A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EP. 22. Perkara luka di telapak kaki.



Lars kembali menghapus air mata Ryn sambil menggelangkan kepalanya. Rasanya ia ingin membalik seisi dunia ini asalkan dia tidak melihat Ryn menangis, asalkan dia bisa melihat kembali senyum cerah Ryn seperti di awal mereka bertemu. Senyum manis yang membuat jantung seorang Lars berdebar begitu kuatnya, karena terkesima.


" Kamu tahu? Aku ikut sakit melihat kamu begini." Ujar Lars sambil terus mencoba menenangkan Ryn.


Dan ya.. Ryn adalah satu satunya gadis yang mendapatkan kehormatan bisa di ratukan oleh Lars. Lars bahkan berjongkok di hadapan Ryn untuk membersihkan telapak kaki Ryn langsung dengan tangan nya.


Itu menunjukan bahwa Lars, bersungguh sungguh pada Ryn, dan dia telah menaruh seluruh hatinya pada gadis yang saat ini sedang rapuh di hadapannya.


" Maaf.." Gumam Ryn sela sela tangis nya.


" Tenangkan dirimu, lalu kita bicarakan baik baik, bagaimana?" Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.


" Ini sudah sore, apa kamu mau kembali ke rumah sakit?" Tanya Lars, dan Ryn langsung menggeleng kuat.


" Aku tidak mau bertemu kakak." Ujar Ryn.


" Tapi kakakmu melakukan itu karena dia menyayangimu." Ujar Lars.


" Tapi dia menyembunyikan kebenaran nya. Aku sudah curiga dan bahkan bertanya langsung padanya tentang jati diriku, tapi dia tidak memberitahuku, dia melanjutkan kebohongannya." Ujar Ryn.


" Dia hanya tidak mau kamu terluka.'' Ujar Lars.


'' Bukan aku membela kakakmu, tapi aku menilai dari segi kebaikan untuk dirimu. Jika kamu bisa hidup bahagia tanpa tahu masalalumu, mengapa tidak?'' Ujar Lars.


'' Tapi aku sudah mulai mengingat nya, potongan demi potongan ingatan yang muncul begitu saja di kepalaku, buku diary papa.. aku sudah mencurigai identitasku sendiri. Itu sebabnya aku bertanya pada kak Lodra tentang siapa diriku, tapi dia tidak mengatakan nya dengan jujur.'' Ujar Ryn kesal.


'' Baiklah, untuk sementara kamu tinggal dulu di rumahku, bagaimana?'' Ujar Lars.


'' Aku bisa tinggal di hotel.'' Ujar Ryn.


'' Itu terlalu beresiko, orang orang yang mengejar kamu bisa menangkapmu dengan mudah, patuh ya.. '' Ujar Lars.


Ryn berpikir keras, memang benar akan lebih berbahaya jika dia tinggal di luar sendirian. Sementara dengan Lars, dia bisa aman dan tidak perlu khawatir akan orang prang yang mengejar dirinya.


'' Kenapa aku seperti gelandangan yang tidak memiliki rumah.'' Gumam Ryn, dan Lars langsung terkekeh karenanya.


'' Kamu bukan gelandangan, kamu adalah gadisku yang hebat dan pemberani yang sedang berjuang mencari jati dirinya.'' Ujar Lars.


'' Terimakasih, tapi aku bukan gadismu.'' Ujar Ryn..


'' Tidak masalah, sepertinya aku harus sedikit berjuang lebih keras lagi untuk membuka hatimu. Tapi tolong pastikan, jangan buka hatimu untuk pria lain.'' Ujar Lars.


'' Kenapa? '' Ujar Ryn.


'' Karena aku tidak akan segan segan untuk membalik seisi dunia ini, dan membawamu untuk tetap tinggal bersamaku.'' Ujar Lars dengan tatapan sungguh sungguh.


Ryn sampai diam seribu bahasa, dia terlalu terkesima dengan pria yang saat ini berjongkok di hadapan nya itu. Ryn terkejut ketika tiba tiba Lars mengangkat dirinya dan menggendongnya tanpa terlihat sedikitpun keberatan. Ryn yang terkejut pun refleks langsung mengalungkan tangan nya di leherĀ  Lars.


'' Lars.. aku bisa jalan sendiri, turunkan aku. '' Ujar Ryn.


'' Tidak bisa, kamu tidak memiliki alas kaki.'' Ujar Lars dengan tatapan lurus kedepan sambil berjalan.


'' Kalau begitu belikan saja aku sandal, bukankah itu tadi toko swalayan? '' Ujar Ryn.


'' Tidak bisa itu tidak higenis, dan lagi. kakimu akan semakin infeksi jika di buat untuk berjalan, jadi sementara ini kamu tidak boleh jalan dengan kakimu.'' Ujar Lars.


'' Aih, tapi..'' Ujar Ryn protes.. Lars menghentikan langkah nya dan langsung menatap Ryn.


'' Patuh atau aku cium.'' Ujar Lars, dan seketika Ryn langsung menutup mulutnya. Lars terkekeh melihat bagaimana Ryn yang terlihat sangat menggemaskan itu.


'' Masih mau protes?'' Tanya Lars, dan Ryn langsung menggeleng kuat.


Lars tersenyum lalu kembali melanjutkan langkah nya, hingga keduanya sampai di loby rumah sakit dan sudah ada Roco di sana.


