A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 55. Cincin tanda Cinta.



Ryn, Lars dan Peet saat ini duduk di meja makan. Karena Peet adalah yang paling tua, jadi Peet duduk di bagian ujung, kursi kepala keluarga. Sementara Lars berada di sebelah kanan, dan Ryn sebelah kiri.


Pelayan menghidangkan satu persatu menu makan malam mereka, tetapi Ryn yang masih kenyang itu tidak berselera melihat makanan di hadapannya.


" Sayang, kamu mau jus saja?" Tanya Lars yang tahu raut wajah Ryn.


" Mm.. milk shake stroberi saja, apa boleh?" Tanya Ryn, dan Lars mengangguk.


" Bawakan nona milk shake stroberi dan potongan buah." Ujar Lars pada pelayan.


" Baik tuan muda." Ujar Pelayan.


" Kenapa kamu tidak makan malam nak? " Tanya Peet.


" Ryn belum lama makan siang kek, jadi masih kenyang." Ujar Ryn, dan Peet mengangguk angguk.


Buah dan milkshake untuk Ryn pun datang. Ryn sangat suka milk shake, apalagi jika itu buatan Paul, entah mengapa seperti ada rasa tersendiri ketika Ryn menyesap milk shake buatan Paul.


' Aku jadi merindukan papa, milk shake buatan papa tidak ada yang mengalahkan.' Batin Ryn.


Sampai akhirnya makan malam pun selesai, Dokter yang menjaga Peet pun datang dengan obat obatan yang harus selalu Peet konsumsi setiap harinya.


" Tuan, silahkan di minum obatnya, lalu kita beristirahat." Ujar Dokter itu.


" Ya, terimakasih." Ujar Peet.


" Haih.. Sudah tua tidak bisa bebas duduk dan bergerak, tubuh kakek cepat lelah. Kalian anak muda, cepatlah menikah, agar rumah ini ramai." Ujar Peet lagi lagi membahas pernikahan.


" Iya kek, selamat beristirahat." Ujar Lars.


" Kakek harus tetap sehat, sampai hari itu tiba, oke?" Ujar Ryn, dan Peet tertawa.


" Hahaha.. baik.. baik.. Kakek akan jaga kesehatan kakek. Dokter, ayo." Ujar Peet.


Sang Dokter pun akhirnya membantu Peet untuk berjalan menuju ke kamarnya. Dan kini hanya meninggalkan Lars dan Ryn di meja makan.


" Menginaplah malam ini, sayang. Aku merindukanmu." Ujar Lars.


" Eh? Bukankah kita sejak siang bersama?" Ujar Ryn.


Lars bangun dari duduknya, lalu menggendong Ryn begitu saja. Ryn tentu langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Lars karena takut jatuh.


" Kamu! nanti kakek lihat, Lars." Ujar Ryn berbisik.


" Tidak masalah, kakek justru akan senang melihat kita begini." Ujar Lars.


" Kepalamu, turunkan aku Lars." Ujar Ryn.


" E-em.." Ujar Lars sembari menggeleng.


Rupanya Lars menggendong Ryn dan membawanya ke ruang tv. Lars meletakan tubuh Ryn di sofa sangat perlahan. Lars menatap wajah cantik Ryn yang tak pernah bosan ia pandangi itu, lalu mengecup keningnya.


" Tunggu aku di sini sebentar." Ujar Lars.


" Kamu mau kemana?" Tanya Ryn.


" Sebentar sayang." Ujar Lars.


Lars pergi menghilang di balik tembok, Ryn pun menyalakan Tv untuk menghilangkan rasa sepi. Tak ada lima menit, Lars kembali dan duduk di sisi Ryn.


" Sayang.." Panggil Lars.


" Hum?" Sahut Ryn, tapi matanya masih tertuju pada tv.


Lars akhirnya mematikan tv itu dan membuat Ryn melirik Lars.


" Kenapa di matikan, Lars?" Tanya Ryn.


Tetapi Lars tidak menjawab, Lars menarik jari kanan Ryn kemudian memasangkan sebuah cincin di jari manis Ryn, Ryn sampai menutup mulutnya.


" Ini bukan cincin pertunangan atau pernikahan, ini adalah cincin tanda cintaku untukmu." Ujat Lars.


" Kamu.." Ujar Ryn hendak menangis tapi juga tertawa karena terharu.


" Terimakasih." Ujar Ryn.


" Aku mencintaimu, sayang." Ujar Lars lalu memeluk Ryn.


Lars melerai pelukannya, lalu menatap jari Ryn yang tampak semakin cantik dengan hiasan cincin itu. Cincin kecil dengan berlian kecil kecil berwarna putih di sekitarnya dan satu berlian merah muda di titik tengah, sangat indah melingkar di jari manis Ryn.


Meski kecil, harga dari cincin itu sangat mahal. Karena berlian dari cincin itu adalah berlian berlian langka yang harganya melangit.


" Indah.." Gumam Lars.


" Kenapa kamu tiba tiba memberiku cincin seindah ini?" Tanya Ryn.


" Kamu telah memberiku banyak hal, kenapa kamu bilang belum pernah memberiku sesuatu?" Ujar Ryn.


" Tidak apa apa, ini sebagai tanda cintaku, nama cincin ini adalah Gladys." Ujar Lars.


" Gladys itu namaku." Ujar Ryn dan Lars mengangguk.


