A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 62. Rencana Lars.



Dua harimau itu masih terlihat saling mendekati, mungkin karena mereka lawan jenis, jadi mereka tidak saling menyerang.


" Mereka bisa berteman perlahan, biarkan saja mereka seperti ini dulu." Ujar Ryn.


" Ya nona." Ujar pawang.


" Nona, bagaimana dengan Lio? Dia seekor singa, jika Lio masuk, mungkin Jasmine akan terganggu." Ujar Pawang.


" Taruh saja Lio di sekitaran mereka, agar mereka bertiga bisa berinteraksi pelan pelan, tetapi jangan di campur lebih dulu." Ujar Ryn, dan pawang mengangguk.


Ryn pun kembali masuk ke dalam rumah, dia melihat lihat ponselnya tapi belum ada kabar dari Lars. Alhasil Ryn pun merebahkan dirinya di sofa hingga tertidur.


Waktu berlalu.


Lars saat ini sedang berada di sebuah kamp pelatihan. Dia tidak benar benar terbang ke luar negeri, tetapi dia masih di dalam negeri, namun di luar Jakarta.


" Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan bukan?" Ujar Lars.


" Ya, tuan." Ujar para anak buahnya.


Lars pun berjalan pergi, lalu dia masuk ke sebuah ruangan dan duduk di meja kebesaran nya. Lars mengeluarkan ponselnya, dan memandangi foto Ryn.


" Maafkan aku, sayang.." Gumamnya.


Tak lama muncul Roco dari luar dengan membawa beberapa map. Entah mengapa Roco menggunakan masker di wajahnya, dan pakaian Roco juga tidak formal seperti biasanya.


" Tuan, orang nya sudah di luar." Ujar Roco sembari menyodorkan map yang di bawanya kepada Lars.


Lars membuka map itu dan mengeceknya, di dalamnya terlihat hanya selembar cek dengan nominal yang sangat tinggi.


" Hm, suruh dia masuk." Ujar Lars, dan Roco mengangguk.


Roco pun keluar, dan saat itu Lars menarik laci di hadapannya lalu mengambil sebuah topeng. Lars menggunakan topeng itu, dan menunggu orang yang di maksudkan itu masuk.


" Selamat sore, tuan Black." Ujar pria itu memanggil Lars dengan sebutan Black.


Lars mengangguk, ia menatap pria paruh baya yang berada di hadapannya itu dengan tatapan tidak bisa di artikan.


" Saya David, saya datang jauh jauh dari luar negeri karena saya mendengar bahwa anda adalah pencipta senjata yang bagus. Oleh karena itu saya datang kemari untuk membelinya." Ujar pria itu yang rupanya adalah David.


Lars menahan emosi di dalam dirinya, rasanya dia ingin langsung membunuh David saat itu juga, tetapi dia tidak mau merusak rencana yang sudah dia buat matang matang semalam.


" Anda sudah melihat barangnya bukan?" Ujar Lars.


" Ya, dan barangnya memuaskan. Itu sesuai dengan yang saya cari, terimakasih untuk mau menemui saya, anda pasti orang yang sibuk." Ujar David.


" Saya akan kirimkan barangnya sesuai yang anda pesan ke alamat yang anda beri, sampai ketemu di sana." Ujar Lars.


" Tuan Black, saya masih ada hal yang ingin minta bantuan kepada anda." Ujar David.


" Katakan." Ujar Lars.


" Menurut yang saya dengar, anda bisa mencari orang dengan teknologi canggih, kebetulan saya sedang mencari seseorang, lebih tepatnya mungkin dia seorang gadis. Saya tidak tahu seperti apa rupanya sekarang, tapi menurut kabar yang beredar anda bisa mensugestinya dari foto masa kecilnya." Ujar David.


" Ini adalah fotonya, anak kecil yang ada di gendongan sang ayah yang sedang saya cari." Ujar David lalu memberikan foto kepada Lars.


Lars langsung mencengkeram erat jari jarinya, rahangnya juga mengeras. Lars tahu siapa yang di cari oleh David, itu adalah Ryn.


' Beraninya dia..' Batin Lars.


" Siapa dia? kalau saya boleh tahu." Ujar Lars.


" Hanya putri seorang teman yang hilang." Ujar David, berbohong.


" Akan saya kabari jika saya sudah mendapat hasilnya." Ujar Lars, sambil menahan amarah.


" Kalau begitu saya permisi, senang bekerja sama dengan anda tuan Black." Ujar David, dan Lars mengangguk.


Setelah David pergi, Lars membuka topengnya lalu dia melemparnya.


" Putri seorang teman, dia bahkan bisa berkata seperti itu padahal dia sudah membunuh temannya sendiri." Gumam Lars marah.


Roco terlihat masuk ke dalam ruangan lalu mengambil topeng yang Lars kenakan.


" Tuan, anda yakin ini akan berhasil? Saya lihat anak buah Davon ikut serta mengiringnya tadi." Ujar Roco.


