A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 37. Gadis kuat.



Ryn dan Lars sedang berada di atas udara saat ini. Ryn melihat dari atas yang hanya terdapat banyak pepohonan, tidak terlihat ada gedung atau rumah warga.


Meski Ryn penasaran, dirinya tetap diam, karena Lars sudah mengatakan bahwa nanti Lars akan memberi tahu dirinya.


Setelah mengudara beberapa saat, akhirnya mereka perlahan mendarat di sebuah landasan helikopter. Entah tempat apa itu, tetapi tidak terlihat bangunan sama sekali di sana, hanya landasan itu saja.


" Ayo, sayang." Ujar Lars mengulurkan tangannya pada Ryn.


Ryn tersenyum dan menyambut uluran tangan Lars, dirinya di bantu turun oleh Lars. Setelah keduanya turun, helikopter itu kembali terbang dan meninggalkan Ryn dan Lars di tengah landasan heli.


" Tempat apa ini, kenapa sepi sekali." Ujar Ryn.


" Kita berada di tengah hutan, sayang." Ujar Lars sambil tersenyum.


Lars menggandeng tangan Ryn lalu ia pun berjalan masuk kedalam hutan. Beruntungnya Ryn menggunakan pakaian yang simpel, jadi dia tidak kesulitan bergerak.


Mereka sampai di sebuah titik dimana ada sekitar dua orang yang berjaga. Mereka seperti menjaga pohon besar, hingga Ryn keheranan.


" Tuan." Ujar para penjaga itu dengan menunduk hormat, dan Lars hanya mengangguk.


' Kenapa mereka menjaga pohon, memangnya pohon ini ada apanya?' Batin Ryn bingung.


" Ayo sayang." Ujar Lars.


" Lars, kenapa mereka menjaga pohon? Memangnya pohon ini pohon apa?" Bisik Ryn dan membuat Lars nyaris tertawa.


" Ini bukan sembarang pohon, ini adalah pintu masuk." Ujar Lars.


" Pintu??" Ujar Ryn bingung.


" Ya, ayo.. Nanti aku jelaskan di dalam." Ujar Lars.


Akhirnya Lars menggunakan sensor wajah menghadap ke badan pohon, orang yang tidak tahu akan mengira Lars sedang mencium pohon, tetapi di baliknya adalah sistem pendeteksi wajah.


Tidak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam, hanya anggota Black Fire saja yang bisa mengakses pintu itu.


Pohon itu terbuka, dan rupanya di dalamnya adalah lift yang menuju turun ke bawah.


" Astaga, ini lift?" Gumam Ryn, dan Lars mengangguk.


Keduanya masuk ke dalam, dan Lift pun turun. Dari luar itu hanya sebuah batang pohon besar, siapa yang menyangka rupanya di bawah akar pohon itu, terdapat ruangan yang besar.


Setelah pintu Lift terbuka, barulah terlihat begitu banyak orang yang menghuni tempat itu.


" Tuan." Sambut para bawahan Lars dengan hormat.


" Di mana dia?" Tanya Lars langsung.


" Di ruang virtual, tuan." Ujar anak buah Lars.


Lars mengangguk dan kembali berjalan menuju ruang virtual bersama Ryn. Ruangan itu sangat luas, dan jika Ryn lihat lihat, sepertinya di bawah ruangan yang saat ini dia berada pun sepertinya memiliki ruangan lagi.


Hingga sampailah mereka di depan sebuah ryangan kaca, Ryn terkejut melihat siapa yang berada di dalamnya.


" Sam??" Gumam Ryn.


" Ya, aku sudah menangkapnya untukmu." Ujar Lars.


" Bagaimana bisa kamu menangkapnya, dia memiliki banyak bawahan, dan juga dia seorang ketua mafia." Ujar Ryn.


" Menangkapnya hanya hal yang mudah untuku, sayang. " Ujar Lars.


Ryn menatap penuh kebencian pada Sam yang saat ini sedang berdiri menghadap ke jendela kosong. Ryn sedikit heran, karena Sam hanya selalu menatap ke sana.


" Kenapa dia terus menatap ke jendela kosong itu?" Tanya Ryn.


" Di dalam ruangan ini, adalah ruangan virtual yang aku buat. Sam di dalam sana melihat pemandangan dari jendela itu, tapi dia tidak tahu bahwa dirinya berada di ruang virtual." Ujar Lars.


" Sekarang aku menyerahkannya kepadamu, kamu lebih berhak menentukan hukuman yang pantas untuknya. Tetapi satu yang harus kamu tahu, jangan bawa dia ke penjara.. Hukum di sana tidak cocok untuknya." Ujar Lars.


" Aku tahu.." Gumam Ryn.


Seakan mendidih darah di tubuh Ryn, tangannya sampai bergetar hebat saat ini.


" Aku ingin menemuinya." Ujar Ryn menatap Lars, dan Lars mengangguk.


Bawahan Lars mengangguk, dan langsung masuk kedalam ruangan Sam. Dari luar, Ryn bisa melihat perlawanan Sam, tetapi tidak berguna. Sam lumpuh begitu saja, dengan sekali pukulan dari anak buah Lars.