" Karena kamu cantik dan indah, sama seperti cincin ini. Aku sungguh tidak sabar ingin menikahimu, dan menunjukan pada dunia bahwa kamu adalah miliku." Ujar Lars.


" I love you so bad, baby." Ujar Lars lalu mencium Ryn.


Ryn mengimbangi ciuman Lars lalu Lars mebggendong Ryn ala koala dan membawa Ryn masuk ke dalam kamarnya.


" Kenapa kita masuk ke kamarmu?" Ujar Ryn ketika ciuman itu terlepas.


" Aku merindukanmu, menginaplah malam ini, hum?" Ujar Lars dengan tatapan yang dalam.


" Aku tidur di kamar yang biasa saja, jangan di kamarmu." Ujar Ryn.


" Tidak, aku ingin tidur sambil memelukmu, aku ingin menebus hari hari saat kamu tidak tidur di sini." Ujar Lars.


" Xixixi.. Kepala batu yang manja." Ujar Ryn sembari terkekeh pelan.


Lars meletakan Ryn di atas wastafel lalu menyiapkan sikat gigi untu Ryn. Sudah seperti seorang ayah yang sedang mengurus putrinya untuk sikat gigi sebelum tidur.


" Nah, gosok gigimu, kamu terlalu banyak makan manis." Ujar Lars, dan Ryn terkekeh.


Lars membuka bajunya di hadapan Ryn dan Ryn bisa melihat bekas luka yang dulu pernah Ryn obati saat di rumah kecil di pekarangan kediaman Paul, Ryn spontan meraba bekas luka itu.


" Sayang, kamu sedang menggodaku, hum?" Ujar Lars, dan Ryn langsung melepaskannya.


" Ish! Mana ada. Aku sedang memegang bekas luka di dadamu itu." Ujar Ryn, dan Lars terkekeh.


" Gosok gigimu, atau nanti aku tidak tahan dan memakanmu." Ujar Lars.


Ryn yang tidak tahu arti di makan yang Lars kasudkan pun hanya meledek Lars dengan kedua matanya yang di julingkan.


" Wle! macam bisa." Ujar Ryn dan Lars menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


Lars pergi ke walk in closetnya dan mengambilkan pakaian tidur untuk Ryn, karena pakaian Ryn yang berada di kamar tamu itu kini sudah di jadikan satu di kamar Lars.


" Nah, ganti bajumu, aku tunggu di luar." Ujar Lars dan Ryn tersenyum.


Sekitar 20 menit, Ryn baru keluar dan melihat Lars yang sedang memainkan ponselnya menghadap ke luar jendela.


" Kamu sudah selesai, sayang? Kenapa kamu mandi malam malam, hum? " Tanya Lars, langsung meletakan ponselnya dan menghampiri Ryn.


Lars mengangkat tubuh Ryn dan meletakannya di atas sofa, lalu Lars mengambil pengering rambut, dan mengeringkan rambut Ryn.


" Aku selalu mandi sebelum tidur, agar tidurku nyenyak. Tapi terkadang jika aku terlalu mengantuk aku hanya cuci- cuci saja." Ujar Ryn.


" Cuci - cuci??" Tanya Lars bingung.


" Cuci kaki, tangan, wajah dan gigi. Kecuali badan, aku menyebutnya cuci - cuci." Ujar Ryn, dan Lars terkekeh.


" Nah, selesai.. aku mandi dulu." Ujar Lars lalu mengecup kepala Ryn, dan Ryn mengangguk.


Lars pun maduk kedalam kamar mandi, Ryn mengirimi Lodra pesan bahwa dia akan menginap di kediaman Lars, agar Lodra tidak mencari Ryn. Dan setelah beberapa saat, terlihat Lars keluar dari kamar mandi dengan piyama sutranya.


Ryn tersenyum ketika melihat Lars yang berpenampilan berbeda ketika sedang formal dan tidak formal. Lars yang saat ini dengan piyama terlihat sangat segar dan tampan. Tapi jika Lars sedang menggunakan pakaian formal, dia terlihat sangat dewasa dan maskulin namun tetap tampan berkalilipat.


" Kamu melihatku begitu, apa berpikiran yang aneh aneh tentangku, hum?" Ujar Lars yang menyadari tatapan Ryn.


" Mana ada.." Ujar Ryn.


Lars naik ke ranjang lalu merebahkan tubuh Ryn dan meyelimutinya.


" Lalu?? Kamu menatapku sampai tidak berkedip begitu, aku sampai merinding." Ujar Lars, dan Ryn terkekeh.


" Hanya merasa beruntung, karena memiliki kekasih yang bisa berganti wajah." Ujar Ryn.


" Berganti wajah bagaimana?" Ujar Lars bingung.


" Kamu terlihat tampan dan segar saat menggunakan piyama, tapi kamu terlihat tampan dan dewasa ketika menggunakan pakaian kerja. Oh.. dan satu lagi, kamu seperti boyband Korea ketika sedang dalam mode menyamar." Ujar Ryn.


Lars tersenyum lalau mengecup bibir Ryn dan merebahkan dirinya di sisi Ryn, lalu memeluk Ryn.


" Tidurlah penggoda kecil, sudah malam." Ujar Lars. Dan Ryn terkekeh di dalam pelukan Lars.


" Selamat malam." Ujar Ryn.


" Malam, sayang." Sahut Lars dan mengecup kening Ryn berulang kali.


TO BE CONTINUED..