
Lars duduk di sisi ranjang Ryn, lalu tatapannya menyapu isi ruangan itu dimana ada foto Ryn dan Paul yang terlihat sangat bahagia.
' Senyum manis itu adalah senyum pertama yang aku lihat darimu, sayang..' Batin Lars lalu menatap Ryn yang masih terlelap.
Lars memandangi wajah Ryn yang masih tertidur seperti anak kucing itu sambil sesekali tersenyum. Dan entah seolah Ryn tahu bahwa dirinya tengah di tatap Lars, perlahan dia membuka matanya.
" Hm.. apa aku masih bermimpi sekarang? Kenapa aku melihat kamu lagi." Gumam Ryn, dan itu membuat Lars tersenyum.
' Jadi dia baru saja memimpikan aku? Manisnya..' Batin Lars.
" Apa kita bertemu lagi?" Ujar Lars mengerjai Ryn yang belum sadar sepenuhnya.
" Hm.." Ryn mengangguk lucu dengan mata yang masih sayu.
" Gadis nakal." Ujar Ryn lalu mengecup bibir Ryn.
" Ini terasa nyata.." Ujar Ryn berkedip kedip lucu.
" Bangunlah, sebelum aku benar benar menggigit kamu yang menggemaskan ini." Ujar Lars lalu mencubit gemas hidung Ryn.
" Aw!! Sakit." Ujar Ryn.
Ryn seketika mengumpulkan nyawanya dan mulai sadar. Tapi dia bingung mengapa dia ada di kamar, padahal sebelumnya dia tidur di ruang tamu.
" Sudah sadar kah??" Ujar Lars dan Ryn tersenyum.
" Aku pikir aku masih bermimpi." Ujar Ryn lalu menutupi wajahnya dengan selimut karena malu.
" Kenapa bersembunyi dariku, hum?" Ujar Lars yang mencoba membuka selimut Ryn.
" Tunggu! Sejak kapan kamu ada di sini?" Tanya Ryn tiba tiba membuka selimutnya.
" Sejak satu jam yang lalu. Kamu tidak bisa di hubungi, juga tidak mengabariku dan membuat aku khawatir, jadi aku datang kemari. " Ujar Lars.
" Sungguh? jam berapa sekarang?" Tanya Ryn.
" Pukul dua sore. Kamu menyiksa dirimu sendiri dengan begadang semalaman, katakan.. hukuman apa yang harus aku berikan padamu." Ujar Lars.
" Eih, mana bisa aku di hukum, aku kan begadang bukan tanpa alasan akumph.." Ujar Ryn terpotong karena Lars menutup mulutnya dengan bibir Lars.
" Masih tidak mengaku salah.." Ujar Lars ketika kecupannya terlepas.
" Aku hanya mph.." Lagi lagi Lars mengecup bibir Ryn.
" Sekali lagi tidak mengaku salah, maka aku akan menggigit bibirmu ini." Ujar Lars dan seketika Ryn mengunci rapat bibirnya.
" Kamu tidak mendengarkan aku, bukankah aku sudah sering mengatakan kepadamu bahwa aku kekasihmu? Kamu bisa meminta bantuanku, manfaatkan aku, aku akan sangat senang bisa kamu andalkan, sayang." Ujar Lars dengan tatapan sedih.
Seketika Ryn menjadi merasa bersalah, Ryn hanya tidak mau merepotkan Lars dengan segala macam urusannya, ia ingin berkontribusi dalam pembalasan dendamnya itu sendiri. Tapi dia tidak berpikir bahwa keputusannya itu membuat Lars begitu khawatir.
" Kamu marah??" Ujar Ryn, dan Lars menggeleng.
" Hanya sedih, karena kamu masih tidak menganggapku." Ujar Lars.
" Bukan begitu, aku hanya ingin mengerjakan apa yang aku bisa. Aku terlalu sering merepotkanmu jadi aku.. aku.." Ujar Ryn merasa bersalah.
" Maaf.." Ujar Ryn akhirnya.
Lars merebahkan dirinya lalu mendekap tubuh Ryn dengan erat.
" Aku tidak akan merasa di repotkan atau terbebani, sayang. Bagi dukamu, sedihmu, senangmu, bahagiamu bersamaku. Aku sangat menantikan hal hal itu darimu." Ujar Lars.
" Hmm.. maaf. " Ujar Ryn sambil mengangguk.
" Aku sangat mencintaimu, sayang.. " Ujar Lars.
" Me, too.. " Ujar Ryn.
" Mandilah, lalu kita makan siang." Ujar Lars.
" Bagaimana aku bisa mandi jika kamu memeluku erat begini." Ujar Ryn.
" Aku sedang menebus pelukanku yang berkurang." Ujar Lars.
" Ha??" Sahut Ryn bingung.
" Atau apakah aku temani kamu mandi saja?" Ujar Lars, dan seketika Ryn memberontak dan melepaskan diri dari pelukan Lars.
" No!" Ujar Ryn, dan langsung berlari masuk ke kamar mandi.
" Jangan lari, sayang.. nanti kamu jatuh." Ujar Lars sambil terkekeh.
" Bisa bisanya aku berkata begitu padanya." Gumam Lars sambil menggelengkan kepalanya.
