
Ryn bangun dari tidurnya dan merasakan tangan yang melingkar di perutnya, rupanya itu tangan Lars yang sedang mengusap usap perut Ryn.
" Kamu sudah bangun, sayang?" Ujar Lars.
" Hmm.." Ujar Ryn lemah.
" Menurut dokter, mengusap usap perut bisa meringankan sakit saat datang bulan, jadi aku melakukannya. Apakah kamu ingin makan sesuatu?" Tanya Lars.
" Tidak, aku tidak lapar." Ujar Ryn.
" Bangun sebentar dan minum air jahemu dulu, aku sudah menyuruh chef memanaskannya." Ujar Lars.
Ryn mengangguk, lalu dia pun duduk di bantu oleh Lars. Lars mengambil air jahe yang sudah berada di nakas dan memberikannya pada Ryn dan membantu Ryn meminum air jahe itu dengan perlahan.
" Tidurlah lagi." Ujar Lars.
" Mm.. Lars, apakah aku boleh minta tolong padamu?" Tanya Ryn.
" Kamu tidak perlu bertanya, Sayang. Katakan saja kamu butuh apa, aku akan memenuhinya untukmu." Ujar Lars.
" Mm.. itu, bisakah kamu minta pelayan untuk belikan aku pembalut? Aku sudah tidak memiliki stok lagi." Ujar Ryn.
" Pembalut? Apa itu?" Tanya Lars.
" Mmm.. mana ponselmu?" Tanya Ryn.
Lars memberikan ponselnya pada Ryn dan mengetik di internet untuk mencari gambar pembalut. Setelah menemukannya, Ryn pun memberikannya pada Lars.
" Seperti ini?" Tanya Lars, dan Ryn mengangguk.
" Oke, aku akan minta Roco membelikannya." Ujar Lars.
" J- jangan suruh asisten Roco, itu barang pribadi perempuan." Ujar Ryn.
" Oh, kalau begitu biar aku saja yang beli." Ujar Lars enteng.
Lars tentu tidak tahu menahu barang apa yang Ryn tunjukan, Lars benar benar buta dengan hal hal kewanitaan.
" Tunggu aku sebentar, aku akan pergi beli." Ujar Lars.
" T- tapi, Lars.."
" Aku hanya sebentar, sayang.. tunggu sebentar, ya?" Ujar Lars dan langsung pergi.
" Astaga, kenapa jadi dia yang pergi, apa yang akan orang pikirkan tentangnya nanti." Gumam Ryn.
Lars pergi mengendarai mobilnya sendiri, Lars menggunakan mobil sportnya yang kebetulan sedang di bersihkan oleh supirnya.
Lars mengendarai mobil itu dan berhenti di sebuah toko swalayan yang lumayan besar.
Saat Lars masuk kedalam toko itu, semua orang memandang terkagum kagum dengan Lars. Tubuh tinggi, kulit putih bersih, wajah tampan dan manik mata hijau nya yang membuat orang tersihir, begitu menarik perhatian.
Tanpa pikir panjang, Lars langsung mencari barang yang Ryn tunjukan di foto dari internet. Dia bahkan tanpa malu berdiri di depan etalase khusus pembalut wanita.
" Kenapa ada banyak sekali ukuran, yang mana yang Ryn pakai?" Gumam Lars.
Lars tidak sadar bahwa dia sedang di puji puji banyak pengunjung. Banyak wanita yang tersenyum senyum ketika melihat Lars berdiri sambil memegangi kemasan pembalut.
" Ya ampun, sudah tampan.. sayang istri pula, beruntung sekali wanita yang menikahinya." Ujar seorang ibu ibu.
Lars yang pada dasarnya sedatar dan sedingin kutub utara itu pun tidak menggubris ucapan ibu ibu itu. Dia pun memasukan setiap jenis satu kedalam keranjang belanjaan, dan membawanya ke kasir.
Penjaga kasir sampai melongo melihat betapa banyaknya pembalut yang Lars beli.
'Astaga, pria tampan ini mau saja membeli pembalut. Sudah tampan, sayang pasangannya pula.' Batin penjaga kasir.
" Totalnya sekian pak. " Ujar penjaga kasir.
Lars pun mengeluarkan kartu hitam tanpa batasnya sampai membuat penjaga kasir melongo, hanya untuk bayar pembalut saja Lars pakai kartu hitamnya.
Penjaga kasir itu sampai gemetar, sepanjang dia hidup baru kali itu dia memegang kartu hitam yang katanya hanya para konglomerat saja yang punya.
" Terimakasih, pak." Ujar Penjaga kasir dan mengembalikan kartunya pada Lars, Lars mengangguk lalu dia pun pergi dari sana.
