
Ke esokan harinya.
Ryn bangun dari tidurnya dengan nafas terengah engah. Hingga Lars yang sedang tidur sembari memeluknya pun ikut terbangun.
" Huft.. huft.. huft.. " Ryn terengah engah.
" Sayang, kamu kenapa? Apakah mimpi buruk?" Ujar Lars dengan suara seraknya.
" Lars, apakah semalam kakak ku menginap di sini?" Tanya Ryn.
" Kakakmu bersikeras pulang, dia tidak mau menginap di sini." Ujar Lars.
Ryn langsung duduk dan mencari keberadaan ponselnya, ia mencari nama Lodra dan langsung menghubunginya. Lars pun ikut terduduk dan menguap karena sebenarnya ia belum lama tidur setelah semalaman suntuk dia menyelesaikan pekerjaan nya.
" Halo, kakak. Kakak ada di mana?" Ujar Ryn ketika panggilan itu tersambung.
" Kakak di kantor, adik. Ada apa? Tumben sekali kamu menghubungi kakak pagi pagi ? " Ujar Lodra dari seberang sana.
' Kakak baik baik saja, sukurlah.' Batin Ryn.
" Tidak apa apa, ya sudah kalau begitu. Kakak jaga diri baik baik, oke?" Ujar Ryn, dan terdengar kekehan Lodra dari seberang sana.
" Astaga adik, kakak pasti jaga diri, sayang. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan kakak, kakak akan baik baik saja. " Ujar Lodra.
" Baiklah, bye kak." Ujar Ryn, dan di sahuti Lodra lalu panggilan pun berakhir.
" Sayang, kamu kenapa? Kenapa langsung panik begitu? " Tanya Lars.
" Aku bermimpi hal yang buruk, Lars. Sebelum aku kehilangan papa, aku juga bermimpi hal yang sama. Aku tidak mau kehilangan untuk yang kesekian kalinya, Lars." Ujar Ryn.
Lars tersenyum lalu mengusap kepala Ryn dengan sayang.
" Itu hanya mimpi, sayang.. hanya bunga tidur. Kamu terlalu memikirkannya hingga terbawa mimpi." Ujar Lars.
" Semalam, apa saja yang kalian bicarakan? " Ujar Ryn.
Semalam karena kelelahan setelah perjalanan tiga hari tiga malam di laut, Ryn tertidur di sofa saat Lodra dan Lars sama sama sedang membahas pekerjaan. Jadi Ryn tidak tahu apa lagi yang Lars dan Lodra bicarakan.
" Tidak banyak, setelah membahas pekerjaan kantor, aku mengatakan kepada kakakmu bahwa jangan bertindak sembarangan, lalu dia pulang." Ujar Lars.
Ryn tidak melihat kebohongan di mata Lars, jadi dia mengangguk.
" Aku siap siap dulu, muah." Ujar Lars lalu mengecup kening Ryn.
Sementara itu di tempat lain..
Lodra sebenarnya tidak sedang di perusahaan, dia sedang berada di kediaman Paul. Lodra tidak mau membuat Ryn terus khawatir padanya, jadi dia terpaksa berbohong pada Ryn.
" Maafkan kakak, sayang. Kakak terpaksa berbohong begini, kakak tidak mau kamu terlibat." Ujar Lodra.
" Tuan, kami sudah datang." Ujar seorang pria dengan beberapa orang lain nya dengan jumlah tujuh orang.
" Terimakasih kalian sudah tiba di sini, mari ikut aku." Ujar Lodra.
Ketujuh orang yang menggunakan masker itu pun langsung mengangguk. Satu persatu orang itu membuka masker mereka, dan salah satu diantaranya ada perempuan yang sepertinya seumuran dengan Ryn.
" Tuan, rumah siapa ini?" Tanya seorang anggota ketika telah masuk ke dalam.
" Rumah tuanku, Paul. Beliau adalah orang tua angkatku yang sudah menyelamatkanku. Kalian akan tinggal di sini dan menjaga rumah ini. Nantinya akan ada seorang gadis yang akan tinggal di sini, dia adikku." Ujar Lodra.
