A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 48. Menyusup.



Setelah menempuh perjalanan, mereka akhirnya sampai di hotel bintang lima itu, Lusi turun lebih dulu lalu kemudian di susul oleh Ryn.


Ryn terlihat sangat cantik dengan make up ala peri Elf, dia menggunakan gaun hijau muda dengan rambut yang di urai bergelombang. Ryn bahkan menggunakan telinga runcing khas peri Elf.


Tak lama turunlah Lars dari mobil itu, berbeda dengan Ryn yang merupakan peri Elf, Lars justru terlihat turun dengan pakaian bak Idol. Lars terlihat makin tampan dengan anting anting yang terpasang di telinganya. Jangan mengira Lars di tindik, tidak.


Anting anting itu hanya aksesoris. Lars menggunakan anting itu tanpa harua menindik telinganya. lalu di susul Roco yang juga menggunakan pakaian seperti Idol.


Roco benar benar sangat manglingi, gaya rambutnya yang selalu formal kini di ganti menggunakan wig berwarna putih. Roco sangat tampan dengan wig putihnya, apalagi Roco menggunakan stelan berwarna putih juga.


" Astaga, apakah mereka anggota Idol? Mereka sangat tampan." Ujar para wanita yang melihat di loby hotel.


Tak lama munculah Lodra dengan wajah penuh dengan kebingungan. Lodra tidak mengenali mereka, Lodra bahkan tidak mengenali Ryn.


" Kakak.." Panggil Ryn.


' Astaga..' Batin Lodra terkejut.


Dan akhirnya mereka semua ikut ke kamar yang sudah Lodra pesan. Mereka tiba di sana pada pukul sembilan malam, dan mereka melewatkan makan malam.


Lodra masih duduk dan memandangi dua pria yang juga saat ini duduk berhadapan dengannya. Sementara Ryn, dia langsung masuk ke toilet untuk berganti pakaian.


" Jangan menatapku begitu terus, ini aku sedang dalam penyamaran." Ujar Lars.


" Uhuk! Maaf tuan Lars, saya hanya terkesima melihatnya." Ujar Lodra.


Bagaimana Lodra tidak bingung, Lars yang selalu terlihat formal dengan wajah sedingin kutub utara itu kini berpenampilan seperti anak boy group.


" Sudah aku katakan padanu untuk tidak terlalu make up berlebihan, kau ini." Ujar Roco pada Lusi.


" Ish! Yang penting kan tidak ketahuan. Juga dengan ketenaranku sebagai costplayer, kalian tidak akan mungkin di curigai." Ujar Lusi.


" Sudah jangsn ribut." Ujar Lars.


" Tok ! Tok! Tok! " Room service." Ujar suara karyawan hotel.


" Sebenar, itu mungkin makanan yang saya pesan." Ujar Lodra.


Lodra membuka pintu, dan benar itu adalsh makanan yang dia pesan. Saat di jalan, Lodra sudah sempat berkomunikasi dengan Roco tentsng makanan apa saja yang di pesan.


" Terimakasih." Ujar Lodra pada karyawan hotel itu.


" Baik pak, saya permisi." Ujarnya dan pergi.


Dan akhirnya mereka pun makan terlebih dahulu, karena sejujurnya mereka kelaparan. Terutama Ryn yang selalu mudah lapar, sejak siang setelah dia mengeksekusi Sam, dia belum makan apapun.


" Ah.. Enaknya." Ujar Ryn, dan Lars tersenyum sembari menghapus saus yang menempel di bibir Ryn.


" Makan pelan pelan." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.


Akhirnya setelah makan malam selesai, mereka pun membahas apa yang akan mereka lalukan malam ini. Anak buah Lars sudah berkumpul di luar gedung itu menunggu perintah.


" Aku sudah mendapatkan informasi dimana Damian di bunuh, itu di kamar lantai lima belas. Dan saat ini kita berada di bawahnya percis. " Ujar Lodra.


" Jadi di atas kita adalah kamarnya?" Ujar Ryn dan Lodra mengangguk.


" Dan ya, seperti yang tuan Lars katakan, tempat itu masih di jaga ketat. Tidak ada garis polisi, berarti kematian Damian ini di sembunyikan oleh pihak keluarga, dan artinya.. kemungkinan besar masih tertinggal barang barang Damian di sana. " Ujar Lodra lagi.


