
Rebecca yang melihat Zanna mendekatinya berlari ke arah Dena dengan mengambil sebuah gunting dan menodongkannya di leher Dena.
"Jika kau berani mendekat, aku akan membunuh adik mu," ancamnya dengan sungguh-sungguh.
Dena yang tidak sadar hanya diam, dengan mata terpejam. Rambutnya yang di tarik kuat oleh Rebecca tidak membuatnya bangun juga. Zanna yang melihat bagaimana Rebecca yang keterlaluan, mengepalkan tangan, marah dengan apa yang di lakukan saudaranya itu.
Zanna berjalan maju selangkah, namun Rebecca langsung mendekatkan gunting itu hingga menyentuh kulit leher Dena. "Aku tidak bercanda. Selangkah lagi kau maju, aku akan membunuh nya," ancamnya lagi, memperingati agar Zanna tidak mendekat ke arahnya.
Zanna yang mendengar ancaman itu, menaikan sebelah alisnya, seolah dia tidak percaya Rebecca berani melakukan itu.
Melihat tatapan mengejek itu, Rebecca sangat kesal. "Kau benar-benar tidak percaya dengan apa yang kukatakan? Baiklah, lihatlah dengan benar aku akan membunuh adik kesayangan mu ini," Rebecca mengangkat tangannya, siap menghunuskan pisau itu di leher Dena.
Zanna yang melihat langsung mengambil pistolnya dan menembak lengan itu, hingga membuat Rebecca tidak jadi membunuh Dena. Gunting itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Zanna yang melihat Rebecca berteriak keras karena sakit di lengannya, langsung menghampiri Rebecca, menarik rambut itu dan menyeretnya di depan Dena.
Zanna mencari sesuatu, di lihatnya ada sebuah tali. Ia mengambilnya dan mengikatkan ke tubuh Rebecca.
"Lepas! Apa-apaan kau ini. Lepaskan aku jala-ng," teriaknya memberontak.
Zanna yang kesal mendengar suara Rebecca langsung menyumpal mulut itu dengan kaos kakinya. Rebecca yang mencium bau tak sedap wajahnya menjadi pucat. Ingin sekali ia memuntahkan isi perutnya, namun tidak bisa karena terhalang kaos kaki yang penuh di mulutnya.
Zanna yang sudah selesai mengikat tubuh itu, menatapnya dengan wajah dingin. Ia berjalan ke arah meja, mengambil sebuah cambuk yang tergeletak di atasnya.
Ctar…
Satu cambukan ia cambukkan di lantai. Rebecca yang mendengar, menelan ludah dengan kasar. "Apakah dia akan menyiksa ku?" batin Rebecca ketakutan.
Zanna membawa cambuk dan dengan menampilkan wajah mengerikannya karena marah.
Ctaar…
Zanna berdiri di depan Rebecca dengan tatapan tajam. Rebecca yang melihat mendongak, menatap Zanna.
"Jangan lakukan itu," pinta Rebecca dengan suara lirih.
Mendengar itu, Zanna tersenyum menyeringai. "Jangan lakukan ini heh…! Lalu apa yang kau lakukan padanya sebelum aku datang ha? Buka mata mu dan lihat tubuhnya, apa yang kau lakukan padanya agar kau mengingatnya. Jika kau sudah mengingatnya, maka akan ku lakukan hal sama pada mu."
Glek,
Rebecca menelan ludah. Tidak mungkin ia mengatakan langsung bahwa dirinya mencambuk Dena. Rebecca yakin tanpa ia mengatakan Zanna sudah tahu apa yang telah ia lakukan.
Melihat Rebecca yang diam, menunduk. Zanna mengangkat cambuk itu dan melayangkan ke tubuh Rebecca.
Ctaar….
Argh!!!
Teriak Rebecca saat merasakan sakit di tubuhnya.
"Katakan! Apa yang kau lakukan?" Bentak Zanna dengan nada tinggi masih dengan mencambuk tubuh Rebecca.
Ctaar…
Jeritan Rebecca begitu keras saat dirinya di cambuk kembali oleh Zanna. Zanna tidak berhenti sampai Rebecca mengatakan sendiri bahwa dirinya mencambuk Dena.
"Cepat katakan!"
"Argh! Berhenti, ku mohon!" Pintanya tidak tahan dengan cambukan yang terus menerus itu. Sakit sekali rasanya. Apakah yang di rasakan Dena juga seperti ini, pikirnya.
