
Ryn sampai di perusahaan Lars, dan seperti biasanya .. Ryn menjadi pusat perhatian. Apa lagi saat ini Ryn menggunakan pakaian yang sedikit formal namun masih bisa di bilang casual.
Ryn menggunakan blazer berwarna putih, dengan celana pendek dan dalaman blazer juga berwarna putih. Bahkan sepatu yang Ryn kenakan juga berwarna putih, dengan sedikit aksen garis warna emas di pinggir sepatu itu.
' Apakah ada yang aneh pada diriku, semua karyawan Lars menatapku begitu intens.' Batin Ryn.
Ryn tidak tahu saja, bahwa dirinya menjadi pusat ke irian kaum wanita di sana. Bukan hanya pria yang memandangnya kagum, bahkan yang sesama wanita pun terpesona melihat betapa anggun dan berkarismatiknya Ryn saat ini.
Berjalan menyusuri sepanjang lorong dengan kaki jenjang bak model, dengan rambut panjang di urai. Dia terlihat sangat cantik dan berkelas.
" Apakah kamu tidak nyaman?" Tanya Lars yang melihat gerak gerik Ryn.
" Tidak, aku baik baik saja." Ujar Lars.
" Apa kakimu sakit lagi?" Ujar Lars dan langsung menghentikan langkahnya.
" Aku baik baik saja, hanya saja... Kenapa semua orang menatapku begitu? Apa ada yang salah dengan pakaianku?" Tanya Ryn.
Lars menatap Roco, seketika Roco langsung mengangguk. Entah kode apa yang di berikan Lars pada Roco, tapi Roco mengangguk begitu saja dan pergi dari Lars. Tentu saja untuk membubarkan para karyawan yang sudah lancang menatap Ryn dengan begitu intens.
" Tidak ada, kamu sangat cantik. Ayo.." Ujar Lars dan menggandeng tangan Ryn lalu masuk ke dalam lift.
Mereka sampai di lantai paling atas, dimana ruangan Lars berada. Di lantai itu hanya ada ruangan khusus untuk Lars dan Roco selaku CEO dan sekertaris CEO. Sementara tingkatan selanjutnya berada di bawah lantai Lars.
" Bukankah kamu ada pertemuan penting, tadi?" Tanya Ryn.
" Roco akan menghandle nya, jangan khawatir." Ujar Lars.
kemudian datang seorang sekertaris kedua Lars yang berada di bawah Roco, dia datang dengan seseorang.
" CEO, tuan Lodra sudah sampai." Ujar sekertaris itu.
" Suruh dia masuk." Ujar Lars.
" Baik." Ujar sekertaris itu.
Kemudian Lodra muncul dari balik pintu dengan jas abu abu formal nya.
" Adik.." Gumam Lodra dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Ryn tidak tahu harus berbuat apa, dia kecewa tapi dia juga merindukan sosok kakak angkatnya itu. Padahal baru satu hari dia tinggal di kediaman Lars.
" Kak.." Ujar Ryn dengan senyumnya.
" Silahkan duduk tuan Lodra." Ujar Lars, dan Lodra mengangguk.
" Ryn, kakak minta maaf. Kakak tidak bermaksud apa apa dengan menyembunyikan kebenaran itu, kakak hanya.."
" Itu bukan salah kakak.." Ujar Ryn memotong ucapan Lodra.
" Aku tahu, kakak hanya berusaha melindungiku dan memastikan aku baik baik saja." Ujar Ryn lagi.
Lodra tersenyum mendengarnya, Ryn bisa begitu dewasa ketika sedang menghadapi masalah.
" Tapi, bisakah kakak ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya? Beri tahu aku kebenaran nya yang sebenarnya, kak. Aku ingin tahu jati diriku yang sebenarnya dari kakak." Ujar Ryn.
Lodra terdiam, meski dia tidak melihat kejadian di masa kecil Ryn, tapi Paul sudah memberitahunya semua tentang Ryn. Karena Paul menyelidiki siapa siapa saja dalang di balik kematian orang tua kandung Ryn, jadi bisa di katakan bahwa Lodra mengetahui kebenaran nya.