Para wanita di swalayan, khususnya para gadis, langsung melihat keluar keyika Lars keluar dan masuk kedalam mobil sportnya.
" Stop berkhayal, mana mau kakak tadi denganmu yang cerewet." Ujar temannya.
Satu swalayan di buat heboh dengan kedatangan Lars, pria tampan dan kaya yang yang membeli pembalut dengan mobil mewahnya.
Lars sampai di rumah, lalu langsung berjalan dengan tergesa gesa dan naik keatas menuju kamarnya.
" Cklek! " Suara pintu terbuka.
Terlihat Ryn yang sedang tidur meringkuk, Lars sungguh tidak tega melihat kekasihnya itu kesakitan.
' Apakah sesakit itu? Aku tidak tega melihatnya. erikan saja sakitnya padaku, Tuhan.' Batin Lars.
Lars menghampiri Ryn lalu menciumnya, Ryn pun terbangun dari tidurnya ketika merasakan keningnya di cium.
" Lars, kamu sudah datang?" Ujar Ryn.
" Iya, sayang. Ini barang yang kamu pesan." Ujar Lars.
" Aku ganti dulu." Ujar Ryn dan bangun dari ranjang.
Ryn bangun tanpa menyadari bahwa ada kembali bercak darah yang tertinggal di sprei, tetapi Lars sengaja diam hingga Ryn masuk ke kamar mandi, barulah Lars mencopot kembali sprei ranjangnya.
Lars sama sekali tidak merasa jijik melakukannya, dia justru menatap sedih darah itu. Lars tidak tahu jika perempuan akan sebegitu menderitanya, apalagi Ryn mengatakan bahwa setiap bulannya dia akan mengalami datang bulan.
Ryn keluar dan mendapati Lars yang sedang memasang sprei baru, dengan sedikit kesulitan, karena Lars tidak pernah malkukannya sendiri.
" Apakah tadi darahku kembali mengenai ranjang?" Ujar Ryn tidak enak hati.
" Tidak apa apa sayang, hanya sedikit." Ujar Lars berbohong, karena sebenarnya darah Ryn lumayan banyak.
" Maaf aku merepotkanmu." Ujar Ryn.
" Tidak sayang, kamu duduk di sofa sebentar, ya? Aku akan memasang ini lebih dulu." Ujar Lars.
Ryn pun mengangguk dan duduk di sofa yang dekat dengsn dirinya. Ia memegangi perutnya ysng masih sakit sembari melihat Lars yang tampak kesulitan memasang sprei.
Setelah beberapa menit, akhirnya spreipun terpasang.
" Sayang, ayo aku gendong kamu ke ranjang. " Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.
Lars menggendong Ryn dan dengan pelan pelan merebahkan Ryn di ranjang, lalu menyelimutinya.
" Kamu tidak ke kantor? Ini sudah siang." Ujar Ryn.
" Tidak, aku akan bekerja dari rumah saja. Aku tidak tega meninggalkan kamu sendirian." Ujar Lars.
" Maaf, ya.. aku membuatmu repot." Ujar Ryn.
" Tidak, sayang.. tidak sama sekali." Ujar Lars.
" Aku lupa memberi tahumu, kemarin kakak datang kemari dan mengatakan bahwa rumah papa sudah siap aku tinggali, dan dia mengajakku pulang. Tapi karena kamu belum pulang, aku mrnunggumu." Ujar Ryn.
" Jadi kamu mau tinggal di rumah papamu?" Tanya Lars, dan Ryn mengangguk.
" Ya, kakak sedang keluar kota." Ujar Ryn.
" Baiklah, tapi saat kamu sudah sembuh, baru aku antarkan kamu pulang." Ujar Lars tidak menahan Ryn.
" Aku akan bawa Thunder, Lio dan Jasmine bersamaku." Ujar Ryn.
" Jasmine?" Tanya Lars bingung.
" Harimau betina yang kita beli di acara lelang, dia bernama Jasmine." Ujar Ryn.
" Baiklah, nanti aku akan urus mereka. Sekarang kamu tidur saja, ya? Jangan pikirkan banyak hal." Ujar Lars, lalu merebahkan dirinya di sebelah Ryn.
Lars kembali mengusap usap perut Ryn, lalu Ryn kembali terpejam ketika merasakan nyaman akibat usapan tangan Lars.
' Ketika ini selesai, aku tidak akan membiarkan kamu pergibselangkahpun dari pelukanku, sayang.. Akan aku pastikan aku melindungimu, dalam pelukanku.' Batin Lars, sembari dia mengecup kepala Ryn.
TO BE CONTINUED..