
Setelah desainer tidak sopan itu pergi, Lars pun mengobati luka baret di lengan Ryn. Lukanya bahkan lumayan dalam hingga Ryn merasakan perih seperti saat ia di cakar pleh Thunder dan Lio.
'' Maaf sayang, kamu jadi terluka begini.'' Ujar Lars.
'' Kenapa juga kamu yang meminta maaf kepadaku? '' Ujar Ryn sambil terkekeh kecil.
" Karena aku yang mempercayakan dia untuk membuatkan gaun untukmu." Ujar Lars.
" Tidak apa apa, ini hanya luka kecil. Aku hanya tidak menyangka dia akan bereaksi sebesar itu." Ujar Ryn masih tidak habis pikir dengan desainer tadi.
" Ya sudah, lebih baik kamu istirahat saja di rumah. Mau sesuatu?" Tanya Lars.
" Mmm.. tidak." Ujar Ryn.
Tapi tiba tiba di kepalanya muncul nama David, ya.. David masih belim tertangkap, Ryn masih belum tenang dengan hal itu.
" Lars, bagaimana tentang David?" Tanya Ryn tiba tiba.
" Aku sudah mulai melakukan pengamatan padanya, anak buahku sudah aku sebar untuk menangkapnya." Ujar Lars.
" Apakah mereka akan berhasil? " Tanya Ryn.
" Percaya padaku, sayang.. Aku lebih dari mampu untuk menangkapnya." Ujar Lars.
Sejujurnya memang Lars bisa saja dengan mudah menangkap atau menghabisi David, tapi karena pejanjian konyolnya dengan Lodra dia jadi membuang waktu.
Membicarakan Lodra, saat ini Lodra kembali terbaring di meja operasi. Luka yang sudah di jahit Stone terbuka karena perkelahiannya dengan Davon, bahkan hingga Lodra kehilangan banyak darah.
" Bagaimana? Apakah ada kemajuan?" Tanya Roco.
" Dia sudah stabil." Ujar Stone.
Untungnya Stone adalah dokter yang mahir dengan profesinya, lebih untung lagi, darah Stone rupanya memiliki golongan yang sama dengan Lodra, jadi dia mendonorkan darahnya pada Lodra.
" Bisa begitu kebetulan golongan darah kalian sama, terimakasih Stone, kau menyelamatkan nyawanya." Ujar Roco terharu.
" Ck! Muka tembok sepertimu tidak pantas merengek." Ujar Stone.
" Ish! Tidak salah bilang kau, huh?!" Ujar Roco kesal.
" Berisik kau! biarkan dia beristirahat. Aku juga butuh istirahat, tubuhku lemas karena darahku begitu banyak terambil." Ujar Stone dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Bukan tanpa alasan Stone mendonorkan darahnya pada Lodra, jika Lodra bukan kakak Ryn, sudah pasti Stone membiarkan Lodra mati.
Pertama, karena Lodra adalah kakak Ryn, dan Stone ingat bahwa Lars adalah kekasih dari Ryn, Stone tidak mau tuannya di benci oleh kekasihnya.
Kedua, karena Lodra sudah benar benar menunjukan sumpahnya untuk menghabisi si muka mesum Davon, dengan tangannya sendiri. Meski akhirnya Davon mati di tangan ayahnya sendiri tapi Stone puas saat melihat aksi Lodra itu dari monitor lalat yang ia terbangkan.
Roco pun akhirnya mengirimkan kondisi terbaru Lodra pada Lars, dan dia pun pergi dari sana menuju monitor.
Roco mengecek kondisi terbaru markas David setelah akhirnya Davon terbunuh. Malam ini, adalah saatnya dia yang beraksi untuk menangkap David hidup hidup dan membawanya ke hadapan Ryn.
" Apa ini.. kemana para anak buah yang menyusup di markas David." Gumam Roco.
Roco mengecek keberadaan mereka dari chip yang terpasang di tubuh mereka, dan mereka berada di titik lokasi yang sama.
" David sudah menangkap mereka." Gumam Roco.
Posisi anak buahnya saat ini berada di sebuah penangkaran buaya. Roco tahu betul penangkaran buaya itu bukan penangkaran biasa, tetapi sebuah tempat untuk ekseskusi.
Roco menekan sebuah alarm darurat, dan menginstruksikan kelompoknya untuk bersiap, malam ini Roco benar benar harus menangkap David.
Beralih ke tempat lain..
Lars akhirnya membawa Ryn ke sebuah butik dari desainer gaun pengantin ternama. Desainer gaun itu begitu antusias ketika kedatangan Lars dan Ryn, kebetulan Desainer itu adalah salah satu orang yang mengidolakan Lars dan Ryn.
