A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 64. SEBERCAK DARAH DI RANJANG.



Malam kian Larut, tetapi Ryn masih belum mendapat kabar dari Lars yang katanya akan kembali hari itu juga. Ryn mencoba menghubungi ponselnya pun tidak bisa, dan itu semakin membuat Ryn di bayangi ketakutan.


'' Kenapa dia masih belum sampai.'' Gumam Ryn.


Ryn berjalan menuju ke nakas dan mengambil gelas, sejak tadi dia terus merasa haus karena memikirkan Lars, hingga air yang berada di gelasnya habis. Karena gelasnya kosong, Ryn pun akhirnya keluar dari kamarnya dan hendak mengambil air dari dapur.


Ryn berjalan ke dapur dan mulai mengisi gelasnya dengan air, Ryn hampir saja menjatuhkan gelas itu ketika tiba tiba sebuah tangan besar melingkar di perutnya.


'' Ini aku, sayang.'' Ujar suara besar Lars.


'' Astaga, Lars.. kamu mengagetkan aku. Kenapa harus muncul diam diam begitu?'' Ujar Ryn tetapi Lars hanya menggelayut manja di pundak Ryn.


'' Lars..'' Panggil Ryn.


'' Hmm.. '' Sahut Lars manja.


Ryn menaruh gelasnya dan memutar tubuhnya menghadap Lars yang sejak tadi bergelayut di pundaknya, Ryn melihat wajah Lars yang terus terpejam, Ryn pun menyentuh kening Lars.


'' Astaga, kamu demam.'' Ujar Ryn.


'' Jangan bergerak sayang, aku sangat merindukanmu.'' Ujar Lars lalu memeluk Ryn.


'' Hmm.. aku sangat merindukanmu, sampai aku tidak tidur di sana hanya agar aku bisa kembali dengan cepat. Sekarang, aku ingin menebus pelukanmu yang hilang dua hari.'' Ujar Lars dengan nada manja, Ryn sampai terkekeh mendengarnya


Sungguh, Roco yang masih berdiri tak jauh dari sana saja sampai melongo ketika mendengar Lars yang berbicara dengan nada begitu manja.


' Apa apaan tuan muda ini, apakah ini yang dinamakan ketika cinta mengalahkan segalanya? Woaah.. aku merinding mendengarnya, tuan muda bisa juga menjadi seperti itu.' Batin Roco.


' Demi kedamaian bumi dan kesehatan diriku, lebih baik aku pergi dari sini. Tuan muda sedang dalam mode bayi gemas.' Batin Roco lalu langsung berbalik pergi dari sana.


Padahal sepanjang perjalanan dan sepanjang dua hari kemarin Lars berada di kota lain, Lars sama sekali tidak menunjukan sisi lembutnya, dia selalu dengan mode iblis.


Tapi kini berubah menjadi manja ketika sudah bertemu pujaan hatinya.


" Lars, ayo duduk." Ujar Ryn dan memapah Lars untuk duduk di meja makan.


" Sebentar aku ambilkan obat." Ujar Ryn, dan mencari stok obat di laci.


Setelah mendapat satu, Ryn pun menyodorkan nya pada Lars, lalu Lars meminumnya dengan patuh.


" Ayo, istirahat di kamar." Ujar Ryn, dan Lars tersenyum misterius.


" Apakah kamu sudah siap? Kita belum menikah, sayang." Ujar Lars, menggoda.


" Ish! Kepalamu yang demam kenapa otakmu yang korslet? Cepat bangun! atau aku tinggal." Ujar Ryn, dan Lars terkekeh kecil.


Akhirnya Lars bangun dan mengekori Ryn dari belakang. Lars bahkan berjalan sambil tersenyum senyum menatap Ryn yang tampak kecil di hadapannya itu. Bagaimanapun tinggi Lars 190 cm lebih, sedangkan Ryn hanya 155 cm.


' Gadis yang begitu menggemaskan ini setiap hari sudah membuat diriku perang batin.' Batin Lars.


Hingga akhirnya Lars sampai di kamar, dan langsung duduk di ranjang.


" Apakah kamu sungguh tidak tidur selama dua hari kemarin? " Ujar Ryn, dan Lars mengangguk.


" Kanapa kamu tidak tidur? Manusia itu butuh tidur untuk memulihkan kembali tenaga. Bersihkan dirimu, lalu istirahat." Ujar Ryn, dan Lars tersenyum.


" Aku akan membersihkan badan lebih dulu." Ujar Lars bangun lalu mengecup singkat kening Ryn dan menuju kamar mandi.


Ryn sampai geleng geleng melihatnya. Dia tidak pernah tahu bagaimana cara menjalankan sebuah perusahaan, tapi dia bisa mengerti sesibuk apa seorang pimpinan perusahaan, karena Paul dulu juga begitu.


Tak lama, Lars keluar dengan piyama nya, dan terlihat sudah segar. Lars membaringkan dirinya di ranjang lalu membuka lengannya lebar lebar.


" Sayang.." Panggil Lars.


Ryn pun merebahkan dirinya di lengan Lars dan langsung di peluk erat oleh Lars.


