
Ke esokan harinya, Ryn benar benar sudah siap dengan tantangan yang Stone katakan kemarin. Ryn mengambil pedang katana milik Paul, dan akan membawanya ke kediaman Lars.
" Adik, kenapa kamu bawa katana?" tanya Lodra.
" Oh, aku lupa memberi tahu kakak, hari ini aku akan bertanding pedang dengan Stone." Ujar Ryn.
" Apa!! Adik, kamu bercanda, kan?" Ujar Lodra terkejut.
" Tidak, kak.. aku serius. Stone memberiku tantangan, bukan.. dia meminta sebuah kehormatan dari Lars, dan dia meminta untuk di berilan kesempatan untuk bertanding pedang denganku." Ujar Ryn.
" Lars si kurang ajar, berani beraninya dia menyuruhmu bertanding pedang. Kakak akan mendatanginya sekarang juga." Ujar Lodra emosi.
" Eit! Kak, bukan Lars yang memberikan izin, tapi aku yang mengiyakan." Ujar Ryn.
" Eh?? " Ujar Lodra tak habis pikir.
" Adik, kamu tahu siapa Stone, bukan? Dia bukan orang biasa, dia hebat dalam segala hal dan satu lagi, dia tidak berperasaan. Jika dia berniat membunuhmu, bagaimana?" Ujar Lodra.
" Kakak tidak setuju, batalkan itu." Ujar Lodra. Tapi Ryn menggelengkan kepalanya.
" Adik..." Ujar Lodra.
" Kakak, janji adalah hutang. Dan aku sudah berjanji padanya bahwa aku ingin memberinya kesempatan bertarung denganku." Ujar Ryn.
" Adik, kamu bukan petarung.." Ujar Lodra.
" Aku tahu, kak.. Sudah ya, aku pergi dulu." Ujar Ryn.
" Tunggu, kakak ikut." Ujar Lodra.
Akhirnya keduanya pun pergi menuju kediaman Lars, karena di sanalah Ryn dan Stone akan bertarung pedang.
Tak lama, Ryn dan Lodra sampai di kediaman Lars, dan sudah ada Stone juga di sana.
Lagi lagi Stone mekihat Ryn dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
" Kau tidak berniat menyukai nona Ryn, bukan Stone? " Tanya Roco tiba tiba.
" Dia kekasih tuan kita, mereka saling mencintai.. jangan lupakan itu." Ujar Roco.
" Kau memang selalu tahu apa yang aku rasakan, Co." Ujar Stone mengalihkan tatapannya pada Roco.
" Kau gila? Tuan bisa membunuhmu." Ujar Roco.
" Tuan boleh melakukan apa saja terhadapku, sejak awal hidupku memang miliknya. Aku juga tidak berniat merebut nona Ryn dari tuan, aku tahu itu." Ujar Stone.
" Aku hanya ingin memiliki kesempatan untuk bertarung dengan wanita yang berhasil membuatku.. jatuh hati." Ujar Stone.
Roco memejamkan matanya, kecurigaannya benar.. Stone menyukai Ryn.
" Bagaimana kau akan bekerja jika kau memiliki perasaan terhadap atasanmu sendiri, bodoh! Apa yang harus aku katakan pada tuan." Ujar Roco.
" Tidak ada yang perlu di katakan, setelah hari ini, semua akan kembali seperti semula, jangan khawatir, aku tahu batasanku." Ujar Stone lalu menepuk pundak Roco dan pergi dari sana.
" Sayang, kamu sudah datang." Ujar Lars, dan langsung memeluk Ryn.
" Kenapa peluk erat sekali, aku bisa mati sesak nanti." Ujar Ryn.
" Aku hanya merindukanmu." Ujar Lars.
" Sebentar lagi juga kalian akan menikah, bisa tidak jangan pelukan di tempat umum.." Ujar Lodra.
" Ada yang iri, ayo kita masuk sayang." Ujar Lars, dan langsung menggandeng tangan Ryn.
Tempat untuk pertarungan Ryn dan Stone juga sudah siap, dan kini semua orang tampak sudah berkumpul di sana. Orang orang yang di maksud adalah para anak buah Lars yang akan menonton pertarungan Stone dan Ryn.
" Silahkan ganti pakaian kalian di masing masing ruangan." Ujar Roco.
Ryn dan Stone sama sama mengangguk dan pergi memasuki ruangan untuk berganti pakaian.
Setelah keduanya selesai berganti pakaian, kini mereka pun berdiri berhadap hadapan.
" Saya tidak akan mengikuti peraturan." Ujar Stone tiba tiba.
" Apa maksudmu, Stone?" Ujar Lars.
" Saya dan nona Ryn akan bertarung secara bebas. Siapa yang terluka lebih dulu, dia yang kalah." Ujar Stone, dengan tatapan kearah Ryn.
Semua orang tampak terkejut mendengar keberanian Stone yang berbicara terang terangan ingin melukai Ryn.
" Jika sampai kau melukai Ryn, maka kau akan tahu akibatnya." Ujar Lars.
" Baiklah, kita bertarung bebas. Tidak mengikuti peraturan atau kedisiplinan, siapa yang terluka lebih dulu, dia yang kalah. " Ujar Ryn.
