
Ryn keluar dari ruangan itu, dan masih terdengar teriakan kesakitan Sam yang terdengar sangat pilu. Para bawahan Lars sampai hanya bisa berdiam diri melihat Ryn yang keluar dengan wajah biasa saja.
' Rasanya tuan dan nona Ryn ini adalah pasangan yang cocok, mereka seperti pasangan dewa dan dewi kematian. ' Batin salah satu anak buah Lars.
' Ya Tuhan, semoga aku tidak membuat maslah dengan nona Ryn.' Batin yang lain nya.
" Kamu sudah selesai, sayang?" Tanya Lars dan Ryn mengangguk.
" Terimakasih sudah menangkap dia, aku akan membuatnya membayar mahal atas apa yang sudah dia lakukan pada keluargaku." Ujar Ryn.
" Aku senang berguna untukmu." Ujar Lars.
" Tapi bolehkan aku menyiksanya dengan caraku sendiri? Aku ingin memberikan siksaan yang pedih untuknya." Ujar Ryn.
" Tentu, itu hakmu." Ujar Lars.
' Lars begitu sering membantuku, dia bahkan menangkap Sam untukku, dendam itu akan terbalaskan.' Batin Ryn sembari menatap Lars.
" Ayo, aku ajak kamu ke suatu tempat." Ujar Lars.
Ryn mengangguk dan berjalan pergi bersama Lars, dan turun ke lantai bawah.
' Seperti yang aku duga, di bawah sini ada lantai lagi.' Batin Ryn.
" Bagaimana caranya kamu membangun tempat persembunyian seperti ini? Bukankah setiap wilayah di jaga ketat oleh pemerintah?" Ujar Ryn.
" Mudah.. Ini adalah wilayah pribadiku, aku membelinya dan tidak ada satupun yang berani menggangguku." Ujar Lars.
" Benar juga, aku melupakan jati dirimu." Gumam Ryn, dan Lars terkekeh.
" Sejujurnya dulunya tempat ini bukan miliku, aku membelinya dari seseorang." Ujar Lars.
Keduanya sudah sampai di lantai bawah, dan Ryn melihat gudang pembuatan senjata. Ryn sampai terkejut ketika melihat begitu banyak senapan dan senjata api lain yang sedang di rakit.
" Tempat ini dulunya adalah tempat dimana aku bertemu dengan papamu, sayang." Ujar Lars, dan berhasil mengalihkan perhatian Ryn.
" Papaku??" Ujar Ryn, dan Lars mengangguk.
" Ayo, akan aku ceritakan." Ujar Lars.
Akhirnya keduanya membuka pintu, dan di balik pintu itu rupanya adalah hutan lagi. Ryn tentu saja kebingungan, dia masuk dari batang pohon dan turun dua lantai ke bawah, bagaimana bisa saat ini di hadapannya adalah hutan lagi?
' Bagaimana bisa.. 'Batin Ryn.
Di hutan itu terdapat dinding tinggi yang kokoh berdiri setinggi tiga meter dengan kawat duri yang mengelilingi di sekitarnya.
Itu adalah tempat pertama Lars bertemu Wira, atau lebih tepatnya tempat dimana Wira menyelamatkan Lars saat Lars di buang di hutan dulu.
" Aku pernah di buang oleh ayahku sendiri di hutan.. dia meninggalkan aku karena takut terancam dengan keberadaanku, jadilah dia membuangku kemari." Ujar Lars mulai bercerita.
" Beberapa hari aku berada di hutan ini sendirian, mencoba bertahan hidup dan terus berjalan menyusuri hutan, berharap menemukan permukiman warga, tapi tidak ada. "
" Aku yang nyaris putus asa itu, bertemu dengan seorang pria yang mengarahkan senapannya padaku.. Dia papamu." Ujar Lars dengan senyumnya.
" Papamu mengarahkan senapanya padaku, tetapi bukan aku yang dia tembak, tapi babi hutan. Dia menyelamatkan nyawaku dari serangan babi hutan itu, lalu aku di bawa kemari."
" Dia membimbingku, mengajariku merakit dan menggunakan senjata, mengajariku bela diri, dia adalah pahlawanku, seperti yang aku katakan padamu." Ujar Lars lalu menatap Ryn..
" Dia pemberani, tegas, dia bisa menjadi bengis dan bisa menjadi penuh kasih sayang di saat bersamaan, seperti kamu."Ujar Lars.
Ryn tersenyum, entah mengapa dia senang mendengar cerita Lars yang menceritakan tentang ayahnya. Ryn tidak menyangka, ayahnya rupanya lebih dulu bertemu Lars.
" Sejak saat itu, aku kian menjadi berani dan tidak lagi diam di perlakukan semena mena, higga aku besar. Aku pernah mencari tempat ini untuk menemui papamu saat aku sudah berdiri dengan kakiku sendiri, tapi aku tidak menemukan papamu lagi." Ujar Lars.
" Kenapa?" Tanya Ryn.
