
Ke esokan harinya, Ryn sudah bangun dari tidurnya dan sedikit terkejut melihat sekelilingnya saat ini. Di sekitarnya terdapat sekitar lima orang pelayan yang sedang berdiri menghadap dirinya dengan senyum ramah nya.
'' Selamat pagi nona Ryn.'' Ujar para pelayan itu serempak.
'' Pa- pagi.. Apa ada sesuatu terjadi? '' Tanya Ryn dengan tatapan bingung.
'' Tidak ada nona, hanya saja tuan muda memberi kami perintah untuk melayani nona Ryn, dan tuan muda juga berpesan agar nona Ryn jangan terlalu lelah. '' Ujar salah satu pelayan.
'' Nona Ryn, mari kami bantu untuk membersihkan diri. '' Ujar pelayan yang lain.
'' Terimakasih, tapi kalian tidak perlu berbuat demikian."Ujar Ryn merasa tidak enak.
" Tidak nona, itu perintah tuan muda dan kami tidak bisa menolak atau melanggar nya. Atau kami akan kehilangan pekerjaan kami." Ujar Salah seorang pelayan.
Ryn menghela nafasnya, bukan nya dia tidak pernah di perlakulan sedemikian rupa oleh pelayan di rumah nya sendiri, dia dulu juga selalu dibperlakukan sama dan itu perintah Paul. Jika Ryn menolak, maka pelayan di rumah nya akan di ganti dengan yang baru.
Akhirnya dia ikut saja perkintah Paul, walau sesekali dia melanggar nya diam diam. Dan kini.. Ada lagi satu laki laki yang serupa seperti Paul, yang di maksud adalah perafuran konyolnya.
" Baiklah, untuk hal lain kslian bisa membantuku, tapi tidak dengan mandi. Mandi adalah privasi bagiku, jadi kalian tunggu saja di luar." Ujar Ryn akhirnya.
" Tapi nona.."
" Setuju atau aku yidak akan beranjak dari ranjang, dan kalian akan di marahi Lars." Ujar Ryn, dan semua pelayan itu diam.
Ryn menatap lucu wajah para pelayan Lars itu, mereka seolah sedang menimbang nimbang. Mungkin di pikiran pelayan saat ini sedang kebingungan antara menuruti Ryn, atau menjalankan perintah Lars.
' Aduh, bagaimana ini.. Melanggar perintah tuan muda, kita akan kehilangan pekerjaan. Tapi tuan muda juga mengatakan bahwa apa yang nona Ryn perintahkan juga adalah perintah tuan muda juga.. Jadi kami harus mengikuti perintah siapa?' Batin pelayan itu.
" Bagaimana?" ujar Ryn.
Para pelayan saling pandang untuk meminta pendapat, lalu akhirnya mereka sepakat mengangguk bersama.
" Baik nona Ryn." Ujar pelayan, dan Ryn tersenyum puas.
" Kalau begitu kalian keluar, aku akan mandi." Ujar Ryn.
" Kami tunggu di sini, nona. Jika anda butuh bantuan nanti kami bisa lebih cepat membantu." Ujar pelayan.
Ryn menimbang nimbang dan akhirnya mengangguk, dari pada lama berdebat.
Ryn pun bangun dari ranjang, dan berjalan sedikit pincang karena luka di telapak kakinya masih basah.
' S*alan.. Kenapa lukanya semakin terasa sakit saja.' Batin Ryn.
Dengan tertatih tatih, akhirnya dia sampai di kamar mandi dan membersihkan diri. Sepanjang itu juga lima pelayan tadi setia menunggu Ryn di depan kamar mandi hingga Ryn selesai.
Ryn keluar dan melihat ke lima pelayan yang masih setia berdiri di kamar itu.
" Nona, pakaian nona ada di ruang ganti, mari saya antar." Ujar pelayan.
Ryn mengangguk, dan berjalan mengikuti pelayan dari belakang. Ryn masuk ke sebiah ruangan, walk in closet yang tersedia di kamar itu, yang sebenarnya menembus ke kamar mandi.
Hanya saja Ryn tidak begitu memperhatikan ada pintu lain di dalam kamar mandi itu yang di desain menyerupai lemari hias.
" Nona, ini adalah pakaian nona, yang di sana adalah sepatu nona, dan yang di sini adalah tas dan aksesoris lain. Tuan muda mengatakan bahwa jika ada yang kurang, nona bisa katakan saja, kami akan menyiapkan sesuai permintaan nona." Ujar pelayan yang menemani Ryn.
Ryn diam, dia tidak bisa berkata apa apa melihat apa yang ada di hadpan nya saat ini.
' Apa dia ( Lars ) mengoleksi pakaian wanita?' Batin Ryn.
" Nona.. " Panggil pelayan.
