
Pagi ini, entah kenapa Zanna merasakan perutnya sering mulas. Ia membangunkan suaminya yang masih terlelap. "Sayang, bangun," panggil Zanna menggoyangkan tubuh Nicko agar segera bangun.
Hm…Nicko perlahan membuka matanya. "Apa?" Tanya Nicko bangun, menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang.
"Aku ingin ngidam?" Ucap Zanna langsung membuat Nicko membuka matanya lebar, menatap istrinya dengan senang.
"Benarkah?" Tanya Nicko antusias, ingin segera melaksanakan permintaan istrinya.
Zanna sebenarnya ingin sekali tertawa, tapi ia menahan tawanya karena rasa sakit di perutnya. Ia berpikir mungkin saat ini waktunya dia melahirkan. Dan hari ini ia akan membuat suaminya merasakan keinginan nya, menemaninya di rumah sakit saat dirinya persalinan.
"Katakan, apa keinginan mu?"
"Aku ingin kamu mengantarkan ku ke rumah sakit?"
Nicko yang mendengar mengerutkan kening, bingung. Pikirnya ngapain ke rumah sakit? Nicko menatap istrinya, namun tidak di temukan istrinya kesakitan. "Baby, apakah kamu merasakan sesuatu? Apakah perut mu sakit?" Tanya Nicko berpikir, mungkinkah istri nya akan melahirkan
"Sudah, cepat. Aku ingin kamu menemani ku disana," seret Zanna sambil memegang perutnya yang sudah kontraksi. Perlahan ia menarik nafas dan menghembuskan nya secara teratur. Nicko yang di seret mengikuti. Tanpa mencuci muka atau berganti pakaian, ia terus mengikuti langkah istrinya yang cepat dengan memakai piyamanya.
Ada beberapa pelayan dan penjaga yang melihat, namun mereka hanya diam. Dalam pikiran mereka mungkin nona mudanya menginginkan sesuatu dan menarik paksa tuan mudanya.
Di dalam mobil, Nicko menatap istrinya yang memejamkan mata karena menahan perutnya yang mulas.
"Baby!" Panggil Nicko.
"Cepatlah. Aku ingin segera kerumah sakit," perintahnya dan langsung membuat Nicko menyalakan mobil dan pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Zanna masih menyeret suaminya. Ia sudah menghubungi dokter untuk melakukan persalinan nya ini. Nicko hanya patuh di seret paksa istrinya yang seper hero itu.
Seorang dokter yang mendapatkan kabar bahwa Zanna akan datang, langsung menghampiri Zanna.
"Nyonya."
"Cepat lah," perintah Zanna dan di angguki dokter itu.
Nicko hanya bingung saat mengikuti langkah istrinya yang masuk dalam ruangan persalinan. Saat di dalam ruangan itu, Zanna langsung naik di ranjang bersalin dengan di bantu oleh Nicko. Nicko baru sadar jika istrinya akan melahirkan hari ini.
Nicko sungguh merasa dia tidak berguna. Saat tahu istrinya meminta dirinya membawa ke rumah sakit seharusnya ia peka. Dan tiba tiba ia menangis di samping Zanna yang mengatur nafasnya.
"A-da apa?" Tanya Zanna masih dengan menahan sakit.
"Jangan di tahan Baby, jangan di tahan. Jika sakit berteriak lah. Dan maafkan aku, karena aku tidak peka," ucap Nicko menatap istrinya dengan air mata menetes di pipinya. Sungguh baru kali ini Nicko menangis di depan seorang wanita.
Zanna mengusap pipi itu, "Temani aku," pinta Zanna dan langsung di angguki Nicko.
"Tapi jika sakit jangan di tahan. Menjeritlah. Gigit aku, atau Jambak saja rambut ku. Karena itu lebih baik dari pada melihat mu menahan sakit sendiri."
Zanna yang mendengar tersenyum kecil. "Baiklah," jawab Zanna tak segan lagi. "Anggap ini gantinya ngidam ku selama ini."
