A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 57. Perayaan ulang tahun di kapal.



Ryn bangun dari tidurnya, dan kini dia merasa lebih baik. Ia mendongak dan melihat Lars yang masih berkutat dengan laptopnya.


" Kamu sudah bangun, sayang?" Ujar Lars, dan langsung menyudahi pekerjaannya.


" Jam berapa sekarang, Lars?" Ujar Ryn.


" Pukul lima sore." Ujar Lars, dan Ryn terkejut.


" Ha! Sungguh? Aku tidur seharian." Ujar Ryn.


" Tidak apa apa, sayang. Bagaimana kondisimu?" Tanya Lars sembari mengecek suhu tubuh Ryn.


" Sudah lebih baik." Ujar Ryn.


"Sukurlah.. Untung kamu menginap di sini, jika tidak kamu tidak akan ada yang mengurus di penthouse sendirian." Ujar Lars.


Benar, jika Ryn sakit saat di penthouse, maka tidak akan ada yang tahu. Lodra selalu pergi pagi dan pulang malam seperti Paul. Jika dulu di kediaman nya banyak pelayan, tapi di penthouse Lodra hanya ada robot pembersih.


Entah apa jadinya jika Ryn sakit tanpa satupun yang tahu, mungkin Ryn bisa di temukan pingsan saat Lodra pulang, dan entah apa yang akan Lars lakukan jika hal itu sampai terjadi.


" Kamu lapar, sayang?" Tanya Lars dan Ryn menggeleng.


" Aku ingin mandi, tubuhku berkeringat." Ujar Ryn.


" Tapi kamu sedang sakit, sayang." Ujar Lars.


" Aku sudah baik baik saja, Lars.. jangan khawatir." Ujar Ryn.


" Baiklah, ayo aku bantu." Ujar Lars, dan menggendong Ryn.


" Aku tunggu di luar, ya? Jika sudah selesai kamu teriak saja. " Ujar Lars, ketika sudah menurunkan Ryn di bathup, dan Ryn mengangguk.


Setelah beberapa menit, Ryn pun selesai. Tetapi dia tidak memanggil Lars dan berjalan sendiri menuju pintu keluar.


" Cklek!" Pintu kamar mandi terbuka.


Terlihat Lars yang sungguh berdiri di depan pintu seperti penjaga, dan terkejut melihat Ryn yang keluar dari kamar mandi.


" Anak nakal, sudah aku bilang panggil aku jika selesai. " Ujar Lars dan Ryn terkekeh kecil.


" Kamu pasti lelah menggendongku bolak balik terus. Aku bisa jalan sendiri, kok." Ujar Ryn.


" Kamu sungguh sudah baik baik saja?" Tanya Lars, dan memeluk Ryn lalu mengecup pucuk kepala Ryn.


" Iya, aku baik baik saja." Ujar Ryn.


" Kalau begitu bersiaplah, kita akan makan malam di luar." Ujar Lars.


" Bagaimana dengan kakek??" Tanya Ryn.


" Kakek pun di luar, hari ini hari ulang tahun galery berlian milik nenekku yang ke 50 tahun, kakek sudah pasti akan berada di sana." Ujar Lars.


" Baiklah." Ujar Ryn.


" Tapi apakah kamu sungguh sudah baik baik saja, jika kamu masih pusing maka aku akan pergi dengan kakek sebentar. " Ujar Lars.


" Aku baik baik saja, Lars." Ujar Ryn meyakinkan Lars.


" Baiklah, aku akan panggil Lusi datang." Ujar Lars.


Dan akhirnya Lusi sungguh datang, Ryn di rias dengan begitu cantik, anggun dan menawan. Lars juga membawakan satu kotak set berlian dari kalung dan anting anting yang akan Ryn kenakan.


Satu set berlian itu adalah set berlian pertama yang di perlihatkan pada orang orang saat pembukaan pertama galery berlian milik nenek Lars, dan nenek Lars sendiri yang mengenakannya.


Setelah nenek Lars meninggal 25 tahun yang lalu, berlian itu tidak ada yang mengenakannya lagi, karena Peet menyimpannya. Dan kini Ryn yang akan memunculkan kembali berlian itu.


" Wah, nona Ryn.. anda benar benar mencetak sejarah. Anda adalah orang pertama yang mengenakan set berlian ini setelah nyonya besar Hunter. " Ujar Lusi.


" Nenek Lars pasti pencinta berlian, dia benar benar mendesainnya dengan indah." Ujar Ryn.


" Anda benar, dan itu sangat indah di leher jenjangmu, nona. Anda sangat cantik dengan gaya rambut seperti ini." Ujar Lusi.


Lusi membuat gaya rambut kepang belakang berantakan untuk Ryn, seperti putri kerajaan. Dan Lusi menaruh bunga bunga putih kecil di sepanjang kepang rambut itu bahkan seperti membentuk mahkota bunga.


Tujuan Lusi membuat model rambut seperti itu adalah untuk memperlihatkan kalung berlian indah yang saat ini Ryn kenakan, satu set bersama antingnya.


" Berlian yang indah." Ujar Ryn sembari menyentuh kalung itu.


