
Lodra yang sebelumnya berkutat di dapur, kini sudah selesai dengan segala urusannya. Dia pun menyajikan martabak pesanan Ryn di meja tv dimana sudah ada Ryn yang juga telah selesai mandi.
" Woahhh... Wanginya." Ujar Ryn dengan pandangan berbinar pada martabak buatan Lodra.
" Makanlah, itu spesial." Ujar Lodra, tanpa sungkan lagi, Ryn mengambil satu martabak ke piring kecil dan memakannya.
" Hmmm.. Enak sekali." Ujar Ryn sambil meresapi.
" Apakah se enak itu? " Ujar Lodra, dan Ryn hanya bisa mengangguk karena sedang menikmati martabak itu.
Memasak bukan hal yang sulit bagi Lodra, dia tinggal sendirian di penthouse itu dan dia memasak sendiri makanannya. Tapi jika dia sibuk, dia hanya akan memesakn makanan siap saji dari jasa pesan antar online.
" Kakak yang terbaik.." Gumam Ryn, dan Lodra kembali terkekeh.
Keduanya pun menikmati martabak itu bersama sembari menonton drama di tv. Drama yang baru saja Ryn cari itu berjudul The Dead Cinderella, dimana sang protagonis di sia siakan oleh ayah kandungnya.
" Kenapa ada ayah yang kejam begitu? Padahal gadis itu adalah anak kandungnya sendiri." Ujar Ryn meresapi drama itu.
" Itu hanya drama, adik." Ujar Lodra.
" Tetap saja! beruntungnya aku memiliki papa Paul yang meskipun bukan papa kandungku, tapi sangat mencintai dan menyayangiku seperti anaknya sendiri." Ujar Ryn gemas.
Membicarakan Paul, Ryn seketika teringat dengan percakapannya tadi bersama Kriss. Ryn pun menghentikan serial dramanya dan menatap Lodra yang saat ini bingung.
" Kakak, aku sudah bertemu salah satu rekan ayahku yang bernama Kriss." Ujar Ryn.
" Sungguh?? Bagaimana caranya?" Ujar Lodra terkejut.
" Dia mencariku, lewat Lars. Dia menceritakan semua kejadian malam pembu*uhan itu padaku. Dan aku mendapatkan dua nama lagi, David dan Damian." Ujar Ryn.
" David dan Damian ini adalah orang orang yang sama liciknya seperti Sam." Ujar Ryn lagi.
" Sampai sekarang kakak bahkan belum bisa menangkap Sam, maafkan kakak adik, kakak gagal." Ujar Lodra menyedih.
" Kakak tidak gagal, kakak adalah kakaku. Dan jangan khawatirkan tentang Sam, dia sudah di tanganku." Ujar Ryn, dan Lodra mengernyit bingung.
" Sam di markas Lars, dia mungkin masih kesakitan setelah aku mematahkan kakinya. Aku dan Lars akan mencari Damian dan David itu." Ujar Ryn.
" Adik, Lars akan terseret kasus jika tidak bisa menyembunyikan tindakannya, meski dia orang terkaya sekalipun, dia tidak akan bisa lolos dari hukum." Ujar Lodra.
" Bagiku, Lars adalah hukum itu. Lars adalah ketua mafia, aku yakin dia lebih tahu bagaimana cara menangkap Damian dan David." Ujar Ryn.
" Lars seorang mafia?" Gumam Lodra.
" Aku akan membalaskan dendamku pada mereka, aku tahu mendendam bukan hal yang baik, tapi mereka telah mengambil terlalu banyak hal dariku." Ujar Ryn.
Beberapa hari berlalu..
Sudah beberapa hari setelah terakhir kali Ryn datang ke markas Lars, hari ini dia datang bersama dengan Lars dan Lodra. Roco tidak ikut datang karena dia menggantikan Lars memimpin rapat di perusahaan.
Lars dan Lodra sedang berdiri menatap Ryn yang kini berada di dalam ruangan Sam. Sam terlihat sangat kacau, karena kedua kakinya di amputasi.
" Tuan, ini laporan tentang orang orang yang tuan cari." Ujar anak buah Lars pada Lars.
" Hum, bagus." Ujar Lars pada anak buahnya dan anak buah Lars pun pergi.
Sementara di dalam ruangan Ryn sedang berjalan mengelilingi Sam yang hanya bisa duduk tanpa pergelangan kaki.
" Kau tampak lucu tanpa kaki." Ujar Ryn tanpa perasaan.
Sam menatap Ryn dengan tatapan tajam, dia sudah benar benar salah memilih keputusan. Dia pikir Ryn bisa menjadi pengganti Vitalia yang lemah lembut itu, tetapi Ryn justru tumbuh seperti Wira.
" Menyesal aku tidak membunuhmu langsung saat aku pertama kali bertemu lagi denganmu, kau seperti monster." Ujar Sam dan Ryn pun tersenyum smirk.
" Dan aku mengucapkan terimakasih untuk itu. Sayangnya kau pria bengis yang bahkan tega menghabisi nyawa keluargamu sendiri, kau tidak memiliki kelemahan, jadi aku tidak bisa mengancammu."Ujar Ryn dan Sam tertawa mendengarnya.