Perut Zanna semakin kontraksi. Dokter yang menangani sudah bersiap untuk melakukan persalinan putra dari pengusaha sukses itu.
Argh!!! Jerit Zanna saat rasa sakit di perutnya tidak bisa ia tahan lagi. Zanna menjambak rambut Nicko dengan begitu kuat, hingga membuat Zanna juga berteriak keras, karena rambutnya seakan akan lepas dari kulitnya.
"Baby, sakit. Jangan kuat, argh…..menariknya, argh…..!!!" Teriak Nicko malah lebih keras dari Zanna.
Dokter yang ada di ruangan itu hanya melirik Nicko sambil menggelengkan kepala. "Bukankah tadi dia sendiri yang meminta untuk menarik rambutnya jika istrinya kesakitan?" Batin dokter dan perawat yang menangani Zanna.
"Hah, hah, sakit. Argh!!!" Teriak Zanna mengejan saat bayi itu mencoba mencari jalan lahir.
Argh!!! Teriak Nicko semakin kencang juga saat Zanna menarik tangannya dan menggigit dengan kuat, "Sayang, argh….sakit."
Ruangan yang seharusnya hanya ada suara seorang ibu yang melahirkan. Kini semakin riuh karena Nicko yang terus berteriak saling bersahutan dengan jeritan Zanna. Bagaimana tidak? Zanna menggigit nya dan menjambak secara bersamaan untuk mengurangi rasa sakit yang luar biasa dari perutnya.
Nicko yang belum mandi dan masih berantakan, kini semakin berantakan saat Zanna menjadikan suaminya pelampiasan rasa sakitnya.
Dokter di ruangan itu tidak bisa fokus karena teriakan Nicko yang lebay itu, "Tuan bisakah anda mengecilkan suara anda," pinta dokter itu.
"Bagaimana saya mengecilkan suara saya? Saya ini sedang menuruti ngidam istri saya. Jadi jangan melarang ku, nanti anak ku ngeces jika saya menolak di Jambak dan di gigit. Tapi, ini sungguh sakit, argh…..!!!!" Jeritnya lagi saat Zanna meninju wajah Nicko karena berisik.
"Jangan berbicara, argh….!" Teriak Zanna mengejan. Dan akhirnya bayi mungil itu lahir.
Oek,
Oek,
Oek,
Hah…hah….hah…
Nicko yang mendengar suara bayi menatap putra nya dan setelah itu beralih melihat istrinya uang penuh peluh keringat. "Baby terimakasih," ciumnya, mencium wajah Zanna karena zanna berhasil melahirkan putranya dengan sekuat tenaga.
"Terimakasih sayang, aku mencintai mu," ucap Nicko dan di angguki Zanna.
Setelah bayi itu di bersihkan, Nicko keluar menghubungi asistennya. "Datang kerumah sakit xx. Beritahu papa ku itu bahwa aku di rumah sakit, istriku melahirkan. Dan Jangan lupa bawakan aku pakaian," Perintahnya pada Tom.
Tak berselang lama, Tom, Mattew dan Natalie serta Dena datang ke rumah sakit untuk menjenguk Zanna dan debay nya. Namun saat sampai di sana, ia terkejut dengan penampilan Nicko yang awut-awutan. Rambut berantakan, wajah lebam dan masih ada luka di tangannya, beberapa luka gigitan.
Mattew dan lainnya langsung mendekati Nicko. "Ada apa dengan mu?" Tanya Mattew. Semuanya ikut mengangguk, ingin tahu.
"Pembalasan dari seorang istri," jawab Nicko. Entah kenapa Nicko berpikiran seperti itu, bahwa Zanna membalas dendam karena tidak ngidam sama sekali dan putra nya tidak menyusahkan dirinya. Dan hari ini Zanna lah yang berniat menyiksanya dengan dalih ngidam karena anaknya mau lahir. Konyol sekali bukan?
Semuanya yang mendengar itu saling pandang dengan bingung. Zanna yang kini sudah di pindahkan di ruang perawatan, menatap mereka yang masuk kedalam kamarnya.
