A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 30. Mimpi masa kecil.



Lars menggendong Ryn dan merebahkannya di atas ranjang. Meskipun rumah itu adalah bangkai rumah yang hampir seluruhnya terbakar, tetapi Paul tetap menempatkan orang untuk membersihkan nya.


Jadi meskipun itu bangkai rumah tapi masih tetap terawat, walau Paul tidak merubah cat dan perabotan yang rusak akibat terbakar dengan yang baru. Tujuan Paul adalah untuk mengenang kakaknya, Wira dan kejadian kelam itu.


" Kenapa bisa begini?" Ujar Lars pada Dokter.


" Bisa jadi nona Ryn sudah mengingat apa yang membuatnya trauma sampai mengalami memory block tuan. Jadi tubuhnya kembali mengalami apa yang dulu pernah dia alami, perasaan dan sakitnya." Ujar Dokter.


" Di runah ini, mungkin Ryn melihat apa yang terjadi, hanya saja dia belum tahu apapun saat itu. Papa menemukan dia di dalam ruangan ini, Ryn sedang menangis pilu di dalam ruangan ini sembari mencari ayah dan ibunya." Ujar Lodra akhirnya bercerita.


" Ryn mengalami amnesia ketika dia melihat kedua orangtuanya di makamkan. Ryn tidak mengizinkan ayah ibunya di timbun tanah, sampai akhirnya dia pingsan." Ujar Lodra lagi.


" Papa membawa Ryn ke rumah sakit, dan setelah Ryn sadar.. Ryn tidak mengingat apa apa dan menganggap papa Paul sebagai papanya. Ryn sama sekali tidak ingat kejadian yang sebelum sebelumnya." Ujar Lodra lagi.


" Astaga, saya tidak bisa bayangkan anak sekecil itu harus melihat tragedi mengerikan yang di alami oleh orang tuanya." Ujar Dokter.


' Kamu begitu menderita sejak kecil, aku berjanji padamu.. aku akan membuatmu selalu bahagia setelah ini, aku berjanji.' Batin Lars sembari menggenggam tangan Ryn.


Smeentara tiga pria itu sedang berbincang tentang kehidupan Ryn. Ryn sendiri saat ini sedang berada di dalam alam mimpinya. Ia saat ini sedang berada di sebuah halaman yang luas dengan seekor harimau.


" Dimana aku?" Gumam Ryn.


Ryn tentu saja bingung, itu bukan halaman belakang kediaman Paul, juga bukan halaman kediaman Lars. Harimau yang saat ini bersamanya juga bukan harimau putih miliknya, tetapi harimau oranye jantan.


" Ggrroar.." Harimau itu terus meraung kesakitan. Rupanya di kaki harimau itu terdapat luka tembak.


" Ryn sayang, jangan dekat dekat dengan harimau itu, dia masih liar." Ujar sebuah suara.


Ryn melihatnya.. Wajah wanita yang berada di ruang rahasia milik Paul.


' Apa dia mamaku.' Batin Ryn.


Wanita itu lantas berjalan menghampiri Ryn, tetapi menabrak Ryn dan tembus. Ryn beralik badan dan melihat wanita itu yang menghampiri anak kecil.


' Itu aku.. aku kecil.' Batin Ryn.


" Anak nakal ini, papa sudah bilang bahwa harimau ini belum jinak nak." Ujar wanita itu.


" Tidak apa apa, dia baik ma. " Ujar Ryn polos.


Wanita itu lantas terkekeh dan menggendong Ryn kecil. Tak lama keluarlah pria yang datang dengan asisten nya.


" Ryn sayang, kamu mau pelihara harimau ini?" Tanya pria itu.


" Iya papa." Ujar Ryn kecil dan Wira tertawa.


' Aku sudah mengenal binatang bahkan sebelum aku bersama papa Paul, rupanya papaku yang memperkenalkan aku dengan binatang buas.' Batin Ryn.


Ryn melihat Wira yang secara langsung menjinakan Harimau, mimpi itu adalah bagian kenangan indah yang Ryn miliki. Dimana dia masih bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibunya.


Ketika Ryn sedang tersenyum melihat betapa bahagianya keluarganya itu, tiba tiba mimpinya berubah menjadi buruk. Ryn berpindah ke sebuah ruang tengah dan saat ini ia melihat ayah dan ibunya itu sedang berbincang dengan serius.


