A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 28. AWKWARD moment.



Ryn sudah siap dengan pakaian barunya, dia sudah terlihat lebih segar saat ini dan dia langsung keluar dari kamar sebelum pelayan datang untuk mengantarkan makanan. Ryn berjalan seperti pencuri, dia mengendap endap dengan sangat berhati - hati.


Dia berencana untuk pergi sebelum Lars keluar dari kamarnya, dan dia berharap Lodra sudah sampai di kediaman Lars untuk menjemput dirinya.


'' Selamat pagi nona Ryn, saya baru saja mau mengantar makanan untuk anda.'' Ujar pelayan yang melihat Ryn berjalan keluar dari kamarnya.


Ryn menghentikan langkahnya dan memejamkan mata, dirinya ketahuan. Ryn mencoba menetralkan dirinya lalu tersenyum dan berbalik badan menghadap pelayan.


'' Pagi, apakah kakakku sudah datang? '' Tanya Ryn dengan wajah seperti orang yang gugup. Sebenarnya Ryn panik karena dia takut bertemu dengan Lars nanti, kejadian semalam masih begitu segar di ingatannya saat ini.


'' Belum nona, tuan Lodra belum datang.'' Ujar pelayan.


'' Mm.. bisakah aku minta tolong padamu, panggilkan aku taksi.'' Ujar Ryn.


'' Maaf nona, saya tidak berani. Apapun itu yang menyangkut dengan nona, kami harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari tuan muda.'' Ujar pelayan.


'' Aku sudah bilang padanya bahwa aku akan pergi pagi ini.'' Ujar Ryn, tapi kemudian pelayan di hadapan nya itu tersenyum dan menunduk.


'' Selamat pagi tuan muda.'' Ujar pelayan pada Lars yang rupanya sudah berdiri di belakang Ryn. Ryn pun langsung membatu mendengar pelayan itu menyapa Lars.


'' Siapkan sarapan di meja makan.'' Ujar Lars pada pelayan.


'' Baik tuan muda.'' Ujar pelayan lalu langsung pergi dari hadapan Ryn dan Lars.


Ryn menjadi kian gugup setelah pelayan itu pergi, orang yang sedang ingin dia hindari justru muncul di hadapannya saat ini.


'' Ekhem!'' Lars berdehem sampai Ryn terkejut sendiri.


'' Jadi, apa sebelumnya aku sudah memberimu izin untuk pergi? Aku ingat aku hanya mengatakan bahwa pelayan akan datang ke kamarmu untuk membawa makanan, bukan mengizinkanmu pergi.'' Ujar Lars.


" Ehehehehe.." Ryn hanya bisa tersenyum kaku sambil memutar tubuhnya memghadap Lars.


" Gadis nakal." Ujar Lars sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


' Bagaimana bisa dia bersikap seolah tidak terjadi apapun semalam, dia profesional sekali.' Batin Ryn.


" Jika kamu sudah sarapan, dan kakakmu sudah datang menjemputmu, maka aku ijinkan kamu pergi. Jika belum sarapan, jangan harap aku ijinkan pergi." Ujar Lars.


" T- ta.. tapi aku sungguhan harus pergi." Ujar Ryn.


" Aku tahu, maka dari itu kita sarapan dulu." Ujar Lars.


" Ta- tapi.."


" Kamu masih memikirkan kejadian semalam? Apakah kamu malu denganku?" Ujar Lars, dan Ryn langsung diam menunduk lalu perlahan mengangguk.


" Aku pun sama sepertimu, aku masih memikirkan nya, itu masih segar di kepalaku saat ini." Ujar Lars dan Ryn memejamkan matanya.


' Lars s*alan, apakah harus di sebutkan begitu gamblang? Sudah tahu itu memalukan.' Batin Ryn.


" Tapi jika aku bertindak sepertimu, maka berarti aku lari dari tanggung jawabku, dan aku tidak mau itu. Aku akan mempertanggung jawabkan apa yang aku buat." Ujarnya.


Ambigu.. Apa memangnya yang sudah mereka lakukan sampai Lars ingin bertanggung jawab? Mereka hanya melakukan ciuman bibir untuk memasukan obat kedalam mulut Ryn, tidak lebih.


Ryn juga kebingungan, itu hanya ciuman tanpa sengaja.. apa yang harus di pertanggung jawabkan?


" Ka- kamu tidak perlu bertanggung jawab, ak- aku tidak merasa di rugikan sama sekali." Ujar Ryn gugup, dan Lars tersenyum.


" Kalau begitu aku yang akan meminta pertanggung jawaban darimu, bagaimana?" Ujar Lars tiba tiba.


" Eh??" Ryn bingung sambil menatap Lars.


" Hahahaha." Tawa Lars pecah ketika melihat wajah lucu Ryn. Ryn terlihat sangat menggemaskan dengan tampang bingungnya.


'' Aku bercanda, ayo kita ke meja makan dan sarapan sebelum kakak mu datang.'' Ujar Lars.