"Kalian sudah datang?" Tanya Zanna. Natalie dan Dena langsung menghampiri Zanna.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Natalie.
"Aku sehat ma," jawab Zanna.
Dena yang melihat sekeliling tidak menemukan keponakannya bertanya, "Dimana dedek Nickzan?" Tanya Dena yang sudah tahu nama keponakannya itu.
"Sebentar lagi suster pasti akan membawanya kemari," jawab Nicko langsung mendapatkan tatapan dari Zanna.
Zanna menatap suaminya dengan kening mengkerut. "Ada apa dengan penampilan mu sayang?" Tanya Zanna pura-pura tidak tahu bahwa dialah pelakunya.
Nicko diam, saat ingin berbicara seorang suster membawa baby Nickzan masuk kedalam ruangan itu.
Natalie dan Dena langsung menghampiri baby Nickzan dan mengambil bayi tampan itu dari tangan suster.
"Sini, oma gendong," Natalie begitu bahagia saat melihat wajah cucunya yang sangat tampan itu. Dengan cepat ia mengambilnya dan menggendongnya.
Semuanya ikut menghampiri baby Nickzan yang berada dalam gendongan natalie. Dan mereka menoel-noel pipi gembul itu. "Manis dan tampan sekali dia," gemas Mattew senang.
Saat mereka sibuk dengan baby Nickzan, Nicko menghampiri Zanna yang tersenyum melihat semuanya begitu menyayangi putranya.
"Apa kamu bahagia?" Tanya Nicko duduk di di samping istrinya.
"Tentu saja, aku bahagia. Semuanya menyayanginya." Jawab Zanna menatap suaminya. "Terimakasih sayang. Terimakasih telah hadir dalam hidup ku. Aku mencintai mu," ucap Zanna memeluk tubuh suami tercinta nya.
"Aku juga mencintai mu," jawab Nicko membalas pelukan itu.
"Em, sayang. Ada apa dengan penampilan mu ini? Tidak seperti biasanya kamu nampak kacau seperti ini," ucap Zanna sedikit terkekeh
Semua orang menoleh ke arah mereka saat mendengar pertanyaan Zanna. Semuanya juga ingin tahu penyebab CEO yang selalu berpenampilan rapi itu menjadi berantakan di depan umum.
"Jangan kira aku tidak tahu niatmu baby. Menyiksaku dengan dalih ngidam. Tapi diri mu sungguh ku akui sangat berani. Bahkan kamu sangat berani hingga berani menonjok ku dengan kuat." Jawab Nicko dengan nada dingin.
"Kamu marah karena aku melakukan itu pada mu?" Tanya Zanna balik menantang dengan nada dingin. Nicko berpura-pura marah, dia tidak menjawab pertanyaan itu dan malah memberikan pandangan dinginnya. Zanna yang melihat menaikkan sebelah alisnya. Dan menghela napas, "Baiklah, karena kamu tidak terima. Jadi jangan harap aku akan melahirkan anak lagi untuk mu. Cukup sekali ini saja."
Nicko yang mendengar langsung menatap istrinya. Apa-apaan ini pikirnya. Kenapa malah seperti ini? Bukan ini yang dia mau. "Sial! Benar-benar selalu kalah dengan wanita ini," gerutu nya dalam hati karena Zanna selalu membuatnya tunduk.
"Baby! Jangan seperti itu ya. Jika tidak punya anak lagi, dan tidak melakukan itu. Bagaimana dengan ini? Aku takut akan karatan," ucap Nicko dengan wajah memelas.
Semuanya yang mendengar tertawa keras, karena melihat Nicko yang tidak ada wibawanya jika di depan istrinya.
SEKIAN.
TERIMAKASIH UNTUK SEMUA PARA PEMBACA YANG SETIA MENEMANI AUTHOR DALAM CERITA ZANNA INI.
AUTHOR HANYA BISA MENGUCAPKAN TERIMAKASIH SEBANYAK-BANYAKNYA KEPADA SEMUANYA.
SALAM SAYANG DARI AUTHOR. ~SAADAHRAFAEL~