"A-kan ku ka-takan," jawab Rebecca dengan nada yang lemah.
"Heh, ayo katakan. Aku akan menilai apakah cambuk ini akan berhenti mencambuk mu, atau malah sebaliknya nya. Mencambuk mu hingga mati."
"Ja-jangan bunuh a-aku," mohon dengan tatapan memelas.
"Tergantung, aku bisa memaafkan mu atau tidak," jawabnya bersedekap dada, menunggu penjelasan Rebecca.
Rebecca menunduk, bingung dengan apa yang akan dia katakan. Mengatakan yang sebenarnya dia mati. Tidak mengatakan dengan jujur dia mati juga. Sungguh membingungkan.
"Cepat katakan!" Bentak Zanna tidak sabar, gatal tangannya untuk segera menyiksa wanita di depannya.
"A-aku menyiksanya dan mencam-buknya," jawab Rebecca berkata kenyataan nya.
"Heh, bagus. Ternyata kau mengatakan yang sebenarnya."
"Jika aku tidak mengatakan sebenarnya, kau akan menyiksanya lebih parah." Batin Rebecca siap menerima penyiksaan itu.
Tanpa berkata lagi, Zanna mencambuk tubuh Rebecca terus menerus. Membalas apa yang dia lakukan pada Dena. Rebecca berteriak, menjerit karena kesakitan. Tubuhnya penuh luka cambukan hingga mengeluarkan darah, tanpa ada yang menolongnya. Bajunya robek, karena berkali kali Zanna mencambuk tanpa henti. Marah dengan apa yang di lakukan Rebecca pada Dena. Zanna ingin Rebecca merasakan apa yang dirasakan Dena.
"Rasakan apa yang di rasakan Dena saat kau mencambuknya."
Ctaar…
Tidak ada yang menolong Rebecca, bahkan Leon pun tidak datang untuk menolongnya. Karena apa? Leon sendiri masih sibuk bertarung dengan Nicko, untuk mengalahkan satu sama lain.
Tubuh Rebecca sudah tergeletak di lantai dengan terikat. Tidak bisa bergerak sama sekali. Wajahnya begitu pucat karena rasa sakit yang ia rasakan.
"Ku mo-hon ber-henti," gumam Rebecca lirih, hampir tidak terdengar di telinga Zanna.
Zanna menghentikan cambukan nya, menatap Rebecca dengan pandangan dingin. Ia pastikan Rebecca akan mati hari ini. Ia tidak akan membiarkan Rebecca hidup karena telah berani mengusik orang terdekatnya. Dan ini lah yang pantas untuk orang-orang yang telah mengganggu nya, mati.
Zanna membuang cambuknya dan mengambil pistolnya, mengarahkan ke arah Rebecca yang tergeletak. Rebecca yang masih sadar, menatap dengan mata sayu. Inilah yang harus diterima, mati di tangan seorang yang sangat dia benci.
Door…
Door…
Dua tembakan Zanna tembakkan di kepada Rebecca hingga membuat wanita itu mati seketika dengan darah keluar dari tubuh cantik itu.
Melihat Rebecca mati, Zanna menyimpan senjata nya kembali dan berjalan ke arah Dena yang pingsan.
"Dena, bangun," tepuknya pelan di pipi pucat itu.
Cukup lama Zanna mencoba membangunkan Dena, namun tak kunjung bangun juga. Zanna pun melepas ikatan itu dan menggendong tubuh Dena keluar untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di ruangan, tepat di ruangan Leon dan Nicko. Zanna mengerutkan kening saat melihat Leon bersimpuh di depan Nicko.
"Apa yang terjadi?" Batin Zanna tidak mengerti. Ia berjalan perlahan masih dengan menggendong Dena di punggungnya, mendekati Mereka berdua.
Mendengar suara langkah mendekat ke arahnya, Nicko dan Leon menoleh ke arah Zanna.
"Apa yang terjadi dengan Dena?" Tanya Nicko yang melihat wajah pucat Dena
"Kita harus kerumah sakit segera. Aku takut terjadi sesuatu dengan Dena," jawab Zanna dengan pandangan mata mengarah ke arah Leon.
Leon yang di pandang, langsung menghadap ke arah zanna. "Maafkan saya nona, maafkan saya. Ku mohon ampuni nyawa saya," mohon Leon pada Zanna. Ia tidak peduli jika harus bersujud di kaki mereka berdua, asalkan dirinya masih bisa hidup akan ia lakukan semuanya.
Bersambung