" Tentu saja aku tidak memiliki kelemahan." Ujar Sam.
" Mereka musnah, tidak ada lagi mafia DEATH di luaran sana. Seperti yang kau lakukan pada anggota asli DEATH yang dulu, anggotamu yang sekarang juga musnah." Ujar Ryn dan berhasil memancing emosi Sam.
" Kau bedebah kecil!!" Ujar Sam dengan nafas naik turun tak beraturan.
" Jangan salahlan aku, itu salahmu karena kau yang lebih dulu membuat mereka terpecah belah. Aku hanya menertibkan mereka." Ujar Ryn.
" Kau bukan lagi ketua mafia, kau hanya sampah yang sedang menunggu ajal kematianmu." Ujar Ryn lagi.
" DIAM!!!" Bentak Sam, namun langsung mendapat tendangan dari Lodra.
" AAARRRGGH!!!" Teriak Sam kesakitan, karena Lodra menendang perban kakinya yang masih basah dengan darah.
" Jangan sekali kali kau membentak adiku." Ujar Lodra dengan tatapan menyalak.
Darah segar kembali mengalir dari lutut Sam yang buntung itu, sam sampai tersenggal senggal karena kesakitan.
" Apakah kau pernah merasakan tertembak?" Ujar Ryn tiba tiba.
" Sakitnya timah panas menembus kepalamu, dan kau mati perlahan karena kesakitan." Ujar Ryn sambil mengeluarkan senjata api dari balik tubuhnya.
Ryn mengingat dari ingatannya, betapa wajah Sam tidak merasa sedikitpun bersalah ketika telah menembak sosok yang melindungi ibunya. ( ada di eps. 13 ) Sam menembaki semua orang di sana, tanpa belas kasih sedikitpun.
" Aku akui kau sehebat ayahmu, tapi aku tidak yakin kau sebengis ayahmu juga. Kau adalah perpaduan antara Surga dan Neraka, dan aku yakin ibumu lebih mendominasi dirimu." Ujar Sam.
" Sayangnya kau salah." Ujar Ryn dan menembak bahu Sam.
Sungguh, saat ini Ryn terlihat begitu mengerikan. Ryn tidak menunjukan sedikitpun sisi lembutnya.
" ARRGH!!" Sam berteriak.
" Seharusnya kau tahu hasilnya, jika aku perpaduan antara Surga dan Neraka. Aku bisa menjadi Surga untuk orang orang terkasihku, tapi aku juga bisa menjadi Neraka untuk musuhku, seperti kau." Ujar Ryn.
Lodra menatap ngeri adiknya itu, Lodra selalu heran jika melihat Ryn dengan versi sadisnya, Ryn bertindak tanpa belas kasihan, seakan Ryn tidak pernah memiliki sisi baik.
" Oh ya, apakah kau tahu hukuman paling sadis untuk pembunuh dan penjahat sepertimu? Kau tahu bukan, mafia tidak mudah di sentuh hukum, jadi biar aku yang memberimu hukuman." Ujar Ryn.
" A- apa yang ingin kau lakukan? Jangan macam macam denganku!" Teriak Sam sembari menahan sakit.
" Cklik!" Ryn mengeluarkan belati kecilnya yang dulu selalu dia bawa bawa kemanapun.
" Adik, apa yang ingin kamu lakukan?" Ujar Lodra.
" Kakak, jika kakak tidak kuat melihatnya kaka bisa keluar saja." Ujar Ryn.
" Tidak.. kakak akan menemanimu di sini." Ujar Lodra, dan Ryn mengangguk.
Sam yang kedua tangannya di ikat pun tidak bisa berbuat apa apa, apalagi kedua kakinya sudah tidak ada. Dia menatap ngeri Ryn yang tersenyum kearahnya dengan mengacungkan belati.
" Hari ini, aku akan membuatmu berteriak untuk memilih mati dari pada hidup." Ujar Ryn.
Ryn berjalan ke belakang punggung Sam, lalu merobek pakaian yang menempel di tubuhnya dengan belati.
" Arrg!" Teriak Sam, karena belati itu mengenai punggunngnya.
Ryn tersenyum mengejek ketika melihat tato yang terdapat di punggung Sam, sebuah sayap di sebelah kanan dan nama Vitalia yang merupakan ibu kandung Ryn di sebelah kiri.
" Kau terobsesi dengan ibuku rupanya. Tapi aku tidak akan membiarkan kau mengukir nama ibuku di tubuhmu yang kotor ini." Ujar Ryn.
Ryn menyayatkan belatinya ke punggung Sam, kemudian mengelupas kulit Sam dengan penuh teliti. Sam tentu berteriak kesakitan karenanya dia di kuli*i hidup - hidup.
Lodra yang melihat itu sampai memejamkan matanya, karena itu merupakan pemandangan baru bagi Lodra. Meski dulu dia juga seorang kelompok mafia, tetapi dia tidak pernah melihat seseorang men*uliti orang lain hidup hidup.
' Astaga, dari mana Ryn belajar men*uliti orang.' Batin Lodra.
TO BE CONTINUED..