A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 27. Menangkap Sam.



Lars merebahkan tubuh Ryn dengan sangat pelan di ranjang, lalu menyelimutinya.


" Tidak peduli apapun yang terjadi padamu, aku akan melindungimu, dan memastikan kamu baik baik saja bersamaku." Gumam Lars.


Lodra masuk ke dalam kamar Ryn, dan melihat Lars yang sedang mencium kening Ryn, ia tersenyum melihatnya.


" Tuan Lars, aku titip adiku padamu." Ujar Lodra.


" Anda akan pulang?"Ujar Lars, berdiri.


" Ya." Sahut Lodra.


" Sampai jumpa besok." Ujar Lars, dan Lodra mengangguk.


Lodra pun pergi dari kediaman Lars, dan Lars keluar dari kamar Ryn setelah memastikan Ryn sudah terselimuti dengan aman.


" Selamat malam malaikat hatiku." Gumam Lars sebelum menutup pintu kamar Ryn.


Lars berjalan menuju ke ruang kerja nya lagi, dan sudah ada Roco di sana.


" Tuan muda, mata mata kita sudah menemukan titik Sam berada, apakah.."


" Bawa aku kesana, sekarang." Ujar Lars memotong ucapan Roco.


" Tapi nona Ryn masih belum siuman." Ujar Roco.


Seketika Lars bimbang, benar.. Ryn belum sadar dari pingsan nya. Ryn pingsan bukan tidur, jika saat Ryn bangun lalu tidak ada siapapun di sisinya, bagaimana?


" Kalau begitu tangkap dia, apapun caranya, lalu bawa ke markas. " Ujar Lars.


" Baik tuan muda." Ujar Roco.


Lars pun pergi ke kemarnya untuk membersihkan diri. Sementara Roco, dia langsung pergi untuk menjalankan tugas barunya.


Setelah Lars selesai membersihkan diri, dia kembali masuk ke dalam kamar Ryn, dan Ryn masih belum sadar. Lars menarik sofa kecil dan meletakan nya di sisi ranjang Ryn. Dia duduk di sana dan menatap wajah Ryn yang masih belum bangun itu.


' Dia bahkan terlihat begitu cantik walau sedang terlelap. Dia memang berbeda dengan gadis gadis lain nya, yang terlihat aneh dengan make up tebal di wajah mereka. ' Batin Lars.


Lars mengulurkan tangan nya dan menggenggam tangan Ryn kemudian merebahkan kepalanya di sisi Ryn.


Sementara itu di tempat lain, Roco bersama anaj buahnya sedang bersiap. Mereka bersiap untuk menangkap Sam hidup hidup.


" Kita berhadapan lagi dengan DEATH, Target kita adalah Sam. Tangkap dia hidup hidup, dia pasti adalah penghianat yang membunuh ayah kandung nona Ryn. " Ujar Roco.


" Baik Roco." Ujar yang lain.


Sekitar 40 orang yang ikut dengan Roco untuk menangkap Sam, Roco juga sudah memberi tahu mereka semua supaya penangkapan kali ini berhasil, sebab Lars tidak ingin gagal lagi.


Hingga tibalah mereka semua di persembunyian Sam,  dan langsung menyerang tanpa kelompok Sam sempat mempersiapkan perlawanan atau pertahanan lebih dulu. Terlebih lagi rupanya di sana sedang di adakan pesta S**.


'' Menjijikan.'' Ujar Roco.


'' Kita di serang!!!'' Teriak salah satu anak buah Sam.


Seketika semua orang panik. para wanita yang sedang melakukan itu dengan para anak buah Sam pun lari tunggang langgang.


'' KYA!!!'' Teriak para perempuan itu.


Anak buah Lars tak pandng bulu, entah itu perempuan atau laki laki, yang berada di tempat itu berarti musuh mereka. Anak buah Lars menembak semua yang terlihat, hingga darah dan jasad anak buah Sam serta perempuan panggilan itu tergeletak berserakan di sana.


'' Kalian urus disini, dua ikut bersamaku mencari Sam.'' Ujar Roco dan anak buah Lars mengangguk.


Roco masuk ke dalam, semakin ke dalam semakin remang remang pula pencahayaan di sana. Roco berjalan dan memberi kode pada anak buah Lars untuk mengepung sisi kanan dan kiri pintu yang saat ini ada di hadapan mereka.


'' BRAK!!!'' Roco mendobrak pintu kamar itu, dan terlihat adegan yang menjijikan. Sam sedang melakukan hubungan badan dengan seorang perempuan yang tampak tidak asing di mata Roco.


'' KURANG AJAR!! Siapa yang berani mengganggu UGH!!'' Sam belum sempat melanjutkan sumpah serapahnya, tapi Roco sudah menyetrum dia dengan setruman bertegangan sedang.


Setruman itu hanya melumpuhkan lawan, tidak sampai membuat orang itu mati, paling pingsan. Tapi mungkin jika di tempelkan terlalu lama akan menyebabkan kematian, bagaimanapun itu adalah listrik.


'' Bawa dia.'' Ujar Roco pada dua anak buahnya.


'' Baik.'' Ujar dua anak buah itu.


Kini Roco menatap sosok perempuan yang sebelumnya berada di bawah kungkungan Sam, dia tampak ketakutan dan menyembunyikan dirinya di sudut ranjang dengan menyelimuti anggota tubuhnya.


' Dia putri salah satu klien kerja tuan muda, Mona. Kenapa dia bersama Sam, apakah dia salah satu korban Sam, atau dia.. ' Batin Roco menggantung.


