A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 75. MENYERANG DAVID.



Tengah malam, Lars, Roco serta semua anak buah Lars sudah mengepung tiap sisi markas David. Sementara Stone, akhirnya dia tidak ikut serta karena dia menjaga Lodra yang sampai saat ini belum juga sadar.


Roco sudah mewanti wanti adanya jebakan, karena anak buah yang menyusup di sana sudah tewas.


" Habisi sisanya, sisakan David seorang. " Ujar Lars.


" Baik, tuan." Ujar semua anak buah Lars.


" Hati hati di setiap langkah kalian, bisa jadi ada jebakan." Ujar Roco.


Semuanya pun maju dan hanya meninggalkan Lars dan Roco di sana. Roco memantau monitor dari laptopnya, memantau keadaan di sana dan dia sedang mencari keberadaan David yang tidak terlihat di manapun.


" Tuan, kenapa saya merasa ini ganjil." Ujar Roco.


" Apa maksudmu?" Tanya Lars.


" David tidak ada dimanap.. ukkh!!!" Ujar Roco ketika merasa kesakitan.


Lars langsung lompat menghindari serangan senjata yang muncul tiba tiba.


" DOR! DOR! DOR! DOR!" Bunyi senjata api yang membabi buta.


" Roco, merunduk!" Ujar Lars dan Roco pun tiarap sambil menahan sakit lengannya yang tertembak.


Lars mengeluarkan senjata apinya dan menembak balik penyerang yang menyerangnya tiba tiba.


" ARG!" Teriak seorang pria yang sepertinya tertembak.


Lars berlari menghampiri Roco lalu menuntun Roco untuk segera pergi dari sana.


" Tuan, tinggalkan saja saya. Saya hanya menjadi beban, tuan cepatlah menyelamatkan diri." Ujar Roco.


" Jangan bicara konyol." Ujar Lars dan terus berlari sambil menggandeng tangan Roco.


" Dimana kalian, huh!? Kalian sudah membunuh putraku, kalian juga harus mati!" Teriak suara David.


Tidak di sangka, David menghadirkan lebih banyak anak buah untuk mengepung anak buah Lars juga. Mereka saat ini sedang sama sama ber perang.


" Itu David, biar saya yang maju, tuan." Ujar Roco.


" Diam disini, dan tangani lukamu." Ujar Lars.


" Tuan! Tuan!" Teriak Roco tanpa suara, tetapi Lars sudah pergi meninggalkannya.


Roco mencari ponselnya dengan panik, dia ingin meminta bantuan Stone.


" Stone, cepat datang kemari! Tuan dalam bahaya, David mengepung kami." Ujar Roco.


" Apa!?" Sahut suara wanita, dan Roco langsung pias.


" N- nona, maaf nona saya salah sambung." Ujar Roco dan hendak mematikan panggilannya, tetapi Ryn berteriak.


" Apa yang terjadi? dengan Lars, asisten Roco? " Ujar Ryn.


" Tidak ada, nona.. saya sedang melakukan prank." Ujar Roco dan langsung mematikan panggilannya.


" Bodoh kau Roco! bodoh! bodoh! bodoh! Kenapa kau malah menghubungi nona Ryn." Gumam Roco panik sambil mencari nama Stone.


" Halo Stone! Cepat datang kemari, tuan dalam bahaya." Ujar Roco dan panggilan di akhiri.


' Aduh Tuhan, bagaimana jika sampai nona Ryn menghubungi tuan.' Batin Roco panik, dan mengambil senjata lalu pergi mencari Lars yang menghilang.


Dan ya.. Di Jakarta, Ryn sedang berjalan mondar mandir mencoba menghubungi Lars, tetapi tidak terhubung.


" Ponselnya mati, aku yakin asisten Roco tidak bercanda." Gumam Ryn.


" Aku harus mencari Lars." Gumam Ryn.


Ryn langsung berganti pakaian, dia menggunakan pakaian serba hitam dan bahkan masker hitam, ia menguncir rambutnya dan membawa belati kecil di kantong nya.


Ryn mengendap endap keluar dari balkon kamarnya dan melihat sekitar, dia tahu penjaganya sangat ketat dan mungkin dia akan sulit keluar nantinya.


Ryn melompat dari lantai dua balkonnya dan langsung berlari menuju garasi mobil.


' Bagaimana caranya agar aku bisa membawa mobil keluar.' Batin Ryn bingung.


Tiba tiba ada East yang baru datang dan memarkirkan motornya sembarangan. Ryn menganggukan kepalanya dan langsung mengikuti East dari belakang.


Dengan gerakan cepat, Ryn membuat East kehilanagn kesadaran. Ryn menyembunyikan East di balik pohon, lalu dia mengendarai motor East keluar.