" Sejak kapan kau menjadi bernyali Ciut, Roco?" Ujar Lars.


" Maaf tuan." Ujar Roco.


" Lebih bagus jika keduanya mati bersamaan. Tapi usahakan jangan membunuhnya, karena yang berhak membunuh dia adalah Ryn." Ujar Lars.


" Dia sudah membawa anak buahnya untuk masuk kedalam kediaman nona Ryn dan memerintahkan mereka untuk berjaga disana." Ujar Roco.


" Kirim para pelayan ke kediamannya, yang terlatih." Ujar Lars.


" Baik tuan muda." Ujar Roco.


" Persiapkan pengiriman." Ujar Lars, dan Roco mengangguk.


Tak terasa, malam pun tiba. Lars sudah siap dengan pakaian serba hitamnya, dia juga memakai topengnya untuk menutupi sebagian wajahnya.


" Tuan, semuanya sudah siap." Ujar Lodra.


" Ayo berangkat." Ujar Lars.


Mereka semua pun masuk kedalam mobil masing masing. Ada sebuah truk besar yang mengikuti mereka dari belakang, truk itu berisikan senjata api yang David pesan.


" Drrt.. drtt.." Ponsel Roco bergetar, itu adalah panggilan dari Ryn.


" Tuan, anda tidak menghubungi nona Ryn? Dia pasti khawatir dengan anda." Ujar Roco.


" Nanti saja, setelah ini selesai. Jika dia mencariku lewat dirimu, katakan saja aku sedang sangat sibuk." Ujar Lars.


" Baik tuan muda. " Ujar Roco.


Roco hanya memandangi layarnya hingga layar itu mati, sejujurnya sudah ada puluhan panggilan terlewat dan puluhan pesan yang masuk juga. Akhirnya Roco menuliskan sebuah pesan singkat, dia mengatakan pada Ryn bahwa Lars baik baik saja dan mereka sudah sampai di tujuan.


' Jika aku mendengar suaranya, hatiku bisa kacau, lebih baik begini dulu saja. Maafkan aku sayang, sejujurnya aku sangat merindukanmu.' Batin Lars, dan memandangi layar ponselnya yang menampilkan foto Ryn.


" Tuan, kita sudah sampai di dermaga." Ujar Roco, setelah satu jam perjalanan.


" Ayo." Ujar Lars dan langsung turun dari mobilnya.


" Halo tuan Black, senang bertemu lagi denganmu." Ujar David, namun Lars hanya diam.


Tatapan Lars bertemu dengan putra David, yakni Davon. Davon mengernyitkan alisnya ketika melihat manik hijau zamrud milik Lars.


' Kenapa aku merasa pernah melihat tatapan ini, apa aku pernah bertemu dengannya?' Batin Davon.


" Tuan Black, ini adalah putra saya. Jangan khawatir, saya tidak akan diam diam menyerang, kami tahu Black fire bukan kelompok sembarangan " Ujar David.


" Bagus jika tahu diri." Ujar Lars.


' Ck, sombong! Setelah ini, aku pasti menguasai dirimu.' Batin David.


" Turunkan barangnya." Ujar Lars dan Roco mengangguk.


Roco kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan senjata api yang berjumlah banyak itu, dan menaruhnya di hadapan David.


" Senang bekerja sama dengan anda tuan Black." Ujar David, namun Lars hanya diam.


" Apa karena kau mafia besar di sini jadi kau bersikap semena mena pada kami? Kau tidak tahu siapa kami, kah?" Ujar Davon tersulut emosi.


Karena Davon meninggikan suaranya, anak buah Lars langsung sigap dengan semua senjata api di tangan mereka dan mengarahkan nya kepada David dan Davon serta kelompoknya.


" Davon! Apa yang kau katakan, jaga bicaramu." Ujar David.


" Emosi yang tidak terkontrol bisa membuatmu bernyawa pendek." Ujar Lars menatap Davon.


" Minta maaf sekarang!" Ujar David.


" Ck! maaf." Ujar Davon.


Lars mengangkat tangannya pada anak buahnya, dan mereka menurunkan senjata mereka.


" Terimakasih tuan Black, kalau begitu kami permisi." Ujar David, dan Lars mengangguk sembari tersenyum.


David dan semua anak buahnya pergi dari dermaga menggunakan speed boat berjumlah lima, dengan satu speedboad besar yang di naiki David dan Davon.


" Apakah kalian berhasil menukarnya?" Tanya Lars.


" Ya, tuan.. kami meringkus beberapa anak buah David dan anggota kita sudah menggantikannya." Ujar anak buah Lars, dan Lars tersenyum iblis.


" Ayo kita pergi." Ujar Lars, semua orang pun pergi dari sana.


' Cara menumbangkan sebuah pohon besar adalah dengan membuat pohon itu keropos. Dan untuk membuat pohon itu keropos, maka kita harus menaruh rayap di dalamnya.' Batin Lars, dan melangkah pergi dari sana.


TO BE CONTINUED. .