" Pakaian milik siapa ini? Apakah ini milik kekasih Lars?" Ujar Ryn, dan pelayan itu tersenyum.
" Ini milik nona, kami semua baru memasukan semua ini padi tadi." Ujar pelayan, dan Ryn langsung menjatuhkan dagu nya terkejut.
" Aku tidak dengar." Ujar Ryn.
' Apakah aku sebegitu lelapnya tidur? Sampai aku tidak dengar orang lain masuk.' Batin Ryn sambil menggaruk kepalanya bingung.
Akhirnya Ryn berganti pakaian, dan akhirnya dia keluar dengan pakaian casual yang tersedia. Dinsana memang hanya ada pakaian seukuran Ryn, dan sesuai selera Ryn.
" Perasaan aku tidak akan tinggal selamamya di sini, kenapa dia memyiapkan seakan aku akan tinggal lama di sini." Gumam Ryn.
Akhirnya Ryn keluar dari walk in closetnya, dan masih ada lima pelayan yang setia menunggu dirinya.
" Mari nona, kita sarapan." Ujar pelayan, dan Ryn mengangguk.
Ryn keluar, dan duduk di meja makan. Meja sebesar itu, dia hanya duduk sendirian. Ryn baru menyadari satu hal.. Di mana pemilik rumah itu?
" Dimana Lars?" Tanya Ryn.
" Tuan muda sudah berangkat ke perusahaan, nona. Tapi tuan muda akan mengusahakan untuk makan siang di rumah bersama nona nanti. " Ujar pelayan, dan Ryn mengangguk angguk.
' Benar juga, dia orang yang sibuk.' Batin Ryn, lalu Ryn memakan sarapan nya, hingga selesai.
" Nona, ini ponsel nona. Tuan muda mengatakan jika nona merindukan tuan muda, nona bisa menghubungi tuan muda dengan ponsel ini." Ujar Pelayan, dan hal itu berhasil membuat Ryn hampir tersedak liurnya sendiri.
' Astaga percaya diri sekali dia bicara demikian pada pelayan nya, Lars yang narsis.' Batin Ryn.
" Ya, terimakasih, kamu bisa simpan itu. Aku akan bermain dengan Thunder dan Lio." Ujar Ryn, tidak sama sekali menerima ponsel itu.
" Baik nona." Ujar pelayan itu.
Ryn pin pergi keluar, sekan itu rumah nya sendiri, dia sudah tidak asing dengan jalan menuju halaman belakang di mana Thunder dan Lio berada.
Sementara itu di sebuah ruangan di perusahaan besar, saat ini seseorang sedang berjalan mondar mandir sambil mengamati layar ponselnya.
" Kepala pelayan bilang dia ( Ryn ) sudah bangun, tapi kenapa tidak langsung menghubungiku? Apakah pelayan rumah lupa memberi ponsel pada Ryn?" Gumam Lars.
Di sisi itu, Roco sendiri kini ikut uring uringan dengan setumpuk dokumen yang menggunung di atas meja.
' Astaga, lebih baik tuan muda tidak jatuh cinta. Pekerjaan nya terbengkalai, aku sudah semalaman begadang, dan kini harus kerja ekstra. Nona Ryn.. tolonglah aku.' Batin Roco.
" Coba kau hubungi pelayan rumah, tanyakan apa yang sedang Ryn lakukan." Ujar Lars pada Roco.
" Baik tuan muda, sembari menunggu apakah tuan muda bersedia menandatangani beberapa berkas terlebih dahulu?" Ujar Roco.
" Siapa bos nya di sini?" Ujar Lars.
" Tentu saja tuan muda." Ujar Roco.
" Beraninya memerintah bosmu." Ujar Lars dengan tatapan datar.
" Maaf tuan muda, kalau begitu saya hubungi kepala pelayan rumah dulu." Ujar Roco akhirnya menciut.
' Aku hanya bisa menangis dalam hati saja, semoga nona Ryn mau mengangkat panggilan.' Batin Roco.
Panggilan pun terhubung, tetapi Roco kemudian mengakhiri panggilan itu setelah mendapatkan jawaban nya dari pelayan rumah.
" Tuan muda, nona Ryn sedang bermain bersama Thunder dan Lio." Ujar Roco.
" Bisa bisanya dia mengabaikan aku dan bermain dengan binatang itu. Menyesal aku menampung mereka." Ujar Lars dengan tatapan cemburu.
' Rasakan itu.' Batin Roco.
" Ck! Berikan semua berkasnya, aku akan kelarkan secepat mungkin dan pulang." Ujar Lars, dan Roco tersenyum cerah mendengarnya.
" Baik tuan muda." Ujar Roco antusias.
' Heng! Aku tak lebih menarik dari singa dan harimau.' Batin Lars.
TO BE CONTINUED..