" Ini adalah beberapa wajah orang yang menjaga kamar itu, aku berhasil mendapatkannya." Ujar Lodra sembari mengeluarkan sebuah benda yang menyerupai lalat.


" Eeww..Kau memegang lalat?" Ujar Lusi merasa geli.


" Ini bukan lalat sungguhan, aku menciptakannya sendiri dan baru di sempurnakan. Jadi aku mengintai dengan lalat ini, dan ini wajah mereka. " Ujar Lodra membuka bagian belakang lalat robot itu dan mengonekannya ke layar proyektor.


" Ini adalah pria yang berasap dari NTT, dia berjaga di bagian ujung lorong, lebih tepatnya di depan Lift." Ujar Lodra.


" Tunggu, jadi satu lantai ini kosong tanpa penghuni?" Ujar Ryn.


" Benar, mereka mengatakan kamar di lantai atas penuh, tetapi sebenarnya kosong." Ujar Lodra.


Mereka membahas strategi, setelah itu mereka pun saling mengangguk.


" Kita sudah tahu semua posisinya, jadi mari kita beraksi." Ujar Lars, dan semua orang mengangguk.


Mereka pun berganti pakaian menggunakan pakaian serba hitam. Lars, Roco dan Ryn yang maju ke depan, tetapi tidak dengan Lodra. Lusi tentu tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu, dia akhirnya memesan kamar di sana bersama kekasihnya.


" Ini adalah akses buatanku, untuk naik ke lantai lima belas, tombol lift tidak berfungsi, karena mereka menutup akses. Gunakan ini, maka kalian bisa membuka akses manapun." Ujar Lodra.


" Terimakasih." Ujar Roco, dan lodra mengangguk.


" Anak buah kita sedang bersiap, naik. " Ujar Roco dan semua mengangguk.


" Oh, dan aku lupa satu lagi, penjaga di sana selalu berganti setiap tiga puluh menit." Ujar Lodra.


" S*al, kita hsnya memiliki waktu singkat." Gumam Roco.


Lodra langsung memposisikan dirinya membuka semua alat canggihnya yang dia bawa. Lodra yang akan menjadi monitor mereka dan menyabotase sistem keamanan gedung itu.


" Kamera lift sudah aku alihkan, waktu kalian untuk berada di dalam sana adalah 20 menit sebelum para penjaga itu berganti giliran, mereka baru berganti sepuluh menit yang lalu." Ujar Lodra.


Dan pas di saat itu, anak buah Lars juga sampai di sana. Lars menggandeng tangan Ryn dan masuk ke dalam lift lalu menuju ke lantai 15.


" Ting!" Pintu lift terbuka dan para penjaga itu langsung berdatangan.


" Go!" Ujar Lars.


Anak buah Lars langsung sigap menghadapi para penjaga itu, se.entara Lars , Ryn dan Roco langsung masuk kedalam kamar dimana Damiandi bunuh.


Kamar itu terlihat masih berantakan, entah apa tujuannya kamar itu di biarkan begitu saja dan di jaga ketat.


Lars, Ryn dan Roco mulai mencari apa pun yang bisa mereka bawa untuk menemukan bukti siapa yang membunuh Damian.


Ryn melihat sebuah bolpen yang ada noda darah dan melihat sebuah buku yang terlihat robek bagian atasnya.


' Seseorang mungkin telah mengambil catatan yang Damian buat.' Batin Ryn.


Ryn mengambil buku itu, dan hendak pergi. Tetapi kemudian Ryn melihat tempat sampah yang penuh dengan kertas yang sudah di potong menggunakan mesin pemotong. Ryn pun berhenti sejenak.


' Apakah disana..' Batin Ryn.


Tak lama Lars dan Roco menghampiri Ryn yang sedang memasukan isi sampah itu kedalam kantong Londry.


" Sayang, kenapa kamu memasukan sampah kedalam kantong ?" Ujar Ryn.


" Aku akan menyelidiki ini." Ujar Ryn.


" Tuan, waktu kita hampir habis, ayo kita pergi." Ujar Roco.


" Adik, lebih cepat. Ada beberapa orang yang naik menuju lantai lima belas" Ujar Lodra dari ear piece.


" DEG!!"


TO BE CONTINUED...