
Lodra mengeluarkan senjata apinya dan mengarahkannya kepada Davon, Davon dengan panik hendak mencari senjata yang ia simpan di ruangan nya tetapi Lodra langsung menembak kaki kanan Davon.
" DOR!!"
" AARGH!!" Teriak Davon kesakitan dan jatuh di lantai.
" Kep*rat! Kau berani menembakku, huh?!" Ujar Davon dengan marah menahan sakit.
" Kenapa aku tidak berani, bukankah kau mengincarku? Aku hanya melindungi diriku. " Ujar Lodra.
Davon mencoba bangun tetapi Lodra kembali menembak kaki kiri Davon.
" DOR! DOR!" Dua kali tembakan di kaki kiri Davon, Davon pun berteriak kesakitan.
" Setelah sekian lama, apakah kau masih ingin mengincarku untuk memperalatku kembali, huh? Kau pikir aku masih aku yang lemah seperti dulu yang bisa kau injak dan kau suruh seperti anjing peliharaan?" Ujar Lodra dengan penuh dendam.
" Kau memang anjing peliharaanku, haha.." Ujar Davon dan tertawa mengejek.
Lodra berjalan menghampiri Davon sambil mengambil tali yang berada di meja, sepertinya tali itu adalah tali yang Davon gunakan untuk bermain dengan para wanita bayarannya, kini dia sendiri yang menggunakan tali itu.
Lodra langsung mengikat kedua tangan Davon di belakang, lalu ia merobek lengan baju yang ia kenakan dan mengepalnya lalu dimasukan kedalam mulut Davon.
" NGGHHHH!!! " Davon bersuara pun percuma, dia tidak bisa berbuat apa apa, dan tidak ada yang mendengar teriakan nya.
Tapi suara tembakan Lodra terdengar oleh beberapa anak buah yang berada di sekitar sana. Anak buah Davon sedang mencari cari asal dari suara tembakan itu.
" Tuan muda, apakah tuan muda baik baik saja?" Teriak anak buah Davon daei luar.
" Bekerja samalah denganku, katakan pada anak buahmu bahwa kau baik baik saja, atau aku tembak alat kelam*nmu." Ujar Lodra.
Namun Davon hanya menatap tajam Lodra dengan nafas yang memburu. Alhasil Lodra melangkah dan mengarahkan kakinya ke alat kelam*n Davon lalu menekannya.
" HNGGG!!!!!" Teriak Davon.
" Kau bisa pilih, aku tidak main main." Ujar Lodra, dan akhirnya Davon mengangguk.
" Jangan macam macam denganku." Ujar Lodra mengancam.
Lodra membuka sumpalan mulut Davon. Davon pun langsung bersuara..
" Aku baik baik saja." Teriak Davon, dan Lodra langsung menyumpal kembali mulut Davon.
" Maaf telah mengganggu tuan muda." Ujar anak buah Davon dan pergi.
Lodra melihat dari ponselnya letak letak tempat yang bisa di lalui dengan aman untuk membawa Davon keluar, setelah menemukan nya Lodra menyeret Davon dengan susah payah untuk keluar dari ruangan itu.
Hingga akhirnya Lodra berhasil membawa Davon ke tengah hutan. Dari lengan Lodra mengalir darah segar, itu adalah darah dari lukanya yang terbuka. Namun karena masih dalam pengaruh obat, Lodra tidak merasakan sakit.
" Lihat dirimu Davon, tanpa ayahmu.. Kau tidak bisa apa apa. Kau hanya baj*ngan yang haus wanita." Ujar Lodra.
Lodra membuka sumpalan mulut Davon dan Davon hendak berteriak tetapi dia mengurungkan niatnya ketika Lodra mengarahkan belati di hadapan wajahnya.
" Cobalah teriak, panggil ayahmu.." Ujar Lodra.
" Lodra, bukankah aku sudah menembakmu, kenapa kau masih hidup?" Ujar Davon.
" Anggaplah aku punya tujuh nyawa." Ujar Lodra.
" Kau ingin balas dendam padaku, huh?! Bunuhlah.. bunuh aku, lalu nanti ayahku yang akan membunuhmu." Ujar Davon dengan senyum mengejek.
" Membunuhmu begitu saja? Tidak seru." Ujar Lodra yang juga menunjukan senyum mengerikan.
Davon yang melihatnya seketika merinding sendiri, padahal Lodra sudah berdarah darah dan Davon yakin ia menembak Lodra mengenai dadanya. Tapi Lodra saat ini terlihat baik baik saja, bahkan menangkapnya.
" Siapa kau? Aku yakin aku sudah menembakmu." Ujar Davon.
" Orang yang akan menonton kematian konyolmu di tangan ayahmu sendiri." Ujar Lodra dengan senyum iblisnya.
Lodra kembali menyumpal mulut Davon dan dia melepaskan baju Riki yang di pakainya lalu memakaikannya dengan paksa di tubuh Davon.
