A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 41. Cerita malam kelam..



Setelah makan malam selesai, kini Ryn, Lars dan Kriss berada di sebuah kamar hotel dengan penjagaan super ketat di bawah kawalan Roco. Anak buah Lars ada di setiap sudut gedung itu tanpa seorangpun yang tahu bahwa mereka anak buah Lars.


Sebelum ketiganya masuk, Roco sudah lebih dulu mengecek keamanan kamar itu, barang kali ada pihak musuh Lars yang tahu bahwa Lars di sana dan menyabotase kamar itu untuk menaruh jebakan.


Setelah benar benar aman, barulah Lars, Ryn dan Kriss masuk ke dalam. Sementara Roco dan dan asisten Kriss, mereka berdua menunggu di depan pintu kamar.


" Sebenarnya saya bertanya tanya, bagaimana anda tahu saya masih hidup? Papa Paul tidak pernah membawa saya keluar rumah tanpa pengawalan ketat dan banyak yang tidak tahu saya, karena papa menyembunyikan saya dari paparazi." Tanya Ryn.


Kini ketiganya tengah duduk di sofa yang berada di dalam kamar hotel itu.


" Sam.. dulu saat saya masih menjadi rekannya, dia selalu berkata bahwa putri Wira masih hidup. Saya pikir dia mungkin ingin menebus kesalahan nya padamu, tapi tidak." Ujar Kriss.


" Dia justru menjadi tidak waras dengan tiba tiba mengatakan bahwa dia ingin memilikimu sebagai pengganti ibumu. Sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak lagi menjadi rekannya, dan fokus untuk mencarimu. Hanya saja saya tidak pernah bisa dengan mudah menemukanmu, dan selalu kalah cepat dari Sam." Ujar Kriss.


" Pria menjijikan itu." Gumam Lars dengan emosi.


Mengerti bahwa Lars marah, Ryn akhirnya tidak melanjutkan lagi pertanyaan nya.


" Kita lanjutkan cerita anda tentang mengapa kedua orang tuaku terbunuh." Ujar Ryn, dan Kriss mengangguk.


" Baiklah, awalnya papamu ingin berhenti menjadi pemimpin kami karena dia ingin menjalani kehidupan normal bersama ibimu dan kamu. Di hari naas itulah.. Dia ingin berpamitan untuk yang terakhir kalinya menjadi pemimpin." Ujar Kriss mulai bercerita dan menerawang jauh ke masalalu.


Flashback on..


Di Rumah besar milik Wira, sedang diadakan pertemuan. Pertemuan itu Wira adakan untuk dirinya berpamitan kepada rekan rekannya.


Tetapi pertemuan itu di lakukan dengan sangat tertutup, bahkan anak dan istri Wira juga tidak di izinkan masuk kedalam ruangan yang sedang di gunakan untuk pertemuan itu.


" Halo - halo.. Selamat datang kalian, silahkan duduk." Sapa Wira dengan sangat ramah.


Ada sekitar Lima orang yang duduk di sana, meskipun mereka adalah satu rekan, tapi mereka juga saling menghianati dari dalam sebenarnya, dan itu tanpa sepengetahuan anggota lain.


Setelah semua orang duduk, ruangan itu pun di tutup. Selain mereka tidak ada yang lain yang bisa masuk ke sana, bahkan ruangan itu sangat kedap suara.


" Ini adalah surat tanda pengunduran diriku, aku sudah membubuhkan tanda tanganku di dalamnya, tinggal kalian semua yang bertanda tangan." Ujar Wira.


''Ketua, ada yang bilang bahwa anda mencoba melaporkan bisnis kita ini ke polisi, apakah itu benar? '' Ucap Sam tiba tiba.


Seketika di ruangan itu menjadi sangat tegang, pasalnya Sam itu adalah anggota yang paling tidak menyukai Wira . Sementara Wira kini mengernyit bingung dengan apa yang di katakan oleh Sam padanya.


'' Sam, saya akui saya ingin mundur dari bisnis kotor ini. Tapi aku sama sekali tidak pernah memiliki niatan untuk melaporkan bisnis yang sudah kita bangun bersama ini ke polisi, aku tidak segila itu.'' Ujar Wira.


'' Heng! Sejak awal berdirinya kelompok ini, kau adalah orang yang selalu bersikap sok suci.'' Ujar Sam.


'' Semuanya, silahkan lihat apa yang saya dapatkan.'' Ujar Sam dengan menyebarkan foto foto.


'' Anda sering datang ke kentor polisi, dan menurut salah satu petugas di sana, anda sedang merencanakan penangkapan kelompok besar besaran. Apa lagi jika bukan kelompok ini, ketua rupanya anda selicik itu.'' Ujar Sam, dengan tatapan bengisnya.