" Itu kemauan nya, jika anda terus menyembunyikan identitasnya dia hanya akan terus tersiksa karena potongan potongan ingatan di masa kecilnya yang bermunculan.'' Ujar Lars.
'' Besok.. kamu ikutlah dengan kakak ke suatu tempat.'' Ujar Lodra akhirnya dan Ryn mengangguk.
'' Apakah kamu sudah memaafkan kakak? '' Tanya Lodra.
'' Kakak tidak memiliki kesalahan apapun padaku.''Ujar Ryn dan tersenyum.
'' Kalau begitu, apakah kamu ikut pulang dengan kakak?'' Tanya Lodra.
'' Malam ini saya memanggil seorang dokter yang akan membantu Ryn menggali ingatan masalalu nya, dia sudah datang jadi mungkin Ryn akan menginap lagi.'' Ujar Lars.
'' Dokter? '' Ujar Ryn.
'' Ya, maaf tidak memberitahumu, tapi aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku akan mencarikanmu seorang dokter, jadi aku langsung mencarinya.'' Ujar Lras.
'' Baiklah.'' Ujar Ryn.
Di tempat lain..
Sam sedang duduk di kursi kebesaran nya, dia berulang kali mengetukan jari jarinya di meja kerja nya dengan seorang pria yang saat ini duduk di hadapan nya.
'' Jadi keluarga Hunter melibatkan diri.. bagus... Lars Hunter, anak itu entah mengapa sangat sulit untuk di sentuh, seakan ada kekuatan besar yang melindunginya. '' Gumam Sam.
'' Dan tuan, sejak kemarin saya mengamati sekitar dan melihat seseorang yang terus mengamati kita.'' Ijar pria yang berada di hadapan Sam.
'' Siapa?'' Tanya Sam.
'' Entah, dari pakaian nya dia seperti orang orang Black Fire. kelompok mafia yang pernah bermusuhan dengan kita.'' Ujar bawahan Sam.
'' Balck Fire? Ada masalah apa lagi mereka menyerang kita? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak saling mengganggu lagi dengan pertukaran senjata saat itu?'' Ujar Sam.
'' Dan aku minta, kalian cepatlah atur strategi lagi untuk menculik Ryn.. Dia harus di bunuh, dia sama membahayakan nya dengan ayahnya, Wira.'' Ujar Sam.
'' Baik, tuan.'' Ujar bawahan Sam, lalu kemudian dia keluar dari ruangan Sam.
Sam tidak lagi mengingikan Ryn sebagai pengganti Vitalia ( ibu kandung Ryn ) Sam melihat marabahaya besar yang mengintai dirinya setelah dia berhadapan langsung dengan Ryn beberapa hari yang lalu. Ryn sama hebatnya dengan Wira, dia sama membahayakan nya jika di biarkan hidup.
Sam mengambil keputusan dan lebih baik melenyapkan Ryn, dari pada nyawanya terancam dan posisi nya sebagai ketua DEATH akan terancam. Usia bukan menjadi halangan bagi Sam untuk terus berkecimpung di dunia hitam, dia bahkan tega menghabisi beberapa keluarganya yang menurutnya membahayakan posisinya.
Bisa di katakan, Sam bagai Raja yang takut kehilangan tahktanya. Karena bagaimanapun cara Sam menjadi ketua, tidak dia peroleh dengan jalan yang benar.. jadi dia sendiri menjadi begitu waspada dengan orang orang di sekitar dirinya.
Waktu berlalu, kini Ryn dan Lars sedang dalam perjalanan menuju kembali ke kediaman Lars. Lodra tampak ikut dengan mereka tetapi menggunakan mobilnya sendiri.
'' Kamu ingin makan sesuatu untuk makan malam nanti? '' Tanya Lars.
'' Aku bukan pemilih dalam makanan, apa saja boleh.'' Ujar Ryn, dan Lars mengangguk.
Tak lama mereka sampai di kediaman Lars, dan rupanya dokter Oneil yang Roco sebutkan siang tadi juga sudah ada di sana.
'' Selamat sore tuan Lars.'' Ujar Oneil ramah, dan Lars mengangguk.
'' Bawa dia menunggu di ruanganku.'' Ujar Lars pada Roco, dan Roco mengangguk.