'' Pukang ke rumah.'' Ujar Lars.


'' Baik tuan muda.'' Ujar Roco.


Roco membantu Lars membuka pintu mobil dan Lars masuk kedalam tanpa menurunkan Ryn dari gendongannya sama sekali. Ryn pun sama sekali tidak protes atau memberontak, dia masih mengingat jelas ucapan Lars sebelumnya.


' Tumben sekali nona Ryn begitu patuh dengan tuan muda.. ' Batin Roco heran sendiri.


'' Beritahu tuan Lodra, nona Ryn tinggal di kediamanku untuk sementara.'' Ujar Lars.


'' Ya!??'' Ucap Roco sedikit terkejut, tapi kemudian ia menutup mulutnya.


' Astaga.. jantungku hampir lompat dari tempatnya. ' Batin Roco.


Akhirnya mobil mewah milik Lars itu pun melaju pergi dari loby rumah sakit. Dan sepanjang jalan itu, Ryn masih duduk dengan patuh di atas pangkuan Lars.


" Emm.. Itu.. Bisakah aku duduk di kursi saja? Aku berat, nanti kamu keram." Ujar Ryn mulai mencari alasan.


Karena sesungguhnya dia tidak pernah duduk di atas pangkuan pria, apalagi itu di dalam mobil dan di saksikan oleh dua orang lain, yakni supir Lars dan Roco.


" Tutup tirainya." Ujar Lars.


" Baik tuan." Ujar Roco dan langsung menutup tirai pembatas antara kursi depan dengan kursi belakang.


" Sudah tidak ada yang melihat, jadi duduk saja dengan nyaman. Jika kamu duduk di kursi, kakimu akan menyentuh lantai mobil, dan itu kotor." Ujar Lars.


" Aku bisa mengangkat kakiku agar tidak menyentuh lantai." Ujar Ryn.


" Tidak bisa, sebentar lagi kita sampai, jadi kamu tidak perlu turun dari pangkuanku." Ujar Lars, kukuh tidak mau menurunkan Ryn dari pangkuan nya.


Ryn sampai tidak bisa berkata apa apa lagi, sebegitunya Lars tidak mengijinkan dirinya turun dari pangkuan Lars. Padahal dia sangat merasa tidak nyaman, karena posisi mereka bisa di bilang terlalu intim.


" Patuh ya, aku hanya tidak mau kakimu infeksi. " Ujar Lars, dan Ryn hanya diam.


Hingga akhirnya mereka benar benar sampai di kaediaman Lars. Roco membuka pintu mobil, dan Lars keluar dengan Ryn yang berada di gendongan nya.


Semua pelayan kembali berbinar tatkala melihat Lars yang memperlakukan Ryn dengan sangat manis. Sementara Ryn sendiri, dia merasa sangat malu sampai menyembunyikan wajahnya di dada Lars.


' Dia menggemaskan sekali ketika malu.' Batin Lars.


" Siapkan makanan untuk nona dan antar ke kamar saya." Ujar Lars pada kepala pelayan.


" Baik tuan muda." Ujar kepala pelayan itu.


Lars tidak menghentikan langkahnya sama sekali, dia lurus dan langsung masuk ke dalam kamarnya, lalu menurunkan Ryn di ranjang.


" Aku mau mandi, bau darah masih menyengat di tubuhku." Ujar Ryn.


" Tapi kakimu belum boleh terkena air, lho." Ujar Lars.


" Ini hanya luka kecil, aku sungguh tidak apa apa." Ujar Ryn.


" Oke, aku panggil pelayan untuk membantumu mandi." Ujar Lars.


" Eh! Jangan.. Aku selalu mandi sendiri, tidak mau orang lain melihat.." Ujar Ryn lalu menutup mulutnya sendiri.


" Ekhem! Tidak mau orang lain melihat apa?"Ucap Lars menggoda.


" Lars!! " Teriak Ryn malu, dan Lars terkekeh.


" Ya sudah, aku antar kamu ke kamar mandi, kamu mandi dan aku menunggu di luar. " Ujar Lars.


" Tap.."


" Iya, atau aku panggil pelayan." Ujar Lars dengan senyum jail nya.


" Pemaksaan." Ujar Ryn, kesal.


" Hahahahaha." Tawa Lars pecah ketika melihat wajah kesal Ryn.


" Ayo aku gendong." Ujar Lars, dan akhirnya Ryn mengangkat kedua tangan nya.


Lars menggendong Ryn dan membawanya ke kamar mandi, Lars meletakan Ryn di bath up.


" Jika sudah selesai teriak saja." Ujar Lars.


" Eh, tapi aku tidak punya baju ganti." Ujar Ryn.


" Aku akan suruh Roco belikan yang baru, sementara kamu mandi." Ujar Lars, dan ryn mengangguk.


Akhirnya Lars pun keluar dan menutup pintu kamar mandi dari luar. Ryn ketar ketir sendiri karena pintu tidak terkunci. Bukannya dia berpikiran negatif terhadap Lars tapi dia tidak mau jika orang lain melihat dirinya tanpa busana.


' Ya Tuhan, bagaimana bisa kau menciptakan makhluk seperti dirinya. Apakah kau menciptakan dia untuk membuat hatiku yang sekeras batu ini mencair?' Batin Lars di depan pintu kamar mandi.


TO BE CONTINUED...