Lodra lalu membuka kain penutup yang menutupi sebuah bingkai foto yang besar, terlihat foto Ryn dan Paul di sana.
" Dia adalah Ryn Gladys, nona kalian. Jaga dan lindungi dia ketika dia nanti berada di sini, dan jangan katakan apapun padanya tentangku." Ujar Lodra.
" Baik tuan." Ujar orang orang itu.
" Ini identitas baru kalian." Ujar Lodra sembari memberikan map besar berisi kartu identitas anak buahnya.
" Terimakasih banyak, tuan." Ujar anak buah Lodra, Lodra mengangguk lalu kemudian pergi dari sana.
Di tempat lain.
Lars sudah siap dengan pakaian formalnya dan saat ini sedang duduk di meja makan bersama Peet.
" Kakek, Lars akan ada pekerjaan di luar negeri, kakek bersama Ryn di sini, tidak apa apa kan?" Ujar Lars tiba tiba.
" Kamu mau pergi?" Tanya Ryn, karena sebelumnya Lars tidak memberitahu dirinya.
" Iya sayang, maaf aku memberitahumu dengan tiba tiba, karena Roco juga memberitahuku semalam." Ujar Lars.
" Cucu mantu, Lars sudah sering pulang pergi keluar negeri, dia orang yang sibuk. Cucu mantu, kamu jangan khawatir, Lars tidak akan kenapa kenapa." Ujar Peet dengan senyumnya.
" Iya kek." Ujar Ryn tersenyum.
' Apa ada yang Lars sembunyikan.' Batin Ryn.
" Salah satu anak cabang perusahaanku sedang tersandung kasus, karena perwakilan yang mengurus di sana menggelapkan dana. Jadi aku sebagai pimpinan utama harus datang dan menanganinya langsung." Ujar Lars.
" Aku tidak begitu mengerti dengan hal hal seperti itu, tapi berhati hatilah. Kapan kamu berangkat?" Tanya Ryn.
" Sekarang, sayang." Ujar Lars, dan terlihat wajah Ryn yang menyendu.
" Nak, satu pesan kakek.. Harta, dunia, bisa kita cari. Tapi selalu utamakan keselamatanmu, lalu ingatlah bahwa ada keluargamu yang menunggu di rumah." Ujar Peet menjadi bijak.
" Iya kek.." Ujar Lars.
Setelah sarapan selesai, Peet pergi dengan dokter ke rumah sakit untuk melakukan kontrol. Sementara Ryn kembali masuk kedalam kamarnya.
Pikiran nya semakin tidak tenang saja saat ini, semalam dia bermimpi buruk, lalu sekarang Lars akan pergi ke luar negeri, Ryn menjadi semakin gelisah.
" Sayang, tolong pasangkan dasi untukku." Ujar Lars tiba tiba.
" Kamu khawatir??" Tanya Lars, dan Ryn diam.
" Aku tahu apa yang kamu khawatirkan, tapi kamu harus ingat satu hal bahwa kekasihmu adalah Lars Hunter." Ujar Lars.
" Lars Hunter juga seorang manusia biasa." Ujar Ryn akhirnya.
" Aku janji hanya akan pergi dua hari, kamu jangan banyak berpikiran yang negatif.. aku akan pulang dengan keadaan baik baik saja." Ujar Lars.
" Kamu tidak sedang membohongiku kan, Lars?" Ujar Ryn. Lars tersenyum lalu menggeleng.
" Aku mencintaimu, sayang." Ujar Lars, lalu mencium Ryn.
Ciuman itu berlangsung lama, seakan keduanya enggan melepas satu sama lain.
" Aku akan mengabarimu ketika aku tiba di sana, jaga dirimu baik baik, hum?" Ujar Lars, dan Ryn memgangguk.
" Aku akan merindukanmu." Ujar Lars lalu memeluk Ryn.
" Aku pergi dulu." Ujar Lars.
" Boleh aku mengantarmu?" Tanya Ryn.
" Tidak sayang, Roco ikut denganku, selain dengan Roco aku tidak mempercayakan kamu pada anak buahku yang lain." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.