" Huft.. Dasar Lars, apa otaknya sedang bermasalah, enteng sekali dia bicara." Gumam Ryn lalu bergidik sendiri.
Akhirnya Ryn mandi, dan tak lama dia keluar dengan pakaian barunya, tapi masih pakaian santai di rumah. Ia mengenakan celana pendek dengan kaos over size nya yang sama sama berwarna putih.
Ryn mengambil mesin pengering rambut lalu ua mengeringkan rambutnya, kemudian ia memakai skin carenya.
" Ah, segar.." Gumam Ryn.
Ryn pun turun ke bawah dimana ada Lars dan Roco yang sedang duduk. Lars melihat Ryn yang dengan santainya turun dari tangga dengan pakaian rumahnya hingga Lars tersedak sendiri.
" Tuan anda.."
" Jangan bergerak!" Ujar Lars, dan seketika baik Roco maupun Ryn langsung terdiam.
" Kenapa?" Tanya Ryn.
" Nona anda su..
" Jangan melihat kebelakang, Roco!" Ujar Lars kembali memotong ucapan Roco. Roco seketika panik sendiri.
" Tuan ada apa?" Tanya Roco.
" Keluar dari sini, dan pastikan kau berjalan lurus tanpa berbalik sedikitpun ke belakang." Ujar Lars.
" B- baik tuan muda." Ujar Roco.
' Apa ada hantu? Bukankah tadi suara nona Ryn?' Batin Roco, dia pun bangun dan berjalan menuju pintu keluar.
Lars langsung berdiri dan meraih selimut di sofa dan menutupi tubuh bagian bawah Ryn.
" Kenapa? Kamu panik sekali." Ujar Ryn bingung.
" Sayang, apa kamu tahu kamu baru saja mengundang marabahaya?" Ujar Lars.
" Hm?? Aku tidak melakulan apapun, aku baru turun dari atas." Ujar Ryn polos.
' Astaga, apa dia tidak sadar bahwa penampilannya ini mengundang bahaya.' Batin Lars.
Akhirnya Lars membungkus Ryn, lalu menggendongnya dan meletakan nya di sofa.
" Apa kamu selalu berpenampilan begini saat bersama kakak angkatmu?" Ujar Lars tiba tiba teringat dengan Lodra.
" Begini bagaimana maksud kamu?" Ujar Ryn polos.
" Menggunakan pakaian sependek ini." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk dengan polosnya.
" Hhhh... Astaga sayang, sepertinya aku harus benar benar membawamu tinggal denganku saja." Ujar Lars.
" Kenapa?? Aku nyaman dengan pakaian santai seperti ini." Ujar Ryn.
" Kamu berpenampilan seperti ini, bagaimana jika kakakmu tergoda? Bagaimanapun dia adalah kakak angkatmu, tidak mustahil jika dia memiliki perasaan padamu." Ujar Lars.
" Pft! Hahahaha."Tawa Ryn pecah ketika mendengar ucapan Lars.
Lars menjadi bingung sendiri sekarang, Ryn tertawa terpingkal pingkal di hadapannya. Padahal dia merasa tidak salah berkata, dia sedang dalam mode serius saat ini.
" Kamu cemburu dengan kakakku?"Ujar Ryn akhirnya, dan Lars berdehem untuk menetralkan dirinya.
Ryn mengalungkan kedua tangannya ke leher Lars, wajahnya dengan wajah Lars saat ini begitu dekat, hingga Lars bisa mencium wangi Ryn.
" Dengar ya tuan pencemburu, aku dan kak Lodra adalah kakak beradik. Kami memang bukan sedarah, tetapi di bawah nama hukum, aku dan kak Lodra adalah kakak adik yang sah. Tidak mungkin jika kak Lodra memiliki perasaan padaku." Ujar Ryn menjelaskan.
" Sejak lima tahun yang lalu dia datang sebagai kakak angkatku, dia hanya memperlakukan aku seperti nona nya, dia baru baru ini berani mengutarakan bahwa dirinya adalah kakakku, sejak papa meninggal. Terbukti bahwa kak Lodra tidak memiliki rasa seperti itu padaku." Ujar Ryn lagi.
" Dan ya, sejak aku kecil.. aku selalu mengenakan pakaian nyaman seperti ini, karena aku tidak suka panas. Jadi.. jangan khawatir berlebihan oke, tuan pencemburu?" Ujar Ryn.
Fokus Lars saat ini bukan pada kata kata Ryn, tapi dengan bibir Ryn yang bergerak gerak lucu. Meski dia mendengarkan, tetapi matanya seperti terkunci di satu titik, di bibir Ryn.
" Kalau begitu, cium aku." Ujar Lars tiba tiba.
" Ish, mau mu.." Ujar Ryn manyun.
" Kalau begitu biar aku yang menciumu saja." Ujar Lars dan langsung menyerang Ryn dengan ciuman.
Ryn tertawa begitu lepas karena Lars berusaha sangat keras untuk mendapatkan ciuman darinya, hingga akhirnya Ryn kalah dan berakhir dengan ciuman manis.
" I love you so bad, baby." Ujar Lars, dan kembali menghujani Ryn dengan kecupan.
TO BE CONTINUED..