
Setelah selesai dengan kegiatannya, Zanna bersungut-sungut karena lagi-lagi Nicko memaksanya. Dan sialnya, dirinya ikut terhanyut dalam buaian cinta suaminya.
"Sialan! Kenapa kamu menikmatinya juga," rutuknya pada dirinya sendiri.
Nicko yang yang berbaring di sampingnya langsung duduk dan memeluk tubuh itu dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu sambil menghirup aroma wangi istrinya.
"Apa yang kau lakukan? Jangan macam-macam. Aku lelah," ucap Zanna memperingati.
"Iya, iya. Tidak akan macam-macam lagi. Tapi nanti malam lagi ya," jawab Nicko langsung mendapat jitakan di kepala.
"Sayang," Nicko cemberut karena istrinya sangat kasar.
"Minggir! Aku mau mandi," usirnya menepis tangan Nicko dari perutnya.
"Mandi bareng ya," tawar Nicko langsung mendapatkan pelototan mematikan. "Oke, oke. Jangan marah," Nicko langsung melepas pelukannya dan membiarkan Zanna membersihkan diri.
Melihat istrinya yang sudah menghilang dari pandangan nya, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, "Istri kok galaknya minta ampun," gerutu nya sambil tersenyum.
.
.
Di meja makan, semuanya malam bersama tak terkecuali Zanna dan Nicko. Saat ini Zanna sedang melayani suami nya makan, mengambil kan makanan kesukaan nya.
"Bagaimana pernikahan kalian? Dan kira-kira kapan papa dan mama akan memiliki cucu?" tanya Mattew membuat Zanna dan Nicko saling pandang.
"Kami belum memikirkan itu?" jawab Nicko memainkan ponsel nya.
"Kenapa?" tanya Mattew menatap Nicko, begitupun dengan Natalie. Sedangkan Dena hanya diam, tidak ingin ikut campur urusan orang dewasa.
Zanna menatap Nicko, ingin tahu apa jawaban yang akan di berikan oleh suami nya itu.
"Masih banyak yang harus ku urus. Belum memikirkan hal itu," jawab Nicko datar sambil melirik Zanna.
Mattew diam, tidak ingin berdebat lagi. Ia tahu, jika dia terus memaksa, sifat kasar dan keras kepala nya mungkin akan keluar lagi. Mattew beruntung karena setelah menikahkan Nicko dengan Zanna, Nicko tidak pernah berulah. Yah walaupun sikap datar dan dingin masih tetap ada.
"Baiklah. Tapi papa harap jangan menunda terlalu lama. Kami sudah tua, ingin santai dengan cucu-cucu kami."
Em....jawab Nicko malas mendengar permintaan papa nya itu.
Dan setelah obrolan kecil itu, mereka semua pun makan malam bersama. Setelah selesai, Nicko pergi keruang kerja nya, sedangkan Zanna kembali kekamar.
.
.
Keesokan pagi nya. Seperti biasa, Zanna akan melayani suami pemaksa nya itu. Dari mulai mengancingkan baju, memasangkan dasi dan juga memakaikan Jas nya. Sering kali Zanna menggerutu kesal karena Nicko tidak mau melakukan sendiri, dengan alasan tangan nya lemas. Padahal itu sama sekali tidak lemas. Jika itu lemas, pastinya tangannya itu tidak memiliki tenaga. Tapi yang di lihatnya, suaminya itu malah asik dengan kegiatan nya, menyentuh bagian-bagian tubuhnya, mengusili dengan memeluk melakukan hal-hal yang membuatnya kesal dan terus membentak suaminya.
Namun setiap kali Zanna memarahi, Nicko tidak peduli, ia terus melakukan hal kesukaannya akhir-akhir ini.
"Nicko William.....!!!"Bentak Zanna saat tangan itu masuk kedalam baju nya, mencari sesuatu yang menjadi candunya.
Nicko hanya menampilkan gigi putihnya, tersenyum manis. Namun menyebalkan bagi Zanna.
"Jika tangan mu tidak diam, aku tidak akan mengurus mu lagi," ancam Zanna dan membuat Nicko layaknya anjing kecil yang takut dengan induknya, mengangguk dan patuh.
Zanna yang melihat tertawa dalam hati. Namun dia tetap memasang wajah kesal nya. "Ini baru anak pintar," ucap Zanna setelah merapikan dasi dan jas nya "Dah selesai," ucap nya menepuk dada suaminya, seolah mengatakan sempurna.