'' Apa apaan ini Ketau!! Anda ingin kami mati bersama?? Apa kau ingin menikmati semuanya sendirian?!'' Ujar salah satu anggota yang bernama Damian.


'' Sungguh! Aku tidak melakukan hal itu.. ini fitnah. Saya memutuskan mundur sebagai ketua adalah karena saya ingin menjadi ayah yang baik untuk putri saya.'' Ujar Wira.


'' Mana ada maling yang mengaku, Ketua anda tahu aturan nya bukan?? '' Ujar pria lain yang bernama David.


'' Alasan!! habisi dia sekarang, jangan mengundang resiko.'' Ujar David yang memiliki tempramen sangat buruk.


Seketika Damian dan Sam mengeluarkan senjata apinya dan menodongkan nya ke arah Wira. Wira terkekeh melihatnya, rupanya dirinya memang sedang di jebak oleh anggota nya sendiri.


'' Padahal aku sudah mengatakan akan mundur dan tidak akan berurusan dengan kalian lagi, tapi rupanya kalian langsung menganggapku musuh. Sam, Damian, kalian berdua bersekongkol untuk menyingkirkanku, bukan?'' Tanya Wira.


'' Tidak akan ada mulut yang akan tertutup dengan benar, kecuali mati. Itu aturan yang kau buat, kau sudah memutuskan keluar, maka tidak ada jalan kembali.'' Ujar Sam.


'' Rupanya begitu.. aku bahkan tidak di izinkan untuk hidup bahagia bersama keluargaku. Kalian boleh membunuhku, tapi tolong jangan sakiti anak dan istriku, biarkan mereka hidup dengan damai.'' Ujar Wira.


'' Persetan dengan permohonanmu.'' Ucap Damian dan langsung merebut senjata api dari tangan David dan menembak Wira tepat di jantungnya.


Kriss yang sejak tadi hanya diam pun terkejut, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Wira tewas di hadapannya. Bahkan darah Wira menciprat ke wajahnya karena dia duduk bersebelahan dengan Wira.


" Kriss, kau bukan orang bodoh, bukan?? Jika kau ingin hidup, maka habisi semua penghuni ruamh ini." Ujar Sam.


Kriss yang memang adalah anggota yang patuh pada Wira seketika menjadi takut. Dia juga ingin hidup, akhirnya dia mengangguk dan mengikuti perintah Sam.


Wira langsung tewas begitu saja di tempat, niat baiknya untuk hidup bersama keluarga kecilnya dengan damai kini hanya sekedar cerita. Setelah membunuh Wira, empat pria itu langsung memporak porandakan kediaman Wira.


'' Istrinya sangat cantik, aku menyukai dia jadi aku akan ambil dia sisanya terserah kalian.'' Ujar Sam.


Flashback off..


" Begitulah yang terjadi di malam itu, papamu tewas dan Sam mencoba membawa paksa ibumu. Tapi karena ibumu tidak mau, dia pun akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri." Ujar Kriss.


Ryn yang masih berdebar ketika mendengar cerita dari Kriss pun tiba tiba meneteskan air matanya. Seandainya dia bertemu dengan Kriss saat Paul masih hidup, mungkin Paul sudah bisa menangkap pelakunya. Dan Paul tidak akan terbunuh oleh Sam begitu saja.


Paul dan Lodra sangat kesulitan mencari siapa siapa saja anggota kelompok Wira, sejauh yang bisa mereka temukan hanya Sam saja.


" Damian dan David mereka berdua.. aku belum pernah melihat mereka." Ujar Ryn.


" Aku akan beri tahu kak Lodra." Ujar Ryn langsung menghapus air matanya.


" Kakakmu bukan orang yang bisa menangkap mereka, sayang." Ujar Lars.


" Lalu?? Polisi juga tidak mungkin bisa menyentuh mereka, kak Lodra setidaknya bisa menemukan mereka dan menangkapnya." Ujar Ryn berapi - api.


" Kamu lupa bahwa kamu punya aku??" Ujar Lars mencoba menenangkan Ryn dengan menggenggam tangan Ryn.


" Sam sudah berhasil aku tangkap, mereka berdua juga pasti akan aku tangkap.. Kakakmu bukan orang yang bisa menangkap para mantan mafia itu." Ujar Lars lagi.


" Apakah anda ketua mafia, tuan Lars??" Tanya Kriss.


Lars menatap Kriss sejenak kemudian kembali menatap Ryn dan mengangguk.


" Ya, aku ketua Mafia." Ujar Lars, membuat Kriss dan Ryn terkejut.


TO BE CONTINUED..