" East, kau baru masuk sudah keluar lagi? Apa sudah ada kabar tentang tuan? Nort tidak kembali setelah dia memutuskan menyusul tuan, sepertinya dia di tahan." Ujar Penjaga itu.


" East." Ujar Pria itu sambil melambai lambaikan tangan nya di depan helm Ryn.


" Ke kota mana tuan pergi?" Tanya Ryn.


" Kota Bogor, bukankah kau sudah tahu?" Ujar penjaga itu.


Ryn mengangguk, lalu langsung tancap gas pergi dari sana. Penjaga tadi merasa aneh dengan East yang sekarang di lihat.


" Kenapa suara East berubah? Tunggu, jangan bilang itu.." Ujar penjaga dan langsung menyalakan alarm.


Ryn mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan. Tujuannya saat ini adalah mendatangi kediaman Lars. Ryn yakin dia bisa bertanya pada anak buah Lars yang menjaga di kediaman itu.


Dan tak lama, Ryn sampai di kediaman Lars dan berjalan dengan langkah lebar mendatangi penjaga yang menjaga pintu utama kediaman itu.


'' Siapa kau?'' Ujar penjaga.


Ryn membuka helmnya dan penjaga itu langsung menunduk minta maaf.


'' Maaf nona saya tidak mengenali anda.'' Ujar penjaga itu.


'' Tolong antarkan aku pada Lars.'' Ujar Ryn.


'' Tuan muda sedang tidak ada di tempat, nona..'' Ujar penjaga itu.


'' Aku tahu, maka antarkan aku kemana dia berada saat ini, dia dalam bahaya.'' Ujar Ryn, dan seketika penjaga itu terkejut.


'' Nona, tolong tenang dulu, biar kami semua yang membantu tuan.'' Ujar penjaga itu.


" Aku ikut." Ujar Ryn.


" Tidak, nona.. Ini berbahaya, tuan akan marah jika terjadi sesuatu pada nona." Ujar anak buah Lars.


" Aku ikut, atau aku bunuh diri di sini." Ujar Ryn mengancam dengan mengeluarkan belatinya.


' Aduh Tuhan, kenapa nona Ryn jadi nekat begini.' Batin penjaga itu.


" Baiklah, mari ikut kami nona." Ujar anak buah Lars akhirnya.


Anak buah Lars menekan alarm kode darurat, dan seketika semua anak buah Lars di kediaman itu berkumpul.


" Sebagian ikut aku, debagian jaga tuan besar." Ujar penjaga itu.


Mereka akhirnya langsung pergi menuju landasan udara dimana helikopter Lars berada.


Ryn tanpa takut langsung duduk bersama dengan anak buah Lars, semua anak buah Lars tentu saja terkejut melihat Ryn di sana bersama mereka, tetapi mereka tidak berani bertanya.


" Nona, saya minta maaf sebelumnya. Kita harus terjun dari ketinggian, apakah nona bisa menggunakan parasut?" Tanya anak buah Lars.


" Aku tidak pernah." Ujar Ryn.


" Kalau begitu nona akan terjun bersama saya." Ujar anak buah Lars, dan Ryn mengangguk.


Anak buah Lars lalu langsung membantu Ryn memakai berbagai macam pengaman juga sabuk untuk mengaitkan Ryn dengan dirinya nanti.


Ryn merasa bingung karena helikopter itu tidak melewati rute hutan yang biasanya, tetapi seperti di hutan yang lebih gelap.


" Nona, mari bersiap." Ujar anak buah Lars, dan ryn mengangguk.


" Bersiap! Terjun!" Ujar salah seorang anggota.


Dan para anak buah Lars terjun dari helikopter itu dengan parasut, begitu juga dengan Ryn terjun bersama anak buah Lars. Sementara helikopter itu mencari landasan udara di markas Lars yang berada di sana.


Ryn dan anak buah Lars mendarat, dan langsung dengan sigap melepas parasut. Keduanya langsung berlari mencari tempat yang aman.


" Beri aku senapanmu." Ujar Ryn.


" Nona, senapan bukan mainan." Ujar anak buah Lars.


" Aku tidak bilang mainan, berikan saja." Ujar Ryn dengan tatapan tajam.


" B- baik nona." Ujar anak buah Lars yang terkejut dengan tatapan Ryn.


" Tunjukan jalannya." Ujar Ryn dan anak buah Lars mengangguk.


Keduanya pun langsung berlari mencari keberadaan Roco dan Lars. Dari kejauhan Ryn sudah mendengar suara tembakan, dan bahkan ada asap yang membumbung terlihat.


' Aku mohon Tuhan, jangan kau ambil lagi orang yang kusayangi.' Batin Ryn sambil berlari menuju ke arah asap itu.


TO BE CONTINUED..