
Zanna langsung menyerang, mengayunkan senjata tajamnya ke tubuh Rubben. Rubben yang melihat menghindari ayunan senjata tajam itu, berharap tidak terkena benda tajam yang dapat melukai dirinya.
Zanna terus mengayunkan tanpa memberi celah Rubben untuk menyerangnya.
Cras,
Satu tebasan mengenai lengan Rubben, membuat pria itu menge-rang sakit. Darah menetes, ia yang melihat menekannya dengan tangan, lalu menatap Zanna. Zanna yang melihat tatapan itu tidak takut sama sekali, ia malah menyerang Rubben tanpa ampun.
Bug,
Syuut,
Cras,
"Argh! Dasar jala-ng!" Marahnya karena kini punggungnya yang kena tebasan hingga membuat garis panjang yang membuat kulitnya mengenga.
Tak sampai di sana, Zanna kembali menebas paha Rubben, membuat pria itu terus menge-rang sakit.
"Matilah kau Rubben sialan!" Marah Zanna dan kembali menyerang.
Zanna bagaikan kesetanan, menyerang Rubben tanpa ampun, tanpa memberikan kesempatan untuk mengambil senjata.
Cras,
Cras,
Tebasan demi tebasan ia ayunkan ke tubuh pria yang sangat ingin ia bunuh itu. Luka di tubuh Rubben begitu banyak, hingga tubuh itu penuh dengan darahnya sendiri.
Bug,
Zanna meninju rahang hingga membuat Rubben oleng dengan kepala yang begitu pusing. Rubben sempoyongan, menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pusing karena tinjuan kuat dari tangan Zanna.
Bug,
Zanna menendang tubuh itu hingga tersungkur. Melihat Rubben yang sudah lemah, Zanna menyeret senjata panjang itu, berjalan ke arah Rubben yang tengkurap di tanah.
Sampai di samping Rubben, Zanna menatap pria itu dengan dingin. Tanpa mengucapkan satu kata pun, Zanna menginjak tangan itu dengan kuat.
Argh! Teriak Rubben kesakitan
"Hari ini adalah hari kematian mu. Hari dimana Zanna ini akan mengambil nyawa mu," ucap Zanna menabas tangan Rubben hingga terpotong.
Argh! Jerit Rubben merasakan sakit luar biasa di tangannya. Tak hanya itu Zanna juga memotong kaki Rubben, dan menyiksanya dengan sangat sadis saat dirinya mengingat apa yang di lakukan Rubben padanya dan suaminya.
Ruben yang sudah berdarah-darah akhirnya menghembuskan nafasnya terakhir di bawah siksaan Zanna. Zanna yang melihat Rubben telah mati, ambruk di samping tubuh Rubben yang telah di cincangnya.
Hah…hah…nafas Zanna terengah-engah setelah berhasil membunuh Rubben. Ia memejamkan mata dan bergumam. "Akhirnya balas dendam ku kepada dua manusia terkutuk itu selesai."
Tiba-tiba ia teringat dengan suaminya. Ia beranjak dan pergi ke arah Nicko berada dengan langkah pelan dan tubuh lemas.
Sesampainya dirinya di tempat Nicko, Zanna terkejut karena Nicko hilang dari tempatnya. "Dimana suami ku?" Gumamnya Zanna mencari keberadaan Nicko di sekelilingnya.
Anak buah Nicko yang tak jauh dari Zanna menghampiri nona mudanya itu. "Nona, tuan saat ini berada di rumah sakit," jelas pria itu.
Zanna yang mendengar langsung berlari pergi untuk menyusul suaminya. Meninggalkan anak buah nya, anak buah Nicko dan anak buah Chloe yang menghabisi anak buah Rubben.
Zanna mengendarai mobilnya dengan perasaan kacau, berharap tidak terjadi sesuatu dengan suaminya. "Ku harap kamu baik-baik saja," gumam nya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Cukup lama ia mengendarai mobilnya, kini Zanna sampai di rumah sakit. Dengan pakaian yang berantakan dan penuh darah ia berlari masuk mencari kamar dimana suaminya berada.
Setelah bertanya kepada suster yang bertugas, Zanna langsung pergi ke tempat suami nya.
Sesampainya di depan ruangan operasi, Zanna bertanya kepada Tom tentang keadaan suaminya. "Bagaimana dengan nya? Dia baik-baik saja kan?"