Namun saat ini fokus Lusi tertuju pada cincin kecil yang melingkar di jari manis Ryn, Lusi yang tahu asal cincin itu langsung menutup mulutnya.


" Ya, dia memberikannya padaku." Ujar Ryn dengan wajah polos.


" Ya Tuhanku! Astaga naga kepala tiga, tuan muda benar benar menunjukan cintanya. Aku bertanya tanya kemana cincin ini menghilang, rupanya ada di tangan tuan muda." Ujar Lusi heboh.


" Memangnya ini milik siapa?" Tanya Ryn bingung.


" Nona Cincin ini adalah milik leluhur keluarga Hunter. Berlian yang terpasang di cincin ini adalah hasil lelang yang di menangkan oleh kakek buyut tuan muda Lars." Ujar Lusi.


" Berlian ini dangat langka, dan nama cincin ini adalah.."


" Gladys.." Ujar Ryn memotong ucapan Lusi.


" Bagaimana nona tahu?" Tanya Lusi.


" Lars yang memberitahuku, dan kebetulan Gladys adalah nama belakangku." Ujar Ryn.


" Sangat kebetulan, mungkin kalian berdua memang takdir dari langit. Bahkan leluhur tuan muda saja mempertemukan cincin peninggalannya kepada gadis dengan nama yang sama dengan cincin itu." Ujar Lusi.


" Anda sudah pasti akan menjadi pusat perhatian malam ini." Ujar Lusi antusias.


Lusi adalah orang yang selalu mencaritahu tentang banyak hal, dia menyimpang tetapi memiliki pemikiran yang luas. Tanyakan saja sebuah berita padanya, maka dia akan menjawabnya dengan cepat.


" Sayang, kamu sudah siap." Teriak Lars dari luar.


" Pengantin wanita sudah siap." Ujar Lusi dan mendapat pukulan di lengannya dari Ryn dan Lusi terkekekh kecil.


Ryn bangun dari duduknya, dan terlihat gaun indah yang Ryn kenakan sangat memukau mata di padukan dengan kalung dan anting berlian berwarna merah muda dan satu titik berlian biru muda di tengah kalung itu.


Gaun Ryn sendiri berwarna hitam dengan hiasan kupu kupu kecil yang timbul di sepanjang gaun itu. Gaun itu membuat Ryn terlihat dewasa, anggun, dan memukau tetapi juga cantik di saat yang bersamaan.


Lars membuak pintu dan terpukau dengan pemandangan di hadapannya, bagaimana Ryn-nya terlihat sangat berbeda malam ini.


" Ekhem! Tuan muda, sepertinya anda akan terlambat jika terus menatap nona Ryn seperti itu." Ujar Lusi.


Lars tersenyum menghampiri Ryn, dan berbisik..


" Kamu cantik sekali sayang." Bisik Lars.


" Ayo jalan, kita hanya akan mrnjadi tontonan Lusi." Ujar Ryn, dan Lars terkekeh kecil.


" Terimakasih kak Lusi, kami pergi dulu." Ujar Ryn pada Lusi.


" Astaga nona, sama sama.. Hati hati di jalan kalian berdua." Ujar Lusi.


Akhirnya Ryn pun pergi dari kediaman Lars, Peet sudah jalan lebih dulu ke tempat di adakan nya pesta ulang tahun galery berlian milik nenek Lars. Sepanjang jalan itu, Lars tak henti hentinya menatap Ryn dan menciumi tangan Ryn, Lars bahkan menutup penghalang yang menghubungkan dirinya dengan Roco.


" Tuan muda, kita sudah sampai." Ujar Roco.


" Hm, ayo sayang." Ujar Lars.


Lars turun, di sana sudah banyak sekali kamera yang menyorot kearah Lars, Lars mengulurkan tangannya, dan munculah Ryn dengan kecantikannya yang berhadil membuat semua orang terpukau.


" Woah, astaga.. Nona yang datang bersama tuan muda Lars sangat cantik, siapa dia?" Ujar salah seorang wartawan.


" Kau ketinggalan berita, nona itu adalah kekasih tuan muda Lars, mereka kabarnya bertunangan." Ujar yang lain.


" Astaga, berlian itu.." Ujar para reporter dan langsung memotret kearah Ryn.


Ryn yang tidak pernah sekalipun berhadapan dengan banyak kamera pun menjadi bingung, tetapi dia mencoba biasa saja dan berjalan menggandeng tangan Lars.


" Sayang, kamu takut?" Tanya Lars.


" Ini pertama kalinya aku bertemu begitu banyak kamera." Ujar Ryn berbisik.


" Maaf, ya.. aku lupa. Ayo kita masuk." Ujar Lars lalu menggandeng erat tangan Ryn.


Ryn sampai tidak fokus bahwa dirinya memasuki sebuah kapal pesiar besar milik keluarga Hunter.


Sesampainya di dalam, Lars langsung membawa Ryn memasuki aula dan menuju ke tempat duduk Peet.


" Cucu mantu, kamu akhirnya datang juga." Ujar Peet, dan seketika semua orang menengok kearah Ryn.


' Astaga kakek.' Batin Lars.


TO BE CONTINUED...