Saat ini dirinya menjadi Ryn kecil, yang saat ini sedang duduk di antara Wira dan istrinya. Ryn bisa melihat gambar yang berada di tablet yang di pegang Wira, yang rupanya adalah monitor cctv.


" Sayang, kamu pantau aku dari tablet ini, jika terjadi sesuatu kepadaku kamu pergilah.. Bawa putri kita lari yang jauh dari kota ini. Aku memiliki firasat buruk dengan hari esok." Ujar Wira sambil memangku Ryn.


" Tidak bisa kah kita langsung pergi saja??" Ujar wanita cantik bernama Vitalia, istri Wira.


" Dengar, jangan laporkan ini ke polisi.. Karena ini bukan anggota yang bisa dengan mudah di tangkap polisi. Lari saja, bawa putri kita. Aku sudah menghubungi Paul untuk datang." Ujar Wira lagi.


Vitalia terlihat menunduk, dia tahu suaminya itu bukanlah orang biasa, suaminya sudah terjun dalam dunia gelap sejak muda dulu. Akhirnya Vitalia hanya mengangguk.


" Aku sudah berpesan pada Paul, untuk menjaga kalian apabila aku sungguh tidak bisa selamat." Ujar Wira.


" Kamu pasti selamat." Ujar Vita.


Ryn mendengarkan itu, meski matanya tertutup.. Tapi dia mendengarkan nya.


Lalu kemudian adegan berganti saat dirinya di dalam gendongan sang ibu, dan berlari sambil ibunya terisak.


" Sayang, dengar mama.. apapun yang terjadi, kamu jangan keluar dari tempat ini.. oke? Tunggu sampai paman Paul datang menjemputmu. Jangan keluar sayang..'' Ujar Vitalia pada Ryn kecil.


Adegan demi adegan terhubung, dan ketika Vitalia pergi meninggalkan Ryn kecil sendirian, Ryn pun terbangun dari mimpinya.


" Mama!!" Teriak Ryn.


" Ryn, kamu sudah sadar, sukurlah.." Gumam Lodra.


" Kakak, aku di mana?" Tanya Ryn ketika mendapati dirinya berada di ruangan yang terang.


" Kamu di rumah sakit sayang, kamu sudah tidak sadar selama dua hari." Ujar Lodra, Ryn tentu saja terkejut mendengarnya.


Ryn pikir dia hanya pingsan seperti biasa, dan dia hanya bermimpi. Siapa yang tahu rupamya dia sampai tidak sadar selama dua hari.


" Oh, ya Astaga.. Kakak harus membetitahu tuan Lars, dia akan mencopot lusensi dokter yang menanganimu tadi." Ujar Lodra, sembari mengotak atik ponselnya.


" Apa?! " Ujar Ryn kembali terkejut.


" Iya, sebentar kakak hubungi asisten Roco." Ujar Lodra.


Lodra pun menghubungi Roco, dan saat itu pas dengan Lars yang sedang membabibuta memarahi dokter yang menangani Ryn.


Di sisi lain, Roco yang menerima panggilan itu langsung memberitahu Lars. Dan Lars langsung menghentikan sejuta umpatannya kepada Dokter.


" Kamu yakin dia sudah sadar??" Tanya Lars pada Roco.


" Ya, tuan muda." Ujar Roco.


" Kau beruntung karena Ryn sudah sadar, sekarang ikut aku ke ruangan Ryn." Ujar Lars pada dokter itu.


" Terimakasih tuan Lars." Ujar Dokter dengan senyum sumringahnya.


Lars, Roco dan Dokter itu langsung datang ke kamar rawat Ryn. Lars langsung menghampiri Ryn dan menyentuh lening Ryn.


" Panasmu sudah turun? Apakah kamu merasa ada yang tidak enak? Katakan, apa yang kamu rasakan sekarang." Ujar Lars dengan nada ke khawatir.


Ryn sampai tertegun, Lars memang sering memberikan perhatian begitu besar padanya, tapi wajahnya kali ini benar benar seperti orang yang frustasi.


' Dia mengkhawatirkan aku.' Batin Ryn..


TO BE CONTINUED..