
Lodra masih duduk memikirkan langkah apa yang baiknya dia ambil. Lodra tidak menyangka Riki, sahabatnya rupanya masih hidup dan kini justru menjadi lawannya karena dia di pihak Davon.
' Apa Riki tidak tahu bahwa lalat itu buatanku, seharusnya dia bisa mengenalinya. Sekarang apa dia masih terus menjadi umpan?' Batin Lodra.
' Aku akan kembali ke sana untuk melihatnya langsung.' Batin Lodra.
Lodra bangun dan mencari keberadaan Stone, terlihat Stone sedang mengelap senapan dan beberapa senjata lain nya.
" Stone." Ucap Lodra ketika sudah berada di dekat Stone.
Stone yang kesabarannya setipis rambutnya itu pun kembali kesal ketika melihat Lodra.
" Apa?" Meski kesal dia tetap menyahut, tapi tidak menghentikan kegiatannya.
" Bisakah aku minta bantuanmu?" Ujar Lodra.
" Kau pasien luka tembak, seharusnya diam saja di ranjang. Jangan sampai aku membuatmu mati dengan jarum suntikan." Ujar Stone.
" Tolong beri aku banyak obat pereda nyeri." Ujar Lodra, dan itu berhasil mengalihkan perhatian Stone.
Stone menaruh senapannya lalu menatap tajam ke arah Lodra. Lodra yang di tatap tajam pun menjadi sedikit ngeri, pasalnya tubuh Stone lebih tinggi dan lebih besar dari Lodra sendiri.
" Kau bilang apa tadi?" Ujar Stone.
" Aku ingin mengintai musuh, jika bisa mungkin aku juga akan menghabisi mereka. Tapi aku tidak mungkin bisa banyak gerak jika merasakan nyeri, oleh karena itu aku meminta obat pereda nyeri padamu." Ujar Lodra.
" Mati saja kau." Ujar Stone dan kembali mengelap senapannya.
" Stone, aku mohon. Aku tidak ingin terlalu lama merepotkan tuan Lars. Davon adalah musuhku, dan ini juga tantangan untuku." Ujar Lodra.
" Kalau begitu pergilah, kenapa kau malah curhat denganku?" Ujar Stone kesal.
" Aku butuh obat pereda nyeri." Ujar Lodra kembali ke topik awal.
" Kau minum saja banyak - banyak paracetamol." Ujar Stone.
" Kau tahu apa maksudku, bukan? Sebuah kelompok besar seperti mafia tidak mungkin tidak memiliki obat terlarang." Ujar Lodra dan berhasil membuat Stone kembali naik pitam.
" Brak!" Stone membanting senapan yang sedang di lap itu ke meja.
" Kau pikir siapa dirimu, huh?! Minta ini dan itu se enakmu. Kau sudah merepotkan tuan dan membuat tuan jadi dalam masalah, apa kau tahu, huh!" Ujar Stone sembari mencengkeram baju Lodra.
" Oleh karena itu, aku ingin menyelesaikannya sendiri. Tuan Lars tidak harus repot karenaku, aku hanya minta bantuanmu untuk memberiku pereda nyeri." Ujar Lodra.
" Jika aku kalah, setidaknya aku tidak melibatkan tuan Lars, karena aku maju sendiri." Ujar Lodra.
" Gegabah!" Ujar Stone, dan melepas cengkeraman tangannya daei baju Lodra.
" Lalu kau pikir jika kau mati, adikmu itu tidak akan menyalahkan tuan, huh?" Ujar Stone.
" Tidak akan, perjanjian itu hanya aku dan tuan Lars yang tahu." Ujar Lodra.
Lodra tidak tahu bahwa Ryn sudah curiga dan bahkan sudah menebak bahwa Lars dan Lodra sedang merencanakan sesuatu.
Stone tampak berpikir, ia tidak suka hal bertele tele. Apa yang di lakukan Lars demi Lodra itu sudah membuang banyak waktu Lars, sebelumnya Lars sudah hampir mati saat di jebak sekutunya sendiri, dan Stone tidak mau itu terulang.
" Kapan kau akan beraksi?" Tanya Stone.
" Sekarang." Ujar Lodra dengan mantap.
Dan di sinilah mereka berdua akhirnya, di ruang steril dimana sebelumnya Lodra di rawat. Stone mengeluarkan sebuah suntikan cairan, dan saat ini sudah ada di tangannya.
" Ini obat ilegal, kau tahu sendiri bukan? Sejauh ini aku meneliti, efek sampingnya hanya mati rasa di bagian tubuh tertentu." Ujar Stone, dan Lodra mengangguk.
" Durasi kerja nya sekitar lima sampai enam jam, dan aku tidak akan memberikan cadangan jika efek obatnya habis." Ujar Stone lagi.
" Bisakah kau kalilipatkan dosisnya? " Ujar Lars.
" Kau mau mati? Dua kali dosis obat akan membuat sekujur tubuhmu mati rasa." Ujar Stone.