"Sekarang pergilah, bekerja dengan benar. Dan hasilkan uang banyak untuk ku," usir Zanna yang sebenarnya sudah malas melihat wajah yang menyebalkan itu.
"Aku tidak akan kekurangan uang sayang. Tapi demi diri mu, aku akan mencari yang lebih banyak agar istri ku ini tidak ngambek dan terus cemberut."
"Sudah sana pergi. Mau apa lagi?" usirnya melihat suami nya yang mulai mesum lagi.
"Mau memberikan ciuman saja."
Cup....
"Dasar Nicko sialan!" maki nya dengan wajah memerah.
Nicko yang sudah di luar kamar, terkekeh kecil mendengar umpatan istri nya. "Sungguh manis sekali," batinnya dan menghubungi Tom.
Beberapa menit kemudian Tom menjemput tuannya untuk pergi ke kantor.
Sedangkan Zanna juga langsung pergi, dia ingin keluar mengajak Dena jalan-jalan ke Mall. Hari ini ia ingin santai tidak ingin mengurus masalahnya di markas.
.
.
Sesampainya di Mall, Zanna membawa Dena berkeliling, berbelanja apa yang diinginkan.
"Kak, apa tidak apa-apa kita belanja sebanyak ini?" tanya Dena sambil melihat belanjaan yang di bawa Zanna.
"Tidak masalah, ini belum selesai. Kita belanja lebih banyak lagi. Ayo kita belanja, pilih apa yang kamu inginkan," ucapnya menarik tangan Dena.
"Tapi kak...."
"Kau tenang saja, tidak usah pikirkan masalah uang. Kakak punya ini," tunjuk nya pada kartu Black card di tangan nya. "Kita habiskan uang milik kakak ipar mu ini. Sudah ayo," ajak nya lagi dan kini mereka berdua berbelanja sepuasnya tanpa memperdulikan berapa banyak yang akan mereka habiskan.
Saat mereka sedang asyik tertawa sambil membawa belanjaan nya, tubuh Dena menyenggol seseorang yang melewatinya.
"Hei, apa kau tidak punya mata?" tanya seorang wanita menarik tubuh Dena dan langsung melayangkan tamparannya di pipi gadis remaja itu.
Plak....
Zanna yang melihat wanita itu berani menampar adik kecilnya di depan matanya langsung balas menampar wajah wanita yang sangat dia benci. Zanna tidak menyangka jika dia akan di pertemukan di tempat ini.
"Beraninya kau!!" marahnya saat merasakan panas di pipi mulusnya.
Zanna menatap tajam, penuh dengan aura membunuh. Ingatan tentang wanita yang ada di depannya memenuhi pikirannya. Mega, wanita yang sangat-sangat ia ingin bunuh.
Mega, menarik kerah Zanna dengan pandangan membunuh. "Berani nya kau menampar ku wanita jala-ng. Kau ingin mati?"
Zanna tersenyum mengejek. "Jika kau mampu, lakukan," jawabnya menantang.
Wajah Mega yang mendengar tantangan itu semakin marah. Namun ia di hentikan oleh pria yang bersama dengan nya. "Sudah, jangan membuat masalah di tempat umum. Jika kau ingin memberikan pelajaran, tunggu saat kita keluar," bisik Pria itu, namun masih dapat di dengar oleh Zanna.
Pria itu menarik tangan Mega, namun masih dengan pandangan penuh dendam terhadap Zanna. Ia memberi tanda bahwa dia akan membunuh Zanna nanti. Zanna yang melihat hanya tersenyum. Setelah itu menarik tangan Dena untuk segera pergi.
.
.
Di halaman Mall, Zanna memerintahkan supirnya untuk membawa Dena pulang lebih duluan.
"Pulanglah bersama supir. Kakak masih ada urusan," perintahnya mengelus kepala Dena dengan lembut. "Pak, bawa Dena pulang. Jangan turun sebelum sampai di rumah," lanjutnya.
"Baik nona," jawab sopir mengangguk.
Dena dan sopir pun pergi meninggalkan zanna di tempat itu. Setelah Dena pergi, Zanna menghubungi Felix untuk datang ke tempat dimana dia saat ini berada.
.
.
.
.
Bersambung