" Adik.." Gumam Lodra.
Semua anak buah Lars tampak ikut tegang, meski mereka semua tahu bahwa Ryn bukan gadis biasa dan sudah terlatih, tapi pedang tidak punya mata. Sementara Stone, adalah ahlinya senjata tajam.
" Baiklah, silahkan memberi hormat masing masing, dan mulai." Ujar Roco.
Stone membungkuk, begitu juga Ryn. Tapi belum apa apa, Stone sudah menyerang Ryn. Untungnya Ryn memiliki refleks yang bagus pada setiap gerakan benda di sekitarnya.
Ryn dengan midah menghindari serangan Stone.
" Anda memiliki refleks yang bagus." Ujar Stone.
" Terimakasih." Ujar Ryn.
Stone berjalan memutar, begitu juga dengan Ryn. Karena Stone meminta pertarungan itu bebas, jadi Ryn pun tidak hanya menggunakan seni bela di samurai.
" Hia!" Stone menyerang Ryn, namun dengan sigap Ryn mebghalau ayunan pedang Stone.
" KLANG! KLANG! KLANG! KLANG!" Suara katana yang beradu dengan keras.
Semua yang melibat itu meringis ngeri, karena serangan Stone sungguh tidak menunjukan sedikitpun belas kasih.
Stone menjadi lebih dominan saat ini karena dia memiliki tubuh lebih besar dari Ryn, tetapi tiba tiba Ryn berputar dan melompat lalu menendang Stone.
" Bruk!" Stone terjatuh.
Semua orang bingung, kenapa Ryn malah menendang Stone, seharusnya Ryn menggunakan katana nya untuk menyerang Stone.
" Pertarungan ini bebas, bukan?" Ujar Ryn.
" Anda pandai." Ujar Stone.
Stone kembali bangun dan langsung menyerang Ryn, tetapi kali ini Ryn tidak hanya menghindar, namun dia juga menyerang Stone hingga tiba tiba pakaian yang di kenakan oleh Stone terpotong dan jatuh di lantai.
" SREK!!" Suara kain yang robek.
" Astaga, nona Ryn menakutkan sekali." Ujar salah satu anak buah Lars.
Jika Ryn ingin menyakiti Stone, sudah jelas bukan kain itu yang terpotong, tetapi tangan Stone. Ryn sengaja mengarahkan katananya untuk hanya memotong kain saja.
Sementara Lars, saat ini Lars sedang menahan emosi serta bercampur dengan khawatir. Lars bahkan sudah siap apabila Ryn terluka, Lars akan segera menghajar Stone.
Stone melihat asal robekan kain itu, dan ternyata dari lengan sebelah kirinya. Stone kemudian mulai menyerang lagi, dan Ryn pun kembali menunjukan kebolehannya.
Ryn bergerak dengan lincahnya, namun juga terlihat sangat indah. Sejauh ini Ryn sama sekali belum terkena sedikitpun sabetan katana Stone.
" KLANG!!! " Katana Stone terjatuh dan terlihat Ryn mengarahkan katananya tepat di depan tenggorokan Stone.
Kurang dari satu senti lagi, katana itu bisa menggores leher Stone dan bisa di pastikan Stone bisa kehilangan kepala jika Ryn adalah orang yang kejam.
Stone lagi lagi terkesima dengan tatapan datar dan dingin Ryn. Tatapan itu yang membuat hatinya tergugah.
" Selesai, nona Ryn menang." Ujar Roco.
Ryn menurunkan katananya setelah mendengar teriakan Roco, tapi tiba tiba Stone kembali menyerang. Tapi Ryn tetap bisa selalu menghalau serangan Stone.
Ryn melempar katana nya lalu kini bergulat dengan tangan kosong. Keduanya adalah sama sama ahli bela diri, tapi terlihat jika Stone terkejut, karena Ryn bisa membaca semua gerakannya.
" Kau tidak menyerah? Aku sudah memberimu tiga kesempatan hidup." Ujar Ryn, dan Stone terkejut.
Benar jika Ryn serius ingin menyakiti Stone, tendangan di awal tidak akan mungkin sepelan itu. lalu kedua bukan baju Stone yang robek, tapi Stone bisa saja kehilangan lengan.
Dan yang ketiga tadi.. saat Ryn mengarahkan pedangnya pada leher Stone. Stone baru sadar bahwa Ryn, memang tidak berniat menyakiti lawan, tetapi memberi mereka ketegasan bahwa, Ryn lebih dari mampu untuk membunuh, jika dia mau.
" Saya bilang di awal, yang terluka itu yang kalah." Ujar Stone.
Ryn tersenyum mendengarnya, Stone seperti namanya, kepala batu.
" Baik, jika itu maumu." Ujar Ryn.
Ryn kembali bertarung dengan tangan kosong, lalu dia menghempaskan tangannya hingga kukunya mengenai wajah Stone, dan pipi Stone berdarah.
" Kau sudah terluka, jadi aku yang menang." Ujar Ryn
Stone sampai diam, tidak bisa berkata kata, gerakan Ryn benar benar tidak bisa di baca.
TO BE CONTINUED...