"Saya belum tahu nona, karena tuan masih ditangani oleh dokter. Semoga tuan baik-baik saja."
Zanna mengangguk, mengerti. Ia pun hanya bisa mondar-mandir menunggu operasi itu selesai. "Semoga dia baik-baik saja. Semoga dia baik-baik saja," gumam Zanna terus menerus dengan perasaan gelisah.
Cukup lama menunggu, dokter pun keluar dan mengatakan jika Nicko baik-baik saja.
Zanna yang mendengar merasa lega karena suaminya akhirnya baik-baik saja.
"Terimakasih dok, terima kasih telah menyelamatkan suami saya."
"Itu sudah menjadi tugas saya sebagai dokter nyonya. Jika anda ingin menjenguk nya, silahkan anda menunggu sampai pasien sudah di pindahkan di ruang perawatan." Jelas dokter dan di angguki oleh Zanna. "Em maaf nyonya, saya masih ada yang harus saya kerjakan. Kalau begitu saya pergi dulu," pamit dokter karena masih ada pasien yang harus ia kunjungi. Zanna kembali mengangguk, mempersilahkan dokter itu pergi. Namun sebelum itu, Zanna lagi-lagi mengucapkan terimakasih.
.
.
Setelah operasi itu, Nicko akhirnya ditempatkan di ruang perawatan. Saat ini Zanna menemani suami nya di ruangan itu, mengelus kepala Nicko dengan lembut.
Tom masuk dan membawakan pakaian untuk nonanya. "Nona, sebaiknya anda bersihkan diri anda terlebih dahulu. Biar saya yang menjaga tuan."
Zanna menoleh dan melihat pakaian yang dibawa oleh Tom. Benar kata Tom, dirinya nya memang berantakan dan banyak noda darah di tubuh nya. " Terimakasih sudah membawakan pakaian untuk ku," ucap Zanna mengambil pakaian yang ada di tangan Tom.
"Sudah menjadi tugas saya melayani anda nona."
Zanna pun mengangguk dan setelah itu pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Sedangkan Tom duduk di sofa, mengambil ponselnya dan menghubungi Chris yang berada di tempat pertarungan.
"Bagaimana disana?" Tanya Tom tentang keadaan di tempat pertarungan itu.
"Semuanya beres. Semua anggota Red Wolf telah mati semua. Dan kini anak buah kita sedang mengurus mayat mereka dan anggota kita yang telah mati," jelas Chris.
"Baiklah, aku percayakan semuanya disana pada mu."
"Tuan baik-baik saja, tinggal menunggu sadar saja."
"Oh, syukurlah."
Setelah menghubungi Chris bahwa semuanya telah selesai. Kini Tom menghubungi tuan besarnya, Mattew William, untuk mengabarkan jika putranya berada di rumah sakit.
Mattew dan Natalie yang mendengar bahwa Nicko di rawat di rumah sakit, langsung bergegas pergi menuju rumah sakit itu, dan meninggalkan Dena di rumah bersama dengan Yuna dan pegawai lainnya.
Setelah berkendara selama satu jam, Mattew dan Natalie kini sampai di rumah sakit. Dan kini mereka berdua pergi menuju ruangan Nicko setelah bertanya tentang ruangan kamar yang ditempati putra nya itu.
Cklek,
Mattew membuka pintu. Zanna dan Tom yang berada di ruangan itu menoleh ke arah pintu. Di lihatnya mertuanya/tuannya datang.
"Pa, ma," panggil Zanna mendekat ke arah mereka berdua.
"Tuan," Tom pun juga menghampiri mereka.
Natalie menggenggam tangan Zanna. Dilihatnya menantunya juga terluka. "Ada apa dengan mu? Kenapa ada perban di lengan dan kepala mu?"
Zanna hanya diam, tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak mungkin dia mengatakan apa yang terjadi dengan nya secara jujur, bisa-bisa mertua nya itu pasti akan syok dengan apa yang di lakukannya.
Mattew yang melihat menantunya bingung menjawab akhirnya mengalihkan pertanyaan itu. "Ma, lihatlah keadaan Nicko."
Natalie langsung menoleh ke arah Nicko yang berbaring di ranjang pasien. Di lihatnya putranya itu belum sadar. Ia melepas tangan Zanna dan berjalan menghampiri Nicko. Dengan diam, Natalie mengelus kepala itu dengan lembut. "Apa yang terjadi dengan mu? Kenapa bisa seperti ini?" Gumam Natalie meneteskan air mata.
