A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 39.



Ryn berjalan keluar dari bilik toilet dan berjalan menghampiri ketiga wanita yang sedang berdiri ketakutan itu. Setiap langkah Ryn membuat ketiga wanita itu kian merinding karena tatapan Ryn begitu dingin dan datar.


" PLAK!! PLAK!! PLAK!! " Suara tamparan menggema begitu nyaring di dalam toilet itu.


Tiga wanita itu sampai kesakitan dsn memegangi pipi mereka.


" Apakah lucu bagi kalian membicarakan orang yang sudah meninggal seperti itu?" Ujar Ryn dengan wajah datarnya.


" Apakah papaku pernah menyinggung kalian atau menyulitkan hidup kalian selama dia hidup?" Ujar Ryn lagi.


Ketiga perempuan itu hanya bisa diam ketakutan, entah mengapa mereka merasa terintimidasi dengan Ryn yang hanya berdiri seorang diri.


" Jawab saat orang bertanya! " Ujar Ryn sedikit membentak.


" Ma- maaf nona Ryn, kami tidak bermaksud untuk menjelekan tuan Paul, kami hanya.. hanya.." Ujar perempuan kedua dengan gugup.


" Hanya apa?! " Tanya Ryn, dan ketiga wanita itu langsung kembali diam.


" Kalian iri, hingga menguar kabar buruk seseorang yang bahkan sudah meninggal? Nona.. jika kalian iri denganku, maka bicarakan saja aku, jangan orang tuaku." Ujar Ryn.


" Aku bisa diam jika kalian hanya membicarakan aku, tapi aku tidak akan diam jika ada yang membicarakan orangtuaku dan menguar kabar bohong di dalamnya. Kalian bertiga bisa aku bawa ke meja hijau untuk mempertanggung jawabkan ucapan kalian." Ujar Ryn dan ketiganya langsung panik.


" Nona, jangan! Kami minta maaf, kami hanya tidak sengaja mendapat kabar itu saja. Tolong jangan bawa urusan ini ke meja hijau." Ujar perempuan pertama.


" Kita liat nanti." Ujar Ryn dengan wajah datarnya dan berbalik pergi.


" Nona Ryn.." Panggil wanita ketiga tetapi Ryn berjalan pergi begitu saja.


Ketiga wanita itu hendak mengejar Ryn tetapi lengkah mereka harus terhenti ketika melihat Lars, mereka pun menyembunyikan diri mereka.


" Gawat ada CEO." Gumam perempuan kedua.


" Matilah, nona Ryn pasti akan mengadu pada CEO, kita pasti akan di keluarkan dari perusahaan ini." Ujar wanita pertama.


Bisikan itu, bisa di dengar oleh Ryn, Ryn memiliki indra pendengaran yang tajam karena selalu di latih oleh Paul bela diri.


Ryn berjalan keluar dan melihat Lars yang masih setia berdiri di ujung lorong. Lars melihat gelagat aneh dari Ryn, matanya merah seperti menahan tangis, dan tangannya gemetar.


" Sayang kamu tidak apa apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Lars khawatir.


Ryn tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Lars, tiga wanita itu mungkin akan langsung kehilangan pekerjaannya. Dan jika melihat sifat Lars, Lars mungkin akan memblack list ketiga wanita itu dari semua perusahaan yang berada di bawah naungannya.


" Aku tidak apa apa, hanya sakit perut." Ujar Ryn dan menyengir.


" Astaga, ayo ke ruanganku." Ujar Lars panik dan langsung menggendong Ryn.


' Bagaimana mungkin aku sekejam itu membuat mereka kehilangan pekerjaan. Papaku tidak pernah mengajarkan aku untuk menjadi kejam.' Batin Ryn.


Meski Ryn sakit hati dan marah dengan ketiga wanita tadi, tetapi dia masih memiliki nurani.


Satu perusahaan itu langsung heboh melihat begitu paniknya Lars yang berjalan dengan langkah lebarnya, hingga Lars berpapasan dengan Roco yang baru selesai memimpin rapat.


" Panggil dokter." Ujar Lars.


" Baik tuan muda." Sahut Roco ikut panik.


Lars merebahkan Ryn dengan sangat pelan di ranjang, lalu mengusap kepala Ryn.


" Apakah sangat sakit? " Tanya Lars dengan khawatir.


' Dia begitu cemas mendengar aku sakit, tapi aku malah membohonginya.' Batin Ryn merasa bersalah.


" Tidak, aku butuh pelukan." Ujar Ryn tiba tiba manja.


'Aku akan meminta maaf diam diam dengan memeluknya, sama seperti saat aku meminta maaf pada papa.' Batin Ryn.


Lars tentu mengernyit bingung, Ryn tidak pernah sekalipun berinisiatif minta di peluk, tapi hari ini..


