A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 59. Minta cicit, berujung wedding proposal.



Akhirnya lelang pun berakhir, dan kini ruangan itu yang tadinya temaram karena sesi lelang menjadi terang benderang.


" Para hadirin, kini tiba saat nya untuk kita melakukan sesi potong kue. Tuan Peet dan tuan muda Lars akan melakukan pemotongan kue, silahkan." Ujar pembawa acara.


Semua orang bertepuk tangan, Lars pun membantu Peet untuk berdiri, lalu kemudian Lars mengulurkan tangan nya pada Ryn.


" Sayang, ayo.." Ujar Lars.


" Ini acara kakekmu, Lars." Ujar Ryn.


" Tidak apa apa, ayo." Ujar Lars dengan penuh kelembutan.


" Cucu mantu, ayo kita potong kue bersama, kamu adalah cucu kakek sekarang." Ujar Peet yang bersuara.


Ryn akhirnya mengangguk dan bangun dari tempat duduknya. Setelah Ryn berdiri, barulah terlihat dengan jelas betapa cantik dan mengagumkannya Ryn yang sebelumnya terhalang cahaya.


" Ya Tuhan, nona itu cantik sekali seperti dewi." Ujar salah seorang tamu.


" Mereka adalah pasangan yang serasi." Ujar yang lain nya.


Ryn menggandeng tangan Peet, dan Peet menggandeng tangan Lars. Mereka bertiga pun berjalan ke depan menaiki podium dimana kue itu berada.


" Tuan memberkati kita semua. Saya mungkin sudah tidak mengenal kalian satu persatu karena saya sudah pikun. Tapi Tuhan sungguh memberiku ingatan yang tajam untuk satu hal, bahwa cucuku Lars, akan segera menikah." Ujar Peet dan langsung mendapatkan tepuk tangan yang meriah.


" Tidak ada yang aku harapkan lagi, aku hanya ingin melihat cucuku satu satunya ini bahagia. Semoga kalian selalu bersama dan bahagia, nak." Ujar Peet pada Lars dan Ryn.


Ryn mengangguk dan terharu, ia bahkan sampai meneteskan air matanya.


" Jangan menangis, sayang." Ujar Lars dan menghapus air mata Ryn.


" Aku bahagia." Ujar Ryn terharu.


" Istriku, doamu sudah terkabul. Cucu kita dudah menemukan kebahagiaan nya, kini tinggal aku yang menunggu kebahagiaanku." Ujar Peet dengan sendu.


" Nak, beri kakek cicit." Ujar Peet, dengan wajah lucu dan semua orang bertepuk tangan sembari tertawa.


Hilanglah suasana sedih penuh haru yang sebelumnya tercipta, berganti dengan aksi konyol Peet.


' Astaga tuan besar, anda meminta cicit seperti meminta kerupuk.' Batin Roco yang ikut menahan tawanya.


" Segera kek.. Pastikan saja kakek tetap sehat, agar bisa melihat cicit kakek nanti." Ujar Lars dengan senyum nya.


Sungguh, sepanjang sejarah setiap di adakan nya pesta di keluarga Hunter, baru kali ini orang orang melihat begitu manisnya senyum Lars yang selalu berwajah datar itu. Lars terlihat semakin tampan dengan senyum nya.


" Haihh.. segeralah menikah, apa yang kalian tunggu lagi? Kakek tidak tahu bisa hidup sampai kapan." Ujar Peet.


Mendengar itu Ryn menjadi berpikir, ada yang menunggu kebahagiaan dari dirinya. Benar yang di katakan Peet, keinginan nya hanya satu, yaitu melihat cicitnya, tetapi jika Ryn dan Lars tidak menikah juga, kapan cicit Peet akan lahir?


Tapi Ryn juga memikirkan dengan masa depannya, apa dia akan menjadi ibu di usia yang masih terbilang sangat muda?


' Ya Tuhan, apa aku akan punya anak di usia yang muda?' Batin Ryn.


" Kami akan segera menikah, kek.." Ujar Ryn akhirnya.


" Benarkah?? Jangan bohongi kakek tua ini, nak." Ujar Peet.


" Tidak, Ryn akan segera menikah dengan Lars sebelum Natal tahun ini tiba." Ujar Ryn, mengucap kata yang sama seperti Lars.


" Kalau begitu mari kita potong kue nya." Ujar Peet bahagia.


Mereka semua bahagia, tetapi ada satu orang yang saat ini menahan kesedihannya, Lodra. Rasanya pada Ryn memang sudah berangsur hilang, tetapi belum sempat dia membuat Ryn bahagia, dia harus segera melepas Ryn untuk menikah.


Bagaimanapun Lodra adalah kakak Ryn, yang nantinya akan menjadi wali Ryn di pernikahan Ryn kelak, dia tidak bisa bayangkan, dalam satu tahun akan kehilangan dua orang terkasihnya sekaligus.


