A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 78. STONE dan pertikaian hatinya.



Ryn dan Lars kembali ke kediaman Lars, terlihat Peet yang sedang duduk dan meminum obatnya.


" Kakek.." Ujar Ryn.


" Ah.. cucu mantu, akhirnya kamu datang.." Ujar Peet yang antusias melihat kedatangan Ryn.


" Kamu tidak pernah main kemari, kakek merindukanmu." Ujar Peet lagi.


Ryn terkekeh mendengarnya, padahal baru pagi tadi dia bersama dengan Peet mengobrol bersama, tapi Peet sudah melupakannya begitu saja.


" Ryn baru mencoba gaun pertunangan Ryn dal Lars, kek." Ujar Ryn.


" Benarkah?? Wah.. Kapan kalian bertunanagan?" Tanya Peet.


" Dua hari lagi, kek." Ujar Lars.


" Hahahaha.. Kakek senang mendengarnya, hari baik tidak boleh di tunda tunda. Lalu kapan kalian menikah? " Tanya Peet.


" Satu minggu setelah kami bertunangan." Ujar Lars.


" Bagus.. bagus. Laki laki harus bergerak cepat untuk mengikat wanitanya. Semoga kalian selalu bahagia, nak.. Kakek menantikan cicit kakek." Ujar Peet.


Ryn dan Lars sampai terkekeh geli mendengarnya, Peet selalu menagih cicit pada Lars dan Ryn.


" Tuan muda, ada Stone di depan." Ujar Roco.


" Stone? Kenapa dia datang?" Tanya Lars.


" Saya tidak tahu, tuan muda. " Ujar Roco.


Lars mengangguk lalu berjalan keluar menemui Stone. Terlihat Stone yang sedang berdiri seakan bengong.


" Kenapa kau datang, Stone?" Tanya Lars.


" Tuan, anda pernah bilang bahwa semua wanita itu sama saja, sama sama merepotkan dan menjadi beban, lalu kenapa kini anda akan bertunangan?" Ujar Stone.


" Stone, apa yang kau katakan! Jangan kurang ajar pada tuan." Ujar Roco, tetapi Lars mengangkat tangannya.


" Karena rupanya Tuhan masih menutup mataku, sampai akhirnya aku melihat Ryn yang membuat pandanganku terhadap wanita menjadi berubah." Sahut Lars.


" Anda jatuh cinta?" Tanya Stone.


" Benar, aku jatuh cinta padanya, sejatuh jatuhnya, hingga aku merasa aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa dia." Ujar Lars.


" Aku mengerti.." Ujar Stone mengangguk anggukan kepalanya.


"Suatu hari, kamu akan melihat wanita yang begitu mengagumkan di matamu, dia akan membuat pandanganmu terhadap wanita menjadi berubah. Tidak semua wanita itu buruk, merepotkan atau menjadi beban." Ujar Lars.


' Aku sudah menemukannya..' Batin Stone.


" Tuan, terimakasih." Ujar Stone.


Sejujurnya Lars pun bingung, mengapa Stone berkata demikian. Tetapi Stone dan dia pernah memiliki pemikiran yang sama, yaitu semua wanita adalah beban.


" Tuan, jika di izinkan.. apakah saya bisa mendapatkan kehormatan?" Tanya Stone.


" Kau adalah garda depan kedua setelah Roco, katakan.. apa yang kau inginkan?" Tanya Lars.


Terlihat Stone terdiam, lalu dia melihat Ryn yang berjalan dengan senyum cantiknya. Wajah yang sama saat dia pertama melihat Ryn di hutan dengan ekspresi yang berbeda.


Stone melihat betapa cantiknya Ryn ketika tersenyum saat ini, dan Stone juga melihat betapa mengagumkannya tatapan dingin Ryn pada malam saat Ryn mengeksekusi David.


" Nona Ryn.." Ujar Stone.


" Stone!! Kau gila??!!" Ujar Roco.


Roco sudah menebak ada yang aneh dari Stone, sejak dia pulang dari markas David, Stone benar benar berubah, dia menjadi begitu pendiam dan semakin tidak memiliki hati.


Lars mengeratkan rahangnya ketika mendengar Stone menyebut nama Ryn. Tatapannya menjadi begitu dingin saat ini tangan nya juga mengepal kuat.


'' Jangan memancing batas kesabaranku, Stone.'' Ujar Lars.


" Nona Ryn, apakah saya bisa mendapatkan kehormatan dengan bertarung pedang denganmu?" Tanya Stone.


Semua orang kini mengernyit bingung, kata kata Stone begitu ambigu.


" Kau ingin bertarung pedang? denganku? " Tanya Ryn menunjuk dirinya.


" Ya, nona.. saya ingin membuktikan perkataan tuan, bahwa wanita tidak semuanya lemah, dan menjadi beban." Ujar Stone.


" STONE!!" Bentak Lars.


" Tuan, saya sudah mengikuti anda sangat lama, saya hanya ingin membuktikan perkataan anda. Bukankah selama ini anda yang selalu berkata untuk saya membuka hati?" Ujar Stone.


" Kau tahu apa yang sedang kau bicarakan, Stone?!" Ujar Lars.


" Saya hanya ingin membuktikan bahwa yang di katakan tuan itu benar, apakah nona Ryn layak menjadi Ratu bagi Rajaku atau tidak." Ujar Stone.


" Sayang.." Ujar Lars.


" Kita akan bertemu di ruang pelatihan di kediaman ini besok." Ujar Stone.