" Itu yang aku butuhkan, tolong." Ujar Lodra.
Tapi Stone menuruti Lodra, toh jika ada apa apa pun bukan dia yang minta dan bukan dia yang merasakan. Stone menyuntikan obat pereda nyeri itu ke tubuh Lodra, dan obat itu langsung bekerja begitu saja.
Lodra tidak merasakan nyeri lagi, dan langsung turun dari brankar.
" Waktumu lima atau enam jam dari sekarang." Ujar Stone, dan Lodra mengangguk.
" Pinjamkan aku senjata kalian." Ujar Lodra.
Stone pun membawa Lodra ke gudang senjata, Lodra memilih senjatanya sendiri untuk dia bawa. Lodra berganti pakaian dengan pakaian khusus dan serba hitam, dia bahkan memakai sarung tangan dan sudah terlihat seperti seorang pembunuh bayaran.
Lodra memilih beberapa senjata api dari jenis yang besar hingga kecil dan ia taruh di tubuhnya, Lodra juga mengambil belati untuk dia beraksi dari jarak dekat.
" Aku pergi." Ujar Lodra ketika akhirnya dia sudah berada di luar markas.
" Habisi si muka mesum itu ( Davon) , aku ingin muntah melihat senyum mesumnya." Ujar Stone, dan Lodra tersenyum.
Waktu sudah tengah malam sebenarnya, Lodra mengendarai sendiri sebuah motor besar milik markas Lars, dan menuju ke markas Davon.
Lars tidak berada di sana, dia dan Roco kembali ke Jakarta setelah perbincangannya dengan Lodra sebelumnya. Jadi bisa di katakan Lodra mengambil keputusan tanpa sepengetahuan Lars atau Roco.
Tak berapa Lodra berhenti di pinggiran jalan yang sepi, dia memarkirkan motor itu ke semak lalu dari semak itu dia berjalan menuju ke markas Davon.
Lodra mengintai sekitar dengan teropong dari senapannya, dia juga memantau dari cctv lalat yang terhubung ke ponselnya dan rupanya di markas itu sedang tenang.
' Tuhan, tolong bantu aku. Aku mungkin selalu jauh darimu, tapi kali ini aku mohon.. bantu aku, dengarkan aku, aku tidak ingin terpisah dari adikku.' Batin Lodra.
Setelah memantau, Lodra pun mulai masuk ke dalam sarang musuh, dia menghabisi para penjaga yang sedang bertugas dengan menghunuskan belati ke jantung atau meng*orok leher mereka.
' Sialan, aku pendarahan. ' Batin Lodra ketika melihat bajunya basah oleh darahnya sendiri.
Lodra pun alhirnya masuk kedalam, dan melihat Riki, sahabatnya.
' Riki, dia terlihat baik baik saja.' Batin Lodra.
Terlihat pria bernama Riki itu sedang bercengkerama dengan rekannya, mereka membicarakan urusan perempuan.
' Aku pikir dia sudah tewas, rupanya dia hidup dengan baik selama ini. Penghianat..' Batin Lodra.
Lodra ingat betul sebelum dirinya hilang kesadaran, Riki di tarik pergi sambil berteriak, Lodra pikir Riki sudah tewas di jadikan umpan musuh. Tapi rupanya dia salah, hanya dirinya saja yang di jadikan umpan musuh.
Jika saja dia tidak di temukan Paul saat itu, mungkin dia sudah tidak ada di dunia dan mati dengan mengira bahwa sahabatnya itu adalah orang baik.
Lodra pun langsung mengikuti kemana Ruki pergi, sambil dia terus mengeksekusi setiap anggota Davon yang dia lihat, hingga dia sampai di sebuah ruangan dimana Riki masuk kedalamnya.
" Tuan muda, para wanita pesanan tuan muda sudah datang." Ujar Riki.
" Antar kemari." Ujar suara Davon.
" Baik." Ujar Riki.
Riki kembali keluar tetapi Lodra lantas memukul Riki menggunakan gagang senapan hingga Riki pingsan.
Lodra menarik tubuh Riki ke sisi ruangan yang sepi lalu melucuti pakaian Riki dan memakainya. Lodra kini verpenampilan layaknya Riki.
' Kau menghianati persahabatan kita sejak awal, kini kau musuhku, jadi kau tidak memiliki kesempatan hidup.' Batin Lodra.
Lodra langsung menyayatkan belatinya ke leher Riki, dan Riki pun tewas. Lodra keluar sebagai Riki namun ia masih tetap menggunakan masker di wajahnya.
" Kenapa kau kembali lagi, mana para perempuan itu?" Ujar Davon yang rupanya sudah tidak berbusana dan hanya menggunakan boxer.
Lodra menggelengkan kepalanya, dan melepas masker di wajahnya. Davon lantas terkejut melihatnya.
" K- kau?!" Gumam Davon.
Lodra tersenyum smirk dengan wajah pucatnya, lalu dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
" Kita bertemu lagi, Davon.." Gumam Lodra.
TO BE CONTINUED..