" Kamu mau di peluk?? " Tanya Lars, dan Ryn mengangguk.


Meski heran, Lars tetap menuruti keinginan kekasihnya itu. Ia pun merebahkan dirinya di sisi ranjang, lalu memeluk Ryn.


' Maaf..' Batin Ryn, lalu memejamkan matanya.


' Aku yakin Ryn menyembunyikan sesuatu, dia tiba tiba bertingkah manja begini.' Batin Lars.


Lars melerai pelukannya, lalu bangun dari posisinya. Dengan perlahan dia menyelimuti Ryn, lalu mengecup keningnya, setelah itu dia keluar dari ruang pribadinya.


"Tuan muda dok.."


" Shhh!!" Lars memotong ucapan Roco, Roco langsung merapatkan bibirnya dan mengangguk.


" Ryn sedang tidur." Ujar Lars.


" Lalu dokternya??" Tanya Roco.


" Suruh pulang saja." Ujar Lars, dan Roco menjatuhkan dagunya menganga.


' Susah payah aku memaksa dokter kandungan untuk datang saat dia sedang memeriksa pasien, tapi sampai sini langsung di usir pulang.. tuan muda memanglah tuan muda.' Batin Roco


" Dan, ya.. cari tahu apa yang terjadi di dalam bilik toilet di lantai dasar. Mata Ryn memerah setelah keluar dari sana dan langsung mengatakan sakit perut. Jika ada yang berani mengganggunya, langsung pecat saja." Ujar Lars tak tanggung tanggung.


" Baik tuan muda." Ujar Roco, dan langsung keluar dari ruangan Lars.


' Beraninya karyawan di sini mengganggu nona Ryn, mereka cari mati.' Batin Roco.


Waktu berlalu...


Ryn bangun dari tidurnya dan mendapati tangan besar Lars yang memeluknya dari belakang. Ryn pun memutar tubuhnya dan menghadap Lars yang kini juga membuka matanya karena pergerakan Ryn.


" Kamu sudah bangun? Apakah perutmu masih sakit?" Tanya Lars.


" Tidak.. aku sudah baik baik saja." Ujar Ryn dan tersenyum manis.


Lars mengurai rambut Ryn, kemudian mencium kening Ryn. Ryn yang mulai terbiasa dengan kasih sayang Lars itu pun memejamkan matanya.


" Jika ada yang mengganggumu, katakan saja kepadaku. Tidak perlu kamu menyakiti tanganmu untuk menampar mereka." Ujar Lars tiba tiba.


Ya, Lars sudah tahu kebenaran kejadian di toilet. Dengan mudah, Roco mendapatkan sumbernya dan langsung mengintrogasi tiga karyawan wanita yang membicarakan Paul di toilet.


" Hm?? Apa maksudmu?" Tanya Ryn.


" Di dalam toilet tadi, kamu menampar tiga karyawan wanita yang berani mengatai papamu, bukan? Kamu tidak perlu menyakiti tanganmu untuk menampar mereka, katakan saja kepadaku, aku akan memberikan hukuman lebih untuk mereka." Ujar Lars.


" Tidak perlu, kamu akan membuat mereka kehilangan pekerjaan."Ujar Ryn.


" Itu karena mereka sudah menyinggungmu, menyinggungmu sama saja menyinggungku, sayang. " Ujar Lars.


" Kamu tidak memecat mereka, bukan?" Tanya Ryn.


" Aku tidak melakukannya, karena kamu melindunginya." Ujar Lars, dan Ryn tersenyum lega.


" Bagaimana kamu tahu?" Ujar Lars.


" Dengan kamu tidak mengatakan apa yang terjadi, berarti ada dua kemungkinan. Antara kamu takut atau sedang melindungi mereka. Tapi mustahil jika kekasihku ini takut pada seseorang, apalagi kamu juga sudah menampar mereka. Jadi berarti kemungkinan kedua. " Ujar Lars.


" Terimakasih.." Ujar Ryn.


" kamu memang malaikatku." Gumam Lars.


" Ayo, bersihkan dirimu, kamu bioang kamu ingin menemui pria bernama Kriss itu, bukan? Aku sudah mengundangnya, dan kita akan bertemu di restoran." Ujar Lars, Ryn tersenyum lalu mengangguk.


Ponsel Lars berdering, Lars meraih ponselnya di nakas kemudian melihat nama Roco yang terpampang di sana.


" Halo." Ujar Lars.


" Tuan muda, tuan besar mencari cari anda." Ujar suara Roco.


" Katakan pada dokternya, malam ini juga aku akan bawa kakek pulang." Ujar Lars.


" Baik." Ujar Roco, dan panggilan di akhiri.


' Aku lupa, kakek pasti kesepian di rumah sakit.' Batin Lars sembari memukul pelan keningnya dengan ponsel.


TO BE CONTINUED..