' Papa, Ryn akan segera menikah..' Batin Lodra.


Setelah acara selesai, semua tamu di persilahkan untuk beristirahat di kamar yang sudah tersedia. Lars dan Ryn kini juga sudah berada di sebuah kamar yang bisa di katakan megah.


" Lelahnya.." Ucap Ryn dan merebahkan dirinya di ranjang.


Lars ikut merebahkan dirinya di ranjang, dan menghadap Ryn.


" Sayang, apakah kamu serius ingin menikah dalam waktu dekat?" Tanya Lars, Ryn pun membuka matanya.


" Sejujurnya aku tidak bisa membayangkan jika aku menjadi ibu di usia yang sangat muda, selain aku kurang wawasan, aku sendiri masih seperti anak kecil yang merepotkan. Aku tidak tahu pakah nanti aku mampu?? " Ujar Ryn.


" Aku mencintaimu, Lars.. aku juga memiliki mimpi untuk menikah denganmu. Tapi apakah aku bisa? Membangun rumah tangga denganmu?" Ujar Ryn lagi.


Lars tersenyum mendengarnya, dia juga mengerti dengan kekhawatiran Ryn. Lars berpikir, mungkin Ryn masih menginginkan waktu bermain yang banyak, apalagi Ryn dulunya anak rumahan.


Lars pun membawa Ryn kedalam pelukan nya lalu mengecup kepala Ryn berulang kali. Sebagai laki laki yang memiliki usia lebih dewasa dari Ryn, Lars mencoba mengimbangi keinginan kekasihnya itu.


" Apakah kamu masih ingin bebas?" Tanya Lars.


" Memangnya aku di penjara?" Ujar Ryn dan Lars terkekeh.


" Kamu bilang kamu masih takut untuk menjadi ibu di usia muda, kamu khawatir apakah kamu mampu membangun rumah tangga denganku nantinya atau tidak. Alasan apa yang membuatmu berkata demikian?" Tanya Lars.


" Aku hanya takut aku labil, banyaknya perceraian yang terjadi kebanyakan di dominasi oleh pasangan yang menikah muda. Aku tidak mau anakku nantinya menjadi korban jika nanti kita bercerai." Ujar Ryn.


Lars sungguh terkesima dengan pemikiran Ryn, rupanya tebakannya salah. Ryn justru berpikir lebih dewasa dari yang dia kira.


" Kamu percaya bahwa aku mencintaimu??" Tanya Lars, dan Ryn mengangguk.


" Maka aku akan terus mencintaimu, sampai kapanpun. Aku pastikan tidak akan ada perceraian, kecuali mati." Ujar Lars, dan Ryn langsung mencubit perut Lars.


" Aw! Kenapa di cubit, sayang." Ujar Lars.


" Kau membicarakan kematian, enteng sekali." Ujar Ryn dan Lars terkekeh.


" Intinya, aku tidak akan meninggalakanmu, aku mencintaimu sejak dari pertama aku melihatmu. Kita akan bangun keluarga kecil kita dengan kebahagiaan, cinta, kasih sayang, dan kedamaian." Ujar Lars.


" Kamu tidak akan sendirian menjaga anak anak kita nanti, aku juga akan ikut berperan di dalamnya. Tentu saja aku tidak akan membiarkan wanita yang aku cintai di buat lelah oleh anak anakku." Ujar Lars, dan Ryn tersenyum mendengarnya.


" Sudah seperti nyata saja." Ujar Ryn.


" Aku akan membuatnya menjadi nyata." Ujar Lars dengan tatapan yang dalam.


" Kita akan membesarkan anak kita bersama sama, bukan kamu sendirian. Itu yang di namakan rumah tangga, peran istri juga menjadi peran suami tapi tidak sebaliknya." Ujar Lars.


" Kenapa?" Tanya Ryn.


" Karena peranku, adalah membuat kalian hidup selalu berkecukupan dan penuh kebahagiaan setiap harinya. Membuat kalian jauh dari kata lapar dan kesulitan." Ujar Lars.


Ryn mengangguk mengerti, dia kini mendapatkan pencerahan setelah mendengarkan ucapan Lars. Benar, rumah tangga harus berjalan dengan harmonis, peran suami sangatlah penting dalam setiap hal nya.


Bangun bersama sama, maka akan tercipta keluarga yang bahagia.


Lars bangun, dan membantu Ryn untuk duduk di ranjang. Lars tiba tiba bersimpuh di hadapan Ryn lalu berucap..


" Maukah kamu, menikah denganku Ryn Gladys?" Ujar Lars.


Ryn berkaca kaca mrndengarnya, lalu dia mengangguk dengan pasti.


" Aku mau.." Ujar Ryn, lalu Lars tersenyum.


" Secepatnya akau akan mempersiapkan acara pertunangan resmi kita, lalu pernikahan kita." Ujar Lars dan Ryn mengangguk. Lars kemudian mencium Ryn.


TO BE CONTINUED..