" Stone, kau benar benar.." Ujar Roco menggantung.


" Baik." Ujar Ryn.


" Tuan, saya permisi. Nona Ryn, sampai jumpa besok." Ujar Stone, lalu pergi.


" Sayang, kenapa kamu terima tantangannya? Kita akan bertunangan dua hari lagi, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?" Ujar Lars.


" Percaya padaku, aku layak menjadi Ratu bagi Rajanya, yaitu kamu." Ujar Ryn dengan senyum manisnya.


'' Kamu tidak perlu membuktikan kepada siapapun, kamu lebih dari layak menjadi Ratu. Kamu adalah hidupku, kamu tahu itu, bukan?'' Ujar Lars.


'' Aku tahu, tidak apa apa.. aku ingin menunjukannya saja kepadanya.'' Ujar Ryn, kukuh.


Tak lama Lodra datang, Lodra menatap aneh dengan Lars, Ryn dan Roco yang berdiri di depan pintu dengan ekspresi tegang.


" Kalian menunggu siapa?" Tanya Lodra bingung.


" Menunggu kakak." Ujar Ryn dengan kekehan kecilnya.


" Sayang, aku pulang dulu.. aku harus menemui paman Kriss." Ujar Ryn.


" Aku akan menemanimu." Ujar Lars tidak mau pisah sedikitpun dari Ryn.


" Dasar lem." Gumam Lodra.


" Aku dengar.." Ujar Lars.


" Ya sudah ayo." Ujar Ryn dari pada keduanya ribut.


Akhirnya malam hari pun tiba.. Ryn berjalan bersama Lars dan Lodra menuju ke sebuah restoran. Ryn tentu menjadi pusat perhatian, karena dia berjalan diantara dua pria tampan, dan sama sama terkenal.


Sosok Lodra juga mulai di kenal banyak kalanagan atas, karena Lodra kini adalah orang yang menjalankan perusahaan milik Paul. Sementara di belakang tiga orang itu, ada Roco yang berjalan dengan wajah seriusnya.


Ke empatnya sampai di sebuah restoran yang terkenal dengan makanan Chinese nya. seperti biasa, asisten Kriss menjemput Ryn di depan.


Terlihat sudah ada Kriss yang sudah duduk dan langsung tersenyum senang ketika melihat Ryn.


" Halo, nak.. apa kabarmu?" Ujar Kriss.


" Baik, paman." Ujar Ryn, lalu duduk.


" Paman dengar kamu akan bertunangan dengan tuan muda Lars, jadi paman membelikanmu hadiah." Ujar Kriss.


" Anda tidak perlu repot repot." Ujar Lars.


" Tidak.. Itu tidak seberapa dan sama sekali tidak merepotkan saya." Ujar Kriss


" Sejujurnya paman merasa.. rasanya tidak adil jika paman masih hidup. Paman sama jahatnya dengan Sam, Damian dan David. Paman ingin menyerahkan diri padamu, nak.'' Ujar Kriss.


" Aku bukan polisi, paman. Dan pengadilan yang kau bicarakan.. aku tidak memiliki wewenang itu. Hukumku hanya hidup dan mati saja.'' Ujar Ryn.


'' Kamu sangat baik seperti papamu.'' Ujar Kriss.


'' Ini.. adalah sedikit kenangan yang paman miliki tentang papa dan mamamu.'' Ujar Kriss, sembari memberikan sebuah album foto pada Ryn.


'' Jika ada waktu, kita kunjungi makam mereka.. mereka pasti senang melihat putri mereka datang.'' Ujar Kriss.


'' Paman tahu dimana kedua orang tuaku di makamkan?'' Tanya Ryn dan Kriss mengangguk.


'' Terimakasih paman.'' Ujar Ryn.


Setelah obrolan singkat itu, mereka pun akhirnya memesan makanan dan makan malam bersama. Meski Lars masih sedikit tidak mempercayai Kriss, tetapi dia tidak menunjukan rasa tidak sukanya terhadap Kriss.


Lars sudah menyelidiki apakah Kriss ada hubungannya dengan Damian yang bunuh diri atau tidak, dan rupanya Kriss tidak terlibat. Damian menyebut Kriss karena Kriss adalah salah satu orang di masa lalu Damian.


Sementara kematian Damian, itu murni karena gangguan kejiwaan nya. Istrinya selingkuh dan menginginkan harta Damian. Istrinya juga yang memberikan obat untuk Damian konsumsi setiap harinya, obat itulah yang akhirnya membuat Damian gila perlahan.


Dan karena istri Damian tidak terlibat dan tidak sedikitpun mengusik Ryn Lars melepaskan dia, sesuai dengan yang Ryn katakan. Dendamnya hanya pada pembunuh kedua orang tuanya, bukan pada keluarga pelaku.


'' Sampai ketemu besok sore, paman.'' Ujar Ryn setelah makan malam itu berakhir.


'' Iya.. hati hati di jalan, nak.'' Ujar Kriss. Ryn, Lars dan Lodra pun pergi dari sana..


'' Setiap bertemu dengan Kriss, aku selalu bertanya tanya.. gudang apa yang di maksud oleh Damian? Aku masih saja terpikirkan dengan gudang yang di maksud oleh Damian sebelum tewas.'' Ujar Lodra.


'' Aku akan tanyakan itu nanti ketika kita bertemu kembali dengan paman Kriss.'' ujar Ryn, dan Lodra mengangguk.


TO BE CONTINUED...