
Akhirnya Ryn dan Lars makan siang dengan makanan yang sudah di bawa oleh Roco. Roco membelinya ketika di usir oleh Lars, tentu saja karena Lars yang menyuruh Roco untuk membeli makanan sebenarnya.
" Hm, ini enak.." Ujar Ryn. Ketika sedang memakan makanan penutup.
" Jika kamu suka aku akan belikan lebih banyak nanti." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk antusias.
" Sayang, aku sudah melihat semua catatan milik Damian, juga kertas kertas yang sudah kamu susun sebelumnya. Dia mengalami gangguan kejiwaan, dan juga sepertinya mengalamai konflik internal dengan istrinya." Ujar Lars.
" Aku sedang menyuruh anak buahku untuk menyelidiki Damian dan istrinya." Ujar Lars lagi.
" Berarti dia lolos dari hukumanku." Ujar Ryn.
" Kita akan mencari dan menangkap David." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.
" Jangan sedih, meskipun Damian sudah mati, jika keluarganya terlibat, maka aku juga tidak akan membiarkan keluarganya hidup tenang." Ujar Lars, mencoba menghibur Ryn.
" Keluarganya adalah keluarganya, pelakunya adalah Damian sendiri, aku tidak mau menyeret orang yang tidak bersalah dalam hal ini, aku hanya ingin menghukum mereka para pelaku." Ujar Ryn.
" Lalu Kriss? Damian juga menyebut nama Kriss. Sayang, jangan terburu buru, semua akan aku selidiki lagi." Ujar Lars.
" Hm, iya.." Ujar Ryn dan tersenyum.
" Bersiaplah, malam ini kita akan makan malam di kediamanku, kakekku mencarimu." Ujar Lars.
" Baiklah. Astaga, apa aku masih bisa makan, nanti? Perutku kenyang sekali." Ujar Ryn, Lars pun terkekeh.
" Jika kenyang maka kamu makan buah saja nanti." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.
Akhirnya kini Lars membawa Ryn ke kediamannya, Ryn sudah sangat merindukan kedua anak anaknya, siapa lagi kalau bukan Lio si singa dan Thunder si harimau.
Sayangnya Ryn menggunakan medium dress karena akan bertemu dengan kakek Lars, yakni Peet. Jadi Ryn tidak bisa langsung masuk kandang sebelum bertemu Peet.
" Apakah Lio dan Thunder membuat onar?" Tanya Ryn.
" Tidak sama sekali.." Ujar Lars.
" Mereka sudah betah di sini." Ujar Ryn, dan Lars terkekeh.
Ryn kemudian berpikir, saat ini kediamannya sendiri pasti sudah aman, karena Sam sudah tidak ada. Dia terpikirkan untuk kembali ke kediaman itu dan membawa serta Lio dan Thunder.
" Aku akan membersihkan rumah papa, lalu aku akan bawa mereka pulang saja ke kediamanku?" Ujar Ryn.
" Kamu mau tinggal di sana lagi?" Tanya Lars.
" Ya, itu rumah masa kecilku yang penuh dengan kenanganku bersama papa Paul." Ujar Ryn.
Lars mengangguk, bagaimanapun rumah itu memang rumah Ryn. Lars juga berpikir, saat ini sudah tidak ada Sam, dia akan merasa sedikit tenang. Meski begitu dia akan tetap memberikan penjagaan pada Ryn.
" Kalau begitu aku akan carikan pelayan dan penjaga untukmu agar lebih aman."
" Terimakasih.." Ujar Ryn.
Keduanya berjalan masuk untuk menemui Peet, Peet sendiri kini sudah tidak lagi duduk di kursi roda, dia berjalan dengan bantuan tongkat. Dan jika dia ingin kemana mana harus di kawal dokter 24 jam.
" Kakek.." Teriak Ryn sambil berlari kecil menuju Peet.
" Cucu mantu, akhirnya datang juga." Ujar Peet, senang.
Entah ini sebuah keajaiban atau bagaimana, Peet selalu dengan mudah mengingat Ryn, dia selalu memanggil Ryn dengan sebutan cucu mantu, seperti julukan sayang tersendiri bagi Peet untuk Ryn.
Ryn memeluk Peet, Peet pun mengusap usap punggung Ryn dengan sayang.
" Kakek mau kemana?" Tanya Ryn, setelah melerai pelukannya.
" Kakek kesepian, jadi ingin melihat singa dan harimaumu." Ujar Peet.
" Ayo, Ryn juga ingin melihat mereka." Ujar Ryn antusias.
Seketika senyum Peet merekah, dia pun mengangguk anggukan kepalanya.
Akhirnya mereka semua pun berjalan menuju ke kandang Lio dan Thunder.