Lodra mengusap darahnya, lalu membalurkannya di wajah Davon, hingga wajah Davon merah seutuhnya.
" HNG!! HNG!!" Davon meronta.
" PLAK!!" Lodra menampar wajah Davon dengan kuat, hingga terdengar bunyi krak dari leher Davon.
Setelah Lodra selesai, ia memetik daun di sekitarnya. Lodra membuat sebuah bebunyian seperti siulan dari daun itu, dan wajah Davon langsung pucat seketika.
" Kau ingat dengan siulan ini, tuan muda Davon? Kau membuatnya untuk memanggil para anjing penjagamu ketika kau dalam bahaya." Ujar Lodra.
" Nah.. aku sudah berbaik hati memanggilkan mereka untukmu, tapi apakah mereka akan mengenalimu?" Ujar Lodra lalu terkekeh.
" HENGG!!! HHH!! " Davon bersuara tidak jelas dan meronta ronta.
Tak lama, terdengar suara lolongan anjing penjaga yang saling bersautan dan berlari menuju ke arah mereka.
" Kau lebih pantas mati dengan cara seperti ini, mati di tangan para anjingmu." Ujar Lodra sembari tersenyum smirk.
Lodra mundur dan pergi kebelakang lalu langsung naik ke atas sebuah pohon yang rindang.
" Suaranya dari sini! Cepat cari keberadaan tuan muda." Suara para penjaga.
Dan sesuai yang Lodra inginkan, David datang bersama para bawahannya. Davon adalah anak emas bagi David, dan dia yang mengajarkan Davon untuk membuat siulan seperti itu ketika dirinya dalam bahaya.
" Cari putraku, cepat!!" Teriak suara David.
Seekor anjing penjaga mencium bau darah Lodra, anjing itu langsung berlari dan lepas dari tali para penjaganya. Satu anjing lari, yang lain juga ikut lari ke arah yang sama.
Ada sekitar tujuh ekor anjing penjaga jenis Doberman Pinscher yang langsung berlari kearah Davon.
Davon meronta dengan panik, ia hendak berlari tapi kakinya sudah tidak bisa di gerakan karena luka tembak yang di sebabkan oleh Lodra.
Davon tahu anjing - anjingnya tidak akan mengenalinya jika dia begitu. Apalahi dia menggunakan pakaian orang lain dan bau darah orang lain. Dan benar saja, dia langsung di serang oleh anjingnya sendiri.
" HNG!! AAAAA!!!" Davon berteriak namun tertahan oleh sumpalan kain di mulutnya.
Davon tercabik - cabik, dan berdarah - darah karena serangan dari anjing - anjing itu hingga ia lemas tak berdaya.
para penjaga langsung datang dan langsung menarik tali dari masing masing anjing itu. David pun langsung menodongkan kan senjatanya ke arah Davon.
' Papa, ini aku.. jangan tembak aku, pa.' Batin Davon berteriak. Namun tentu saja David tidak mendengarnya.
" HENG!! " Davon Bersuara.
" Beraninya kau menyusup dan menyakiti anakku! Katakan, dimana putraku!" Ujar David sambil menodongkan senjatanya.
' Papa aku putramu.' Batin Davon berteriak.
" Tuan, tuan muda Davon tertembak." Ujar anak buah David.
" Apa!!? dimana dia?" Ujar David.
" Seseorang membawanya, Riki juga terbunuh. Banyaka anak buah yang terbunuh." ujar anak buah itu.
" AARRRGGH! Itu pasti komplotanmu bukan?" Ujar David pada Davon.
Davon menggeleng dan bersuara, tapi David langsung menodongkan senjatanya lalu menembak Davon tepat di jantungnya, Davon pun tewas seketika.
" Tunggu tuan, tangan pria ini terikat tali." Ujar seorang anak buah David.
Dia pun menghampiri jasad Davon dan mengenali bahwa itu adalah Davon dari jarak dekat.
" Tuan, ini adalah tuan muda Davon." Ujar anak buah David.
" Apa, kau bilang apa tadi?" Ujar David dengan tangan gemetar.
" Ini tuan muda." Ujar anak buah David.
David langsung menjatuhkan senjatanya dan berlari menghampiri jasad Davon, David seketika langsung menangis dan berteriak histeris. Putra kesayangannya mati di tangannya sendiri.
" AARRRRGGHHH!!!" Teriak David.
Lodra tersenyum melihat pemandangan di depannya itu, di bawah sinar bulan, dia melihat sendiri kematian musuhnya dengan puas.
Tapi sepertinya Lodra sudah kehilangan banyak darah, meski dia belum merasakan sakit, tapi dia kehilangan banyak tenaga, wajahnya pucat dan pandangannya berkunang kunang.
' Apakah jika aku tidur aku bisa bangun lagi? Aku masih ingin melihat senyum adikku.' Batin Lodra dengan nafas yang kian lemah.
TO BE CONTINUED..