" Berhati hatilah." Ujar Ryn, lalu Lars mengangguk.
" I love you.." Ucap Lars lalu mengecup kembali bibir Ryn, setelah itu dai pun pergi dari sana.
' Semoga memang tidak ada yang di sembunyikan dariku.' Batin Ryn.
____________________
Ryn merasa bosan di kamar, biasanya dia melakukan semua hal dengan Lars, tapi kini Lars tidak ada.
" Lebih baik aku menemui Thunder." Gumam Ryn.
Akhirnya Ryn pun keluar dan menghampiri Harimau betina yang dia beli kemarin. Ryn akan mempertemukan harimau itu dengan Thunder hari ini.
" GRROAR!!" Suara harimau betina yang berisik.
" Kenapa dengannya?" Tanya Ryn pada pawang.
" Entah nona, dia sejak tadi begitu ganas." Ujar sang pawang.
Ryn mengangguk lalu menghampiri harimau yang sedang mengaum dengan keras itu.
" Ada apa? Apa kamu lapar?" Tanya Ryn.
" Dia tidak mau makan, nona." Ujar pawang.
" Biar saya yang beri makan." Ujar Ryn.
Ryn membuka kandang yang mengurung harimau itu, dan harimau itu langsung melompat keluar. Tapi luarnya itu juga merupakan sebuah kandang, hanya saja lebih besar dan luas, seluas lapangan basket.
" Nah, makan makananmu." Ujar Ryn memberikan seekor ayam yang sudah mati dan di bersihkan dari bulunya.
Ryn tidak menyuapinya di dalam kandang, dia melakukannya di luar kandang. Bagaimanapun itu sangat berbahaya.
Harimau itu pun mulai makan, rupanya dia tidak suka berada di kandang yang sempit, dia lebih suka bebas. Setelah akhirnya harimau itu kenyang, dia pun tidak menggeram galak.
" Dasar gadis galak, oh.. bagaimana jika kita berikanmu sebuah nama? Bersuaralah jika kamu setuju dengan nama yang aku sebut, oke? " Ujar Ryn.
" Bagaimana jika kau di panggil Lulu?" Ujar Ryn dan harimau itu diam melengos.
" Gabie? Sharon? Ashley? Laura?" Ujar Ryn tetapi harimau itu hanya diam, hingga Ryn menyebut..
" Jasmine?"
" Ggrrr.." Harimau itu bersuara, Ryn pun tersenyum.
" Jasmine, kau mau di panggil Jasmine? Baiklah, kalau begitu bersikaplah baik padaku. Jilat aku jika kita berteman." Ujar Ryn.
Jasmine pun bangun dan menjilat tangan Ryn. Ryn pun mengusap usap bulu Jasmine dengan gemas.
" Oke, kita akan pertemukan kamu dengan teman barumu, dia sejenis denganmu.. jangan galak galak padanya, hum?" Ujar Ryn sembari mengusap usap gemas.
Di kandang yang lain, pawang lain mulai mengeluarkan Thunder dari kandangnya. Thunder terlihat lari lari seperti biasanya.
" Nona, apakah ini akan berhasil?" Tanya pawang.
" Kita akan lihat nanti, bagaimanapun ini pertama kalinya mereka berdua di pertemukan." Ujar Ryn.
Thunder terlihat keluar dari dalam kandang dan langsung berlari menghampiri Ryn. Seperti biasanya, Thunder selalu manja pada Ryn.
Tapi kali ini Thunder mengendus seluruh tubuh Ryn, seakan ada bau asing di tubuh Ryn.
" Dia mencium bau si Jasmine." Ujar Ryn.
" Thunder, hari ini aku akan pertemukan kamu dengan pasanganmu. Perlakukan dia dengan baik, oke? Jangan sampai kau menyakitinya, atau kau tidak akan aku sayang lagi." Ujar Ryn sembari mengusap usap Thunder.
" Buka pembatasnya." Ujar Ryn.
Pembatas pun terbuka, terlihat keduanya saling terkejut dan saling tatap.
" GGGRRRRR..." Mereka saling menggeram.
TO BE CONTINUED...