Lio dan Thunder kini semakin besar saja, Lio yang pada dasarnya raja hutan itu walau pun masih berusia muda, tetapi tubuhnya kini semakin besar.
" Thunder, Lio.." Panggil Ryn.
Ryn tidak masuk dan hanya berdiri di luar kandang, jadi dua binatang buas itu menggesek gesekan kepalanya di jeruji kandang besi.
" A! A! A! Jangan gigit, tidak pakai gigit." Ujar Ryn pada Lio si tukang rusuh.
Seakan tahu dirinya di marahi, Lio pun akhirnya menjilat jilat jari tangan Ryn. Peet melihatnya sampai geleng geleng sendiri, beberapa kali dia melihat interaksi Ryn dengan dua bintatang buas itu, dia selalu terkesima.
Peet terkesima dengan keberanian Ryn yang dengan mudahnya membaur dengan binatang buas. Padahal pawangnya saja sedikit kewalahan ketika dua binatang itu sedang rewel.
" Cucu mantuku memang lain dari yang lain." Ujar Peet.
" Karena dia lain dari yang lain, makanya dia bisa membuat cucu kakek jatuh cinta." Ujar Lars yang berdiri di sisi Peet.
" Hahaha.. benar - benar, kamu juga seperti binatang buas yang sulit di jinakan." Ujar Peet.
" Kapan kamu menikahinya, jangan sampai nanti dia lari ke pelukan orang lain." Bisik Peet, dan membuat Lars tersenyum.
" Segera setelah semuanya siap, kek." Ujar Lars.
" Kamu hanya membuat orang mati penasaran." Ujar Peet, dan Lars terkekeh.
" Sayang, ayo masuk ke dalam." Ujar Lars.
" Iya." Teriak Ryn.
" Aku pergi dulu oke, nanti kita main lagi." Ujar Ryn pada Thunder dan Lio.
Ryn melihat gelagat yang sedikit aneh dari Thunder, Tidak seperti biasanya Thunder akan sangat ceria, kali ini Thunder terlihat sedikit murung dan pendiam.
" Thunder, kau baik baik saja?" Ujar Ryn.
" Ggrrr.." Thunder mengeram kecil, lalu kembali menghampiri Ryn dan menggesekan bulunya.
" Kau sakit?" Tanya Ryn.
" Paman, apakah Thunder sakit?" Tanya Ryn pada pawang yang menjaga Thunder.
" Maaf, nona. Thunder sudah memasuki usia untuk berproduksi." Ujar sang pawang.
" Woaahh.. Kau ingin menikah rupanya, hum?" Ujar Ryn, dan itu membuat Lars menahan senyum.
' Gadis nakal.' Batin Lars.
" Kalau begitu, aku akan carikan betina untukmu nanti. Jangan sedih, aku janji akan mencarikan betina untukmu." Ujar Ryn.
" Aku pergi dulu, hum.. jangan nakal dengan paman pawang." Ujar Ryn.
Akhirnya Ryn pun pergi dan menghampiri Lars dan Peet. Ketiganya pun masuk ke dalam rumah.
" Harimau saja tahu sedih karena minta kawin, apa kakek juga harus bersedih agar kalian menikah?" Ujar Peet dan melirik pada Ryn.
Ryn yang mendengarnya menjadi melirik ke arah Lars, Ryn sejujurnya belum memikirkan tentang pernikahan, karena dia ingin fokus pada pembalasan dendamnya terlebih dahulu.
Tapi kini ada Peet yang meskipun Ryn selalu berharap Peet memiliki umur panjang, tetapi takdir itu Tuhan yang mengendalikan. Lars pernah bercerita bahwa Peet ingin melihat Lars menikah sebelum ajalnya menjemput, bahkan kalau bisa ia ingin menggendong cicit dari Lars.
" Umm.. Itu, kakek bisa tanyakan pada Lars." Ujar Ryn.
" Haih.. Kakek bertanya pada Lars, tapi jaeaban Lars juga sama denganmu. Kalian sama sama membuat kakek mati penasaran." Ujar Peet.
" Sebelum Natal tahun ini tiba, kek." Ujar Lars, dan Ryn menengok terkejut.
" Benarkah? Kalau begitu kakek tenang, tinggal menunggu hari itu tiba, hahaha." Tawa bahagia Peet terdengar.
" Kamu serius?" Bisik Ryn pada Lars.
" Hum." Ujar Lars sambil tersenyum manis.
' Astaga.' Batin Ryn.
Meskipun menikah juga adalah salah satu impian Ryn, tetapi Ryn tidak menyangka dia akan menikah di usia semuda itu. Dan lagi.. Natal akan tiba sekitar lima bulan lagi, itu artinya Ryn akan menikah lima bulan lagi dengan Lars.
TO BE CONTINUED...