A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 63. Ganjil.



Lars telah sampai di sebuah kamar hotel di kota itu, dia berniat hendak menghubungi Ryn, karena sejak tadi Ryn terus mencarinya bahkan hingga larut malam.


" Halo." Ujar Lars kaetika akhirnya panggilan itu tersambung.


" Lars, akhirnya kamu ingat aku juga, huh? " Ujar Ryn dengan suara kesal.


Lars terkekeh mendengarnya, padahal sejak berpisah dari Ryn Lars bahkan tak henti hentinya merindukan kekasihnya itu.


" Maaf sayang, aku bukannya melupakan kamu, tapi aku sibuk. Maaf, ya.. " Ujar Lars.


" Kamu sudah makan? " Tanya Ryn akhirnya.


" Aku sudah makan, sayang. Kenapa kamu masih belum tidur juga, bukankah ini sudah sangat larut malam?" Ujar Lars.


" Aku tidak bisa tidur." Ujar Ryn, dan Lars tersenyum.


" Apa karena merindukan calon suamimu?" Tanya Lars, dan itu berhasil membuat rona merah di wajah Ryn.


" Kepalamu, aku tidak bisa tidur karena hal lain." Ujar Ryn berbohong.


" Oh, iya kah? Apa kamu merindukan aku?" Ujar Lars dengan nada menggoda.


" Tuan muda Lars Hunter, sejak kapan kau jadi narsis begitu, huh? Sudah seharian tidak ada kabar, narsis pula." Ujar Ryn akhirnya, dan Lars terkekeh mendengarnya.


" Maaf, sayang.. tidurlah, ini sudah malam." Ujar Lars.


" Baiklah, apa kamu baik baik saja? " Tanya Ryn.


" Aku baik baik saja, sayang. Besok setelah semuanya selesai disini, aku akan langsung pulang." Ujar Lars.


" Hm.. kalau begitu berhati hatilah, bye." Ujar Ryn, dan akhirnya panggilan itu di akhiri.


Lars menatap jendela kamar hotel itu, pandangannya menerawang jauh menatap keramaian kota itu di malam hari.


Ke esokan harinya..


Ryn dan Peet sedang sarapan bersama, Peet begitu senang ketika ada Ryn. Dulu tiap sarapan hanya ada keheningan karena cucunya yaitu Lars selalu diam seperti balok es.


" Hahaha.. bagaimana bisa seperti itu? Rupanya kamu anak yang nakal, pasti di rumahmu sangat menyenangkan. Papamu pasti adalah orang yang menyenangkan juga, nak." Ujar Peet ketika sedang bercanda bersama dengan Ryn.


" Iya kek, Sayangnya papa sudah meninggal, jadi rumah itu sepi." Ujar Ryn.


" Semua yang hidup akan kembali kepada Tuhannya, nak. Takdir nya sudah tertulis dalam diri kita masing masing." Ujar Peet.


' Takdir, lalu apakah kematian kedua orang tuaku seperti itu juga takdir? Apa Tuhan sungguh menuliskan takdir orang tua ku seperti itu?' Batin Ryn merasa miris ketika membicarakan takdir.


" Oh ya, kenapa kakek seperti mendengar suara berisik semalaman, sepertinya singa dan harimau itu bertengkar semalam." Ujar Peet.


" Oh, Ryn sampai lupa. Ryn membeli seekor harimau putih betina kek, dia akan Ryn pasangkan dengan Thunder." Ujar Ryn kembali ceria.


" Thunder? Siapa dia?" Ujar Peet yang pikun.


" Harimau putih yang nakal itu, kek." Ujar Ryn.


" Ohhhhh.... ya.. ya.. Apa kakek boleh melihatnya?" Tanya Peet.


" Tentu saja boleh, setelah kita sarapan, mari kita lihat mereka." Ujar Ryn dan Peet mengangguk antusias.


Dengan Peet, Ryn tidak menunjukan kesedihannya, Ryn selalu bersikap ceria. Karena Ryn ingin menyalurkan energi positif pada Peet, agar Peet selalu sehat dan bahagia.


Dan akhirnya setelah keduanya selesai sarapan, Ryn pun kini menggandeng tangan Peet dan keluar menuju ke kandang.


" Woah.. ada harimau lain rupanya." Ujar Peet yang langsung lupa, padahal Ryn sudah memberitahunya sebelumnya.


" Namanya Jasmine, kek. Dia akan Ryn jodohkan dengan Thunder, si jantan." Ujar Ryn.


" Ah, iya.. iya.." Ujar Peet.


Peet duduk di kursi yang di bawakan dokter, bahkan dokter itu juga menyiapkan sebuah meja untuk menaruh minuman dan cemilan Peet. Sementara Ryn langsung menghampiri ketiga binatang buas peliharaan nya.


'' Apakah semalam mereka berkelahi?'' Tanya Ryn pada pawang yang menjaga mereka.


'' Jasmine beberapa kali hendak menyerang Lio, nona. Tetapi Thunder menghalanginya, beruntung nya mereka tidak di jadikan satu kandang, jika tidak mungkin Lio sudah di terkam Jasmine.'' Ujar pawang.