'' Mari dokter.'' Ujar Roco pada dokter itu, sang Dokter mengangguk lalu ikut Roco pergi.
'' Apakah dia dokter yang kamu maksudkan?'' Tanya Ryn.
'' Benar, semoga saja dia bisa membantu mengembalikan ingatanmu.'' Ujar Lars, dan Ryn tersenyum lalu mengangguk.
Lodra sampai dan semua orang langsung berkumpul di meja makan untuk melangsungkan makan malam mereka bersama sama.
" Ayo kita mulai." Ujar Ryn ketika sesi makan malam selesai.
Akhirnya mereka pun pergi menuju ke ruangan kerja Lars. Di sana, sang dokter menunggu kedatangan Ryn.
" Nona Ryn, saya sudah membaca data yang di berikan asisten Roco tentang anda. " Ujar Dokter dan Ryn menatap Roco.
" Kasus seperti anda ini sangat special dan langka, saya sudah sangat lama tidak menemukan kasus yang serupa dengan yang anda alami. Semoga saya bisa membantu anda mendapatkan lembali ingatan anda." Ujar sang dokter lagi.
" Mohon bantuan nya, Dok." Ujar Ryn.
" Mari nona, silahkan berbaring dan kita mulai terapinya. " Ujar Dokter itu dan Ryn mengangguk.
Lars dan Lodra duduk mengamati dari sisi kanan dan kiri Ryn, seakan memberi Ryn dukungan.
Terapi di mulai, Dokter meminta Ryn menceritakan apa yang dia alami akhir akhir ini. Ryn pun menceritakan semua yang dia alami. Dan selama berjalan nya terapi itu, Ryn sudah menahan sakit di kepalanya karena kilasan kilasan ingatan yang yang muncul bergantian itu sangat abstrak.
" Ugh!" Ryn mulai tidak kuat menahan sakit kepalanya.
" Nona Ryn.. Apakah anda baik baik saja?" Ujar Dokter.
" Kepalaku sakit." Ujar Ryn.
Dan saat ini, muncul gambaran baru di kepa Ryn. Dia melihat wajah.. Wajah yang asing, namun sedikit familiar di ingatan nya. Dua wajah laki laki dan perempuan yang sedang tersenyum padanya.
" Ryn, sedang melukis mama dan papa, Ryn akan memasangnya di di kamar,nanti." Ujar suara anak kecil, itu adalah Ryn kecil.
" Ryn menggambar keluarga kita?" Ujar suara laki laki itu.
" Bukan menggambar, papa.. Tapi melukis, melukis..." Ujar Ryn kecil.
" Mama, papa.." Gumam Ryn dengan mata terpejam menahan sakit.
" Ryn, Ryn.. Kamu baik baik saja." Ujar Lodra khawatir.
" Hentikan terapinya, Ryn kesakitan." Ujar Lars.
" Ugh!!" Ryn semakin kesakitan, sampai akhirnya dia hilang kesadaran.
" Kenapa bisa begini?" Ujar Lars menatap dokter.
" Tuan Lars, nona Ryn mengalami memory block, dia akan sangat kesulitan mengingat kenangan kenangan yang membuatnya trauma. Nona Ryn mungkin sedang mencoba mencerna setiap gambaran yang muncul, karena biasanya gambaran gambaran kenangan yang muncul itu seperti bayangan abstrak." Ujar Dokter.
" Kita akan melanjutkan nya lagi nanti, ketika nona Ryn sudah baik baik saja." Ujar dokter.
" Terimakasih, dok." Ujar Lodra.
" Aku akan bawa dia ke kamarnya." Ujar Lars, dan langsung menggendong Ryn dalam gendongan nya.
' Tuan muda Lars begitu khawatir dengan nona Ryn, apakah dia adalah kekasih tuan muda Lars? ' Batin Dokter itu.
" Jangan beri tahu siapapun tentang hal ini, atau kau tahu akibatnya " Ujar Lars sebelum akhirnya hilang di balik pintu.
" Saya tahu itu, tuan.." Ujar sang dokter.
' Semua orang benar benar takut pada Lars. Dia memang adalah irang yang tepat untuk Ryn.. Papa, Ryn sudah menemukan pelindungnya.' Batin Lodra.
TO BE CONTINUED..