' Apa dia barusan mengerjaiku, Lars s*alan..' Batin Ryn.


'' Ayo.'' Ujar Lars dan menggandeng tangan Ryn.


Akhirnya keduanya pun berjalan menuju ke ruang makan untuk melakukan sarapan bersama, Lars menarik kursi dan mempersilahkan Ryn untuk duduk di meja makan itu.


Tak lama setelah Ryn dan Lars duduk, Lodra pun datang. Ya.. seperti yang sudah di rencanakan kemarin, Lodra akan membawa Ryn ke suatu tempat untuk menceritakan kebenaran tentang kisah hidup Ryn yang sebenarnya.


'' Tuan muda, tuan Lodra sudah sampai.'' Ujar pelayan.


'' Bawa tuan Lodra kemari.'' Ujar Lars. pelayan mengangguk dan lagsung kembali keluar untuk memanggil Lodra yang masih berada di ruang tamu. Tak lama Lodra pun masuk kedalam ruang makan dan ikut duduk bersama Lars dan Ryn.


'' Selamat pagi tuan Lars, selamat pagi adik.'' Ujar Lodra ramah dan Ryn mengangguk dengan senyum aneh nya.


'' Tuan Lodra, silahkan ikut sarapan bersama kami.'' Ujar Lars.


'' Terimakasih.'' Ujar Lodra.


' Kenapa dengan adik, kenapa dia terlihat begitu kaku?' Batin Lodra menatap penuh tanya pada Ryn.


'' Setelah kalian selesai, kalian boleh pergi. Jika belum selesai, maka di larang pergi.'' Ujar Lars menatap Ryn dengan tatapan ke arah Ryn.


Ryn hanya bisa tersenyum kaku dan kemudian menatap Lodra, seakan meminta tolong pada Lodra. Lodra sendiri kebingungan, dia tentu tidak tahu dengan apa yang terjadi di antara Lars dan Ryn. Meski dia menatap sedikit keanehan pada mereka berdua, tapi dia tidak begitu tahu pasti apa yang sedang terjadi.. jadi dia hanya bisa diam kebingungan.


'' Tuan Lars benar adik, ka,u habiskan dulu sarapanmu baru kita pergi setelah itu.'' Ujar Lodra, dan Ryn menjadi kian melempem.


Sarapan tetap berlanjut, meski Ryn kerap menunjukan salah tingkah nya di hadapan Lars dan Lars menikmati itu. Lars suka bagaimana Ryn terlihat menggemaskan saat ini.


' Rasanya ingin aku kantongi dia dalam sakuku, dan aku bawa dia kemanapun aku pergi.' Batin Lars.


Sampai akhirnya sarapan itu pun selesai, Ryn merasa lega karena akhirnya momen iitu selesai juga, dan dia kan segera pergi dari kediaman Lars.


'' Kak, ayo..'' Ujar Ryn.


'' Tuan Lars, kalau begitu kami permisi dulu.. terimakasih karena beberapa hari ini sudah menampung Ryn di sini.'' Ujar Lodra.


'' Jika Ryn masih mau memnginap disini, maka pintu rumah ini selalu terbuka untuknya.'' Ujar Lars.


'' Hehe, sepertina tidak.'' Ujar Ryn.


'' Hati hati di jalan, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku, jangan sungkan.'' Ujar Lars.


'' Kami pergi dulu.'' Ujar Ryn dan langsung menarik tangan Lodra untuk segera keluar dari sana.


Hingga akhirnya kini keduanya sudah berada di dalam mobil Lodra, dan Ryn bernafas dengan tidak beraturan, seakan ia telah di kejar hantu. Lodra pun menatap bingung dengan adiknya yang saat ini terlihat aneh.


'' Sebenarnya apakah telah terjadi sesuatu diantara kalian berdua? Kamu terlihat aneh sejak kakak datang.'' Ujar Lodra.


'' Tidak ada, kak.. tidak ada yang terjadi.'' Ujar Ryn dengan senyum canggung.


'' You sure?'' Tanya Lodra memastikan.


'' Ya, ayo kita jalan.'' Ujar Ryn.


Meski sedikit ragu, tapi akhirnya Lodra menyalakan mesin mobil nya dan pergi dari kediaman Lars menuju ke tempat yang Lodra maksudkan. Lodra sedikit merasa tidak tenang, kalau - kalau nanti Ryn akan terkejut.


Sepanjang jalan itu, Ryn menatap ke sekelilingnya. Dia tidak pernah melewati jalan itu, padahal itu juga adalah bagian dari Jakarta.


Hingga sampailah mereka berdua di pekarangan rumah terbengkalai. Bukan terbengkalai, tetapi lebih seperti bangkai rumah yang terbakar.


" Rumah siapa ini kak?" Tanya Ryn, ketika sudah turun di depan halaman rumah besar itu.


" Rumah masa kecilmu, adik." Ujar Lodra.


Ryn terkejut mendengarnya, rumah masa kecil? Apakah artinya dia tidak lahir di kediaman Paul yang dulu.


TO BE CONTINUED..