'' Gadis galak.'' Ujar Ryn pada Jasmine.


Terlihat Lio yang di lepaskan oleh pawang, Lio dengan lucunya langsung berlari menghampiri Ryn yang sedang jongkok. Lio langsung menggesek gesekan tubuhnya pada Ryn, dan Ryn mengusap bulu Lio dengan gemas.


'' Ayo makan.'' Ujar Ryn dan mulai memberi mereka makan.


Ketika Ryn sedang dengan sibuk memberi mereka makan, seorang pelayan datang dan memberi tahu Ryn bahwa ada Lodra datang berkunjung.


" Nona, ada tuan Lodra." Ujar pelayan.


" Oh, ya.. " Ujar Ryn lalu memberikan daging itu pada sang paawang.


" Adik, kamu sedang memberi makan harimau?''  Ujar Lodra.


" Hehe, iya.  Aku berencana menjodohkan Thunder dengan betina yang baru aku beli di pelelangan." Ujar Ryn.


" Halo tuan besar Hunter." Ujar Lodra menyapa Peet.


" Halo.. halo.. silahkan duduk.''  ujar Peet dengan ramah.


" Adik, kakak punya kabar baik untukmu." Ujar Lodra.


" Sungguh? Kabar apa kak?" Tanya Ryn.


" Rumah papa sudah selesai, kita akan pulang kesana nanti." Ujar Lodra dan Ryn langsung tersenyum senang.


" Apakah Ryn akan pulang ke rumah? Tidak menginap di sini lagi?" Tanya Peet dengan sedih.


" Iya kek, Ryn harus tinggal di rumah Ryn sendiri." Ujar Ryn, Peet langsung menjadi sedih.


" Haih.. Kakek akan sendirian." Ujar Peet.


" Ryn akan sering datang kemari, mengunjungi kakek." Ujar Ryn, dan Peet tersenyum.


" Baiklah.." Ujar Peet akhirnya.


" Adik, kakak akan ada pekerjaan di luar kota selama beberapa hari ini, kakak datang untuk berpamitan." Ujar Lodra.


" Sekarang?? " Tanya Ryn.


" Iya, setelah kakak mengantarmu pulang ke rumah papa." Ujar Lodra.


" Kenapa begitu mendadak, kak? Bisakah aku pulang nanti saja ketika Lars sudah pulang? Lars bilang dia akan pulang hari ini jika dia sudah selesai, Kakek sendirian. " Ujar Ryn.


Lodra tampak sedikit berpikir, sebenarnya dia ingin menghabiskan waktunya sebentar dengan Ryn, tapi tampaknya Ryn lebih menginginkan Lars, akhirnya dia mengangguk.


" Baiklah, kalau begitu kakak pergi dulu. Jika sudah pulang ke rumah, kabari kakak oke?" Ujar Lodra, lalu mengusap kepala Ryn dengan sayang.


'' Iya kak.'' Ujar Ryn.


Lodra pun pergi dari kediaman Lars, dan akhirnya Ryn kembali sibuk dengan peliharaan nya.


' Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku merasa sesuatu tampak sedang di rencanakan oleh kakak dan Lars. Semoga bukan hal yang membahayakan dirinya.' Batin Ryn.


Ryn meraa ganjil dengan hal hal yang tiba tiba saja terjadi, dalam satu malam Lars tiba tiba harus pergi keluar negeri. Meski Lars sudah menjelaskan apa yang terjadi dengan anak cabang perusahaan nya pada Ryn, tetapi naluri Ryn mengatakan bukan itu kebenarannya.


Lalu sekarang Lodra juga akan pergi beberapa hari keluar kota, Ryn semakin yakin ada yang di sembunyikan darinya. Tetapi Ryn mencoba untuk tetap tenang dan tidak gegabah, Ryn mencoba ikut dengan apa yang Lars dan Lodra lakukan.


Di tempat lain..


Lars terlihat memasuki sebuah ruangan, ruangan yang terdapat banyak sekali monitor di dalamnya. Lars duduk dan menyaksikan anak buahnya mengotak atik sistem komputer.


'' Tuan, ini posisi mereka, kita bahkan bisa tahu lokasi mereka dengan chif itu dan mendengar percakapan di sana.'' Ujar anak buah Lars.


' Rupanya Lodra memang secerdik itu, dia menciptakan alat yang bagus.' Batin Lars.


'' Tuan, ini adalah video - video dari cctv lalat yang sudah kita sebar di setiap sudut markas David.'' Ujar anak buah Lars yang lain nya.


'' Pantau mereka, jika sudah mendapatkan posisi mereka yang segnifikan kita akan langsung serang, sebelum mereka menyadari mereka di sadap.'' Ujar Lars.


Ya, dengan gabungan teknologi yang Lodra buat, Lars berhasil memata matai David dengan mudah. Lars berencana untuk menghabisi setiap anggota David yang berada di tanah air, sebelum akhirnya dia menyerang pasukan David yang lain nya.


Dan yang semakin mempermudah adalah Davon berada satu lokasi dengan David, jadi Lodra akan semakin mudah menghadapi Davon nantinya.


TO BE CONTINUED...