" Hmm.. nyaman nya." Ujar Lars sambil menciumi kepala Ryn.


" Tidurlah, kamu bilang kamu tidak tidur selama dua hari." Ujar Ryn.


" Iya, ayo tidur." Ujar Lars, dan akhirnya mereka bersua tidur sambil berpelukan.


Ke esokan harinya..


Lars bangun, tapi dia tidak mendapati Ryn di sebelahnya, ia pun duduk sambil melihat lihat ruangan itu mencari keberadaan Ryn, suara gemericik dari kamar mandi membuat Lars tersenyum, Ryn berada di sana.


Tak lama Ryn keluar daei kamar mandi dan terkejut melihat Lars yang duduk menatapnya.


" Astaga! " Ujar Ryn terkejut.


" Mm.. itu, bisakah kamu keluar dulu?" Ujar Ryn.


" Keluar? Kemana?" Tanya Lars bingung.


" Keluar dari kamar, sebentar." Ujar Ryn dengan senyum kakunya.


" Kenapa? " Tanya Lars masih bingung.


" Hanya keluar saja, sebentar." Ujar Ryn dengan nada memohon.


Meski bingung, Lars pun menuruti Ryn bangun dari ranjang. Tapi Lars terpaku sejenak ketika melihat sebercak cairan merah di sprei putihnya, wajah Lars langsung menjadi kaku, begitu jugs dengan Ryn.


" Sayang.." Ujar Lars.


" Aku mohon, keluar sebentar." Ujar Ryn memotong ucapan Lars.


Ryn langsung menarik tangan Lars dan menggiringnga keluar. Lars yang masih loading dengan bercak merah di ranjangnya tadi pun mau saja di giring keluar dengan wajah bodoh.


" Brak!" Suara pintu langsung di tutup oleh Ryn dan di kunci dari dalam.


" Astaga..." Gumam Ryn, dan langsung lari menuju ranjang.


Sementara Lars, dia di depan pintu memegangi kepalanya dengan wajah yang masih bodoh. Dia mengingat ingat kejadian semalam sebelum dirinya tidur.


" Apa aku melakukannya dengan Ryn tanpa sadar? " Gumam Lars.


" Astaga, apa aku memaksa Ryn untuk melakukan itu denganku? Lars Hunter, lau baj*ngan." Gumam Lars pada diri ya sendiri.


" Tok! Tok! Tok!" Lar mengetuk pintu kamarnya.


" Sayang, bisakah buka pintunya? Aku ingin bicara." Ujar Lars.


' Ryn pasti sedang sangat marah sekarang, dia mengusirku dari kamar, pasti dia sangat kecewa padaku.' Batin Lars.


" Sayang, aku mohon." Ujar Lars dengan wajah bersalah.


Tapi Ryn masih tidak juga membukakan pintu. Ryn masih sibuk menggulung dan mencopoti sprei di ranjang Lars.


" Sayang, aku mohon buka pintunya, kita harus bicara." Ujar Lars lagi.


Lars menggaruk kepalanya dengan kasar, bahlan pelayan rumah juga keheranan dengan Lars yang pagi pagi sudah ribut di depan kamarnya sendiri.


" Apa nona dan tuan muda sedang bertengkar?" Tanya seorang pelayang pada pelayan lain.


" Aku tidak tahu, dilarang mengurusi urusan majikan." Ujar pelayan lain itu.


Lars berkacak pinggang dan berjalan mondar mandir, sampai dia terlejut juga ketika melihat bercak merah di di baju tidurnya.


" Astaga! " Gumam Lars ketika melihat darah itu.


Para pelayan langsung menutup mulut ketika tidak sengaja ikut melihat bercak merah di baju tidur Lars, mereka pun langsung buru buru pergi.


" Tok! Tok! Tok!" Lars kembali mengetuk pintu karena berpikir Ryn sedang menangis sendirian di kamar.


" Sayang, buka pintunya.. Aku alan bertanggung jawab, kamu jangan takut. Alu mencintaimu, aku tidak akan lari dari perbuatanku." Ujar Lars.


Sampai Peet dari bawah pun mendengar teriakan Lars yang menggema di satu rumah itu.


" Apakah cucu mantu sedang bertengkar dengan Lars?" Tanya Peet pada dokter.


" Sepertinya begitu tuan." Ujar Dokter yang juga bingung.


" Sayang, jika kamu kecewa padaku, katakanlah. Tampar saja aku, pukul aku tapi jangan diamkan aku. Aku tidak akan lari dari perbuatanku, kita akan menikah secepatnya." Ujar Lars dengan wajah penuh rasa bersalah.


" Cklek!" Pintu terbuka.


" Kamu bilang apa tadi? Aku tidak dengar." Ujar Ryn.


Lars langsung memeluk Ryn dan menangis, itu adalah pertama kalinya Lars menangis konyol. Ryn yang melihatnya pun menjadi bingung, dia hanya mengganti sprei di ranjang tapi Lars menangis seperti anak kecil.


" Aku akan bertanggung jawab, sayang.. Jangan tinggalkan aku." Ujar Lars.


" Ha?? Tanggung jawab apa?" Tanya Ryn bingung.


TO BE CONTINUED...