Roco akhirnya meninggalkan Mona yang menyembunyikan dirinya itu, dan pergi keluar dari tempat yang menjijikan itu.


'' Roco, semua sudah siap.'' Ujar anak buah Lars.


Tempat itu di tinggalkan begitu saja dengan banyak nya jasad anak buah Sam yang tewas tergeletak. Sementara Mona yang di dalam berteriak histeris ketika keluar dari kamar.


" KYAA!!" Teriak Mona.


Dia berteriak menutup mulutnya dengan tubuh gemetar.


" Aku harus pergi dari sini." Ujar nya, lalu berlari sambil menangis.


Ke esokan harinya..


Ryn membuka matanya, dan dia mengenali sekitarnya, itu adalah kamar di kediaman Lars.


" Ugh, pusing sekali." Gumam Ryn.


Ryn hendak menggerakan tangan nya tapi dia melihat Lars yang rupanya tidur sambil menggenggam tangannya.


' Lars? Dia tidur di sini.. Apakah ini sudah pagi?' Batin Ryn.


Ryn menatap wajah Lars yang memang menghadap ke arahnya. Ryn tidak mengerti mengapa Lars bisa menyukainya, padahal mereka hanya di pertemukan saat di pekarangan kediaman Paul.


' Dia pasti lelah menjagaku semalaman.' Batin Ryn.


Seakan tahu dirinya sedang di tatap, Lars membuka matanya dan pandangan keduanya bertemu. Ryn menatap Lars dan sebaliknya, hingga untuk beberapa saat tatapan keduanya terkunci.


" Morning." Ujar Lars dengan suara besar khas bangun tidurnya.


" Hm, morning." Sahut Ryn sambil tersenyum.


" Bagaimana perasaanmu? Apakah kepalanmu masih sakit?" Tanya Lars sambil menyentuh pipi Ryn.


" Sedikit." Ujar Ryn.


Lars mengambil termometer lalu mengukur suhu tubuh Ryn, Lars tersenyum ketika akhirnya suhu tubuh Ryn sudah normal.


" Sudah normal, panasmu sudah turun." Ujar Lars dan mengangkat handuk basah yang berada di kening Ryn.


" Apakah aku demam?" Tanya Ryn, dan Lars sedikit gugup.


" Ekhem, ya kamu demam tinggi semalam, kamu terus memanggil mama dan papamu, mungkin kamu bermimpi tentang mereka." Ujar Lars.


Ryn terdiam, dia mengingat ingat apa mimpinya semalam, tapi dia tidak ingat. Justru yang dia ingat adalah saat Lars memberinya obat.


" Semalam kamu menolak meminum obat, ketika obat itu masuk kamu mengeluarkannya lagi. Aku tidak memiliki cara lain, jadi aku.."


" Stop." Ujar Ryn, dengan wajah memerah.


" Tampar saja aku jika kamu merasa aku melecehkanmu, tapi sungguh.. Aku tidak memiliki niat buruk padamu. Aku hanya ingin kamu meminum obatmu, karena demammu sangat tinggi semalam." Ujar Lars, dengan wajah menyesal.


"Tidak apa apa, maksudku.. itu.. itu.. hanya cara alternatif, jadi kamu tidak salah." Ujar Ryn gugup sendiri.


Lars tersenyum melihat Ryn yang tampaknya ingat dan memaklumi kejadian semalam.


" Terimakasih." Ujar Ryn, dan memberanikan diri menatap Lars.


" Kamu adalah hidupku, jika terjadi sesuatu padamu, maka akau akan menyalahkan diriku sendiri." Ujar Lars, dan itu berhasil menambah rona merah di wajah Ryn.


" Aku bersiap dulu, pelayan akan bawakan makananmu kemari, nanti." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.


Lars pun pergi dari kamar Ryn. Sepeninggal Lars, Ryn langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut lalu mengutuki dirinya sendiri.


' Bodoh.. bodoh.. bodoh.. Ryn, apa yang kau lakukan.' Batin nya sambil memukuli keningnya.


Ryn seketika teringat kembali dengan kejadian semalam. Dimana dia samar samar ingat dirinya di beri obat namun merengek seperti anak kecil dan berulang kali membuang obat yang Lars berikan.


Sampai akhirnya Lars memaksa Ryn menelan obat itu menggunakan mulutnya. Anehnya.. Ryn mau menelan obat itu, Lars bahkan memberi Ryn minum dengan mulutnya.


' Astaga, itu ciuman pertamaku.' Batin Ryn sambil menyentuh bibirnya.


Sementara Lars sendiri, kini mengguyur tubuhnya di dalam kamar mandi di kamarnya. Dia masih terbayang dengan betapa menggoda nya Ryn semalam di matanya.


" Tahan Lars, kamu belum mendapatkan hatinya." Gumam Lars.


Lars adalah pria normal, melihat gadis yang di sukainya merengek manja padanya, tentu saja dia menjadi terpancing. Meskipun Ryn merengek tanpa sadar karena tidak mau di beri obat, tapi di mata Lars itu sangat menggoda.


Sampai dengan susah payah Lars mengendakikan perasaan nya yang menggebu gebu semalam. Untungnya Lars bukan pria breng*ek yang mengambil keuntungan begitu saja, dia mencintai Ryn, dia akan menjaga gadisnya itu sampai Ryn mau menerima cintanya.


' Astaga..' Batin Lars.


TO BE CONTINUED...