" Lepas!! Mau kalian apakan aku, huh!??" Teriak Sam.


Namun bawahan Lars hanya diam dan melanjytkan aksinya merantai kedua tangan dan kaki Sam agar tetap berdiri di tempat.


" LEPASS!!!" Teriak Sam.


' Kenapa semakin hari aku semakin lemah, aku ahli bela diri tapi aku di pukul jatuh oleh mereka.' Batin Sam.


Tubuh Sam menjadi lemas, dia yang selalu bertenaga dan bahkan mampu mengalahkan segerombolan orang kini tidak berdaya.


Setelah selesai merantai dan memastikan rantai itu aman, anak buah Lars pun keluar dan mempersilahkan Lars dan Ryn masuk.


" Aku ingin masuk sendiri." Ujar Ryn.


" Tapi sayang." Ujar Lars keberatan.


" Aku ingin tahu apa yang akan dia perbuat dengan kondisinya saat ini, mungkin dia juga akan mengatakan sesuatu, karena selama ini dia mengincarku." Ujar Ryn.


" Baiklah, aku akan melihat dari sini." Ujar Lars.


Ryn tersenyum lalu kemudian masuk kedalam ruang virtual itu. Ketika Ryn masuk, dia sungguh melihat pemandangan yang tampak nyata dari dalam ruangan itu, tidak tampak bahwa sepanjang ruangan itu adalah kaca yang bisa di monitor dari luar.


' Ini sungguh seperti nyata.' Batin Ryn.


Tatapan Ryn jatuh pada Sam yang saat ini memasang wajah senyum menjijikan. Sudah tidak berdayapun dia masih saja menggelikan.


" Ryn.. rupanya kamu yang menculiku?" Terdengar suara Sam seperti mengejek.


" Apakah akhirnya kau memiliki kekuatan untuk membalas dendam padaku? Woah.. si putri yang aku pikir lemah lembut itu sudah emnunjukan sayap iblisnya." Ujar Sam lagi.


" Tapi sayangnya sangat terlambat, Ryn. Kedua orang tua kandungmu sudah mati, begitu juga Paul." Ujar Sam dengan senyum mengejek.


Ryn menatap dingin Sam yang saat ini masih tersenyum mengejek, wajah Ryn saat ini terlihat begitu berbeda dengan Ryn yang biasanya, diam.. Namun tidak ada yang tahu apa yang akan Ryn lakukan.


Perlahan Ryn melangkahkan kakinya maju menghampiri Sam yang saat ini di jenjang rantai diantara kedua tangan dan kedua kakinya.


" Bagaimana?? Apakah kau sudah mendapatkan kepuasanmu setelah menghabisi ayah ibuku??" Ujar Ryn pada Sam.


Sam diam, dia tidak bisa membaca apa yang akan Ryn lakukan, perlahan Ryn menunjukan senyum iblisnya. Sam yang melihat itu jadi teringat dengan mendiang Wira yang memiliki tatapan sama seperti Ryn.


" Kau membunuh ayahku, lalu ibuku, lalu papaku, Paul.. Berarti kau sudah puas, bukan?" Ujar Ryn.


" Ohh... Kau tahu, nak.. Tatapanmu sama percis dengan ayahmu." Ujar Sam.


" Ya, tentu saja.. karena aku anaknya. Dan anak ini, yang akan mengantarmu ke pintu neraka." Ujar Ryn dan melayangkan tinjunya.


" BUGH!! " Satu pukulan mendarat di wajah Sam, hingga Sam mengeluarkan darah.


" Heh.. Heh.. Cuih! Kau pikir anak kecil sepertimu bisa membunuhku? Kau masih terlalu jauh untuk hal itu." Ujar Sam dengan mulut berdarah.


" Bunuh?? siapa bilang aku akan membunuhmu? Aku akan menyiksamu lebih dulu, menyiksamu perlahan, hingga kau yang memohon untuk mati padaku." Ujar Ryn dengan tatapan dingin nya.


" Duag!! Krak!!" Suara Ryn menendang dan menekan lutut Sam sampai berbunyi renyah.


" AAARGGHH!!! S*ALAN !! " Sam berteriak kesakitan, kedua kakinya patah.


Kalian bisa bayangkan, ketika kaki kalian berdiri lurus dan lutut kalian di tendang dari depan hungga patah, silahkan bayangkan rasanya.


" Itu belum seberapa, aku akan menemuimu lagi nanti, dan akan memberimu siksaan yang lebih.. lebih.. lebih menyakitkan dari pada mati." Ujar Ryn.


Dari luar ruangan, para bawahan Lars menatap ngeri melihat kondisi kaki Sam yang patah. Mereka ikut merasa ngilu melihat bagaimana Ryn mematahkan kaki Sam barusan.


Mereka adalah kelompok mafia yang sadis, tapi mereka tidak menyangka seorang gadis yang tampak lemah lembut seperti Ryn, mampu berbuat demikian tanpa takut.


Lars tersenyum melihat betapa beraninya kekasihnya itu. Lars tahu Ryn hebat, tetapi dia baru kali ini melihat sisi lain Ryn.


' Dia benar benar gadisku.' Batin Lars.


TO BE CONTINUED...