" Sejak saat itu aku menyelidiki siapa papamu itu, yang rupanya adalah ketua mafia DEATH, bernama Wira. Dia bagai hilang di telan bumi. " Ujar Lars. Dan Ryn menjadi berkaca mendengarnya.
" Jangan menangis, papamu adalah orang yang baik. Dia ketua mafia tetapi dia memiliki hati yang baik." Ujar Lars.
" Sayangnya aku tidak mengikuti penyelidikan itu lagi, sampai akhirnya aku bertemu denganmu dengan masalalumu yang terkubur. Setelah aku bantu menyelidiki, rupanya kamu adalah putri dari pahlawanku." Ujar Lars sembari mengusap air mata Ryn.
" Banyak orang yang ikut meninggal setelah papaku di bunuh, Sam pasti yang melakukannya." Ujar Ryn.
" Bukan hanya Sam, ada beberapa orang yang juga terlibat, salah satunya Kriss. Sebenarnya Kriss berpihak pada ayahmu, tetapi dia tidak memiliki kekuatan sebesar Sam, jadi dia ikut serta menghabisi anak buah DEATH yang setia pada papamu, karena dia takut di bunuh." Ujar Lars.
" Berpihak atau tidak dia dengan papa, dia tetaplah salah satu pembunuh yang sudah ikut menghabisi papa dan mamaku." Ujar Ryn dengan tatapan dingin.
" Di mana dia? Aku ingin menemuinya." Ujar Ryn pada Lars.
" Akan aku hubungi dia." Ujar Lars, dan Ryn mengangguk.
Waktu berlalu..
Ryn dan Lars sudah pergi dari sana, dan saat ini sedang berada di perusahaan. Ryn yang sedang bergaya kasual itu membuat semua mata memandang ke arah Ryn.
" Kamu duluan saja, aku ingin ke toilet." Ujar Ryn.
" Di ruanganku ada toilet, sayang." Ujar Lars.
" Tidak bisa! Aku kebelet." Ujar Ryn dan langsung berlari memasuki toilet.
Lars yang di tinggal begitu saja sampai diam tidak bisa berkata apa apa, Ryn bagai tupai yang langsung hilang dalam pandangan saat berlari.
" Astaga, dia lari cepat sekali.." Gumam Lars.
Akhirnya Lars tetap berdiam diri di sana, ia tidak mungkin meninggalkan Ryn sendirian.
Sementara itu, Ryn yang sesang berada di dalam toilet itu merasa lega ketika akhirnya dia mengeluarkan hajat kecilnya yang sejak tadi dia tahan selama perjalanan menuju ke perusahaan Lars.
" Akhirnya.. Lega sekali." Gumam Ryn.
Saat Ryn sedang bersiap hendak keluar, tiba tiba ia mendengar seseorang membicarakan dirinya di luar bilik toilet. Terdapat tiga perempuan yang saat ini berdiri di kaca wastafel.
" Astaga, bagaimana bisa kekasih CEO terlihat begitu cantik dalam semua hal? Dia cantik saat formal, juga saat kasual. Aku ingin seperti dia.." Ujar wanita pertama.
" Dalam mimpimu, dia cantik karena dia perawatan. Uangnya banyak tentu saja dia bisa terlihat cantik dalam semua gaya." Ujar wanita kedua.
" Dengar dengar dia putri mendiang Paul Reiner yang sudah meninggal, dia kan konglomerat nomor dua tadinya, pasti nona Ryn ini menjadi penerusnya kan? Tidak pernah hidup susah, tentu saja tubuhnya bagus." Ujar wanita ketiga.
" Tapi dengar dengar, Paul ini meninggal bukan karena murni kecelakaan. Ada kabar dari media gelap yang mengatakan bahwa Paul meninggal di bunuh oleh musuhnya." Ujar wanita ke dua.
" Masa??? Jangan jangan kekayaan nya itu bukan murni hasil jerih payahnya, makanya dia di bunuh musuhnya." Ujar wanita pertama.
" Mungkinkah dia terlibat konflik dengan mafia?" Ujar wanita ketiga.
" Memangnya jaman apa ini? Mafia itu hanya di novel novel, kan? Aku tidak percaya masih ada mafia di dunia yang sudah serba canggih ini." Ujar wanita pertama.
" Pada dasarnya, menjadi kaya juga tidak mudah, mati saja tragis." Ujar wanita ketiga dan kedua wanita lainnya tertawa.
Ryn yang kebetulan lewat mendengar itu, biasanya dia tidak peduli dengan apapun omongan orang tentang dirinya, tapi mendengar nama Paul di sebut, dia menjadi geram.
" BRAK!!" Suara pintu toilet yang di buka dengan keras oleh Ryn. Ketiga wanita itu sampai terkejut dan seketika pias karena melihat Ryn berdiri menatap mereka dengan tatapan datar.
" N- nona Ryn.." Gumam perempuan pertama.
TO BE CONTINUED...