.
" Ada, kamu sarapan dulu, lalu minum obat." Ujar Lars dan Ryn mengangguk.
Lars menggendong Ryn ke ranjang lalu menyelimuti kaki Ryn.
" Sepertinya aku masuk angin." Ujar Ryn.
" Karena kamu nakal, begadang semalaman kemarin malam." Ujar Lars.
" Sarapan dulu, lalu minum obat, A.." Ujar Lars sembari menyodorkan sendok berisi bubur yang sudah dia tiup dan Ryn pun memakannya.
Beberapa suap kemudian Ryn merasa kenyang, dan tidak lagi mau membuka mulut.
" Kenyang.." Ujar Ryn.
" Kalau begitu minum obat saja." Ujar Lars dan Ryn mengangguk.
Ryn pun menelan sebutir obat, lalu kembali merebahkan dirinya di ranjang. Lars pun menyelimuti Ryn dan mengecup kening Ryn.
Lars pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lima belas menit kemudian Lars selesai dan duduk di sisi Ryn yang masih tidur. Lars membuka laptopnya untuk mengecek Email masuk.
Rupanya ada Email dari anak buahnya yang mengirimkan laporan pada Lars perihal Damian.
' Mereka bekerja dengan cepat.' Batin Lars.
Tertulis di sana bahwa Damian memiliki gangguan kejiwaan dan kepanikan sejak lima tahun yang lalu. Damian jadi sering berperilaku aneh dan kembali menyebut nama mantan rekannya, yakni Wira, Sam, Kriss dan David.
Tetapi Damian pernah berobat dan hampir sembuh, hingga dia mengetahui fakta bahwa istrinya yang diam diam sering memberinya obat yang memvuat kacau pikiran. Damian juga mengetahui fakta bahwa istrinya berselingkuh dan mencoba mengambil alih hartanya.
Sejak setahun lalu, Damian makin parah dan sering bergumam tidak jelas, dia juga sering menyembunyikan dirinya dengsn menginap di hotel hotel berbeda. Meski sudah meminum obat anti depresi, tetapi obat yang istri Damian lebih mendominasi.
Puncaknya adalah di minggu minggu ini, setelah Damian bertemu Kriss dia menjadi kian tidak karuan.
' Kriss, untuk apa Kriss menemui Damian? ' Batin Lars.
Intinya adalah Damian tidak berniat menyakiti Ryn, bahkan Damian tidak tahu bahwa Ryn masih hidup. Damian seperti itu karena obat yang di berikan istrinya.
Teyapi Lars kemudian mengernyitkan keningnya, ketika ia membaca siapa selibgkuhan istri Damian ini, rupanya adalah..
' Kriss?? Jadi istri Damian berselingkuh dengan Kriss. Menarik, jika sampai Kriss diam diam ingin menyakiti Ryn, maka aku tidak akan biarkan dia hidup.' Batin Lars lagi.
Lars lalu kemudian mengirimi Email balasan pada anak buahnya, dan menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki Kriss secara mendetail, sekaligus mencari tahu tentang David.
Setelah mengirimi anak buahnya pesan, Lars pun mulai fokus dan berkutat dengan pekerjaan nya. Dia tidak mau meninggalkan Ryn sedikitpun, alhasil dia membawa dokumen ke kamarnya dan bekerja di sana.
Di tempat lain..
Lodra sedang menunggu klien nya untuk makan siang bersama, tetapi tiba tiba wajahnya pias ketika melihat seseorang yang pernah is kenal, saat ini sedang duduk dan tersenyum menatapnya.
' Dia..' Batin Lodra.
" Selamat siang tuan Lodra." Ujar seorang pria.
" Ah, selamat siang, silahkan duduk." ujar Lodra.
" Maaf saya terlambat, ada sedikit kemacetan di jalan." Ujar klien Lodra.
" Tidak masalah, tuan." Ujar Lodra, dan melirik ke belakang.
Tetapi pria yang tadi duduk itu tidak terlihat lagi berada di sana, dia sudah pergi.
' Dia pergi, kenapa dia muncul di sini dan tersenyum kearahku.' Batin Lodra.
TO BE CONTINUED...