Mattew yang melihat istrinya menangis, menepuk bahu itu. Memberikan ketenangan untuk Natalie.
..
..
..
Setelah beberapa hari Nicko di rawat. Kini akhirnya Nicko di perbolehkan untuk pulang. Dengan di bantu oleh Tom, Nicko di bawa dengan kursi roda menuju mobil.
"Hati-hati tuan." Tom memapah tubuh Nicko masuk kedalam mobil. Sedangkan Zanna dengan setia menemani Nicko, berada di samping suaminya itu.
Setelah semuanya masuk, Tom pun melajukan mobilnya pergi untuk kembali ke kediaman William.
Di sepanjang jalan, Nicko menyandarkan kepala itu di bahu istrinya. Begitu manja, dan minta di belai oleh tangan lembut nya itu. Zanna tidak menolak dan malah menuruti perintah suaminya yang gila akan dirinya.
"Setelah sampai di rumah, banyak-banyak istirahat agar luka mu segera sembuh," ucap Zanna dan di angguki oleh Nicko.
Zanna tersenyum kecil melihat Nicko yang patuh. Satu jam perjalanan, kini mereka sampai di kediaman William. Dengan hati-hati Tom membawa tuannya ke kamarnya dengan di ikuti oleh Zanna.
Tom membaringkan tubuh tuannya saat sampai di kamar dengan perlahan. Tom melihat jam di pergelangan tangan nya untuk segera kembali kantor akhirnya pamit undur diri "Saya permisi dulu tuan. Ada meeting hari ini di kantor," jelas Tom karena harus menggantikan tuannya yang sedang terluka.
"Ya, pergilah. Urus perusahaan dengan benar, aku percaya pada mu."
"Baik tuan," jawab Tom mengangguk. Tom menoleh ke arah nona mudanya dan pamit undur diri juga. "Saya pergi dulu nona."
"Em, hati-hati di jalan," ucap Zanna memperingati.
"Baik nona," Tom pun pergi meninggalkan kamar itu dan kembali ke perusahan.
Nicko yang melihat Tom telah pergi bersedekap dada, kesal dengan perhatian yang di berikanlah istrinya pada asistennya itu. Zanna yang melihat suaminya sepertinya marah, duduk di samping nya. Menggenggam tangan itu. "Ada apa?" Tanya Zanna bingung. Padahal barusan suaminya itu begitu manja dengan nya dan sekarang berubah menjadi kesal. Apa alasannya Zanna tidak tahu.
Zanna menatap suaminya ingin tahu penyebab suaminya nampak kesal. "Katakan ada apa?" Tanya Zanna dengan tangan menyentuh wajah Nicko.
"Ada apa kamu dengan asisten itu?"
"Asisten? Maksud mu Tom?" Tanya Zanna dengan mengerutkan kening. Ada apa dengan Tom, pikir Zanna
Nicko tidak menjawab, namun malah membuang muka, kesal dengan perhatian Zanna kepada Tom. Padahal jika di pikir itu sangat wajar jika Zanna mengucapkan kata itu pada asisten suaminya. Karena selama ini Tom lah yang selalu ada untuk Nicko di saat ia membutuhkan.
Lama Zanna berpikir, akhirnya ia tahu kenapa suaminya itu merajuk seperti anak kecil. Mungkinkah suaminya itu cemburu? Zanna terkekeh karena itu. Ia mencium pipi Nicko tanpa meminta izin untuk meredakan kekesalan suaminya itu.
Cup,
Nicko yang pipinya di cium menoleh, menatap istrinya. Zanna yang di tatap tersenyum manis, sungguh manis hingga membuat Nicko tidak kuasa melanjutkan kekesalannya.
"Mulai berani ya!" tarik nya di tengkuk Zanna, dan mencium bibir itu, melu-mat nya dengan lembut.
Zanna yang merasakan bibirnya di cium, menyambutnya dan membalas ciuman itu, menikmati sentuhan bibir suaminya.
Cukup lama mereka saling menikmati bibir masing-masing, suara pintu di ketuk dari luar membuat kegiatannya berhenti. Nicko mengusap sisa dari Salivanya yang berada di bibir istrinya.
"Masuk," perintah Nicko dan pelayan itu pun masuk dengan membawa makanan di atas nampan.
.
.
.
Bersambung