" Nona, mari kita lakukan pengukuran." Ujar Desainer itu ramah.
" Ya." Sahut Ryn.
Ryn pun berdiri di depan Lars saat ini, dia di ukur benar benar harus di pantau Lars, Lars tidak mau kejadian seperri di kediaman Ryn terulang.
" Nona, saya adalah penggemar berat anda. Membuatkan gaun untuk pernikahan anda dengan tuan Lars adalah impian saya, dan kini terwujud meski hanya gaun pertunangan." Uajr Desainer itu dengan bahagia.
" Aku bukan artis, bagaimana kamu tahu aku?" Tanya Ryn heran.
Sejujurnya Ryn tidak menyangka rupanya ada orang yang mangikuti perkembangan hubungannya dengan Lars. Padahal dirinya bukanlah artis, tetapi ada juga yang mengidolakannya.
" Tubuh anda benar benar bagus, sudah nona.. silahkan duduk. " Ujar desainer itu.
" Secepat itu?" Tanya Ryn, dan desainer itu tersenyum sembari mengangguk.
" Sekarang, saya akan memberikan anda beberapa contoh desain gaun yang bagus. Ada beberapa diantaranya yang baru saya desain." Ujar desainer itu.
" Tolong buatkan gaun yang spesial untuknya, hanya untuknya. Jika anda bisa membuatnya, maka Hunter Group akan berdiri di belakang anda." Ujar Lars bersuara.
Tentu desainer itu tersenyum merekah mendengarnya. Siapa yang tidak mau di sokong perusahaan besar seperti Hunter Group, iru adalah impian semua orang.
" Baik tuan, akan saya buatkan gaun khusus dan hanya untuk nona Ryn seorang." Ujar desainer itu.
" Usahakan kurang dari satu bulan gaun itu sudah jadi." Ujar Lara lagi.
" Baik tuan." Ujar desainer itu lagi.
" Apamah mungkin bisa selesai dalam waktu sesingkat itu?" Tanya Ryn yang kasihan pada sang desainer.
" Itu adalah tantangan bagi saya nona, jangan khawatir, saya akan mengusahakan yang terbaik untuk gaun pertunangan anda." Ujar desainer itu.
" Warna apa kiranya yang nona mau?" Tanya desainer itu.
" Rose gold." Ujar Ryn.
" Baik, besok saya akan hubungi anda untuk memberikan desain." Ujar desainer.
" Baiklah, terimakasih banyak, maaf merepotkanmu." Ujar Ryn ramah.
" Sama sekali tidak, nona.. saya senang menjadi orang yang di percaya anda untuk mendesain gaun anda." Ujar desainer itu.
Ryn tersenyum manis, lalu akhirnya dia dan Lars pun pergi.
" Sungguh sikap yang bertolak belakang." Ujar Ryn ketika sudah di dalam mobil.
" Aku antar kamu pulang, sayang. Aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa benar benar menemanimu seharian." Ujar Lars.
" Astaga, Lars.. Aku sama sekali tidak apa apa, terimakasih sudah menemaniku hari ini." Ujar Ryn.
Lars mengecup punggung tangan Ryn sembari dirinya menyetir.
" Sebagai gantinya, nanti aku akan bawa kamu ke pantai di akhir pekan." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.
Lars sungguh hanya mengantar Ryn pulang, laku dia langsung pergi dari kediaman Ryn. Ryn mengeluarkan ponselnya, lalu ia mencoba menghubungi Lodra.
Ryn ingin berbagi kabar bahagia dengan Lodra. Tetapi setelah beberapa kali mencoba menghubungi Lodra, panggilan itu tidak terhubung sama sekali.
" Apa kakak sibuk? Sudahlah, nanti aku hubungi dia lagi." Gumam Ryn.
Waktu berlalu, Lars saat ini sudah berada di luar kota, tepatnya di markasnya yang lain.
" Apa dia akan sadar?" Tanya Lars pada Stone.
" Jika tidak sadar maka dia pecun*ang." Ujar Stone.
" Dia, orang sakit pun di caci maki." Ujar Roco.
" Kenapa kau berikan dia obat itu tanpa seizinku?" Ujar Lars pada Stone.
" Maaf, tuan." Ujar Stone.
" Kau selalu melakukan ini dan itu tanpa izin dariku." Ujar Lars.
" Maaf, tuan." Ujar Stone lagi.
" Jika sudah pulih, bersiaplah. Malam ini kita akan menangkap David." Ujar Lars.
" Ya, tuan." Ujar Stone.
TO BE CONTINUED..